Selamat Datang di X3-PRIMA, Melayani Setulus Hati, Memberikan yang terbaik

31.12.11

Kerang Hijau


Kerang Hijau (Mytilus viridis)
            Kerang hijau termasuk moluska yang mempunyai cangkang yang simetris. Panjang cangkangnya lebih dari dua kali lebarnya, mempunyai insang yang berlapis-lapis dan mempunyai cilia. Hidup menempel pada benda-benda keras dengan bantuan benang byssus yang dihasilkan oleh kelenjar kaki (Asikin,1982).
            Kerang hijau merupakan hasil laut segar yang dikonsumsi luas oleh masyarakat. Hewan ini banyak dimanfaatkan sebagai salah satu sumber protein hewani. Kerang hijau mempunyai nama lokal yang berbeda disetiap tempat, seperti kijing (Jakarta), kedaung (Banten), dan kemudi kapal (Riau). Di negara-negara Asia Tenggara, kerang hijau dikenal dengan sebutan siput sudu (Malaysia), chaff luan (Singapura), to hong (Philipina) dan hai mong poo (Thailand) (kastoro,1981).
            Habitat kerang hijau adalah perairan estauri yang subur dengan kedalaman perairan sekitar 20 meter, suhu berkisar antara 260 – 320C, dan salinitas antara  27-35 per mil (Hartanti, 1998). Kerang hijau hidup subur di Indonesia pada muara-muara sungai dan hutan bakau, dengan kondisi lingkungan yang dasar perairannya berlumpur campur pasir, cahaya dan pergerakan air cukup, dengan kadar garam tidak terlalu tinggi (Kastoro, 1981)
      Klasifikasi kerang hijau menurut asikin adalah sebagai berikut:
Phylum            : Molusca
Kelas               : Pelecypoda
Ordo                : Mytilacea
Famili              : Mytilidae
Genus              : Mytilus
Spesies            : Mytilus viridis
            Budidaya kerang hijau sudah dikembangkan di negara tetangga, Malaysia, Singapura dan Philipina. Di Singapura usaha tersebut dengan metode rakit tanam (Cheong dan Loy, 1981), dan di Philipina dengan metode bambu tancap (Tortell dan Yop, 1976).
             Di Indonesia usaha budidaya kerang hijau secara serius baru dimulai tahun 1979. Menurut Kastoro (1981) metode yang dipergunakan dalam budidaya kerang hijau dapat dengan metode tali gantung, rakit tancap, dan bambu tancap.
Dalam pertumbuhannya kerang hijau dapat mengakumulasi logam berat dalam tubuhnya jika hidup pada perairan yang terkontaminasi logam berat seperti timbal atau timah hitam. 
            Usaha budidaya kerang hijau dengan metode rakit tanam, bambu tancap dan tali gantung telah dicoba oleh Lembaga Oseanologi Nasional bekerjasama dengan PT.Gelanggang Jaya Ancol Jakarta di perairan pantai Ancol, dari percobaan tersebut diketahui bahwa kecepatan pertumbuhan rata-rata kerang hijau l cm/6bulan, dengan produksi sekitar 1l ton per hektar (Kastoro, 1981). Akan tetapi, kultur yang dilakukan oleh Balai Penelitian Perikanan Laut Jakarta di perairan Banten dengan menggunakan metode tali gantung, ternyata produksi kerang hijau dapat mencapai 500 ton per hektar (unar et.al,1982).
            Sanitasi lingkungan sangat berpengaruh terhadap sanitasi kerang hijau. Untuk mendapatkan kerang hijau yang bebas dari mikroorganisme yang tidak diinginkan dapat dilakukan dengan cara menempatkannya dalam air bersih yang mengalir selama beberapa jam. Hasil penelitjan menunjukkan kerang hijau mampu bertahan selama 8 hari dalam air bersih yang selalu diganti, meskipun tanpa diberi makan. (Thayib et al, 1979).
            Kerang dari jenis Mytilus ini sering disebut highly specialized filter feeder yang sering digunakan sebagai bio indikator pencemaran perairan karena organisme ini bersifat menetap, penyebarannya luas, masih mampu hidup di daerah tercemar, dominan di laut dangkal, dapat mengakumulasikan logam berat dari perairan dengan kaktor konsentrasi sebesar 105 (Philips, 1980). Makanan kerang hijau terdiri dari jasad jasad renik terutama plankton nabati dan partikel-partikel hewani (Asikin, 1982).
            Rajungan Octonus Sp, Monocantus Sp dan bintang laut merupakan predator kerang hijau yang paling aktif di alam. Meskipun percobaan di laboratorimn menunjukkan bahwa ikan juga memangsa kerang tersebut, tetapi di alam belum diketahui apakah ia memakan kerang ini (Tan, 1973).
Kerang hijau, banyak dihasilkan di daerah sekitar teluk Jakarta, seperti Muara Karang dan Cilincing. Kerang hijau merupakan jenis kerang yang banyak dicari orang, karena hasil laut ini kerap dijadikan kudapan kuliner yang menggoda selera. Namun, untuk ekspor,  Indonesia masih kalah dengan negara-negara lain. Pasalnya di dalam kerang kita terdapat indikasi racun logam berat. 
Kerang hijau  sistem anatomi tubuhnya terkenal kuat dalam menyaring aneka jenis logam berat seperti : Pb (timbal), Cadmium (Cd) maupun tembaga (Cu). Sementara, jenis kerang lain, yakni kerang darah lebih hebat lagi. Karena hidup di dalam lumpur, ia mampu memakan sedimen. Logam-logam berat ini bila masuk ke dalam tubuh bisa berbahaya bagi kesehatan. Ia akan terendap dan akan menjadi racun didalam tubuh. 
Berdasarkan penelitian Zainal Arifin, Phd, alumnus doktor dari Canada bidang Ekotoksikologi, racun-racun ini dapat membuat sistem syaraf lemah, IQ turun dan berpengaruh ke tulang. Yang berbahaya, bila racun tadi terserap oleh tulang dan mengendap didalamnya. Hal ini terjadi akibat salah tangkap, Cadmium yang masuk bisa dianggap kalsium dan diserap tulang.