Selamat Datang di X3-PRIMA, Melayani Setulus Hati, Memberikan yang terbaik

3.2.10

PENGETAHUAN DAN POSISI FILSAFAT

PENGETAHUAN DAN POSISI FILSAFAT

Pengetahuan merupakan hasil proses dari usaha manusia untuk tahu, yakni berkontaknya dua macam besaran yaitu benda/obyek (yang diperiksa, diselidiki, diketahui) dan manusia/subjek (yang memeriksa, menyelidiki, dan mengetahui)

Pengetahuan terdiri dari empat macam.

1. Pengetahuan Biasa (Common Sense)

Pengetahuan biasa muncul karena adanya kegiatan akal sehat manusia yang ditujukan pada kejadian sehari-hari yang mereka alami. Misalnya, pengetahuan tentang terbit dan tenggelamnya matahari, pengetahuan tentang hujan yang turun dari langit. Pengetahuan biasa bisa terjadi melalui pencerapan pancaindra, baik disengaja maupun tidak.

Ciri pengetahuan biasa (Harold H. Titus)

- Cenderung menjadi biasa dan tetap serta bersifat peniruan atau pewarisan dari masa lampau

- Sering kabur atau samar dan memiliki arti ganda

- Merupakan suatu kebenaran atau kepercayaan yang tidak teruji atau tidak pernah diuji kebenarannya

2. Pengetahuan Ilmu (science)

Science yaitu pengetahuan manusia yang telah memenuhi syarat-syarat tertentu yaitu berobyek, bermetoda, berisistem, dan bersifat universal. Pengetahuan ilmiah ini hanya dimiliki oleh beberapa orang saja.

Ilmu (science) terdiri dari dari dua jenis (Randall):

- Formal science (matematika dan logika formal).

* memfokuskan perhatian pada hubungan-hubungan logis matematis yang murni.

- Empirical science (sosiologi, psikologi, antropologi, psikologi sosial, dll.).

* memfokuskan perhatian pada aspek-aspek pengalaman empiris.

Perbedaan antara common sense dengan empirical science:

- Common sense diperoleh melalui pengalaman secara tidak disadari atau tidak disengaja; empirical science diperoleh melalui pengalaman secara metodologis.

- Common sense bersifat random dan kebetulan;

empirical science berorientasi pada tujuan dan bersifat selektif.

- Common sense bersifat kabur, obyek dan situasinya tidak dapat dibeda-bedakan (air merupakan sesuatu untuk membasahi);

empirical science bersifat abstrak yang diperlukan untuk merumuskan hipotesis, generalisasi, atau hukum-hukum (air merupakan zat kimia).

Persamaan antara common sense dengan science:

- keduanya mencari kebenaran.

- keduanya timbul dari keinginan manusia untuk mengejar kebenaran untuk mengerti akan dirinya sendiri.

Perbedaan antara common sense dengan science:

- Common sense tidak memandang betul-betul sebab-sebabnya, tidak mencari rumusan seobyektif-obyektifnya, tidak menyelidiki obyeknya sampai habis-habisan, tidak ada sintesis, tak bermetode, dan tak bersistem.

- Science mementingkan sebab-sebabnya, mencari rumusan sebaik-baiknya, menyelidiki obyeknya selengkap-lenkgpanya sampai habis-habisan, bersintesis, bermetode, dan bersistem.

3. Pengetahuan Filsafat

Pengetahuan kefilsafatan yaitu pengetahuan manusia yang berisi tentang hakikat atau esensi, memiliki ciri deskriptif kritik atau analitik, evaluatif dan normatif, spekulatif dan sistematik.

4. Pengetahuan Religi

Pengetahuan religi adalah pengetahuan manusia yang diperoleh melalui keyakian sehingga bersifat dogmatik. Pengetahuan keagamaan bertitik tolak dari ajaran wahyu maupun hal-hal yang bersifat religi.

Antara pengetahuan biasa, pengetahuan ilmiah, filsafat dan agama mempunyai hubungan yang sangat erat.

- Pengetahuan adalah hasil dari upaya orang untuk mengetahui tentang sesuatu seperti rasa enak, sedih, bahagia, dan lain sebagainya.

- Ilmu pengetahuan adalah pendalaman lebih lanjut pengetahuan manusia. Ilmu pengatahuan adalah kumpulan pengetahuan mengenai hal tertentu (obyek/lapangan) yang merupakan kesatuan yang sistematis dan memberikan penjelasan yang sistematis yang dapat dipertanggungjawabkan dengan menunjukkan sebab-sebab hal/kejadian itu.

- Filsafat adalah pendalaman lebih lanjut dari ilmu pengetahuan, terutama mengenai masalah-masalah yang fundamental dan tujuan yang ingin dicapai oleh ilmu pengetahuan.

Di dalam menyelesaikan persoalan-persoalan hidup, manusia sangat dipengaruhi oleh filsafat hidupnya. Namun pada kenyataannya, tidak semua persoalan mampu diselesaikan dengan filsafat atau akal saja. Manusia memerlukan suatu keyakinan tentang sesuatu dzat yang berada di atas segala-galanya. Dan ini diajarkan di dalam agama. Dengan agama, manusia akan mampu menyelesaikan segala persoalan yang dihadapi.

Perbedaan Antara Antara Filsafat dan Agama:

- Menurut William Temple, filsafat menuntut pengetahuan untuk memahami, sedangkan agama menuntut pengetahuan untuk beribadah. Pokok dari agama bukan pengetahuan tentang tuhan, akan tetapi perhubungan antara seorang manusia dengan tuhan.

- Menurut C. S. Lewis, agama dapat dibandingkan dengan enjoyment yang secara kongkrit dapat disamakan dengan rasa cinta seseorang, sedangkan filsafat adalah contemplation yaitu pikiran si pecinta tentang rasa cintanya.

- Agama banyak berhubungan dengan hati, sedangkan filsafat banyak berhubungan dengan pikiran yang dingin dan tenang.

- Filsafat, walaupun bersifat tenang dalam pekerjaannya, sering mengeruhkan pikiran pemeluknya; sedangkan agama, walaupun memenuhi pemeluknya dengan semangat dan perasaan pengabdian diri, akan tetapi mempunyai efek yang menenangkan jiwa si pemeluknya.

- Filsafat mencari kebenaran berdasarkan akan, sedangkan agama mengajarkan kebenaran.

Perbedaan antara filsafat sebagai ilmu dengan ilmu pengatahuan yang lain terletak pada obyek formalnya. Ilmu filsafat memandang obyek materialnya itu secara menyeluruh dan integral, sedangkan ilmu pengetahuan (science) memandang obyek materialnya dari salah satu aspek tertentu saja. Oleh karena itu, yang ingin dicapai oleh ilmu filsafat adalah kebenaran atau kenyataan yang utuh dan integral, bukan yang parsial atau emosional.

Perbedaan antara ilmu pengetahuan dan filsafat menurut Herry Hamersma:

- Ilmu pengetahuan ialah metodis, sistematis dan koheren (bertalian) tentang suatu bidang tertentu dari kenyataan.

- Filsafat adalah metodis, sistematis, dan koheren tentang seluruh kenyataan.

Penggolongan Ilmu Pengetahuan Menurut Subyek dan Objek:

- Menurut Subyek:

  1. Teoritis

- Nomotetis: ilmu yang menerapkan hukum-hukum yang berlaku universal, mempelajari obyeknya dalam bentuk yang abstrak dan mencoba menemukan unsur-unsur yang selalu terdapat dalam setiap pernyataannya yang kongkrit bilamana dan di mana pun. Contoh, ilmu alam, ilmu kimia, sosiologi, ilmu hayat, dsb.)

- Ideografis (ide: cita-cita, grafis: lukisan) ilmu yang mempelajari obyeknya dalam bentuk kongkrit menurut tempat dan waktu tertentu yang sifatnya unik. Contoh, ilmu sejarah, etnografi.

  1. Praktis

- Normatif: ilmu yang memesankan bagaimana orang harus berbuat dengan membebankan kewajiban dan larangan. Contoh, etika (filsafat kesusilaan, filsafat moral).

- Positif: ilmu yang mengatakan bagaimana orang harus berbuat sesuatu dengan mencapai hasil tertentu. Contoh, ilmu pertanian, ilmu teknik, ilmu kedokteran, dsb.

- Menurut Objeknya:

  1. Universal (umum): meliputi keseluruhan yang ada, seluruh hidup manusia. Contoh, teologi/agama dan filsafat.
  2. Khusus (hanya meliputi salah satu obyek material atau objek formalnya)

No

Obyek Material atau Lapangan Ilmu Pengetahuan (Obyek yang Dipandang)

Obyek formal atau Sudut Pandang (Bagaimana Memandang Obyek)

1

Ilmu-ilmu Alam

Fisika, kimia, biologi, dll.

2

Ilmu Pasti (matematika)

Aljabar, geometri, aritmetika, dll.

3

Ilmu kerohanian/kebudayaan

Ilmu sejarah, ilmu mendidik, ilmu hukum, ilmu ekonomi, ilmu politik, ilmu bahasa, dll.

Tingkat-tingkat Ilmu Pengetahuan

Ilmu pengetahuan, menurut tingkatannya, terdiri dari:

1. Ilmu Pengetahuan Deskriptif

Yaitu ilmu pengetahuan yang memberikan jawaban atas pertanyaan ilmiah bagaimana. Jawaban dari pertanyaan ini merupakan pengetahuan dan pengertian tentang sifat-sifat dari obyeknya.

2. Ilmu Pengetahuan Normatif

Yaitu ilmu pengetahuan yang memberikan jawaban atas pertanyaan ilmiah ke mana. Jawaban dari pertanyaan ini merupakan pengetahuan tentang hal-hal yang biasa terjadi dan selalu berulang-ulang secara terus menerus. Kejadian-kejadian itu kemudian disebut kebiasaan, dan kebiasaan ini lalu dijadikan pedoman. Dari pedoman-pedoman itu kemudian dipelajari dan dirumuskan menjadi tujuan yang akhirnya dituangkan di dalam aturan-aturan atau norma-norma.

3. Ilmu Pengetahuan Kausal atau Esensi

Yaitu ilmu pengetahuan yang memberikan jawaban atas pertanyaan ilmiah apa. Jawaban dari pertanyaan ini merupakan pengetahuan tentang hakikat. Ilmu pengetahuan tentang hakikat disebut juga dengan ilmu pengetahuan yang ingin mencari inti mutlak dari halnya.

FILSAFAT

Arti Secara Etimologis

Kata filsafat berasal dari bahasa Arab falsafah yang dalam bahasa Inggris dikenal dengan istilah philosophy dan semua itu berasal dari bahasa Yunani philosophia. Kata philosophia terdiri dari kata philein yang berarti cinta (love) dan sophia yang berarti kebijaksanaan (wisdom). Dengan demikian, secara etimologis, filsafat berarti cinta kebijaksanaan (love of wisdom) dalam arti yang sedalam-dalamnya. Seorang filsuf adalah pecinta atau pencari kebijaksanaan.

Kata filsafat pertama kali digunakan oleh Pythagoras (582-496 SM). Arti filsafat pada saat itu belum begitu jelas hingga datang masa kaum sophist dan Socrates (470-339).

Ada juga yang berpendapat bahwa filsafat secara harfiah mengandung arti kegandrungan mencari himah kebenaran dan arif kebijaksanaan dalam hidup dan kehidupan. Maka, dapatlah dikatakan bahwa secara etimologis, filsafat berarti mencintai kebijaksanaan dan mendambakan pengetahuan.

Asal Filsafat

Ada tiga hal yang mendorong manusia untuk berfilsafat.

1. Keheranan

Sebagian filsuf berpendapat bahwa adanya rasa heran merupakan asal dari filsafat. Misalnya, Plato mengatakan bahwa mata kita mengamati bintang-bintang, matahari, dan langit. Pengamatan itu mendorong kita untuk menyelidiki. Imanuel Kant (1724-1804) mengherankan dua gejala yaitu langit berbintang-bintang di atasnya dan hukum moral dalam hatinya.

2. Kesangsian

Augustinus (354-430) dan Rene Descartes (1596-1650) berpendapat bahwa kesangsian merupakan sumber utama bagi pemikiran manusia. Pada saat melihat atau mengetahui sesuatu yang baginya merupakan hal yang baru, manusia akan merasa heran, kemudian akan merasa sangsi atau ragu-ragu. Bahkan Rene Descartes terkenal dengan ucapannya, “Cogot ergo sum” yang berarti “Saya berpikir, maka saya ada.” Yang dimaksudkan Descartes dengan berpikir adalah menyadari. Sikap menyangsikan ini sangat berguna untuk menemukan dasar semua pengetahuan.

3. Kesadaran akan Keterbatasan

Manusia mulai berfilsafat jika ia menyadari bahwa dirinya sangat kecil dan lemah terutama jika dibandingkan dengan alam sekelilingnya. Manusia merasa bahwa ia sangat terbatas dan terikat terutama pada saat mengalami penderitaan atau kegagalan. Dengan kesadaran akan keterbatan dirinya tersebut, manusia mulai berfilsafat. Ia mulai memikirkan bahwa di luar manusia yang terbatas, pasti ada sesuatu yang tidak terbatas.

Pengertian Filsafat

Para filsuf telah berusaha merumuskan pengertian filsafat sesuai dengan sudut pandangnya masing-masing. Tidak heran kalau kita menemukan banyak definisi mengenai filsafat sebanyak orang mendefinisikannya. Kaitannya dengan hal ini, Harold H. Titus menyarankan agar dalam mendefinisikan filsafat sekurang-kurangnya bertolak dari empat sudut pandang yang saling melengkapi.

1. Filsafat adalah suatu sikap terhadap hidup dan alam semesta

Sikap filosofis adalah sikap berpikir yang melibatkan usaha untuk memikirkan masalah hidup dan alam semesta dari semua sisi yang meliputi kesiapan menerima hidup dalam alam semesta sebagaimana adanya dan mencoba melihatnya dalam keseluruhan hubungan. Sikap filosofis dapat ditandai dengan sikap kritis, berpikir terbuka, toleran, dan mau melihat dari sisi lain.

2. Filsafat adalah suatu metode berpikir reflektif dan metode pencarian yang beralasan

Ini bukanlah metode filsafat yang ekslusif, tetapi merupakan metode berpikir yang akurat dan sangat berhati-hati terhadap seluruh pengalaman.

3. Filsafat adalah kumpulan masalah

Sejak dahulu sampai sekarang banyak masalah yang sangat mendasar yang masih tetap tak terpecahkan meskipun para filsuf telah banyak mencoba memberikan jawabannya. Misalnya, pertanyaan apakah keindahan itu? apakah kebenaran itu? dan apakah perbedaan antara benar dan salah?

4. Filsafat merupakan kumpulan teori atau sistem-sistem pemikiran

Filsafat berarti teori-teori filosofis yang beraneka ragam atau sistem-sistem pemikiran yang telah muncul dalam sejarah yang biasanya dikaitkan dengan nama-nama filsuf seperti Socrates, Plato, Aristoteles, Augustinus, Spinoza, John Locke, Berkeley, Imanuel Kant, dan lain-lain. Mereka sangat berpengaruh bagi pemikiran di masa sekarang. Dari mereka lahir teori-teori seperti idealisme, realisme, pragmatisme, humanisme, dan materialisme.

Filsafat sebagai Ilmu

Filsafat sebagai ilmu merupakan ilmu pengetahuan esensi atau ilmu pengetahuan hakiki.

Seperti ilmu-ilmu lainnya, filsafat sebagai ilmu harus memenuhi empat syarat ilmiah.

1. Mempunyai obyek.

2. Bermetoda.

3. Disusun secara sistematis.

4. Bersifat universal.

1. Obyek Filsafat

Dalam filsafat pengetahuan, pengertian obyek dibagi menjadi obyek material dan obyek formal. Obyek material adalah hal yang diselidiki, dipandang, disorot. Sedangkan obyel formal adalah sudut pandangan (pont of view), kaca mata dari mana seseorang memandang sesuatu. Misalnya, ilmu alam, ilmu gaya, dan ilmu kimia. Kesemuanya itu merupakan obyek materialnya. Namun, ilmu-ilmu tersebut berbeda karena obyek formalnya (sudut pandangnya). Contoh, sudut pandang ilmu alam adalah perubahan dan bangun benda; sudut pandang ilmu gaya adalah kekuatan dan gerak benda; dan sudut pandang ilmu kimia adalah susunan benda.

Lalu, apakah obyek filsafat itu?

Obyek material filsafat adalah segala sesuatu yang ada, baik yang ada dalam pikiran, ada dalam kenyataan, maupun ada dalam kemungkinan. Sedangkan obyek formalnya adalah sudut pandang yang menyeluruh, secara umum, sehingga dapat mencapai hakikat dari obyek materialnya. Inilah yang membedakan antara filsafat dengan ilmu pengetahuan pada umumnya.

2. Metoda Filsafat

Kata metoda berasal dari kata meta yang artinya menuju, melalui, sesudah, mengikuti; dan kata hodos yang artinya cara, jalan, dan arah. Metoda sering diartikan sebagai jalan berpikir, dalam bidang penelitian untuk memperoleh pengetahuan.

Dalam bidang filsafat, ada berbagai macam metode antara lain:

1. Metode Kritis

Yaitu dengan menganalisis istilah atau pendapat, dilakukan dengan jalan bertanya secara terus menerus sampai akhirnya ditemukan hakikat dari yang ditanyakan. Tokohnya: Socrates dan Plato.

2. Metode Intuitif

Yaitu dengan melakukan introspeksi intuitif dan dengan memakai simbol-simbol. Tokohnya, Henry Bergson.

3. Metode Analisis Abstraksi

Yaitu dengan jalan memisah-misahkan atau menganalisis dalam abstraksi atau angan-angan sampai akhirnya ditemukan hakikatnya. Aristoteles mengajarkan bahwa setiap benda terdiri dari sepuluh macam kategori. Untuk sampai pada pengertian hakikat suatu benda, maka kita harus menghilangkan hal-hal yang sifatnya kebetulan atau menempel yang disebutnya aksidensia.

Aksidensia terdiri dari sembilan hal yaitu:

- Kuantitas

Yaitu suatu pengertian yang memberikan jawaban atas pertanyaan mengenai jumlah: satu, dua, tiga, dan seterusnya.

- Kualitas

Yaitu suatu pengertian yang memeberikan jawaban atas pertanyaan bagaimana mutu hal itu.

- Relasi

Yaitu suatu pengertian yang menunjuk hubungan suatu hal dengan hal yang lainnya. Pengertian yang menunjuk pada sebab yang menjadikan hal itu merupakan pengertian yang menunjuk pada relasi.

- Aksi

Yaitu suatu pengertian yang menunjuk pada perubahan-perubahan yang ada dan yang mungkin ada di dalam suatu hal.

- Passi

Yaitu suatu pengertian yang menunjuk pada penerimaan perubahan atau yang dipengaruhi oleh hal yang lain.

- Tempat

Yaitu suatu pengertian yang menunjuk pada besar kecilnya sesuatu yang dengan demikian memerlukan tempat.

- Keadaan atau sikap

Yaitu suatu pengertian yang menerangkan bagaimana sesuatu hal pada tempatnya.

- Kedudukan

Yaitu suatu pengertian yang menjelaskan hal-hal lain yang mengerumuni benda itu.

- Waktu

Yaitu suatu pengertian yang menyatakan bilamana hal itu berada.

Setelah aksidensia itu bisa dilepaskan dari pikiran kita, maka kemudian tinggal inti mutlaknya atau hakikatnya yaitu sesuatu hal yang harus ada untuk waktu adanya yang disebut Aristoteles sebagai substansia. Substansia ini sifatnya tetap dan tidak berubah. Misalnya, hakikat air adalah H2O dan hakikat besi adalah Fe.

3. Sistematis

Bidang filsafat terdiri dari berbagai macam unsur yang masing-masing tidak bisa berdiri sendiri. Sebaliknya, antara unsur yang satu dengan unsur lainnya saling berhubungan dan berkaitan dengan sehingga merupakan satu kebulatan yang tidak bisa sipisah-pisahkan.

4. Universal

Kebenaran yang dicapai oleh filsafat beserta rumusannya harus bersifat umum dan tidak terbatas oleh ruang dan waktu, berlaku di mana saja, dan kapan saja sehingga dapat dipakai sebagai pedoman.

Beberapa Definisi Filsafat sebagai lmu Menurut Para Filsuf

1. Plato (427-347 SM)

Filsafat adalah ilmu pengetahuan tentang hakikat

2. Aristoteles (384-322 SM)

Filsafat adalah ilmu pengetahuan tentang kebenaran yang meliputi logika, fisika, metafisika, dan pengetahuan praktis.

3. Immanuel Kant (1724-1804)

Filsafat adalah ilmu pengetahuan mengenai pokok pangkal dari segala pengetahuan dan perbuatan.

4. Bertrand Russel (1872-1970)

Filsafat adalah ilmu pengatahuan yang memeriksa secara kritis asas-asas yang dipakai di dalam ilmu pengetahuan dan kehidupan sehari-hari dan mencari sesuatu ketidakselarasan yang terkandung di dalam asas-asas itu. Filsafat adalah sesuatu yang terletak di antara teologi dan ilmu pengetahuan, terletak di antara dogma-dogma dan ilmu-ilmu eksakta.

5. D. C. Mulder

Filsafat adalah pemikiran teoritis tentang susunan dan kenyataan sebagai keseluruhan. Ilmu filsafat mengabstraksikan susunan kenyataan dan membuat susunan itu menjadi sasaran pemikirannnya.

6. N. Driyarkara

Filsafat adalah permenungan yang sedalam-dalamnya tentang sebab-sebab “ada” dan “berbuat”, permenungan tentang kenyataan (realitas) yang sedalam-dalamnya sampai ke “mengapa” yang penghabisan.

7. Notonegoro

Filsafat menelaah hal-hal yang menjadi obyeknya daru sudut intinya yang mutlak dan yang terdalam, yang tetap dan yang tidak berubah, yang disebut hakikat.

8. Poedjawijatna

Filsafat ialah ilmu yang berusaha mencari sebab yang sedalam-dalamnya bagi segala sesuatu berdasarkan pikiran belaka.

9. Fung Yu Lan

Filsafat adalah pikiran yang sistematis dan refleksi tentang hidup.

Dari beberapa pengertian filsafat di atas, maka dapat disimpulkan bahwa filsafat merupakan ilmu pengetahuan yang menyelidiki segala sesuatu yang ada secara mendalam dengan mempergunakan akal untuk sampai kepada hakikat atau esensi. Dengan kata lain, filsafat adalah ilmu yang menggambarkan usaha manusia untuk mencari dan menemukan kebenaran kenyataan baik mengenai diri sendiri maupun segala sesuatu yang dijadikan obyeknya secara kritis, mendasar, radikal, dan integral.

Ciri-ciri Filsafat

Sunoto dalam bukunya yang berjudul Mengenal Filsafat Pancasila I menyebutkan lima ciri dari berfilsafat.

1. Deskriftif

Pengertian deskriptif merupakan suatu uraian yang terperinci tentang aspek-aspek sesuatu yang penting, memberikan keterangan bagaimana hal itu bekerja (The Liang Gie, 1977 hal. 64).

2. Kritik dan Analitik

Tugas pertama dari berfilsafat yaitu menganalisis pengertian karena filsafat cocok untuk menghasilkan kejelasan dan ketegasan sehubungan dengan konsep-konsep dasar mana kita memikirkan dunia dan kehidupan manusia.

3. Evaluatif dan Normatif

Filsafat merupakan kegiatan berpikir untuk memperoleh hakikat dari obyek materialnya. Filsafat juga merupakan kegiatan penilaian dari manusia melalui kemampuan jiwanya yang akan menghasilkan nilai benar dan salah yang banyak dibicarakan dalam cabang filsafat logika; nilai indah dan jelek yang dibahas di dalam filsafat estetika; dan nilai baik dan buruk yang dibicarakan dalam cabang filsafat etika.

4. Spekulatif

Sebagai kegiatan akal budi manusia, filsafat merupakan suatu perekaan atau spekulasi. Manusia dengan kemampuannya mengadakan penjajagan untuk menyelesaikan persoalan-persoalan yang mereka hadapi sehari-hari secara tuntas.

5. Sistematik

Filsafat merupakan suatu sistem. Hal itu berarti bahwa filsafat mempunyai beberapa unsur yang dapat dibedakan secara jelas. Unsur-unsur itu tidak berdiri sendiri dan melakukan fungsinya sendiri-sendiri, melainkan merupakan bagian yang saling berkaitan antara unsur yang satu dengan yang lainnya. Setiap unsur saling mempengaruhi, saling mendukung, dan membentuk satu kesatuan atau kebulatan dan merupakan suatu sistem. Jadi, unsur-unsur itu tidak bisa dipisah-pisahkan, melainkan hanya bisa dipilah-pilahkan. []