Selamat Datang di X3-PRIMA, Melayani Setulus Hati, Memberikan yang terbaik

20.12.09

shalat dan tilawah

Sholat dan Tilawah Sarana Mendekatkan Diri Pada Allah



”Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah) Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” [Al Baqarah (2): 186]

Siapa yang takmau berdekatan dengan seseorang yang selalu memenuhi permintaan kita? Kita saja selalu ingin berdekatan dengan orang yang kita cintai seperti suami, kedua orang tua, sahabat, anak, karena mereka memberikan sesuatu yang kita butuhkan. Jika suami memenuhi kebutuhan nafkah jasmanai dan rohani, jika kedua orang tua kita memberikan selalu yang terbaik untuk masa depan kita, jika sahabat memberikan perhatian juga sebagai tempat kita berbagi dan jika anak memberikan kita kedamaian, pelipur lara, sekaligus amanah mulia, maka Allah Sang Pencipta memberikan lebih dari itu semua. Allah memberikan segalanya tanpa pamrih apapun.

Allah SWT memberikan kita kesempatan hidup, memberikan kesehatan dan nikmat lain yang tak terhingga. Lalu, bagaimana cara kita mendekatakan diri pada Zat Yang Maha Pemberi itu? Sesungguhnya ada banyak cara mendekatkan diri pada Allah SWT, antara lain dengan sholat dan tilawah.

A. SHOLAT

Sholat adalah sarana kita berkomunikasi langsung dengan Allah tanpa perantara. Sholat dapat menjadi penyejuk jasmani dan rohani sekaligus tempat kita memohon apapun padaNya.

Sholat juga merupakan Inti dzikrullah, firman Allah “Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah salat untuk mengingat Aku.” [Qs. Thahaa (20): 14]. Setiap gerakan dan bacaan yang dilakukan dalam sholat adalah dzikir pada Allah. “Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab (Al Qur'an) dan dirikanlah salat. Sesungguhnya salat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (salat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadah-ibadah yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” [Al Ankabut (29): 45]



B. TILAWAH

Membaca Al Qur’an dengan tartil akan mendekatkan kita pada Allah. Al Qur’an adalah surat cinta yang khusus dibuat oleh Allah SWT sebagai pegangan hidup manusia. Ketika kita menghayati setiap ayat yang dibaca, maka baik itu ayat perintah, larangan, kisah, surga dan neraka akan semakin mendekatkan kita pada Sang Pencipta Allah Rabbul’Alamin. Membaca Kitabullah merupakan dzikir yang dipandang paling banyak pahalanya. “(Al Qur'an) ini adalah penerangan bagi seluruh manusia, dan petunjuk serta pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa.” [Qs Ali imran 3: (138)]. Barang siapa yang mau dan mampu belajar mengaplikasikan setiap ayat dari Al Quranyang kita pahami maka insyaAllah akan memberikan kebahagiaan dunia dan akhirat.

Perkataan Allah dalam sebuah Hadits Qudsi. "Jika kita mendekat pada-Nya sejengkal, Ia pun akan mendekat pada kita sehasta. Jika kita mendekat pada-Nya sehasta, maka Ia pun mendekat pada kita satu depa. Dan pabila kita mendekatinya degan berjalan. Maka-Ia kan mendatangi kita dengan berlari cepat."

Mudah-mudahan Allah SWT senantiasa memberikan kita hidayah untuk dapat selalu belajar untuk mendekatkan diri pada Nya.




Tilawah Al-Quran dikala haid/nifas

Mengenai hukumnya wanita yang tilawah disaat haid. karena ada yang membolehkan namun ada juga yang melarang. Apa saja yang dapat dilakukan oleh wanita haid untuk tetap menjaga kedekatan nya dengan sang khaliq?.


Membaca Al-Quran adalah ibadah yang amat mulai, kerena demikian Allah SWT dan Rasul-Nya memanjakan dan memuliakan para pembaca Al-Quran.

Rasulullah SAW bersabda :

Sebaik-baik kalian adalah orang belajar Al-Quran dan mengajarkannya”.

Banyak ukuran orang baik dalam pandangan rasulullah SAW, diantaranya adalah orang yang belajar Al-Quran dan mengajarkannya. Bahkan dalam hadits lainnya beliau jga berdsabda :

Orang yang mahir membaca Al-Quran, maka dia akan ditempatkan bersama dengan hamba-hamba yang mulia, dan orang yang membaca Al-Quran secara terbata-bata dan dia merasa kesulitan; maka baginya dua pahala”.

Subhanallah, jadi orang yang membaca Al-Quran dan dia kesulitan dalam membacanya, masih tetap mendapatkan dua pahala, pahala membacanya dan pahala karena kesulitannya. Kemuliaan ini tidak terdapat dalam bagi orang yang membaca Al-Quran. Namun dia juga harus tetap belajar dan belajar, sehingga ke depan dia akan termasuk dalam golongan orang yang mahir membaca Al-Quran.

Oleh karenanya para shahabat RA terdahalu memberikan porsi dan perhatian yang begitu besar untuk belajar Al-Quran dan kemudian mengajarkannya kepada orang lain.


Darah haidh/nifas

Darah haidh adalah darah yang menjadi ‘tamu’ bulanan secara alami bagi semua wanita yang sudah baligh. Jadi bagi kaum Hawa ini tidak perlu resah dan sedih karena tidak bisa menjalankan beberapa ibadah seperti halnya kaum pria; karena ini adalah merupakan takdir Allah SWT, walaupun sebenarnya ada banyak hikmah di balik kedatangan ‘tamu’ tersebut.

Namun demikian, sebagai seorang muslimah, dia harus mengetahui hukum-hukum syar’i yang berkaitan dengan haidh tersebut dan tentunya juga nifas termasuk dalam pembahasan ini, sehingga dia dapat melakukan berbagai ibadah sesuain dengan tuntunan yang benar.

Suatu hari Rasulullah SAW mendapati Aisyah RA sedang menangis- peristiwa ini saat perjalan keduanya dalam haji wada’ – Rasulullah SAW pun bertanya kepadanya : “Apa yang membuatmu menangis?, apakah kamu kedatangan haidh?”. Dia menjawab: “ya”. Rasulullah bersabda : “Ini adalah sesuatu yang telah Allah tetapkan atas anak-anak cucu perempuan Adam, kerjakanlah segala yang biasa dilakukan oleh orang yang sedang haji selain thawaf mengelilingi ka’bah”. (H.R. Muslim)

Demikian hadits di atas menerangkan bahwa bagi wanita yang sedang haidh memiliki hukum khusus dalam beribadah dan jangan sampai dia bersedih karena tiap bulan pasti kedatangan ‘tamu’ secara rutin.



Membaca Al-Quran saat haidh/nifas

Sebenarnya masalah membaca Al-Quran bagi wanita yang sedang haidh atau nifas ada dua pandangan dari ulama kita sejak dahulu :


Pertama : Membacanya hanya dalam hati dan tanpa memegang mushaf

Pendapat pertama ini didukung oleh Jumhur (Mayoritas) ulama, mereka berpendapat tidak mengapa bagi seorang wanita yang sedang haidh atau nifas untuk membaca Al-Quran, namun hanya dengan melihat mushaf tanpa memegangnya Al-Quran dan membacanya pun dalam hati, bila sampai diucapkan maka tidak boleh. Mereka beragumentasi dengan hadits-hadits yang memiliki derajat lemah.


Kedua : Yang membolehkan

Pendapat yang membolehkan, yaitu sebagian ulama, karena tidak ada dalil yang melarangnya. Diantaranya Imam Bukhari dan Ibnu Taimiyah. Ibnu Taimiyah berkata : “tidak ada satu hadits pun yang melarang wanita untuk membaca Al-Quran”. Karena hadits :

Wanita haidh dan junub tidak boleh membaca Al-Quran sedikit pun”, adalah hadits dhaif.

Dahulu para wanita di zaman Nabi SAW telah mengalami haidh, seandainya membaca Al-Quran haram bagi mereka seperti halnya shalat, maka pasti Rasulullah SAW akan menjelaskannya kepada umatnya dan Umahatul Mukminin pun akan mempelajarinya, demikian yang disampaikan para ulama kepada umat ini. Nah ketika tidak ada dalil dari Rasulullah SAW yang mengharamkan dengan banyaknya wanita yang haidh pada zaman beliau maka tidak haram bagi mereka.

Namun yang perlu diperhatikan adalah tidak mengapa membaca Al-Quran bagi wanita yang sedang haid atau dalam keadaan nifas membaca Al-Quran. Namun yang ditekankan di sini adalah apa bila itu dilakukan dalam keadaan mendesak (darurat) seperti seorang guru yang sedang mengajarkan murid-muridnya, seorang murid yang mambaca wirid menjaga hafalan Al-Quran siang ataupun malam hari, namun apa bila membacanya dalam rangka untuk mengapai pahala semata dan untuk bertaqarrub secara khusus kepada Allah maka yang lebih utama adalah tidak melakukannya, karena jumhur (mayoritas) ulama memandang bahwa wanita yang sedang haid tidak boleh membaca Al-Quran.