Selamat Datang di X3-PRIMA, Melayani Setulus Hati, Memberikan yang terbaik

13.9.11

Campedak

Cempedak

Cempedak merupakan varietas lain dari Nangka, tetapi dibandingkan nangka, cempedak yang bergetah itu memang kalah populer. Padahal dari segi rasa dan aroma, cempedak berani bersaing dengan kerabatnya itu. Namun sayangnya, penyebaran cempedak belum merata sehingga belum dikenal masyarakat luas. Selain itu, cempedak mengenal musim berbuah. Pada musim hujan, terutama pada bulan November-Januari, cempedak paling banyak ditemukan. Sebaliknya pada musim kemarau, cempedak jarang ditemukan. Keadaan seperti itulah antara lain yang menyebabkan ketenaran cempedak dikalangan masyarakat di Indonesia masih kalah dibandingkan nangka (Wydiastuti, 1993).

Menurut asal usulnya, Cempedak (Artocarpus champeden Spreng) merupakan tanaman asli Indonesia. Saat ini penyebaran sudah merambah sampai Malaysia dan Papua Nugini. Di Indonesia, cempedak tersebut di daerah Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, dan Jawa. Cempedak telah lama dikenal oleh masyarakat Indonesia. Tanaman ini sering dijumpai di kebun atau pekarangan rumah penduduk dan dibiarkan saja tanpa perawatan. Walaupun demikian tetap menghasilkan buah (Wydiastuti, 1993).

Cempedak berkemungkinan besar berasal dari negara-negara di Asia Tenggara. Ia didapati hidup dengan baik di Malaysia, Thailand dan Singapura.

Buah cempedak merupakan tanaman tahunan yang berbentuk pohon tinggi, tingginya dapat mencapai 15-25 meter. Sekilas, sosoknya tak berbeda dengan tanaman nangka, namun jika diamati, banyak hal yang dapat membedakan kedauanya. Pada umumnya pohon cempedak terlihat lebih tinggi dibandingkan dengan pohon nangka, sosoknya pun nampak lebih lurus. Percabangan pada batangnya relatif lebat bila dibandingkan perbatangan batang nangka (Wydiastuti, 1993).

Meskipun orang telah mengenal nangka daripada cempedak, namun cempedak mempunyai keistimewaan. Rasa buahnya sangat manis dan legit. Aromanya pun sangat wangi dan khas, yaitu merupakan campuran aroma durian, kemang, dan nangka.

Daun cempedak merupakan daun tunggal. Teksturnya lebih lemas bila dibandingkan dan nangka. Warnanya hijau tua, bila diraba pada kedua permukaan daunnya terasa kasar karena ditumbuhi bulu-bulu. Daun muda atau yang masih kuncup diselubungi stipula yang berwarna coklat. Sedangkan pada daun yang sudah tua, stipula tersebut akan gugur.

Seperti halnya nangka, cempedak juga berakar tunggang dengan percabangan akar banyak. Fungsi utama akar sebagai pengambil unsur hara, selain itu juga sebagai penopang pohon.

Buah cempedak tergantung pada tangkai yang kuat dan agak gemuk. Apabila buah telah matang maka akan berbentuk bujur dan panjangnya 24-25 cm. Buah yang telah matang mempunyai aroma wangi yang khas (Rukmana, 1994).

Cempedak adalah buah yang diklasifikasikan ke dalam kingdom : Plantae (tumbuh-tumbuhan), Divisi : Spermatophyta (tumbuhan berbiji), Sub-divisi : Angiospermae, Kelas : Dicotyledonae, Ordo : Morales, Familia : Moraceae, Genus : Artocarpus, dan Spesies : Artocarpus champeden Spreng.

Morfologi tanaman cempedak mirip dengan tanaman nangka, tetapi buahnya brukuran lebih kecil daripada buah nangka (Rukmana, 1994).

Cempedak dapat hidup diberbagai jenis tanah yang disaliri dengan baik dan boleh tumbuh dengan baik di tanah aluvial yang bertekstur terbuka pH tanah ialah 4,5 - 6 (Rukmana, 1994).

Pohon cempedak cocok tumbuh didaerah yang memiliki curah hujan tahunan rata-rata 1500-2500 mm dan musim keringnya tidak terlalu keras. Cempedak dapat tumbuh di daerah kering yaitu di daerah-daerah yang mempunyai bulan-bulan kering lebih dari 4 bulan.

Sinar matahari yang cukup setiap harinya diperlukan untuk membentuk bagian vegetatif tanaman (batang, cabang, dan daun), dan bagian generatif (Buah, bunga, dan biji).

Berdasarkan varietas kematangan buah ditentukan melalui kriteria sebagai berikut : (1) Apabila buah tersebut dipukul-pukul dengan benda (misalnya punggung pisau) akan berbunyi nyaring, (2) Perubahan warna kulit buahnya dari hijau pucat ke kuning kehijau-hijauan atau kecoklat-coklatan, (3) Mengeluarkan bau yang khas atau aromanya harum, (4) Durinya mulai lunak dan jarak satu duri dengan duri yang lainnya semakin lebar, dan (5) Kulit buah terlihat seperti akan pecah (Anonim, 1984).

Cara pemetikan buah cempedak matang ialah gagangnya dipotong dengan pisau tajam dan buah cempedak itu diturunkan dengan hati-hati. Pohon cempedak yang berbuah lonjong berbuah pada umur 1,5-2 tahun. Pada umumnya buah masak setelah 8 bulan sejak bunganya muncul (Anonim, 1984).

Rata-rata suhu udara minimum untuk buah cempedak sekitar 16-21°C dan suhu udara maksimum 31-31,5°C. Kelembaban udara yang tinggi diperlukan untuk mengurangi penguapan (Anonim, 1984).

Varietas buah cempedak ada beberapa macam. Penamaan varietas yang beredar di masyarakat ada dua, yaitu penamaan yang tidak resmi dan penamaan yang resmi. Penamaan yang tidak resmi diberikan berdasarkan penampakan sosok tanaman dan buah secara sepintas, sedangkan penamaan yang resmi merupakan penamaan yang dikeluarkan oleh pemerintah, perbedaan tersebut dapat dilihat dari bentuk, jenis buah tersebut, ukuran, kandungan airnya, dan aroma dari cempedak tersebut.

Adapun jenis-jenis cempedak dapat dilihat pada uraian dibawah, dimana terdiri dari tiga jenis yaitu cempedak malaysia, cempedak lokal dan cempedak hutan.

Mengapa cempedak dijuluki cempedak malaysia, kemungkinan karena berasal dari negara Malaysia. Jenis cempedak ini cukup unik karena memiliki ciri-ciri gabungan antara nangka maupun cempedak. Perawakan dan tinggi tanaman seperti nangka dan cempedak, buahnya mirip nangka, sedangkan daunnya mirip cempedak tetapi ukurannya lebih lebar.

Kulit buah cempedak Malaysia berwarna hijau, daging buahnya berwarna kuning kemerahan (oranye) dan rasanya manis. Aromanya unik gabungan antara aroma nangka dan cempedak. Biji buahnya berbentuk agak bulat, ukurannya dua kali lebih besar daripada biji cempedak (Wydiastuti, 1993).

Varietas cempedak lokal ini lebih banyak dikenal awam. Penyebarannya meliputi daerah Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, dan Irian Jaya.

Komposisi Nutrient Cempedak

Nutrient

Per 100 gram bahan yang dapat dimakan

Energi

Air

Protein

Lemak

Karbohidrat

Serat

Abu

Kalsium

Fosforus

Besi (Fe)

Natrium

Kalium

Karoten

Vitamin B1

Vitamin B2

Niacin

Vitamin C

117,0 Kcal

66,7 g

2,5 g

0,4 g

25,8 g

3,4 g

1,2 g

40,0 mg

5,0 mg

1,1 mg

1,2 mg

246,0 mg

80 mg

0,16 mg

0,15 mg

0,5 mg

17,7 mg

Sumber : Direktorat Gizi Dep. Kesehatan

Secara umum, buah cempedak lokal ini berbentuk lonjong silindris. Panjangnya 20-45 cm, diameter antara 10-20 cm, dan beratnya rata-rata 3-4 kg. Kulit buahnya berwarna kehijau-hijauan pada waktu muda kemudian setelah masak berubah kuning kecoklatan atau kemerah-merahan.

Daging buah yang melekat pada bijinya tipis, lunak, mudah hancur, berserat, berwarna kuning gading kadang agak kemerahan, dan rasanya manis (Wydiastuti, 1993).

Cempedak jenis hutan ini kurang dikenal, penyebarannya pun belum meluas. Meskipun dinamakan tanaman cempedak hutan, namun sudah ada sebagian masyarakat yang menanamnya. Sesuai dengan namanya, cempedak hutan memang lebih banyak tumbuh alami di hutan-hutan.

diolah dari berbagai sumber,,,

hanya tugas kuliah... silahkan cari yang lengkapnya.....

Hendrayana Taufik