Selamat Datang di X3-PRIMA, Melayani Setulus Hati, Memberikan yang terbaik

22.11.09

Laporan Volumetri

ANALISIS VOLUMETRI


Oleh :
Hendrayana Taufik
E1A078002








BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Titrasi asam basa dilakukan guna mengetahui konsentrasi molar dan kadar asam atau basa yang terkandung dalam suatu larutan. Titrasi ini merupakan hal yang menarik dipelajari. Diperlukan ketelitian dan kecermatan dalam melakukan praktikumnya. Karena dalam titrasi ini akan diperoleh perubahan warna yang akan menjadi laporan hasil akhir penlitian. Kadar asam dan molaraitas suatu zat dan larutan dapat diketahui dengan menggunakan rumus dalam stokiometri. Ini perlu dikaji lagi lebih dalam, agar praktikan mampu mengembangkan pola pikir dan daya pemahamannya, tentang suatu reaksi yang terjadi dalam titrasi ini.
Titrasi ini akan berdampak sangat luas dalam prospek hasil yang dikembangkan. Karena berbagai zat dan larutan dapat terlihat jelas perhitungan molaritas atau perhitungan yang lainnya dengan menggunakan metode titrasi ini. Diharapkan mahasiswa mampu bekerja secara teliti dalam praktikum ini.
1.2. Tujuan
Membuat dan mentitrasi larutan Natrium Hidroksida
Menentukan konsentrasi Molar dari asam kuat dan basa kuat.
Memperluas wawasan untuk dunia kimia, dan mendidik trampil, teliti dan cermat dalam melakukan suatu praktikum.
Menerapkan berbagai konsep titrasi dalam kehidupan kita
BAB I I
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Reaksi Asam Basa
Asam dan Basa mempunyai sifat-sifat tertentu yang dapat mempermudah kita untuk mengenalnya. Misalnya larutan asam mempunyai rasa asam. Sebaliknya basa seperti magnesium hidroksida dalam milk of magnesia mempunyai rasa sepat. Sifat-sifat lain dari asam dan basa tergantung pada indicator, suatu zat kimia yang warnanya tergantung dari dari keasaman atau kebasaan larutan. Contoh yang khas adalah lakmus. Lakmus adalah zat kimia yang mempunyai warna biru dalam larutan basa dan merah pink dalam larutan asam.
2.2 Asam
Menurut Arrhenius, definisi asam adalah suatu zat dalam larutan air yang akan memperbesar konsentrasi dari ion hidronium, H3O+. Bisa dikatakan pula, suatu senyawa yang dapat melepaskan ion-ion H+ di dalam air disebut sebagai asam.
Senyawa asam merupakan salah satu kelompok elektrolit yang banyak berperan dalam reaksi kimia. Suatu asam dapat berupa zat padat, cairan, atau gas. Ada asam yang berbahaya karena bersifat racun, tetapi ada pula asam yang sangat diperlukan tubuh kita.
Senyawa asam banyak dijumpai pada kehidupan sehari-hari. Buah-buahan memiliki rasa asam berkat adanya senyawa asam yang dikandungnya. Jeruk mengandung asam sitrat sedangkan anggur mengandung asam tartrat. Air susu yang rusak dapat menimbulkan asam laktat. Dalam aki kendaraan bermotor kita menjumpai asam sulfat.
Asam seperti lemak yang terbentuk dari asam lemak serta protein yang terbentuk dari asam amino. Dalam lambung terdapat asam klorida yang berperan pada pencernaan makanan serta dalam darah terkandung asam karbonat dan asam fosfat yang berperan pada pengangkutan makanan tersebut.
Asam sudah dikenal manusia sejak zaman purba, jauh sebelum ilmu kimia lahir. Bangsa Sumeria di Mesopotamia sudah menggunakan asam nitrat (yang disebut aqua fortis atau "air kuat ") untuk memisahkan emas dari perak. Perak dapat larut dalam asam nitrat, sedangkan emas tidak. Akan tetapi, pemahaman ilmiah tentang senyawa-senyawa asam baru dimulai pada akhir abad ke-18. Pada tahun 1777, Antoine Laurent Lavoisier menerangkan bahwa semua asam mengandung unsur oksigen. Perlu diketahui bahwa nama, oksigen diciptakan oleh Lavoisier dari bahasa Yunani yang artinya "pembentuk asam". Tetnyata pemikiran Lavoisier ini tidak benar, sebab ada asam yang tidak mengandung unsur oksigen. Kemudian pada tahun 1810, Sir Humphry Davy mengemukakan bahwa unsur hidrogen, dan bukan oksigen, yang dimiliki oleh semua asam.
Tatkala Svante August Arrhenius pada tahun 1884 mengemukakan teori ion, barulah dipahami bahwa asam termasuk golongan elektrolit.
Di bawah ini tercantum beberapa asam yang perlu diketahui. Sudah tentu tabel ini tidaklah mencakup semua asam yang berjumlah ratusan jenis.
Rumus Dan Nama Asam
Rumus Nama Asam Rumus Nama Asam
HF asam fluorida CH3COOH asam asetat
HCl asam klorida H2S asam sulfida
HBr asam bromida H2S03 asam sulfit
HI asam iodida H2SO4 asam sulfat
HC10 asam hipoklorit H2C03 asam karbonat
HC102 asam klorit H 2C2O4 asam oksalatS
HC103 asam klorat H2Cr2O4 asam kromat
HC104 asam perklorat H2Cr2O7 asam dikromat
HNO2 asam nitrit H3PO3 asam fosfit
HN03 asam nitrat H3PO4 asam fosfat

Ketika suatu asam dilarutkan ke dalam air, terjadilah penarikan H+ oleh pelarut.
Contoh: HCl H+ (aq) + Cl-(aq)
Asam yang dilarutkan ke dalam air dibedakan menjadi dua tipe, yaitu asam kuat dan asam lemah. Asam kuat adalah senyawa yang melepaskan ion-ion H+ secara sempurna didalam air seperti contohnya HCl dan HNO3. Asam lemah adalah senyawa yang melepaskan ion-ion H+ tersebut dilepaskan dan diikat kembali oleh senyawa tersebut berulang-ulang. Dengan demikian terjadi reaksi kesetimbangan kimia sebagai berikut :
CH3COOH (l) CH3COO- (aq) + H+ (aq)
Semua asam dalam mengandung hydrogen dalam rumusnya. Tetapi ada juga yang tak mengandung hydrogen, tetapi menghasilkan larutan asam bila dilarutkan dalam air. Contoh yang umum adalah karbon dioksida. Bila dilarutkan dalam air akan bereaksi sebagai berikut :
CO2 + H2O H2CO3 (aq)
Tidak semua oksida bukan logam dapat bereaksi dengan air. Seperti karbon monoksida dan nitrogen monoksida adalah dua tipe yang tak bereaksi dengan air.
Rekasi dari CO2 dengan air adalah khas dari berbagai oksidasi non metal dengan air membentuk asam okso. Suatu oksidasi bukan logam yang dapat bereaksi dengan air membentuk asam okso dinamakan anhidrida asam yang berarti “asam tanpa air”.
2.3 Basa
Secara prinsip ada dua macam basa : hidroksida ionic dan zat molekur yang bila bereaksi dengan air akan menghasilkan ion OH-. Menurut Arrhenius basa adalah suatu zat yang akan memperbesar konsentrasi dari ion OH-.
Suatu senyawa yang dapat melepaskan ion-ino OH- di dalam air disebut sebagai basa. Basa yang dilarutkan ke dalam air dibedakan menjadi dua tipe, yaitu basa kuat dan basa lemah. Basa kuat adalah senyawa yang melepaskan ion-ion OH- secara sempurna di dalam air seperti contohnya NaOH dan KOH. Basa lemah adalah senyawa yang melepaskan ion-ion OH- dalam larutan secara tidak sempurna, artinya ion-ion OH- dapat terlepas dan kembali terikat secara berualang-ulang dengan ion H+ membentuk H2O.
Dengan demikian terjadi reaksi kesetimbangan kimia dan dapat dicontohkan sebagai berikut :
NH3 (l) + H2O NH4+ (aq) + OH- (aq)
Dalam hal ini, suatu proton akan dipindahkan dari molekul air ke molekul ammonia. Setelah H2O kehilangan H+, yang tinggal adalah ion OH-.
Reaksi NH3 dengan air adalh setimbang, hanya sebagian kecil NH3 dalam larutan akan berbentuk sebagai ion NH4+ dan ion OH-. Secara relatif hanya mengandung sedikit ion OH- maka dikatakan juga sebagai suatu basa lemah. Pada umunya basa molekuler adalah basa lemah.
Beberapa basa yang perlu diketahui dapat kita lihat pada tabel berikut.
Rumus dan Nama Basa
Rumus Nama Basa Rumus Nama Basa
NaOH natrium hidroksida Mg(OH)2 magnesium hidroksida
KOH kalium hidroksida Zn(OH)2 seng hidroksida
NH40H amonium hidroksida Fe(OH)2 besi (II) hidroksida
Ca(0.3)2 kalsium hidroksida Fe(OH)3 besi (III) hidroksida
Ba(OH)2 barium hidroksida Al(OH)3 aluminium hidroksida

Yang menyebabkan sifat basa adalah ion OH . NaOH merupakan basa sebab dapat melepaskan OH- jika dilarutkan ke dalam air. Akan tetapi, CZHSOH (etanol) tidaklah bersifat basa sebab tidak dapat melepaskan OH-. Semua basa, kecuali NH40H, dalam keadaan murni berwujud padat. Adapun basa NH4OH tidak dijumpai dalam bentuk murninya, sebab NH4OH adalah larutan gas NH3 dalam air.
Beberapa oksida logam mempunyai sifat basa, dan disebut oksida basa, sebab mereka dapat bereaksi dengan air menghasilkan ion OH-.
Contoh:
Na2O + H2O  2NaOH
K20 + H2O 2KOH
2.4 Sifat Asam dan Basa
Senyawa asam bersifat korosif, artinya dapat merusak logam dan mariner. Sebagian besar logam dapat bereaksi dengan asam untuk menghasilkan gas. H2, dan mariner dapat bereaksi dengan asam untuk menghasilkan gas C,02. Reaksinya nanti kita bahas secara mendetail di bagian lain.
Senyawa basa bersifat kaustik, artinya dapat merusak kulit kita. Jika kita mencelupkan jari tangan ke dalam larutan NaOH encer, jari tangan kita itu terasa licin. Hal ini disebabkan terbentuknya sabun sebagai hasil reaksi NaOH dengan lemak pada kulit kita. Reaksi pembuatan sabun akan kita pelajari pada bagian lain.
Asam memiliki rasa asam, sedangkan basa memiliki rasa pahit. Akan tetapi, sangat tidak bijaksana jika mengenali asam dan basa dengan mencicipinya, sebab mungkin saja zat itu beracun atau berbahaya. Untunglah bahwa asam dan basa mempunyai sifat dapat mengubah warna dari zat warna yang dikandung tumbuh-tumbuhan, sehingga zat warna tersebut dapat dipakai untuk mengidentifikasi asam dan basa. Para ahli kimia sudah sejak lama menggunakan zat warna bernama lakmus, yang berasal dari spesies lumut kerak (Rocella tinctoria). Lakmus sangat umum digunakan untuk menguji keasaman dan kebasaan sebab memiliki beberapa keunggulan sebagai berikut.
Lakmus sukar teroksidasi oleh O2 di udara, sehingga dapat disimpan lama
Lakmus mudah diserap oleh kertas, sehingga dapat disediakan dalam bentuk kertas lakmus.
Perubahan warnanya sangat jelas terlihat. Lakmus akan berwarna merah dalam larutan asam, dan berwarna biru dalam larutan basa.
Zat semacam lakmus, yaitu zat yang berubah warna jika ada asam atau basa, disebut zat indicator (penunjuk). Di samping lakmus, masih banyak lagi jenis indikator untuk menguji keasaman atau kebasaan.
2.5 Titrasi
Bila ingin mengetahui konsentrasi asam, maka larutan pentitran dalam buret adalah basa, sebaliknya untuk mengetahui konsentrasi basa, maka larutan penitran dalam buret adalah asam. Titrasi dilakukan dengan cara meneteskan larutan pentitran tetes demi tetes hingga indicator yang ditambahkan pada larutan yang dititrasi tepat berubah warna yang stabil atau tidak berubah. Itu disebut Titik ekuivalen, artinya asam atau basa dalam larutan yang dititrasi tepat habis bereaksi dengan larutan pentitrannya.
Pada titrasi ini, digunakan indicator Fenolftalein dan metil merah, dimana memiliki trayek pH antara 4,2 – 6,3. Pada pH asam metil merah atau Penolftalein berwarna merah pink yang berubah warnanya seiring penambahan pentitran hingga pH netral dan warnanya menjadi ungu.
Perubahan pH pada penetralan asam kuat, misalnya HCl, oleh basa kuat misalnya NaOH,
Berdasarkan reaksi ini, dapat disimpulkan hal-hal berikut ini :
a.Mula-mula penambahan basa
b.kuat menyebabkan kenaikan pH sedikit demi sedikit. Akan tetapi kenaikan pH menjadi drastic ketika mendekati titik kenaikan ekuivalen. Secara stokiometri, jika konsentrasi asam dan basa yang digunakan sama, maka titik ekuivalen dicapai pada saat volume asam sama dengan volume basa. Perubahan drastis terjadi pada pH antara 4 hingga 10.
c.Titik ekuivalen terjadi pada pH 7, yaitu pada saat asam tepat habis bereaksi dengan basa sehingga pada titik ekuivalen larutan bersifat netral.
d.Penetralan asam kuat oleh basa kuat dapat menggunakan Fenolftalein. Namun, perubahan warna pada titik ekuivalen indicator fenolftalein lebih tajam daripada indicator metal merah. Oleh karena itu, indicator fenolftalein lebih sering digunakan.


BAB III
BAHAN, ALAT DAN PROSEDUR PERCOBAAN

3.1 Bahan
HCl
Boraks
Asam Cuka (CH3COOH-)
NaOH
Fenolftalein (indikator)
3.2 Alat
Alat-alat yang dipergunakan dalam praktikum kali ini yaitu :
1)Buret
2)Gelas ukur
3)Pipet tetes
4)Beker Glass
5)Erlenmeyer
6)Klem buret
7)Statif
8)Pipet Gondok
9)Ball pipet
10) Corong
11) Batang pengaduk

3.3 Prosedur Percobaan
Prosedur Secara umum
Larutan NaOH yang dibuat dengan konsentrasi perkiraan. Konsentrasi molar yang lebih akurat dari larutan NaOH (sebagai titran) ditentukan dengan menggunakan Kalium hidrogen ftalat leering sebagai standar primer. Larutan NaOH yang telah distandariasi sebagai larutan sekunder yang kemudian digunnkan untuk menentukan konsentrasi molar Larutan asam,
A.Standarisasi dari Larutan natrium hidroksida (NaoH)
Saudara harus melakukan tidak kurang dari tiga (3) percoboan .dengan baik, (± 1 % kesalahan ) dalam standar larutan NaOH. Seandainya labu Erlenmeyer 250 ml 3 buah untuk titrasi.
1.Membuat larutan NaOH Stock
Satu minggu sebelum jadwal praktikum dimulai dilarutkan sekitar 4 g NaOH (pelet) dalam 5 mL air deionisosi dQlam tabung uji 150 mm yang bertutup karet.
Aduk secara sempurna dan didiamkan larutan untuk endapan Natrium karbonat Na2CO3
2.Mengeringkan standar primer asam
Keringkan 2-3 g KHC8H4O4 pada suhu 110°C untuk beberapa jam pada suhu-konstan pada oven pengering. Dinginkan sampel dalam desikator 3.
3.Membuat larutan NaOH encer
Tuangkan sekitar 4 ml, larutan NaOH yang telah dibuat pada point (1) ke dalam botol polietilen 500 mL (perhatikan larutan NaOH pekat menyebabkan kulit terluka). Encerkan terhadap 500 mL air deionisasi yang telah dididihkan. Tutuplah botol politielin untuk menghindarkan absorsi CO2. Aduk larutan dan buat label botol tersebut.
Hitunglah perkiraan konsentrasi molar dari larutan NaOH yang telah diencerkan.
4.Buatlah standar primer asam
Hitunglah berat./masa KHC8H4O4 yang akan dibutuhkan untuk bereaksi secara stoikhiometri dengan 15-20 mL, larutan NaOH yang encer. Ukurlah berat (± 0,0001 g) dari KHC8H4O4 pada kertas timbang dan tuangkan pada labu erlenmeyer. Dengan cara yang sama buat tiga sampel dengan jumlah/berat yang sama. Tambahkan 5 ml air deionisasi yang telah dididihkan dan 2 tetes fenol ftalen.
5.Menyiapkan berat bersih,
Cucilah buret 50 mL dan corong dengan sabun dan air menggunakan sikat panjang
Bilaslah buret dengan air deionisasi beberapa kali. Bilaslah buret 3 kali dengan larutan NaOH encer.
6.Pengisian buret
Dengan menggunakan corong bersih, isilah buret dengan larutan NaOH, Setelah 30 detik baca volume (± 0,002 L) melalui pengamatan dasar minskus dengan membaca garis hitam di kertas putih. Catatlah volume awal ini. Ternpatkan kertas putih pada bagi.an bawah labu erlenmeyer.

7.Mentitrasi Standar primer asam
Secara perlahan tambahkan larutan NaOH dari buret terhadap asam, aduk labu setiap penambahan larutan. Pada awalnya penambahan larutan NaOH 1-2 ml. Pada saat mendekati titik lahir akan ter jadi warna pudar dari indikator secara perlahan-lahan sekali kali bilaslah dinding labu erlenmeyer dengan air deionisasi dari botol semprot. Poda titik akhir titrasi - tetes akan terjadi warna pink. Warna akan tetap selama 30 detik. baca dan catat volume akhir NaOH dalam buret.
8.Mengulangi analisis dengan sampel asam
.Isilah buret dan ulangi titrasi tidak boleh kurang dari 2 kali. Tetapi massa KHC8H4O4 telah diketahuhi secara akurat.
9.Melakukan perhitungan
Hitunglah konsentrasi molar larutan NaOH dari ke tiga analisis dengan + 1 ½. dan buat label pada botol polietilen 500 mL.
Disposal : Buanglah larutan yang telah dinetralisasi dalam labu Erlenmeyer ke wadah buangan asam.
B.Konsentrasi Molar dari Larutan nsam
Tiga sampel asam yang tidak diketahui konsentrasinya dapat dianalisis. Tanyakan pada instruktur untuk tiga jenis asam yang tidak diketahui (mis : HA, H2A atau H3A), sediakan labu Erlenmeyer, pipet 25 mL, atau 125 mL sebanyak 3 labu.
1.Penyiapan sampel asam yang tidak diketahui
Ke dalam labu erlenmeyer, pipet 25 mL larutan asam, tambahkan 2 tetes fenolptalen.
2.Pengisian Buret dan Titrasi
Isilah buret dengan larutan NaOH yang telah distandarisasi dan setelah 30 detik baca don catot volume nwal. Ulangi perlakuan bagi A-6 don A-7. titrasi sampel asam sampai titik akhir dari fenolptalein, Setelah 30 detik baca dan catat volume akhit titran.
3.Pengulangan
Secara sama titrasa snmpel yang lain dari larutan asam.
4.Penyimpanan
Simpanlah larutan NaOH yang telah distandarisasi dalam botol polietilen 500 mL, tertutup rapat untuk 26,27 dan 29.
Disposal : 8uanglah larutan yang telah dinetralisasi dalam labu Erlenmeyer ke wadah buangan asam









BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil
Titrasi I
NaOH yang berwarna jernih dimasukan dalam buret. Sedangkan erlemenyer terisi oleh HCl 25 mL, yang dicampur oleh indicator fenolftalein. Beberapa data perubahan pada saat titrasi dicatat dalam tabel dibawah :
Volume
(NaOH)
Reaksi
Perubahan warna
1 mL
Bereaksi dalam larutan HCl dan indicator fenolftalein
Tidak ada perubahan warna
3 mL
Bereaksi dalam larutan HCl dan indicator fenolftalein
Belum ada perubahan warna. Masih bening.
6 mL
Bereaksi dalam larutan HCl dan indicator fenolftalein
Mulai ada perubahan warna pada tiap tetes NaOH, yaitu berwarna pink
7,3 mL
Bereaksi dalam larutan HCl dan indicator fenolftalein
Larutan HCl berwarna pink. Titrasi sudah terjadi

Perhitungan :
Menentukan molaritas NaOH
Dik : V1 = 25 mL
V2 = 7,3 mL
N1 = 0,1 mL
Dit : N2 = ..?
Jawab :
V1 x N1 = V2 x N2
25 x 0,1 = 7,3 x N2
N2 = 2,5
7,3

N2 = 0,34 mol
Kesimpulan : jadi molar NaOH 0,34 mol

Titrasi II
Pada titrasi ini yang digunakan adalah HCl dan boraks. Sebagai indicator digunakan fenolftalein. 50 mL HCl disimpan di dalam buret, sedangkan boraks 25 mL tersimpan di dalam erlemenyer, dengan ditambahkan indicator fenolftalein 3-4 tetes.
Pada erlemenyer yang telah ditambahkan indicator, warna larutannya menjadi pink. Larutan ini harus dititrasi sampai warnanya berubah menjadi putih.
Volume
(HCl)
Reaksi
Perubahan warna
1 mL
Bereaksi dalam larutan boraks dan indicator fenolftalein
Tidak ada perubahan warna
3 mL
Bereaksi dalam larutan boraks dan indicator fenolftalein
Belum ada perubahan warna. Warna masih berwarna pink
6 mL
Bereaksi dalam larutan boraks dan indicator fenolftalein
Belum ada perubahan warna. Warna masih berwarna pink
10 mL
Bereaksi dalam larutan boraks dan indicator fenolftalein
Belum ada perubahan warna. Warna masih berwarna pink
15 mL
Bereaksi dalam larutan boraks dan indicator fenolftalein
Belum ada perubahan warna. Warna masih berwarna pink
20 mL
Bereaksi dalam larutan boraks dan indicator fenolftalein
Warna masih berwarna pink, tapi sudah mulai memudar
25 mL
Bereaksi dalam larutan boraks dan indicator fenolftalein
Berwarna pink keputih-putihan.
30 mL
Bereaksi dalam larutan boraks dan indicator fenolftalein
Berwarna agak putih namun masih ada warna pinknya.
32 mL
Bereaksi dalam larutan boraks dan indicator fenolftalein
Berwarna putih sedikit masih ada warna pinknya
34 mL
Bereaksi dalam larutan boraks dan indicator fenolftalein
Berwarna putih mulai agak bening
36 mL
Bereaksi dalam larutan boraks dan indicator fenolftalein
Berwarna putih bening.

Perhitungan :
Menentukan molaritas HCl
Dik : V1 = 25 mL
V2 = 36 mL
N1 = 0,1 mL
Dit : N2 = ..?
Jawab :
V1 x N1 = V2 x N2
25 x 0,1 = 36 x N2
N2 = 2,5
36

N2 = 0,07 molar
Kesimpulan : jadi molar HCl 0,07 mol

Titrasi III
Dalam titrasi ini yang digunakan yaitu NaOH yang berada dalam buret. Dan yang ada dalam erlemnyer adalah asam cuka (CH3COOH-) sebanyak 2 mL, yang telah diencerkan dengan 25 mL H2O. Berikut tabel pengamatannya :
Volume
(NaOH)
Reaksi
Perubahan warna
1 mL
Bereaksi dalam larutan asam cuka dan indicator fenolftalein
Tidak ada perubahan warna.
Larutan tetap berwarna putih
10 mL
Bereaksi dalam larutan asam cuka dan indicator fenolftalein
Tidak ada perubahan warna.
Larutan tetap berwarna putih
20 mL
Bereaksi dalam larutan asam cuka dan indicator fenolftalein
Tidak ada perubahan warna.
Larutan tetap berwarna putih
40 mL
Bereaksi dalam larutan asam cuka dan indicator fenolftalein
Tidak ada perubahan warna.
Larutan tetap berwarna putih
60 mL
Bereaksi dalam larutan asam cuka dan indicator fenolftalein
Tidak ada perubahan warna.
Larutan tetap berwarna putih
80 mL
Bereaksi dalam larutan asam cuka dan indicator fenolftalein
Tidak ada perubahan warna.
Larutan tetap berwarna putih
100 mL
Bereaksi dalam larutan asam cuka dan indicator fenolftalein
Tidak ada perubahan warna.
Larutan tetap berwarna putih

Kesimpulan : tidak terjadi perubahan warna meskipun lautan NaOH sudah mencapai 100 mL.
3.2 Pembahasan
Larutan Titer Asam
1. Pembuatan
Sebagai titran biasanya digunakan asam klorida. Kadang-kadang digunakan asam sulfat atau asam perklorat. Larutan baku dapat dinuat dengan menimbang seksama sejumlah asam klorida bertitik didih tetap. Lalu diencerkan hingga volum tertentu. Asam klorida bertitik didih tetap dibuat dengan menyuling asam ini pada tekanan tertentu dan konsentrasi destilat dapat dibaca pada tabel.
Namun demikian dalam praktek adalah lebih praktis apabila mula-mula dibuat larutan dengan normalitas mendekati yang dikehendaki kemudian dibakukan. Larutan ini dibuat dengan mengukur atau memipet sejumlah volume asam. Lalu diencerkan hingga volume tertentu.
2. Pembakuan
Untuk pembakuan larutan titer asam, biasanya digunakan natrium karbon anhidrat. Disamping itu juga dapat digunakan Natrium tetra borat dekahifrat ( Boraks, Na2B407. 4H2O) . Bila telah tersedia larutan basa yang dibakukan, maka larutan ini juga dapat digunakan, untuk membakukan larutan titer asam.
Menurut Farmakope Indonesia edisi III. Larutan titer asam klorida dibekukan dengan Natrium karbonat anhidrat yang telah dikeringkan pada suhu 270 derajat Celcius, selama 1 jam menggunakan indikator merah metal. Titrasi dilakukan dengan mendidigkan larutan untuk menghilangkan gas C02 yang terbentuk. Hingga warna indikator berubah dari kuning menjadi merah jambu pucat. Setelah dingin titrasi dilanjutkan lagi hingga warna warna merah jambu pucat tidak hilang dengan pendidihan.
Larutan titer asam sulfat juga dibakukan dengan cara yang sama. 3. Penyimpanan. Penyimpanan larutan titer asam tidak begitu sukar, larutan tersebur cukup stabil asal disimpan dalam wadah gelas tertutup rapat untuk mencegah penguapan air dan penyerapan alkali dari laboratorium.
Larutan Titer Basa
Natrium Hidroksida adalah basa yang paling sering digunakan pada Alkalimetri. Kalium Hidroksida kadang-kadang juga dipakai, khususnya bila dikehendaki pelarut etanol. Kelemahan dari penggunaan KOH adalah dalam pelarut air, pengotoran dari dari kalium karbonat sudah dipisahkan. Disamping itu harganya lebih mahal daripada NaOH. Untuk pekerjaan yang memerlukan akurasi tinggi dianjurkan penggunaan Barium Hidroksida karena pengotoran BaCO3 sukar larut dalam air sehingga mudah dibuat bebas karbonas.
1. Pembuatan
Basa kuat mudah menyerap CO2 dari udara sehingga selalu dikotori dengan karbonat. Untuk itu perlu diperhatikan dalam pembuatan larutannya.
Larutan NaOH bebas karbonas dapat dibuat dengan mencuci butiran natrium Hidroksida P dengan air untuk menghilangkan lapisan karbonas sebelum dilarutkan. Cara klasik yang lebih disukai adalah dengan mula-mula membuat larutan pekat ( 50 bagian NaOH dalam 50 bagian air dimana natrium karbonat tidak larut).
Sebagian beningan atas filtrasi yang diperoleh dengan penyaringan vakum melalui penyaringan kaca masih dipakai untuk membuat larutan encer. Cara yang lebih praktis adalah dengan menggunakan larutan NaOH 50 % p dengan kadar karbonas rendah yang tersedia ; dalam botol polietilen.
Menurut Farmakope Indonesia edisi III pada pembuatan Larutan NaOH 0,1 N karbonas dibebaskan dengan menggunakan larutan natrium hidroksida segar dan beningan dienap tuangkan ( didekantasi ) untuk disaring setelah larutan dibiarkan semalam dalam botol bersumbat. Untuk membuat 1 liter larutan NaOH 1 N digunakan 45 g Natrium Hidroksida p dan 950 ml air.
2. Pembakuan
Baku primer yang paling sering digunakan untuk pembakuan basa adalah kalium biftalat karena stabil, tahan panas, ( sampai 130 derajat) dan tidak hidroskopis. Disamping itu juga dapat digunakan asam sulfamat ( NH2SO3H ). Kalium biftalat adalah garam asam dari asam bivalen. Pada reaksi pembakuan basa, kalium biftalat berfungsi sebagai asam monovalen (BE =1 mol ).

3. Penyimpanan
Untuk larutan titer basa disimpan dalam wadah tertutup kedap, untuk menghindari pengaruh udara, khususnya CO2. Oleh karena itu basa bereaksi dengan gelas, maka larutan basa lebih baik disimpan dalam wadah plastic (polietilen). Namun demikian bila tidak disimpan dalam waktu lama, wadah gelas masih dapat dipakai dan dianjurkan yang tertutup plastic, karena tutup gelas sering sukar dibuka.
Kesalahan
Kesalahan- kesalahan yang umum dijumpai pada. analisa volumetrie antara lain adalah kesalahan karena :
Kesalahan pembakuan larutan titer
Pemipetan
Pembacaan buret
Indikator ikut bereaksi
Penetapan titik akhir titrasi
Pemilihan indikator yang tidak tepat.
Dari kemungkinan kesalahan tersebut, yang paling perlu mendapat perhatian adalah pada pemilihan indikator, dan penetapan perubahan warna pada titik akhir reaksi. Kesalahan karena ikut bereaksinya indikator dapat dikoreksi dengan melakukan titrasi blangko. Oleh karena hanya beberapa tetes indikator yang digunakan maka kesalahan ini dapat diabaikan clan tidak perlu dikoreksi. Tetapi untuk zat uji dalam jumlah kecil dan titran yang encer, kesalahan ini cukup berani.
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan
Senyawa asam merupakan salah satu kelompok elektrolit yang banyak berperan dalam reaksi kimia. Suatu asam dapat berupa zat padat, cairan, atau gas. Ada asam yang berbahaya karena bersifat racun, tetapi ada pula asam yang sangat diperlukan tubuh kita.
Asam sudah dikenal manusia sejak zaman purba, jauh sebelum ilmu kimia lahir. Bangsa Sumeria di Mesopotamia sudah menggunakan asam nitrat (yang disebut aqua fortis atau "air kuat ") untuk memisahkan emas dari perak. Perak dapat larut dalam asam nitrat, sedangkan emas tidak. Akan tetapi, pemahaman ilmiah tentang senyawa-senyawa asam baru dimulai pada akhir abad ke-18. Pada tahun 1777, Antoine Laurent Lavoisier menerangkan bahwa semua asam mengandung unsur oksigen. Perlu diketahui bahwa nama, oksigen diciptakan oleh Lavoisier
Tatkala Svante August Arrhenius pada tahun 1884 mengemukakan teori ion, barulah dipahami bahwa asam termasuk golongan elektrolit.
Basa adalah zat yang jika dilarutkan ke dalam air akan menghasilkan ion hidroksida (OH-). Yang menyebabkan sifat basa adalah ion OH . NaOH merupakan basa sebab dapat melepaskan OH- jika dilarutkan ke dalam air. Akan tetapi, CZHSOH (etanol) tidaklah bersifat basa sebab tidak dapat melepaskan OH-. Semua basa, kecuali NH40H, dalam keadaan murni berwujud padat. Adapun basa NH4OH tidak dijumpai dalam bentuk murninya, sebab NH4OH adalah larutan gas NH3 dalam air.
Beberapa oksida logam mempunyai sifat basa, dan disebut oksida basa, sebab mereka dapat bereaksi dengan air menghasilkan ion OH-.
Contoh:
Na2O + H2O  2NaOH
K20 + H2O 2KOH

5.2 Saran
Konsep reaksi kimia mesti dipelajari, karena akan ditunjukan mahasiswa itu dalam suatu persamaan yang begitu rumit, sehingga pemahaman akan konsep tersebut sangat diperlukan. Dan yang penting kita mesti bisa mengetahui etika kerja praktikum di laboratorium, agar kita bisa terhindar dari hal-hal yang tidak diharapkan.
Dalam praktikum tentang titrasi ini diperlukan kecermatan dalam perhitungan ukuran dan jenis zat yang akan direaksikan. Oleh karena itu setiap mahasiswa mesti mempersiapkan pengetahuan dan wawasannya sebelum dia melakukan suatu praktikum. Karena hal ini sangat penting, guna memperkecil nilai kesalahan tatkala tetrasi terjadi.





DAFTAR PUSTAKA

E. Brady, James.1999. Kimia Universitas Asas dan Struktur. Binarupa Aksara: Jakarta.
Anshory, Irfan. 2000. Kimia SMU Untuk Kelas 2. Erlangga : Bandung.
Achmad, Hiskia. 1996. Kimia Larutan. PT Cidra Aditya Bakti : Bandung.
Khopkar. 2003. Konsep Dasar Kimia Analitik. Universitas Indonesia: Bandung.
Moechlis. 1988. Teori dan Latihan Soal Kimia Dasar. Tarate : Bandung.