Selamat Datang di X3-PRIMA, Melayani Setulus Hati, Memberikan yang terbaik

19.5.10

Kopi

KOPI

Oleh Hendrayana Taufik

Tugas Kuliah Perencanaan Industri Pangan

PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang

Kopi merupakan bahan minuman tidak saja terkenal di Indonesia tapi juga terkenal di seluruh dunia. Hal ini disebabkan karena kopi baik yang bentuk bubuk maupun seduhannya memiliki aroma yang khas yang tidak dimiliki oleh bahan minuman lainnya.

Pada mulanya orang memanfaatkan sari dari daun muda dan buah segar sebagai bahan minuman yang diseduh dengan air panas. Kegemaran minum kopi cepat meluas ke seluruh dunia setelah ditemukan cara-cara penggunaan dan pengolahan yang lebih sempurna, yaitu dengan menggunakan kopi yang sudah masak, terlebih dahulu dikeringkan dan kemudian bijinya disangrai lalu dijadikan bubuk sebagai bahan minuman.

Bagi Bangsa Indonesia, kopi merupakan salah satu mata dagangan yang mempunyai arti yang cukup tinggi. Pada tahun 1981 menghasilkan devisa sebesar $ 347.8 juta dari ekspor kopi sebesar 210.8 ribu ton. Nilai ini terus meningkat dari tahun ke tahun. Tercatat Pada tahun 1988 sudah mampu menghasilkan devisa sebesar $ 818.4 juta dan menduduki peringkat pertama diantara komoditi ekspor sub sector perkebunan.

Komoditas kopi merupakan ekspor Indonesia non migas yang memberikan kontribusi dalam peningkatan devisa Negara. Pada tahun 2007, ekspor non migas meningkat sebesar 15,5 persen, dengan kontribusi sektor pertanian sebesar 4,3 persen, sector manufaktur sebesar 82,6 persen, dan sektor pertambangan sebesar 13,1 persen. Ekspor pertanian dan pertambangan tumbuh sebesar 17,0 persen dan 7,8 persen. (Bab 16 Peningkatan Investasi dan Ekspor Non Migas 2008 ; II 16-3).

Tabel 1.1

Data Jumlah Produksi Kopi, Jumlah Ekspor Kopi dan Nilai Devisa Kopi di Indonesia Pada Tahun 2000 – 2008

Periode

Tahun

Jumlah Produksi Kopi di Indonesia (dalam ribuan ton)

Jumlah Ekspor Kopi di Indonesia (dalam ribuan ton)

Nilai Devisa Kopi (dalam Jutaan US$)

1

2000

613,5

345,8

339,9

2

2001

589,6

254,8

203,5

3

2002

681

322,5

248,8

4

2003

674,4

320,8

250,9

5

2004

647,4

338,8

281,6

6

2005

640,4

442,7

497,8

7

2006

682,2

411,5

583,2

8

2007

686,8

332,7

500

9

2008

679,1

325

500

Jumlah

5894,4

3094,6

3405,7

Sumber : BPS (2008)

Perkebunan kopi memberikan kontribusi dalam peningkatan ekspor pertanian di Indonesia. Ekspor kopi Arabika Gayo sebelumnya mengalami penurunan akibat dari konflik yang berkepanjangan, namun setelah perdamaian Agustus 2005 mengalami peningkatan dan mendapatkan nilai jual lebih atas keadaan social di Aceh pasca tsunami dan konflik.

Keunggulan bersaing suatu produk dapat dilihat dari segi harga yang bersaing dipasaran internasional untuk nilai ekspor, hal ini dapat kita lihat dari hasil data harga dan jumlah yang diekspor dari organisasi kopi internasional Internasional Cofee Organization (ICO). Daya saing kopi Arabika Gayo masih tidak maksimal disebabkan adanya image bahwa Indonesia belum mampu memproduksi olahan sesuai permintaan pasar internasional, serta ketatnya persaingan pasar produk kopi olahan dengan sertifikasi atas kemurnian dan standarisasi kualitas ekspor.

Keunggulan bersaing suatu produk juga dilihat dari merek yang sudah dikenal dan menjadi daya tarik tersendiri. Kopi arabika dari Aceh telah dijual dengan nama Gayo Mountain Coffee yang memiliki perasa (flavor) kaya (rich), komplek, kemasannya bagus, lembut dan bodinya tinggi. Beberapa kalangan bahkan menilai kopi Aceh memiliki body tertinggi didunia. Penggunaan kata Gayo pada label produk kopi, yang akan diekspor ke Belanda. Ini memiliki arti penting dalam bidang pemasaran karena dapat menaikkan harga. Apabila kata Gayo itu dihilangkan dari label, menurutnya, konsumen tidak akan mengetahui lagi asal barang itu, sehingga harganya sangat murah. Belanda telah mendaftarkan kopi Gayo sebagai merek dagang untuk produk kopi. Artinya, secara hukum merek kopi Gayo memang dilindungi oleh undang-undang setempat. Kopi Gayo diketahui didaftarkan oleh pengusaha Belanda sebagai merek dagang di Belanda, sehingga eksportir kopi dari Daerah Gayo, Nanggroe Aceh Darussalam, tidak bisa mengekspor komoditas itu dengan menggunakan merek Gayo. Brand atau merek suatu produk merupakan kekuatan dan juga akan menjadi tantangan. Perdagangan kopi Arabika Gayo dapat bersaing meskipun ditolak di Belanda untuk dapat diperdagangkan karena pemakaian kode etik brand yang telah dilakukan lebih dulu telah terdaftar di Belanda.

Data perkebunan kopi dari Ditjen Perkebunan 2006 menyebutkan luas areal seluas 1.308.732 hektare 96 Persen diantaranya milik perkebunan rakyat sisanya 4,10 persen diusahakan dalam bentuk perkebunana besar, dengan volume ekspor sebesar 413.500 ton, dengan total produksi sebesar 743.409 ton. Tingkat produktivitas rata-rata ini sebesar 792 kg biji kering pertahun, tingkat produktivitas tanaman kopi di Indonesia cukup rendah bila dibandingkan dengan Negara produsen uatma kopi di dunia lainnya, seperti Vietnam (1.540 kh/hectare/tahun). (Kominfo Newsroom-Bhr/id/b).

Pada tabel berikut menunjukkan bahwa jumlah komoditi kopi dan ekspor pertahun (ton) dari setiap provinsi di Indonesia dalam menunjang ekspor di Indonesia.

Tabel 1.2 Produksi dan Ekspor rata-rata per tahun

No

Province

Average Production per Year (ton)

Average Export per Year (ton)

1.

Aceh

40.000

4.500

2.

Nort Sumatera

25.000

40.000

3.

West Sumatera

10.000

3.500

4.

Bengkulu

40.000

1.500

5.

South Sumatera

100.000

40.000

6.

Lampung

90.000

200.000

7.

Jakarta

-

1.500

8.

Middle Java

13000

9.000

9.

East Java

15.000

20.000

10.

Bali

15.000

500

11.

N T T

10.000

2.500

12.

South Sulawesi

10.000

2.500

Volume / Type

Average 305.000 ton/year

- Green Coffee

97,6%

- Roast & Ground (R&G)

1,4%

- Soluble Coffe

0,8%

- Roasted Coffee

0,2%

Domestic Market

: 120.000 – 140.000 ton/year

Stock

: 15.000- 30.000 ton/year

Sumber data : http://indonesiacoffeebean.com/

Kopi Arabika memiliki nilai jual lebih baik diluar negeri dibandingkan dalam negeri. Perdagangan kopi di tingkat local dipengaruhi oleh permintaan atas konsumsi. Harga jual kopi Arabika dan Robusta di pasaran local tidak ada perbedaan harga yang berarti. Begitu juga dengan konsumsi kopi di Indonesia lebih dominan pada konsumsi kopi Robusta dibandingkan Arabika. Pemasaran kopi Arabika Gayo lebih diperuntukkan pada perdagangan ekspor untuk mendapatkan nilai jual yang lebih baik. Persaingan dalam perdagangan local, nasional dan internasional merupakan dasar mengapa diperlukan keunggulan bersaing untuk dapat bertahan maupun meningkatkan harga diatas rata-rata.

1.2 Prinsip-Prinsip Pengolahan

Sebelum kopi dipergunakan sebagai bahan minuman, maka terlebih dahulu dilakukan proses roasting. "flavor" kopi yang dihasilkan selama proses roasting tergantung dari jenis kopi hijau yang dipergunakan, cara pengolahan biji kopi, penyangraian, penggilingan, penyimpanan dan metoda penyeduhannya.

Biji kopi yang diolah adalah biji kopi yang sudah dikeringkan dengan kadar airnya berkisar antara 12-13%. Permukaan bijinya sudah bersih dari lapisan kulit tanduk dan kulit ari. Biji kopi demikian sering disebut sebagai biji kopi beras. Biji kopi WP adalah biji kopi beras yang dihasilkan dari proses basah (Wet Process) dan biji kopi DP adalah biji kopi beras yang dihasilkan dari proses kering (Dry Process).

Tahapan pengolahan semi basah (kebutuhan air untuk pengolahan lebih sedikit dari pengolahan basah secara penuh) untuk buah kopi petik merah dan pengolahan kering untuk buah campuran kuning merah.

Secara garis besar dan berdasarkan cara kerjanya, maka terdapat dua cara pengolahan buah kopi basah menjadi kopi beras, yaitu yang disebut penolahan buah kopi secara basah dan cara kering. Pengolahan buah kopi secara basah biasa disebut W.I.B (West Indische Bereiding), sedangkan pengolahan cara kering biasa disebut O.I.B (Ost Indische Bereiding). Perbedaan pokok dari kedua cara tersebut diatas adalah pada cara kering pengupasan daging buah, kulit tanduk dan kulit ari dilakukan setelah kering (kopi gelondong), sedangkan cara basah pengupasan daging buah sewaktu masih basah.

Kunci dari proses produksi kopi bubuk adalah penyangraian. Proses ini merupakan tahapan pembentukan aroma dan citarasa khas kopi dari dalam biji kopi dengan perlakuan panas. Biji kopi secara alami mengandung cukup banyak senyawa organik calon pembentuk citarasa dan aroma khas kopi. Waktu sangai ditentukan atas dasar warna biji kopi sangrai atau sering disebut derajad sangrai. Makin lama waktu sangrai, warna biji kopi sangrai mendekati cokelat tua kehitaman.

Setelah proses sangrai selesai, biji kopi harus segera didinginkan didalam bak pendingin. Pendinginan yang kurang cepat dapat menyebabkan proses penyangraian berlanjut dan biji kopi menjadi gosong ( over roasted ). Pendiginan dilakukan dengan melewatkan udara lingkungan dengan laju aliran 600 m3 per jam kedalam massa biji kopi. Selam pendinginan biji kopi diaduk secara manual agar proses pendinginan lebih cepat dan merata. Selain itu, proses ini juga berfungsi untuk memisahkan sisa kulit ari yang terlepas dari biji kopi saat proses sangrai.

Biji kopi sangrai dihaluskan dengan mesin penghalus sampai diperoleh butiran kopi bubuk dengan ukuran tertentu. Butiran kopi bubuk mempunyai luas permukaan yang relatif besar dibandingkan jika dalam keadaan utuh. Dengan demikian, senyawa pembentuk citarasa dan senyawa penyegar mudah larut kedalam air penyeduh.

Salah satu perubahan kimiawi biji kopi selama penyangraian dapat dimonitor dengan perubahan nilai pH. Biji kopi secara alami mengandung berbagai jenis senyawa volatil seperti aldehida, furfural, keton, alkohol, ester, asam format, dan asam asetat yang mempunyai sifat mudah menguap. Makin lama dan makin tinggi suhu penyangraian, jumlah ion H+ bebas didalam seduhan makin berkurang secara signifikan.

Biji kopi secara alami mengandung cukup banyak senyawa calon pembentuk citarasa dan aroma khas kopi antara lain asam amino dan gula. Selam penyangraian beberapa senyawa gula akan terkaramelisasi menimbulkan aroma khas. Senyawa yang menyebabkan rasa sepat atau rasa asam seperti tanin dan asam asetat akan hilang dan sebagian lainnya akan bereaksi dengan asam amino membentuk senyawa melancidin yang memberikan warna cokelat.

Rendemen Kopi Bubuk adalah perbandingan antara berat kopi bubuk dibandingkan berat kopi beras. Selama penyangraian, berat biji kopi menyusut karena penguapan air dan senyawa – senyawa volatil serta pelepasan kulit ari. Bersamaan dengan penguapan air, beberapa senyawa volatil yang terkandung didalam biji kopi seperti aldehid, furfural, keton, alkohol dan ester ikut teruapkan. Biji kopi mengembang ( swelling ) dan berpori – pori.

Penurunan berat biji kopi selama penyangraian menyebabkan nilai rendemen berkurang sesuai dengan derajad sangrainya. Nilai rendemen tertinggi yaitu 81 % diperoleh pada derajad sangrai ringan dan terendah yaitu 76 % dengan derajad sangrai gelap. Selain karena proses sangrai, susut berat juga terjadi selama proses penghalusan karena partikel bubuk yang sangat halus terbang kelingkungan akibat gaya sentrifugal putaran pemukul mesin penghalus.

1.3 Tinjauan Pemasaran

Struktur industri pengolahan kopi nasional belum seimbang; hanya 20% kopi diolah menjadi kopi olahan (kopi bubuk, kopi instan, kopi mix), dan 80% dalam bentuk kopi biji kering (coffee beans). Industri pengolahan kopi masih kurang berkembang disebabkan oleh faktor teknis, sosial dan ekonomi. Penerapan teknologi pengolahan hasil kopi baru diterapkan oleh sebagain kecil perusahaan industri pengolah kopi, hal ini disebabkan oleh keterbatasan informasi, modal, teknologi, dan manajemen usaha. Produk industri olahan tersebut sangat berpotensi dalam memberikan nilai tambah yang tinggi.

Pada era globalisasi perdagangan dewasa ini, kondisi persaingan semakin ketat dimana masing-masing negara saling membuka pasarnya. Pengembangan produk diversifikasi kopi olahan, seperti roasted coffee, instant coffee, coffee mix, decaffeinated coffee, soluble coffee, kopi bir (coffee beer), ice coffee mempunyai arti penting, karena dapat menjadi komoditas unggulan yang mempunyai daya saing tinggi di pasar internasional. Indonesia sebagai negara tropis disamping berpeluang untuk pengembangan produk diversifikasi kopi olahan tersebut diatas, juga berpotensi untuk pengembangan produk industri pengolahan kopi specialties dengan rasa khas seperti: Lintong Coffee, Lampung Coffee, Java Coffee, Kintamani Coffee, Toradja Coffee.

Walaupun Indonesia mempunyai peluang besar untuk pengembangan industri pengolahan kopi dan mempunyai prospek besar dipasar domistik dan internasional, namun permasalahan juga sangat kompleks, karena begitu banyak faktor-faktor yang mempengaruhinya baik internal maupun eksternal dan juga faktor perilaku konsumen, fluktuasi harga dan perdagangan kopi dunia.

Konsumsi kopi dunia dari tahun 2001 s/d 2008 mengalami kenaikan rata-rata sekitar 2%. Konsumsi kopi dunia tahun 2008 diperkirakan sebesar 7.680,0 ribu ton, terdiri dari kopi Arabica sebesar 4.909,0 ribu ton dan kopi Robusta sebesar sebesar 2.771,0 ribu ton. Kenaikan konsumsi kopi dunia dikarenakan konsumsi kopi dinegara-negara produsen kopi tumbuh sangat cepat, meskipun di negara-negara konsumen juga mengalami kenaikan. Pertumbuhan konsumsi kopi yang terjadi di negara-negara produsen seiring dengan pertumbuhan ekonomi di negara-negara produsen tersebut yang kebanyakan adalah negara berkembang termasuk Indonesia dan Brazil. Menurut Konsultan International Coffee Organization (ICO) yaitu P & A Marketing International, memperkirakan bahwa pertumbuhan konsumsi kopi global dalam periode 2005 -2015 meningkat 35,5%.

Meningkatnya nilai konsumsi kopi dunia menjadi pendorong bagi industri pengolahan kopi untuk meningkatkan produksinya. Konsumsi kopi Indonesia mengalami kenaikan rata-rata sekitar 3% setiap tahunnya, lebih tinggi dibanding pertumbuhan konsumsi kopi dunia yang rata-rata sekitar 2%. Hal tersebut menjadi peluang bagi industri pengolahan kopi. Namun semakin mahalnya harga input produksi pertanian seperti pupuk, pestisida, tenaga kerja, menyebabkan produksi kopi semakin sulit meningkat bahkan bisa jadi produksi kopi menjadi turun, sedangkan untuk meningkatkan produksi, industri pengolahan kopi memerlukan suplai bahan baku yang lebih banyak.

Dampak krisis keuangan dunia dianalisa tidak akan berpengaruh terhadap konsumsi kopi mengingat kecilnya sharing pengeluaran rumah tangga untuk minum kopi. Selama supply kopi tetap terjamin dengan harga yang masih reasanable, maka kemungkinan Pengembangan industri pengolahan kopi akan tetap menarik dan pengaruh krisis financial global tidaklah signifikan.

Sebagai negara produsen, Ekspor kopi merupakan sasaran utama dalam memasarkan produk-produk kopi yang dihasilkan Indonesia. Negara tujuan ekspor adalah negara-negara konsumer tradisional seperti USA, negara-negara Eropa dan Jepang. Seiring dengan kemajuan dan perkembangan zaman, telah terjadi peningkatan kesejahteraan dan perubahan gaya hidup masyarakat Indonesia yang akhirnya mendorong terhadap peningkatan konsumsi kopi. Hal ini terlihat dengan adanya peningkatan pemenuhan kebutuhan dalam negeri yang pada awal tahun 90an mencapai 120.000 ton, dewasa ini telah mencapai sekitar 180.000 ton.

Oleh karena itu, secara nasional perlu dijaga keseimbangan dalam pemenuhan kebutuhan kopi terhadap aspek pasar luar negeri (ekspor) dan dalam negeri (konsumsi kopi) dengan menjaga dan meningkatkan produksi kopi nasional.

1.4 Peramalan Produksi

Sektor perkebunan merupakan sektor yang berperan sebagai penghasil devisa negara, salah satu komoditas perkebunan penghasil devisa adalah komoditas kopi. Kopi merupakan salah satu komoditi perkebunan nasional yang memegang peranan cukup penting dalam perekonomian Indonesia. Peran tersebut dapat berupa pembukaan kesempatan kerja, serta sebagai sumber pendapatan petani. Menurut Ratnandari dan Tjokrowinoto (1991), pengelolaan komuditas kopi telah membuka peluang bagi lima juta petani.

Devisa dari kopi menunjukkan perkembangan yang cukup berarti. Tahun 1960-an pangsa devisa masih peringkat keenam (Nataatmadja dan Baharsyah, 1982). Pada tahun 1970 hingga 1990-an melonjak tajam dan menjadi peringkat kedua sebelum karet dalam sub sektor perkebunan. Pada tahun 1986, kopi menyumbang devisa lebih dari US $ 800 juta (46,7% dari ekspor komoditi pertanian).

Lebih dari 90% produksi kopi Indonesia merupakan produksi kopi rakyat dan sisanya adalah produksi kopi perkebunan besar milik negara dan swasta. Sementara dari sisi areal dan produksi terus mengalami peningkatan. Pada tahun 1980 total areal perkebunan kopi masih 707.5 ribu ha, dan tahun 1993 sebesar1.162.2 ribu ha. Sementara produksi total meningkat dari 294.9 ribu ton menjadi 449.8 ribu ton.

Sejak tahun 1984, Indonesia termasuk sebagai Negara produsen dan pengekspor kopi dunia ketiga setelah Brazil dan Columbia. Prospek pengembangan kopi memiliki potensi yang cukup besar dari segi peningkatan sumber devisa, dan juga untuk peningkatan pendapatan petani yang pada akhirnya terhadap perekonomian nasional. Namun usaha tersebut mengalami beberapa kendala baik dari sisi produksi kopi maupun dari pasar kopi baik domestik maupun ekspor.

Perkembangan produksi kopi dapat dilihat pada tabel 1.3 berikut ini :

Tabel 1.3 Perkembangan Produksi kopi

Tahun

Produksi

(dalam ribuan ton)

Ekspor

(dalam ribuan ton)

2000

613,5

345,8

2001

589,6

254,8

2002

681

322,5

2003

674,4

320,8

2004

647,4

338,8

2005

640,4

442,7

2006

682,2

411,5

2007

686,8

332,7

2008

679,1

325

Sumber : BPS (2008)

Dari tabel 1.3 diatas, maka dapat diramalkan produksi dan permintaan kopi sebagai acuan untuk meramalkan produksi pembuatan Kopi Bubuk untuk masa yang akan datang adalah :

Tabel 1.3 Data Produksi Kopi dari Tahun 2000-2008

Peramalan dengan Metode Trend Kuadratis

Tahun

Produksi (Y)

X

X2

X3

X4

XY

X2Y

2000

613,5

10

100

1000

10000

6135

61350

2001

589,6

11

121

1331

14641

6265,5

68921,6

2002

681

12

144

1728

20736

8172

98064

2003

674,4

13

169

2197

28561

8767,6

113973,6

2004

647,4

14

196

2744

38416

9063,6

126890,4

2005

640,4

15

225

3375

50625

9606

144090

2006

682,2

16

256

4096

65536

10915,2

174643,2

2007

686,8

17

289

4913

83521

11675,6

198485,2

2008

679,1

18

324

5832

104976

12223,8

220028,4

Jumlah

5894,4

126

1824

27216

417012

82824,3

1206446

Persamaan trend kuadratis dirumuskan sebagai berikut : Y’ = a+bX+cX. Nilai-nilai a, b, dan c dihitung dengan rumus sebagai berikut :

a = (∑Y)( ∑X4) – (∑X2Y)( ∑X2)

n (∑X4)I-(∑X2)2

b = XY

X2

c = n (∑X2Y)-(∑X2)( ∑Y)

n (∑X4)-( ∑X2)2

Dari tabel 1.3 diatas diperoleh :

N = 9 ∑X2 = 1824 ∑X4 = 417012 ∑XY = 82824,3

∑ X = 10 ∑X3 = 27216 ∑Y = 5894,4 ∑X2Y = 1206446

Sehingga :

a = (5894,4)(417012)-(1206446)(1824) = (257478028,8) = 604,221

9 (417012) – (1824)2 426132

b = (82824,3) = 45,408

1824

c = 9 (1206446) – (1824) (5894,4) = 106628,4 = 0,250

9 (417012) – (1824)2 426132

Dengan demikian persamaan trend kuadratis (parabolik) diatas adalah :

Y’ = 604,221 + 45,408 X + 0,250 X2

Maka nilai peramalan jumlah produksi kopi di Indonesia untuk 5 (lima) tahun ke depan adalah :

Tabel 1.4 Peramalan Produksi Kopi 5 Tahun Mendatang

Tahun

X

Produksi (Y) (ton)

2009

19

1557,223

2010

20

1612,381

2011

21

1668,039

2012

22

1724,197

2013

23

1780,855

Jumlah

105

8342,695

Berdasarkan data di atas maka dapat diramalkan produksi kacang kedelai untuk dalam negeri pada tahun 2011 adalah 1668,039 ton dan tahun 2012 adalah 1724,197 ton.

Tabel 1.5 Data Permintaan Kopi 2000-2008

Peramalan dengan Metode Trend Kuadratis

Tahun

Permintaan (Y)

X

X2

X3

X4

XY

X2Y

2000

345,8

10

100

1000

10000

3458

34580

2001

254,8

11

121

1331

14641

2802,8

30830,8

2002

322,5

12

144

1728

20736

3870

46440

2003

320,8

13

169

2197

28561

4170,4

54215,2

2004

338,8

14

196

2744

38416

4743,2

66404,8

2005

442,7

15

225

3375

50625

6640,5

99607,5

2006

411,5

16

256

4096

65536

6584

105344

2007

332,7

17

289

4913

83521

5655,9

96150,3

2008

325

18

324

5832

104976

5850

105300

Jumlah

3094,6

126

1824

27216

417012

43774,8

638873

Persamaan trend kuadratis dirumuskan sebagai berikut : Y’ = a+bX+cX. Nilai-nilai a, b, dan c dihitung dengan rumus sebagai berikut :

a = (∑Y)( ∑X4) – (∑X2Y)( ∑X2)

n (∑X4)I-(∑X2)2

b = XY

X2

c = n (∑X2Y)-(∑X2)( ∑Y)

n (∑X4)-( ∑X2)2

Dari tabel 1.3 diatas diperoleh :

N = 9 ∑X2 = 1824 ∑X4 = 417012 ∑XY = 43774,8

∑ X = 10 ∑X3 = 27216 ∑Y = 3094,6 ∑X2Y = 638873

Sehingga :

a = (3094,6)(417012)-(638873)(1824) = (257478028,8) = 293,761

9 (417012) – (1824)2 426132

b = (43774,8) = 23,999

1824

c = 9 (638873) – (1824) (3094,6) = 105306,6 = 0,247

9 (417012) – (1824)2 426132

Dengan demikian persamaan trend kuadratis (parabolik) diatas adalah :

Y’ = 293,761 + 23,999 X + 0,247 X2

Maka nilai peramalan jumlah produksi kopi di Indonesia untuk 5 (lima) tahun ke depan adalah :


Tabel 1.6 Peramalan Permintaan Kopi 5 Tahun Mendatang

Tahun

X

Permintaan (Y) (ton)

2009

19

838,909

2010

20

872,541

2011

21

906,667

2012

22

941,287

2013

23

976,401

Jumlah

105

4535,805

Berdasarkan data di atas maka dapat diramalkan permintaan kopi untuk pangsa pasar dalam dan luar negeri pada tahun 2011 adalah 906,667 ton dan tahun 2012 adalah 941,287 ton.

Bersambung ………