Selamat Datang di X3-PRIMA, Melayani Setulus Hati, Memberikan yang terbaik

9.6.11

Serologis

Hendrayana Taufik

1. Apa yang dimaksud dengan sifat serologis? Berikan 5 contoh!

Sifat Serologi adalah suatu sifat studi ilmiah serum darah dan cairan tubuh lainnya. Dalam prakteknya, istilah biasanya mengacu pada diagnostik identifikasi antibodi dalam serum. antibodi tersebut biasanya dibentuk sebagai respons terhadap infeksi (melawan yang diberikan mikroorganisme ), terhadap protein asing lainnya (dalam respon, misalnya , ke cocok transfusi darah ), atau memiliki protein satu (dalam contoh penyakit autoimun ).

Tes serologis dapat dilakukan untuk tujuan diagnostik bila infeksi diduga, dalam penyakit rematik, dan dalam situasi lain, seperti memeriksa individu golongan darah . Serologi tes darah membantu untuk mendiagnosa pasien dengan defisiensi imun tertentu yang berkaitan dengan kurangnya dari antibodi , seperti -link agammaglobulinemia X . Dalam kasus tersebut, tes antibodi akan konsisten negatif.

Ada beberapa teknik serologi yang dapat digunakan tergantung pada antibodi sedang dipelajari. Ini termasuk: ELISA , aglutinasi , presipitasi , melengkapi-fiksasi , dan antibodi fluorescent . Beberapa tes serologis tidak terbatas pada serum darah, tetapi juga dapat dilakukan pada cairan tubuh lain seperti semen dan air liur , yang memiliki (secara kasar) sifat yang mirip dengan serum. Tes serologis juga dapat digunakan forensik , umumnya untuk menghubungkan pelaku ke sepotong bukti (misalnya, menghubungkan pemerkosa ke contoh air mani).

Contoh :

1. Sifat Serologis untuk pemeriksaan Penyakit Demam berdarah,

Sifat serologis ini dapat membantu menegakkan diagnosis klinis. Untuk pemeriksaan serologis ini dibutuhkan 2 contoh darah pada masa konvalesen yang diambil 1-4 minggu setelah perjalanan penyakit. Dalam praktek sukar sekali mendapatkan contoh darah kedua karena biasanya penderita setelah sembuh tidak bersedia diambil darahnya. Maksud diambil contoh darah yang kedua ialah selain untuk menjaga kemungkinan tidak didapatkan contoh darah ketiga juga untuk mempercepat hasil akan sudah cukup nyata sehingga dapat diinterpretasi.

2. Sifat Serologis untuk pemeriksaan Penyakit Usus Buntu

Sifat serologis bakteri mempunyai antigen somatik O yang tahan panas. Y. pseudotuberculosis menyebabkan tuberkulosis semu (pseudotuberculosis) dan limfadenitis mesenterik pada pasien yang didiagnosa sebagai radang usus buntu. Sifat Serologis Dikelompokkan menjadi Grup I (manusia dan hewan) sampai grup VI. Gejala penyakit mirip tifus, pada penderita hepatik dapat berakibat fatal. Gejala meliputi demam, sakit perut, anoreksia, mual, muntah, jarang diare.

3. Sifat Serologis untuk pemeriksaan Diagnosis Bentuk Ketiga Cacing Pita Taenia

Pada Babi

Teknik diagnostik yang sekarang dikembangkan dan cocok untuk mendeteksi kista T asiatica secara ante-mortum adalah pemeriksaan serologis. Uji serologis dapat memberi arti praktis dan spesifik. Dari hasil ekperimen untuk mengetahui adanya sistiserkosis pada babi dengan menggunakan ELISA, dilaporkan bahwa antibodi akan terdeteksi tiga minggu pasca infeksi.

4. Sifat Serologis untuk pemeriksaan Indentifikasi Penyakit pada Ayam

Sifat Serologis pada uji serologis semakin populer dikalangan peternak. Terlebih lagi dengan semakin sulitnya melakukan identifikasi penyakit. Dengan melakukan uji serologis, peternak ayam semakin diyakinkan dalam menentukan jenis penyakit yang menyerang ayamnya. Secara umum pelaksanaan uji serologis bertujuan : Monitoring hasil vaksinasi, Menentukan umur vaksinasi pertama, Mendiagnosa serangan penyakit, dan Pemetaan titer antibody.

5. Sifat Serologis untuk pemeriksaan Penyakit Gajah Sumatera

Beberapa penyakit penting sudah dapat dideteksi pada gajah di Sumatera yang mengancam kelestarian gajah. Telah diproses pembuatan konjugat anti gajah IgG yang dilabel dengan horse raddish peroxidase (HRP). Konjugat ini nantinya akan digunakan dalam ELISA untuk dipergunakan sebagai uji serologis yang dapat mengukur respon imun gajah pasca vaksinasi.

2. Apa yang dimaksud dengan deases power? Berikan masing-masing 1 contoh untuk bakteri actinomycetes, yeast dan mold!

Deases power adalah kemampuan makhluk hidup menyakitkan sesuatu/makhluk hidup lain.

a. Contoh deases power untuk bakteri actinomycetes.

Actynomyces bovis >> penyebab penyakit bengkak pada rahang sapi.

b. Contoh deases power untuk bakteri yeast

Menyebabkan sakit gatal, kulit terasa terbakar, dan gejala yang menyebabkan infeksi vagina

dalam.

c. Contoh deases power untuk bakteri mold


Mold bisa menyebabkan Kebutaan, Lendir Candida, Oral Lesi dan Kulit Membran.


3. Jelaskan proses metabolisme bakteri, actinomycetes, yeast dan mold (masing-masing 1) yang berkaitan dengan proses fermentasi makanan.

a. Proses metabolisme bakteri (Contoh bakteri asam laktat)

Metabolisme fermentasi asam laktat


Fermentasi asam laktat terbagi menjadi dua jenis, yaitu homofermentatif (sebagian besar hasil akhir merupakan asam laktat) dan heterofermentatif (hasil akhir berupa asam laktat, asam asetat, etanol dan CO2). Secara garis besar, keduanya memiliki kesamaan dalam mekanisme pembentukan asam laktat, yaitu piruvat akan diubah menjadi laktat (atau asam laktat) dan diikuti dengan proses transfer elektron dari NADH menjadi NAD+. Pola fermentasi ini dapat dibedakan dengan mengetahui keberadaan enzim-enzim yang berperan di dalam jalur metabolisme glikolisis.

Pada heterofermentatif, tidak ada aldolase dan heksosa isomerase tetapi menggunakan enzim fosfoketolase dan menghasilkan CO2. Metabolisme heterofermentatif dengan menggunakan heksosa (golongan karbohidrat yang terdiri dari 6 atom karbon) akan melalui jalur heksosa monofosfat atau pentosa fosfat. Sedangkan homofermentatif melibatkan aldolase dan heksosa aldolase namun tidak memiliki fosfoketolase serta hanya sedikit atau bahkan sama sekali tidak menghasilkan CO2. Jalur metabolisme dari yang digunakan pada homofermentatif adalah lintasan Embden-Meyerhof-Parnas. Beberapa contoh genus bakteri yang merupakan bakteri homofermentatif adalah Streptococcus, Enterococcus, Lactococcus, Pediococcus, dan Lactobacillus; sedangkan contoh bakteri heterofermentatif adalah Leuconostoc dan Lactobacillus.

b. Proses metabolisme actinomycetes

Actinomycetes adalah kelompok bakteri Gram positif. Kebanyakan ditemukan di tanah. Mereka memainkan peranan yang penting dalam dekomposisi materi organik seperti selulosa dan chitin. Ini menambah cadangan nutrisi di dalam tanah dan merupakan bagian penting dari pembentukan humus. Actinobacteria lain tinggal di dalam tumbuhan dan hewan, termasuk beberapa patogen seberti Mycobacterium.

Kemampuan Actinobacteria untuk hidup di lingkungan bernutrisi rendah dan untuk mengkonsumsi lognoselulosa (komponen yang menyababkan tumbuhan busuk tidak biasanya dikonsumsi kebanyakan bakteri tanah) menyebabkan Actinobacteria menjadi mendominasi dalam karst rock system. Actinomycetes menghasilkan zat-zat anti mikroba dari asam amino yang dihasilkan bakteri fotosintetik. Zat-zat anti mikroba ini menekan pertumbuhan jamur dan bakteri.

Actinomycetes hidup berdampingan dengan bakteri fotosintetik bersama-sama meningkatkan mutu lingkungan tanah dengan cara meningkatkan aktivitas anti mikroba tanah.

c. Proses metabolisme yeast

Contoh Khamir bukan merupakan kelompok taksonomi resmi dan pengelompokannya berdasarkan dari bentukan hidupnya (life form). Khamir adalah fungi ekasel (uniselular) yang beberapa jenis spesiesnya umum digunakan untuk membuat roti, fermentasi minuman beralkohol, dan bahkan digunakan percobaan sel bahan bakar. Kebanyakan khamir merupakan anggota divisi Ascomycota, walaupun ada juga yang digolongkan dalam Basidiomycota. Beberapa jenis khamir, seperti Candida albicans, dapat menyebabkan infeksi pada manusia (kandidiasis).

Lebih dari seribu spesies khamir telah diidentifikasi. Khamir yang paling umum digunakan adalah Saccharomyces cerevisiae, yang dimanfaatkan untuk produksi anggur, roti, dan bir sejak ribuan tahun yang silam dalam bentuk ragi.

d. Proses metabolisme mold

Kapang (bahasa Inggris mold) merupakan anggota regnum Fungi ("Kerajaan" Jamur) yang biasanya tumbuh pada permukaan makanan yang sudah basi atau terlalu lama tidak diolah. Sebagian besar kapang merupakan anggota dari kelas Ascomycetes


• Aspergillus- Common Species Of Mold
• Stachybotrys- Common Species Of Mold
• Cladosporium- Common Species Of Mold
• Fusarium- Common Species Of Mold
• Mycotoxins- Common Species Of Mold
• Penicillium- Common Species Of Mold
• Paecilomyce
• Fusarium
• Mucor
• Aureobasidium

Sumber: biasanya terdapat pada tempat-tempat lembab, semisal kertas koranyang basah, dinding basah, buah-buahan membusuk dan bahan pangan lainnya.

Morfologi : - multiseluler (bersel banyak)
- Ukuran : mikroskopik sampai makrosakopik
- Bentuk : benang-benang
Struktur : - eukariotik
- Memilki dinding sel yang kaku
- Terdiri dari hifa (kumpulan benang-benang)
- Kumpulan hifa membentuk miselium
- Beberapa memilki septa (penyekat) pada hifa.

Perkembangbiakan : seksual dan aseksual (spora)

Peranan: dekomposisi (penghancuran) material, penghasil penisilin (antibiotik) penyebab penyakit. Kapang merupakan mikroba dalam kelompok fungi yang berbentuk filament, yaitu strukturnya terdiri dari benang-benag halus yang disebut hifa. Kumpulan dari banyak hifa membentuk kumpulan massa yang disebut miselium dan lebih mudah dilihat oleh mata tanpa menmggunakan mikoskop. Contoh miselium adalah serat putih seperti kapas yang timbuh pada tempe.

Kapang juga mempunyai struktur yang disebut spora yang pada umumnya terletak pada ujung-ujung hifa, dan merupakan struktur yang sangat ringan dan mudah menyebar kemana-mana. Spora merupakan alat perkembangbiakan kapang, karena pada kondisi substrat dan lingkungan yang lebih baik spora dapat bergerminasi dan tumbuh menjadi struktur kapang yang lengkap. Dari struktur kapang dapat dihasilkan berates-ratus sporayang mudah menyebar dan mencenari pangan, kemudian tumbuh menjadi bentuk kapang yang lengkap. Jika dilihat dibawah mikroskop, berbagai jnis kapang mempunyai struktut hifa yang berbeda dan spora yang berveda-beda, dan karakteristik struktur tersbut digunakan untuk mengidentifikasi kapang.

Spora kapang pada umumnya mempunyai warna tertentu tergantung dari jenis kapangnya. Oleh karena itu pwrtumbuhan kapang pad pangan mudah dilihat dengan mata yaitu ditandai dengan perubahan warna yang menunjukan adanya spora kapang dan sering disebut bulukan.

Selain dapat menyebabkan kerusakan pangan, bberapa kapang tertentu juga bermanfaat karena digunakan dalam pross fermentasi pangan.

Jenis kapang Warna spora Pangan yang dirusak Makanan yang difermentasi
Aspergillus Hitam, hijau Roti, screalia, kacang-kacangan Kecap, tauco (A. Orryzac)
Penicillium Biru-hijau Buah-buahan, sitrus keju Keju (P. roqueforti) Rhizopus Hitam diatas hifa berwarna putih Roti, sayuran, buah-buahan Tempe, oncom hitam (R. Oryzac, R. oligosporus) Neurospora (monilia) Orange-merah nasi Oncom merah Beberapa kapang jika tumbuh pada pangan dapat memproduksiracun yang berbahaya yang disebut toksin(racun) kapang atau mitoksin. Spesis kapang yang memproduksi mitoksin terutama terutama adalah jenis Aspergillus, Penicillum dan Fusarium. Beberapa contoh mitoksin yang sering ditemukan pada pangan misalnya aflatoksin yang diproduksi oleh aspergillus flafus dan okratoksin yang diproduksi oleh Aspergillus ochraceus.