Selamat Datang di X3-PRIMA, Melayani Setulus Hati, Memberikan yang terbaik

3.2.10

manajemen

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Suatu rencana yang telah dirumuskan dan ditetapkan sebagai hasil penyelenggaraan fungsi organik perencanaan, dilaksanakan oleh sekelompok orang yang tergabung dalam satuan-satuan kerja tersebut ,merupakan bagian dari organisasi.

Penempatan fungsi pengorganisasian segera setelah perencanan merupakan hal yang logis karena suatu rencana yang tersusun dengan rapih dan di tetapkan berdasarkan berbagai macam perhitungan, tidak terlaksana dengan sendirinya. Artinya, adanya rencana tidak dengan sendirinya mendekatkan organisasi kepada tujuan yang ingin di capainya. Diperlukan berbagai pengaturan yang menetapkan bukan saja wadah tempat berbagai kegiatan akan diselenggarakan, tetapi juga tatakrama yang harus di taati oleh setiap orang dalam organisasi dalam interaksinya dengan orang-orang lain, baik dalam satu-satuan kerja tertentu maupun antara kelompok yang ada

Aristoteles memberikan pandangan terhadap manusia sebagai kategori zoon politicon yang mengharuskan manusia itu sendiri hidup bersama –sama .sehingga dalam realita fakta membuktikan bahwa dalam hal organisasi pun demikian .Dalam kehidupan nyata orang – orang bekeja sama untuk mencapai suatu tujuan bersama ,sebagai cita- cita ,visi dan misi organisasi. Kegiatan yang dilakukan tersebut menandakan suatu lembaga atau kelompok fungsional atau biasa disebut dengan istilah organisasi. Organisasi dalam hal ini bias terdapat pada badan usaha ,intansi pemerintah ,lembaga pendidikan ,militer ,kelompok masyarakat atau suatu perkumpulan olah raga .karena organisasi tersebut dibentuk untuk pengelolaan dan system manjerial hidup .

Suatu organisasi perlu untuk mengalokasikan dan menugaskan kegiatan diantara para anggotanya agar tuijuan dari organisasi tersebut dapat tercapai dengan efisien .Oleh karena itu ndidalam bab ini akan diungkapkan mengenai bermacam – macam aspek proses pengorganisasian yang tentu saja berkenaan dengan tujuan cita –cita organisasi .Kata organisasi mempunyai dua pengertian umum .pengertian pertama menandakan suatu lembaga atau kelompok fungsional ,yang meliputi organisasi perusahaan rumah sakit perwakilan pemerintah atau suatu perkumpulan olah raga . Pengertian kedua berkenaan dengan proses pengorganisasian ,sebagai suatu cara dalam mana kegiatan organisasi dialokasikan dan ditugaskan diantara para anggotanya agar tujuan dari organisasi dapat tercapai secara efisien dan maksimal .

Pengorganisasian (organizing) merupakan proses penyusunan struktur organisasi yang sesuai dengan tujuan organisasi , sumber daya yang dimiliki ,dan lingkungan yang melingkupinya . dua aspek utama proses penyusuna struktur organisasi adalah departementalisasi yaitu pengelompokan kegiatan kerja organisasi dan bagian lainnya yaitu pembagian kerja sesuai dengan skill . aspek tersebut merupakan pengorganisasian untuk mencapai efisien dan efektifitas .

1.2 Identifikasi masalah

Mengamati perkembangan saat ini bermacam – macam struktur lembaga hadir untuk meningkatkan sumber daya manusia . organisasi ada karena kebutuhan dalam pengelolaannya juga harus ada system kerja sama .Masalah yang hadir dalam setiap organisasi adalah kurangnya kecakapan dan ketidak profesionalan seseorang dalam mengelola structural organisasi ,adakalanya juga ketidak sesuaian dan konflik diantara personalia. Masalah yang saya bahas dalam kajian makalah ini adalah bagaimana caranya tercapai system organisasi yang ideal dan sesuai dengan prosedur yang telah ada .Karena untuk terbentuk hal demikian bukan hal yang mudah .Maka dari itu system pengorganisasian dan penyusunan personalia dalam system organisasi harus terumus dan tersusun lebih awal .Agar kredibilitas dan kapabelitas seseorang dalam organisasi dapat tercapai

1.3 Maksud dan Tujuan

Maksud dan tujuan penyusuna makalah ini adalah untuk memenuhi tugas mata kuliah pengantar Manajemen dan memberikan sebuah gambaran tentang pengelolaan system organisasi dalam tahapan pengorganisasian dan penyusunan personalia dalam system organisasi . Agar tujuan organisasi dapat tercapai secara maksimal dan mampu memperbaiki perubahan yang ada supaya menjadi lebih baik .

BAB II

PEMBAHASAN

PENGORGANISASIAN DAN PENYUSUNAN PERSONALIA ORGANISASI

2.1 Pengertian pengorganisasian

Istilah pengorganisasian mempunyai bermacam – macam pengertian .Istilah tersebut dapat digunakan untuk menunjukan hal – hal berikut ini yaitu diantaranya :

1. Cara manjemen merancang struktur formal untuk penggunaan yang paling efektif sumber daya keuangan , fisik, bahan baku , dan tenaga kerja organisasi .

2. Hubungan – hubungan antar fungsi , jabatan , tugas , dan para karyawan .

3. Cara dalam mana para manajer membagi lebih lanjut tugas – tugas yang harus dilaksanakan dalam departemen mereka dan mendelegasikan wewenang yang perlu untuk mengerjakan tugas berikut .

Dari ketiga hal diatas dapat disimpulkan bahwa pengorganisasian merupakan suatu proses untuk merancang struktur formal ,mengelompokan dan mengatur serta membagi tugas – tugas atau pekerjaan diantara para anggota organisasi , agar tujuan organisasi dapat dicapai dengan efisien .

2.2 Struktur organisasi

Struktur organisasi menunjukan kerangka dan susunan perwujudan pola tetap- hubungan - hubungan diantara fungsi – fungsi , bagian – bagian atau posisi –posisi ataupun orang yang menunjukan kedudukan , tugas wewenang dan tanggung jawab yang berbeda –beda dalam organisasi . struktur ini mengandung unsur – unsur spesialis kerja, standarlisasi, koordinasi, sentralisasi atau desentralisasi dalam pembuatan keputusan dan besaran (ukuran) satuan kerja.

Adapun faktor – faktor utama yang menentukan perancangan struktur organisasi adalah sebagai berikut :

1. Strategi organisasi untuk mencapai tujuan.

2. Teknologi yang digunakan.

3. Anggota (pegawai/ karyawan ) dan orang – orang yang terlibat dalam organisasi.

4. Ukuran/besarnya organisasi .

Unsur – unsur struktur organisasi terdiri dari :

1. Spesialisasi kegiatan

2. Standarisasi kegiatan

3. Koordinasi kegiatan

4. Sentralisasi dan desentralisasi pembuatan keputusan

5. Ukuran satuan kerja

2.3 Kelompok - kelompok kerja Formal , Organisasi

a. Organisasi formal

b. Pembagian kerja

c. Manajer dan bawahan atau rantai perintah

d. Tipe pekerjaan yang dilaksanakan

e. Pengelompokan segmen pekerjaan

f. Tingkat majemen

Organisasi mempunyai 3 tipe utama kelompok – kelompok kerja formal, yaitu :

1. Kesatuan tugas khusus

2. Panitia : Tetap (standing coomites ) disebut juga panitia structural tdak tetap (ad hoc)

3. Dewan (boards ) dan komisi

Kesatuan kerja khusus atau tim proyek dibentuk untuk menangani suatu masalah atau tugas khusus .Kesatuan ini keberadaannya hanya sampai tugas yang disampaikan atau masalah dipecahkan , kesatuan tugas biasanya dibentuk untuk menangani masalah dan tugas yang kompleks dan melibatkan beberapa satuan kerja organisasi . Kelompok tugas biasanya meliputi para wakil ( para pembuat keputusan ) dari satuan organisasi ditambah para ahli yang secara teknis yang diperlukan untuk menangani masalah atau tugas .

Panitia tetap (standing commitess) dan panitia ad hoc .panitia tetap dikenal sebagai structural adalah bagian tetap dari struktur suatu organisasi yang dibentuk untuk menangani tugas yang kompleks dan melibatkan beberapa satuan kerja organisasi. Kelompok tugas biasanya meliputi para wakil (para pembuat keputusan) dari satuan organisasi ditambah para ahli yang secara teknis yang diperlukan untuk menangani masalah atau tugas .

Panitia tetap (standing commites ) dan panitia ad hoc . Panitia tetap (dikenal sebagai panitia structural ) adalah bagian tetap dari struktur suatu organisasi yang dibentuk untuk menangani tugas yang terus menerus ada dalam organisasi seperti panitia anggaran, panitian pengembangan, produk baru, panitia pembelian, dan sebagainya . Panitia ini biasanya membuat rekomendasi formal kepada manajer tingkat atas atau mempunyai wewenang untuk membuat keputusan sendiri bagi suatu kegiatan organisasi yang terbatas . Panitia ad hoc mempunyai fungsi yang serupa dengan panitia tetap , hanya tidak bersipat tetap.

2.4 Perbedaan Organisasi formal danInformal

NO

FORMAL

INFORMAL

1

Hubungan – hubungan antar pribadi di dalam organisasi digambarkan secara jelas

Sedangkan dalam informal tergantung kepada kebutuhan – kebutuhan mereka

2

Kepemimpinan . Para pemimpin dirancang dan ditentukan dalam formal .

Muncul dan dipilih atas dasr pertimbangan

3

Pengendalian perilaku . Organisasi formal mengendalikan perilaku karyawan melalui penghargaan dan hukuman

Sedangkan kelompok informal mengendalikan para anggota dengan pemenuhan kebutuhan

4

Ketergantungan . Karena kapasitas pemimpin formal terletak pada penghargaan dan hukuman

Bawahan – bawahan lebih dari pada para anggota suatu kelompok informal .

Walaupun ada perbedaan tersebut adalah suatu kesalahan bila mengangap kelompok formal dan informal sebagai dua kesatuan organisasi yang terpisah . Keduanya hidup bersama dan tidak dapat dipisahkan setiap organisasi formal selalu mempunyai organisasi informal dan setiap organisasi informal berkembang dalam berbagai tingkatan formal.

Fungsi – fungsi yang dilaksanakan kelompok informal ialah sebagai berikut :

a) Menetapkan ,memperkuatkan dan meneruskan norma- norma dan nilai social budaya para anggota kelompok .

b) Memberikan dukungan terhadap tujuan organisasi dan bantuan terhadap tugas manajer

c) Menstimulasi komunikasi efektif dan dinamik sebagai alat komunikasi tambahan

d) Memberikan kepuasan dan status kepada anggota yang tidak dapat diberikan organisasi formal

Masalah yang diciptakan, kelompok informal ini walaupun tidak dititapkan secara formal oleh organisasi, dapat ditimbulkan berbagai masalah bagi manajer. Masalah tersebut antara lain adalah bahwa kelompok informal menciptakan konflik, mendorong penolakan terhadap perubahan, menghidupkan dan menyebarkan desas desus, dan mengembangkan keseragaman diantar anggota termasuk pembatasan pelaksanaan kegiatan .

Sikap manajemen terhadap organisasi informal: Kelompok informal tidak dapat dihindarkan kehadirannya, dan manajemen akan melakukan tindakan sia – sia dan bila mencoba menentang dan menghapuskannya hal ini akan menimbulkan konflik.

Sikap manjemen yang baik adalah memahami, mencari penyesuaian, dengan melakukan kerjasama yang saling menguntungkan kelompok informal. manajemen formal lebih memuaskan perhatian untuk memelihara kesatuan dan pencapaian tujuan organisasi ,dan organisasi informal memberikan kepaduan kerja sama dan kepuasan social bagi para anggota organisasi.

2.5 Departement Alisasi

Departementalisasi adalah : suatu proses penentuan cara bagaimana bagaimana kegiatan yang dikelompokan. Beberapa bentuk departementalisasi yaitu :

a. Fungsi

b. Produk atau jasa

c. Wilayah

d. Langganan

e. Proses atau Peralatan

f. Waktu

g. Pelayanan

h. Alpa- Numeral

i. Departementalisasi Fungsional

Departementalisasi fungsional mengelompokan fungsi – fungsi yang sama atau kegiatan – kegiatan sejenis untuk membentuk suatu satuan organisasi. semua individu – individu yang melaksanakan fungsi yang sama dikelompokan bersama , seperti seluruh personalia ,penjualan , akuntansi , programmer computer , dan lain – lain .

Organisasi fungsional ini barang kali merupakan bentuk yang paling umum dan bentuk dasar departementalisasi .

Departementalisasi fungsional yang digunakan pada tingkatan manajemen puncak dalam membagi empat fungsi utama bisnis yaitu produksi , pemasaran , keuangana dan personalia (kepegawaian ).

2.6 Departementalisasi Fungsional

Departementalisasi fungsional mengelompokan fungsi – fungsi yang sama atau kegiatan – kegiatan sejenis untuk membentuk suatu satuan organisasi . semua individu – individu yang melaksanakan fungsi yang sama dikelompokan bersama , seperti seluruh personalia ,penjualan , akuntansi , programmer computer , dan lain – lain .

Organisasi fungsional ini barang kali merupakan bentuk yang paling umum dan bentuk dasar departementalisasi .

Departementalisasi fungsional yang digunakan pada tingkatan manajemen puncak dalam membagi empat fungsi utama bisnis yaitu produksi , pemasaran , keuangana dan personalia (kepegawaian ).

Presiden Direktur


Bagan 2.1 Bagan organisasi Divisional suatu perusahaan manufacturing atas dasar Produk

2.7 Departementalisasi Divisional

Banyak perusahaan besar, dengan banyak jenis produk, diorganisasikan menuruta struktur organisasi divisional . Bila departementalisasi perusahaan nenjadi terlalu komplek dan tidak praktis bagi struktur fungsional ,manajer perlu membentuk divisi – divisi semi otonomi , dimana setiap divisi merancang, memproduksi dan memasarkan produknya sendiri .

Organisasi divisional dapat mengikuti pembagian divisi atas dasr produk, wilayah (geografis), langganan , dan proses atau peralatan . Struktur organisasi divisional atas dasar produk .Setiap departemen bertanggung jawab atas suatu produk . Setiap deoartemen bertanggung jawab atass suatu produk atau sekumpulan produk yang berhubungan (garis produk ) . Divisionalisasi produk adalah pola logic yang dapat diikuti bila jenis – jenis produk mempunyai teknologi pemerosesan dan metode – metode pemasaran yang sangat berbeda satu dengan yang lain dalam organisasi Dalam gambar terlihat bahwa Perusahaaan diorganiasikan atas dasar produk pada tingkat manajer umum , dan pada tingkat selanjutnya menggunakan pendekatan fungsional .

Produksi

Personalia

Pemasaran

Keuangan

Keuangnan

Produksi

Personalia

Pemasaran

Struktur organisasi divisional atas dasar wilayah. Departemen talisasi wilayah, kadang–kadang juga disebut departementalisasi daerah, regional, atau geografis, adalah pengelompokan kegiatan – kegiatan menurut tempat dimana operasi berlokasi atau dimana satuan – satuan organisasi memjalankan usahanya. Faktor – faktor lokasi yang terutama menjadi pertimbangan adalah sumber bahan mentah , pasar dan dan tenaga kerja .

Perusahaan yang menjual produknya diberbagai wilayah yang tersebar luas, dapat membaginya menjadi kelompok – kelompok wilayah dengan manajer tersendiri . Perusahaan – perusahaan jasa , perbankan dan perusahaan – perusahaan bukan manufacturing lainnya lazim diorganisasikan atas dasar wilayah , dengan membuka kantor –kantor perbankan dan perusahaan – perusahaan bukan manufacturing lainnya lazim diorganisasikan atas dasar wilayah , dengan membuka kantor –kantor cabang .Sebagai contoh departemen talisasi atas dasar wilayah dalam suatu perusahaan manufacturing dapat dilihat pada gambar 2.3

Gambar 2.3 Bagan Organisasi Divisional suatu perusahaan manufacturing atas dasar wilayah

Produksi

Personalia

Pemasaran

Keuangan

Keuangnan

Produksi

Personalia

Pemasaran

Struktur Organisasi Divisional atas dasar langganan. Departementalisasi langganan adalah pengelompokan kegiatan – kegiatan yang dipusatkan pada penggunaan produk atau jasa tertentu .Pembentukan divisi atas dasar langganan ini terutama digunakan dalam pengelompokan kegiatan – kegiatan pengelompokan penjualan atau pelayanan. Departementalisasi proses atau peralatan pengelompokan kegiatan – kegiatan atas dasar proses atau peralatan produksi . Hal ini sering dijumpai dalam departemen produksi .Kegiatan pabrik manufacturing dikelompokan mkemjadi departemen – departemen pemboran, penggilingan, penggergajian, perakitan dan penyelesaian terakhir.

Memerlukan keterampilan – keterampilan pengoperasian khusus atau akan lebih ekonomis bila kapasitas digunakan sepenuhnya Pendekatan proses atau peralatan terutama ditentukan atas dasar pertimbangan ekonomis. Kebaikan struktur divisional. Organisasi atas dasar divisi mempunyai beberapa kebaiakan, karena semua kegiatan, keterampilan dan keahlian yang diperlukan untuk memproduksi dan memasarkan produk dikelompokan menjadi satu dibawah seorang kepala, keseluruhan pekerjaan dapat lebih mudah dikoordinasikan dan prestasi kerja yang tinggi terpelihara .Disamping itu, baik kualitas dan kecepatan pembuataan keputusan meningkat, karena keputusan yang dibuat pada tingkat divisi dekat dengan kancah kegiatan .Kebaikan – kebaikan struktur divisional meliputi :

Ø Meletakan koordinasi dan wewenang yang diperlukan pada tingkat yang sesuai bagi pemberian tanggapan cepat .

Ø Menempatkan pengembangan dan implementasi strategi dekat dengan lingkungan divisi yang khas .

Ø Merumuskan tanggung jawab secara jelas dan memusatkan perhatian pada pertnggung jawaban atas prestasi kerja yang biasanya diukur dengan laba atau rugi .

Ø Membebaskan para kepala eksekutip untuk pembuatan keputusan strategi lebih luas dan memungkinkan konsentrasi penuh pada tugas – tugas

Ø Cocok untuk lingkungan yang cepat berubah

Ø Mempertahankan spesialisasi fungsional

Ø Tempat latihan yang baik bagi para manjer strategi

Kelemahan struktur divisional adalah sebagai berikut :

1. Menyebabkan berkembangnya persaingan dyspungsional potensi antar sumber daya perusahan dan konflik antar tugas – tugas dan prioritas.

2. Masalah seberapa besar delegasi wewenang yang diberikan kepada manajer – manjer divisi

3. Masalah kebijaksanaan dalam alokasi sumberdaya dan distribusi biaya – biaya overhead perusahaan

4. Dapat menimbulkan tidak konsistennya kebijaksanaan antara divisi – divisi

5. Masalah duplikasi sumber daya dan peralatan yang tidak perlu

2.8 Organisasi proyek Dan matriks

Bentuk organisasi proyek dan matriks adalah tipe departementalisasi campuran .

Kebaikan organisasi matriks dapat diperinci sebagai berikut :

1. Memaksimumkan efisiensi penggunaan manajer – manajer fungsional

2. Mengembangkan keterampilan karyawan dan tempat berlatih bagi manajer- manajer strategi.

3. Melibatkan ,memotifasi dan menantang karyawan serta mermperluas pandangan manajemen terhadap masalah perusahaan

4. Memberikan fleksibilitas kepada organisasi dan membantu perkembangan kreatifitas serta melipat gandakan sumber – sumber yang beraneka ragam

5. Membebaskan manajemen puncak untuk perencanaan

6. Menstimulasi kerja sama antar disiplin dan mempermudah kegiatan perusahaan dengan orientasi proyek

Kelemahan organisasi matriks yaitu sebagai berikut :

1. Pertanggung jawaban ganda dapat menciptakan kebingungan dan kebijaksanaan – kebijaksanaanyang kontradiktif

2. Sangat memerlukan koordinasi horizontal dan vertical

3. Memerlukan lebih banyak keterampilan

4. Mendorong pertentangan kekuasaan dan lebih mengarah perdebatan dari pada kegiatan

5. Mengandung resiko timbulnya perasaan anarki

6. Sangat mahal untuk diimplementasikan

2.9 PENYUSUNAN PERSONALIA DALAM ORGANISASI

Penyusunan personalia adalah fungsi manajemen yang berkenaan dengan penarikan, penetapan, pemberitahuan latihan, dan pengembangan anggota-anggota organisasi. Dalam bab ini akan dibahas bagaimana organisasi menentukan kebutuhan sumber daya manusia sekarang dan di waktu yang akan datang.

Kegiatan-kegiatan penyusunan personalia sangat erat hubungannya dengan tugas-tugas kepemimpinan, motivasi, dan komunikasi, sehingga pembahasannya sering ditempatkan sebagai bagian dari fungsi pengarahan. Tetapi fungsi ini berhubungan ert dengan fungsi pengorganisasian, dimana pengorganisasian mempersiapkan ” kendaraan ”-nya dan peyusunan personalia mengisi ” pengemudi ”-nya yang sesuai gengan posisi kerja yang ada. Akhirnya, fungsi penyusunan personalia harus dilaksanakan oleh semua manajer, baik mereka mengolah perusahan besar ataupun menjadi pemilik perusahan kecil.

2.9.1 Proses Penyusunan Personalia

Proses penyusunan personalia (staffing process) dapan dipandang sebagai serangkaian kegiatan yang dilaksanakan terus menerus untuk menjaga pemenuhan kebutuhan personalia organisasi dengan orang-orang yang tepat dalam posisi-posisi tepat dan pada waktu yang tepat. Fungsi ini dilaksanakan dalam dua tipe lingkungan yang berbeda. Pertama, lingkungan eksternal yang meliputi seluruh faktor di luar organisasi yang secara langsung atau tidak langsung mempengaruhinya. Kedua lingkungan internal, yang terdiri dari unsur-unsur di dalam organisasi.

Langkah-langkah proses ini mencakup:

1. perencanaan sumber daya manusia, yang dirancang untuk menjamin keajegan dan pemenuhan kebutuhan personalia organisasi.

2. Penarikan, yang berhubungan dengan pengadaan calon-calon personalia segaris dengan rencana sumber daya manusia.

3. Seleksi, mencakup penilaian dan pemilihan di antara calon-calon personalia.

4. Pengenalan dan orientasi, yang dirancang untuk membantu individu-individu yang terpilih menyesuaikan diri dengan lancar dalam organisasi.

5. Latihan dan pengembangan

2.9.2 Istilah Manajemen Personalia Dan Sumber Daya Manusia

Manajemen personalia diperlukan untuk meningkatkan efektifitas sumber daya manusia bukan sumber daya yang lain .Tujuannya adalah untuk memberikan kepada organisasi satuan kerja yang efektif .yang dikatakan dengan manajemen personalia semua manjer yang mengendalikan orang lain .

Manjemen personalia dan sumberdaya manusia adalah pengakuan terhadap pentingnya satuan tenaga kerja organisasi sebagai sumber daya manusia yang vital bagi pencapaian tujuan organisasi ,dan pemanfaatan fungsi dan kegiatan personalia untuk menjamin bahwa mereka digunakan secara efektif dan bijak dan bermanfaat bagi individdu, organisasi, dan masyarakat .

Konsep efektifitas organisasi perlu dipertimbangkan dalam penganalisaan dan penilaian strategi , kebijaksanaan dan praktek personalia .Sedangkan kegiatan – kegiatan personalia adalah tindakan – tindakan yang diambil untuk memberikan kepada organisasi satuan kerja yang efektip .

2.9.3 Organisasi Manajemen Personalia

Pengorganisasian fungsi personalia merupakan proses penyusunan struktur organisasi departemen personalia penyusunan hendaknya memperhatikan tujuan dan strategi organisasi .

BAB III

PENUTUP

Penyusunan personalia adalah fungsi manajemen yang berkenaan dengan penarikan, penetapan, pemberitahuan latihan, dan pengembangan anggota-anggota organisasi.

Kegiatan-kegiatan penyusunan personalia sangat erat hubungannya dengan tugas-tugas kepemimpinan, motivasi, dan komunikasi, sehingga pembahasannya sering ditempatkan sebagai bagian dari fungsi pengarahan. Tetapi fungsi ini berhubungan erat dengan fungsi pengorganisasian, dimana pengorganisasian mempersiapkan ” kendaraan ”-nya dan peyusunan personalia mengisi ” pengemudi ”-nya yang sesuai gengan posisi kerja yang ada. Akhirnya, fungsi penyusunan personalia harus dilaksanakan oleh semua manajer, baik mereka mengolah perusahan besar ataupun menjadi pemilik perusahan kecil.

Proses Penyusunan Personalia

Proses penyusunan personalia (staffing process) dapan dipandang sebagai serangkaian kegiatan yang dilaksanakan terus menerus untuk menjaga pemenuhan kebutuhan personalia organisasi dengan orang-orang yang tepat dalam posisi-posisi tepat dan pada waktu yang tepat. Fungsi ini dilaksanakan dalam dua tipe lingkungan yang berbeda. Pertama, lingkungan eksternal yang meliputi seluruh faktor di luar organisasi yang secara langsung atau tidak langsung mempengaruhinya. Kedua lingkungan internal, yang terdiri dari unsur-unsur di dalam organisasi.

Langkah-langkah proses ini mencakup:

1. Perencanaan sumber daya manusia, yang dirancang untuk menjamin pemenuhan kebutuhan personalia organisasi.

2. Penarikan, yang berhubungan dengan pengadaan calon-calon personalia segaris dengan rencana sumber daya manusia.

3. Seleksi, mencakup penilaian dan pemilihan di antara calon-calon personalia.

4. Pengenalan dan orientasi, yang dirancang untuk membantu individu-individu yang terpilih menyesuaikan diri dengan lancar dalam organisasi.

5. Latihan dan pengembangan

DAFTAR PUSTAKA

- Yuniarsih, T. (2002). Implementasi Konsep Manajemen Mutu Terpadu dalam

- Pendidikan. Bandung: Jurnal Manajemen dan Sistem Informasi UPI.

- Siagan, Sondang.2005.Fungsi-fungsi Manajerial. Jakarta: Bumi Aksara

- Manulung.M.2004. Dasar-dasar Manajemen. Yogyakarta:Gajah Mada University Press