Selamat Datang di X3-PRIMA, Melayani Setulus Hati, Memberikan yang terbaik

29.10.11

Umbi Ya’con

Sejarah dan Penyebaran Umbi Ya’con

Nama ya’con masih asing bagi sebagian besar masyarakat Indonesia. Wajar saja karena umbi unik yang satu ini memang belum begitu popular di Negara kita dan penyebarannya di seluruh dunia juga masih terbatas.

Pertama kali pembudidayaan umbi ya’con di Bolivia utara kemudian disebar luaskan ke Negara Peru. Ya’con pertama dikenal di Eropa pada permulaan abad 19. Suatu peningkatan yang drastis dalam mengenal umbi ya’con terjadi pada lahun 1980 dan 1990, dengan mengikuti adanya pemasukan ya’con di dalam pembudidayaannya.

Ya’con (Polymnia Sonchifolia) banyak tersebar di Amerika Latin yaitu berada di negara Peru, Bolivia, Venezuela, Ekuador dan Argentina. Ya’con baru masuk ke Jepang kurang lebih 15 tahun yang lalu. Tanaman ini mempunyai rasa yang manis dimana rasa manisnya itu memiliki khasiat seperti mangendalikan naiknya kadar gula darah, menurunkan kolesterol, mencegah pecahnya pembuluh nadi, menurunkan tekanan darah, melancarkan buang air besar dan untuk diet.

Ya’con sekarang ini tumbuh sebagai suatu hasil panen dan juga dikonsumsi oleh banyak orang atau keluarga di Amerika Selatan antara lain Ecuador Dan North-Western Argentina. Pusat keaneka ragaman untuk ya’con nampak di negara-negara seperti di Peru selatan dan Bolivia dari timur.

Di Asia, budi daya ya’con besar-besaran tengah dilakukan di Jepang. Disana keunggulan ya’con juga telah dilakukan eksploitasi besar-besaran dan produk olahannya sudah diperkenalkan baik dalam bentuk makanan ringan dan produk obat-obatan dan bahan pemanis alternatif. Ya’con biasa dikonsumsi dalam bentuk mentah seperti buah biasa.(Handri, 2003).

Ya’con baru-baru ini dikenal dan tumbuh di negara AS dan Selandia Baru. Kemudian diperkenalkan atau masuk ke negara Jepang, Korea Dan Brazil.

Morfologi Umbi Ya’con

Ya’con adalah suatu tanaman atau tumbuhan hijau, dengan tinggi 3 meter. Sistem Akar adalah terdiri atas 4-20 gemuk tuberous akar yang dapat panjangnya hingga 25 cm, dengan suatu garis tengah 10 cm, akar berserat tipis/encer.

Produktivitas di bagian dalam ya’con dihubungkan dengan banyaknya akar saban, akar dapat menyimpan gula dengan mengukur indeks-refraksi sari buah akar. Warna untuk daging akar ya’con kekuning-kuningan atau putih, batang ya’con berbentuk silindris atau subangular, berongga pada kedewasaan dengan beberapa cabang tertentu. Susunan bunga di tangkai adalah terminal, terdiri atas 1-5 kampak, masing-masing dengan 3 capitula.

Keunikan tanaman ya’con terletak pada ketahanannya terhadap hama dan serangga serta tidak mudah terkena penyakit walaupun tanpa pemberian bat-obatan dan pestisida maupun pembasmi hama lainnya. Diyakini bahwa tanaman ya’con memiliki mekanisme alami yang sangat efektif dalam mengendalikan serangan hama dan serangga.(Handri, 2003)

Komposisi Kimia dan Nilai Gizi Umbi Ya’con

Komposisi kimia umbi ya’con sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain : keadaan tanah yang ditanami, kelembaban tempat, umur umbi ketika dipanen, waktu dan suhu penyimpanan.

Ya’con mengandung fruktosa, glukosa, sukrosa. polymerisasi derajat tingkat rendah ( DP) oligosakharida ( DP 3, 10 fructans) dan inulin. Proporsi oligofructans dan monosakharida dapat bertukar-tukar pertumbuhan dan setelah panenan, Akar juga berisi sejumlah serat kecil, vitamin dan mineral.

Inulin adalah suatu high-DP oligofructan dengan suatu DP sekitar 35 dan adalah suatu campuran utama bagi banyak orang, inulin hanya ada di dalam sejumlah jejak dan oligofructans dengan suatu DP dengan rata-rata 4.3 untuk 67% pada saat panen, bagaimanapun ya’con lebih produktif sebagai suatu sumber inulin. Umbi ya’con mengandung 86-90% air, kurang dari 1% protein dan kandungan mineral yang rendah, batang ya’con mengandung 11% protein dan daunnya mengandung 17% protein. Keunggulan ya’con adalah dapat menyimpan kandungan inulin, inulun inilah yang baik dikonsumsi oleh para penderita diabetes karena tidak dapat dicerna oleh tubuh manusia. Inulin merupakan kandungan bahan kering utama pada ya’con sehingga kadarnya cukup tinggi.

Sayangnya inulin pada ya’con cepat sekali mengalami perubahan setelah panen . dalam beberapa hari saja inulin dapat mengalami depolimerisasi menjadi gula-gula sederhana seperti fruktosa dan glukosa.

Perubahan tersebut dipercepat oleh suhu penyimpanan yang tinggi dan penyinaran sinar matahari. Bila potongan umbi ya’con dijemur terlebih dahulu sebelum dikonsumsi, rasanya akan semakin manis namun kandungan inulinnya justru menurun karena telah berubah menjadi gula-gula sederhana. (Handri, 2003).

Tabel Komposisi Umbi Ya’con segar per 100 gram

Komposisi umbi ya’con segar per100 g

Energi

Kcal

54,0

Kelembaban

G

86,6

Protein

G

0,3

Gemuk

G

0,3

Karbohidrat

5

12,5

Serat

G

0,5

Abu

G

0,3

Kalsium

Mg

23

Phosphor

Mg

21

Besi

Mg

0,3

Retinal

Mcg

12

Tiamin

Mg

0,02

Riboflavin

Mg

0,11

Niacin

Mg

0,34

Ascorbicacid

13,1











Manfaat dan Kegunaan Umbi Ya’con

Tanaman ini mempunyai rasa yang manis dimana rasa manisnya itu memiliki khasiat seperti mengendalikan naiknya kadar gula darah, menurunkan kolesterol, mencegah pecahnya pembuluh nadi, menurunkan tekanan darah, melancarkan buang air besar dan untuk diet.

Ya’con juga berperan untuk mengatur atau meningkatkan lepidic dan mencegah atau mengurangi penyakit kanker.

Menurut pharmasindo.com prebiotik ternyata bermanfaat sebagai serat, dan dapat menurunkan kadar kalori serta merangsang pembiakan bakteri yang baik. Bahkan keunggulan prebiotik ini telah dimanfaatkan kalangan industri untuk memproduksi makanan/minuman. Dalam zat prebiotik ini terdapat dua senyawa yaitu inulin dan frukto-oligosakarida, dimana kedua senyawa ini termasuk kedalam karbohidrat dan dimanfaatkan dalam makanan/minuman.

Manfaat dari kandungan prebiotik :

1. Sebagai komponen yang berfungsi sebagai serat.

2. Menurunkan kadar kalori.

3. Merangsang pertumbuhan bakteri di dalam usus.

Dalam umbi ya’con banyak mengandung senyawa inulin dan frukto-oligosakarida, sehingga zat prebiotik dalam umbi ya’con dapat menguntungkan dan merugikan tergantung pada saat mengolah/mengkonsumsi produk ya’con tersebut.


Potensi Produksi Umbi Ya’con di Indonesia

Ya’con dapat tumbuh di lembah pergunungan ,atau di iklim yang adalah lebih hangat dan lebih lembab dibanding denga umbi-umbi sejenisnya. Yacón pada umumnya berkembang dalam kebun buah kecil atau di permukaan laut dengan 3500 meter di atas permukaan laut tetapi dengan temperatur yang optimal untuk pertumbuhannya adalah 18 - 25 oC.

Pada temperatur yang rendah sangat penting bagi pertumbuhan yang optimal dengan melakukan produksi. Pada Lahan dengan temperatur yang tinggi akan mempunyai suatu dampak yang negatif pada produktivitasnya. Ya’con memerlukan curah hujan dengan maksimum sekitar 800 mm, maka irigasi sebagai pengairan berperan penting dan sangat diperlukan pada area perkebunan.

Ya’con dewasa setelah 7-12 bulan, tergantung pada ketinggian tempat dan suhu atau kelembaban tempat untuk dapat dipanen. Umbi ya’con sangat mudah rusak pada saat dipanen apabila kurang teliti, tetapi dapat disimpan dalam waktu yang panjang. Ya’con sangat produktif dalam hasil panennya sekitari 28-100 ton per hektar yang dihasilkan, dengan 15-30% yang rusak.

dari berbagai sumber...