SELAMAT DATANG DI X3-PRIMA, MELAYANI SETULUS HATI, MEMBERIKAN YANG TERBAIK

22.11.09

Laporan Mikrobiologi Dasar

DAFTAR ISI

BAB I : Prinsip dan Tujuan

I .1. Prinsip Percobaan

1.2. Tujuan Percobaan


BAB II : Tinjauan Pustaka

II.1. Mikrobiologi dan Mikroorganisme

-Sejarah Mirobiologi dan Perkembangannya

-Sel Eucariot dan Procariot

II..2. Bakteri dan Protozoa

- Klasifikasi Bakteri

- Klasifikasi Protozoa

II.3. Uji Pewarnaan Bakteri

-Jenis Uji Pewarnaan Bakteri

II.4. Proses Sterilisasi Alat

-Pengertian Sterilisasi dan Jenisnya

-Prosedur Kerja dan Cara Kerja Aseptic

-Prinsip Kerja Autoklaf

II.5. Pembuatan Media Biakan Bakteri

-Latar Belakang dan Tujuan

-Proses Biakan Bakteri dan Jenis Koloni

BAB III : Prosedur Percobaan

III. 1. Cara Kerja dan Metode

III.2. Alat dan Bahan

BAB IV : Hasil Percobaan dan Pembahasan

IV.1. Hasil Percobaan

IV.2. Pembahasan


BAB V : Kesimpulan

DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN


BAB I

PRINSIP dan TUJUAN

1.1. Prinsip Percobaan

  • Media atau alat yang akan digunakan terlebih dahulu disterilkan menggunakan alat yang bernama Autoklaf dengan suhu 121 °C, dilakukan selama 15 menit.

  • Setiap pemindahan bakteri,pemakaian Kawat Ose/lup inokulasi, serta penuangan medium agar/biakan bakteri harus dilakukan dalam atau dengan cara aseptic.

  • Setiap sebelum atau sesudah pemakaian, Kawat Ose harus selalu disterilkan dengan cara dipanaskan seluruh panjang kawatnya.

  • Percobaan uji pewarnaan ditujukan untuk mempelajari dan identifikasi baktari berdasarkan morfologi, struktur dan sifatnya (gram positif atau negatif).

1.2. Tujuan Percobaan

  • Memahami tekhnik aseptic dan berbagai macam Jenis Sterilisasi.

  • Mahasiswa mampu melakukan isolasi baktari dan malakukan pemindahan bakteri dengan teknik aseptic dengan benar.

  • Mahasiswa mampu melakukan Pewarnaan pada bakteri sebagai langkah identifikasi morfologi,bentuk serta sifat/penggolongan (jenis Gram) bakteri.

  • Mahasiswa mampu melakukan Pewarnaan Kapsul.

  • Mahasiswa mampu menggunakan mikroskop medan terang dengan benar serta mampu menggunakannya untuk identifikasi bakteri.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA


2.1. Mikrobiologi dan NCikroorganisme

Sejarah Mirobiologi dan Perkembangannya Sejarah perkembangan mikrobiologi dimulai dengan adanya pengamatan dari Leeuwenhoek pada tahun 1675 dengan ditemukannya suatu rahasia dunia mikroorganisme. Sehingga hal ini menimbulkan rasa keingintahuan para ilmuwan untuk meneliti lebih jauh tentang asal mula kehidupan, hingga akhirnya tercipta Teori Biogenesis pada tahun 1860-an. Sejak saat itu pengetahuan akan mikroorganisme tidak lagi bersifat spekulatif semata. Lahirnya Teori Nutfah penyakit pada tahun 1876 menimbulkan minat para ilmuwan terhadap prosedur laboratoris dalam rangka proses isolasi dan identifikasi mikroorganisme. Dengan tujuan untuk mengetahui ciri/sifat dan life cycle dari setiap mikroorganisme.

Sehingga penemuan dan perkembangan di bidang mikrobiologi ini membawa perubahan yang cukup pesat terhadap praktik ilmu kedokteran. Dalam kehidupan manusia, mikroorganisme memberikan keuntungan sekaligus kerugian. Dimana mikroorganisme yang menguntungkan akan dimanfaatakan jasa dan produknya, sementara mikroorganisme yang merugikan dapat menyebabkan penyakit pada semua makhluk hidup.

2.2. Bakteri dan Protozoa

Bakteri mempunyai ukuran sel 0,2-10mm. Setiap bakteri memiliki morfologi/bentuk, komposisi kimia, kebutuhan nutrisi serta aktivitas biokimia yang berbeda-beda. Bakteri mempunyai bentuk dasar set yaitu coccus (bulat), bacil (batang), spiral (bentuk komalspiral) dan polimorfik (banyak bentuk). Secara umum struktur bakteri terdiri dari :

  1. Flagel ; merupakan bagian sel yang mudah dilepas tetapi dapat tumbuh kembali dalam waktu 3-6 menit. Berbentuk seperti benang (12-30nm), terdiri dari susunan protein (flagelin). Macam-macam flagel yaitu, Monotrikh (flagel tunggal pada ujung se(), Lofotrikh (flagel >1 (1i salah satu ujung set), Amfitrikh (flagel 1 atau lebih di kedua ujung set), Peritrikh (flagel terdapat di sekeliling set).

  2. Fllamen axial; struktur sama seperti flagel, berfungsi sebagai alat gerak pada Spyrochaeta.

  3. Fhill (Fimbria) ; merupakan rambut pendek yang terdapat di seluruh badan sel (umumnya terdapat pada bakteri Gram Negatif), dimana berfungsi untuk adhesi bakteri dengan scl tubuh haspes.

  4. Kapsul ; merupakan sintesis polisakarida yang berkondensasi dan membentuk lapisan disekeliling sel. Bakteri berkapsul tahan terhadap efek fagositosis dan pada medium agar koloni bakteri berkapsul akan terlihat berlendir.

  5. Dinding sel ;

    1. Bakteri Gram Positif terdiri dari As.Thcikoat, Peptidoglikan>tebal, membran sitoplasma.

    2. Bakteri gram Negatif terdiri dari Lipopolisakarida, Fosfolipid, lipoprotein, Peptidoglikan > tipis, membran sitoplasma.

  6. Membran plasma; mengatur keluar masuk zat ke dalam dan ke luar sel.

  7. Nukleus ; tidak mempunyai membran inti, dengan materi genetik yaitu

  8. kromosom tunggal.

  9. Mesosom ; terbentuk dari invaginasi membran plasma ke arah dalam yang berperan dalam pembelahan sel. Kromosom bakteri (DNA) melekat pada septal mesosom.

  10. Spora ; merupakan bentuk diam (istirahat) jika keadaan lingkungan tidak menguntungkan (kering, panas dan zat kimiawi). Jika keadaan lingkungan membaik, bakteri kembali bergerminasi mmebentuk sel vegetatif. Spora terletak di terminal, sub-terminal dan sentral.

  11. Protozoa mempunyai keragaman yang luas dalam ukuran dan bentuk. Beberapa spesies bersifat polimorfik. Banyak diantara protozoa membentuk kista yang berperan dalam penularan berbagai penyakit yang disebabkan oleh protozoa. Secara struktural protozoa lebih rumit dan umumnya lebih besar dibanding protista prokariotik.

  12. Reproduksi protozoa dapat melalui proses aseksual dan seksual, tergantung pada spesies dan keadaan lingkungan. Beberapa protozoa mempunyai daur hidup yang dangat rumit dan berbeda cara memperoleh makanannya yaitu dengan fotosintetik, menyerap nutrient yang larut, dan menelan partikel makanan padat. Kelompok utama protozoa berdasarkan cara pergerakannya yaitu amoeba, siliata, flagelata, dan sporozoa.


  • Klasifikasi Bakteri

Klasifikasi Bakteri Berdasarkan bentuk :

  1. Coccus (bulat) :

  • Micrococcus (tersendiri)

  • Diplococcus (berpasangan dua-dua)

  • Tetrade (tersusun rapih empat-empat)

  • Sarcina (tersusun delapan sel dalam bentuk kubus)

  • Streptococcus (tersusun seperti rantai)

  • Staphylococcus (berkelompok seperti buah anggur)

  1. Bacil (batang) :

  • Diplobacilli (tersusun dua-dua)

  • Streptobacilli (tersusun seperti rantai)

  • Cocobacilli (batang yang sangat pendek seperti coccus)

  • Fusiformis (batang dengan kedua ujung runcing) Batang halus panjang

  1. Spiral (bentuk spiral) :

  • Koma (seperti batang bengkok)

  • Spiral (berbentuk spiral halus, elastis dan fleksibel)

  1. Polimorfik (mempunyai banyak bentuk)


KIasifikasi Bakteri Berdasarkan Struktur Sel

  • Bakteri Berfilamen

  • Bakteri Sejati

  • Spyrochaeta

  • Mycoplasma

  • Ricketsia dan Chlamyclia



  • Klasifikasi Protozoa

Berdasarkan alat pergerakannya, Protozoa dibagi menjadi :

  1. Amoeba ( Sarcodina )

  • Bergerak menggunakan kaki palsu ( pseudopodhia ) dari sel

  • Bersifat Amuboid dan mempunyai vakuola kontraktil

  • Pada umumnya Amoeba dapat hidup bebas, tapi sebagian bersifat pathogen pada manusia

Contoh : Entamoeba histolityca (disentri amoeba, hepatitia amoeba)

  1. Ciliata ( Ciliophora )

  • Bergerak menggunakan silia ( berupa rambut pendek )

  • Sebagian bersifat parasit terhadap manusia

  • Contoh : Balantidium coli (menyebabkan disentri berat)

  1. Falgellata ( Mastigophora )

  • Bergerak menggunakan flagel ( 1 flagel atau lebih )

  • Pada umumnya dapat hidup bebas, akan tetapi bersifat parasit terhadap manusia

  • Contoh : Trichomonas vaginalis ( penyakit kelamin )


  1. Sporozoa ( Apicomplexa )

  1. Tidak mempunyai alat gerak dan tidak ada vakuola kontraktil

  2. Membentuk spora reproduksi

  3. Bergerak dengan cara membelok-belokan tubuh atau meluncur

  4. Memiliki perbedaan dengan protozoa lainnya, yaitu :

  1. Tidak memakan makanan yang padat, melainkan memperoleh makanan dengan cara difusi nitrient yang larut ke dalam sel

  2. Bentuk dewasa tidak motil

  3. Bereproduksi secara Aseksual dan Seksual

  1. Bersifat parasit terhadap manusia

  2. Contoh : Plasmodium (malaria), Toxoplasma (Toxoplasmosis pada ibu hami/janin)


2.3. Uji Pewarnaan Bakteri

Pewarnaan bakteri dilakukan dengan tujuan agar para mahasiswa/peneliti mampu melihat dan membedakan bentuk serta struktur dari setiap bakteri.

Hal yang perlu diperhatikan sebelum Uji Pewarnaan adalah :

  • Object Glass harus dalam keadaan bersih dan bebas dari lemak

  • Kualitas zat warna

  • Tebal tipis sediaan

  • Umur biakan bakteri yaitu 18-24 jam,khusus untuk Mycobacterium tuberculosis bila umur biakan lebih dari 24 jam maka struktur dan bentuk bakteri dapat berubah


Cara membuat sediaan

  • Siapkan object glass yang sudah bersih

  • Teteskan larutan NaCl 0,9%, kemudian tambahkan biakan bakteri

  • Ratakan setipis mungkin sesuai objek pengamatan

  • Biarkan sediaan bakteri mengering diudara terbuka

  • Fiksasi dengan cara dilewatkan diatas api sebanyak 3 kali, dengan tujuan untuk mematikan dan merekatkan bakteri pada object glass


Cara membuat sediaan hapus (pewarnaan kapsul)

  • Siapkan object glass yang sudah bersih

  • Teteskan suspensi bakteri degan menggunakan ose pada pinggir object glass

  • Campur dan hapuskan atau ratakan suspensi bakteri dengan object glass lain

  • Biarkan sediaan bakteri mengering diudara terbuka

  • Fiksasi dengan cara delewatkan diatas api sebanyak 3 kali, dengan tujuan untuk mematikan dan merekatkan bakteri pada object glass


Jenis uji pewarnaan

  1. Pewarnaan sederhana ; yaitu pewarnaan dengan menggunakan satu macam zat warna (Metilen Blue atau Fuchsin), dengan tujuan hanya untuk melihat bentuk sel bakteri.

Caranya :

  • Siapkan sediaan, kemudian tetesi dengan zat warna dan biarkan selama menit agar zat warna menyerap

  • Cuci atau bilas dengan air mengalir, agar zat warna berlebih hilang, kemudian keringkan dengan menggunakan kertas saring (ditepuk­tepuk)

  • Teteskan dengan imersi oil, amati dengan mikroskop


  1. Pewarnaan negatif ; yaitu ditujukan terhadap bakteri yang sulit diwarnai (Spirochaeta), dimana bakteri tidak diwarnai melainkan dengan mewarnai latar belakangnya.

Caranya :

- Sediakan sediaan hapus, kemudian tetesi dengan imersi oil dan arnati dengan mikroskop.

  1. Pewarnaan differential; yaitu dengan menggunakan lebih dari satu macam zat warna, dengan tujuan untuk membedakan antara bakteri yang satu dengan yang lain.

Contoh : Pewarnaan Gram (baktei positif dan negatif), Pewarnaan Bakteri Tahan Asam.

Caranya : Pewarnaan Gram

  • Siapkan sediaan bakteri, kemudian teteskan Gentian Violet dan biarkan selama 5 menit agar zat warna menyerap

  • Cuci sediaan dengan air mengalir untuk menghilangkan zat warna berlebih, keringkan dengan kertas saring

  • Teteskan Lugol diamkan 1 menit, cuci dengan air mengalir dan celupkan ke dalam Alkohol 96% selama 30 detik kemudian cuci

  • Teteskan Fuchsin dan biarkan seiama 2 menit, kemudian cuci dengan air dan keringkan dengan kertas saring

  • Teteskan imersi oil dan amati dengan mikroskop

Pewarnaan Bakteri Tahan Asam

  • Siapkan sediaan bakteri, kemudian teteskan Karbol Fuchsin dan panaskan selama 5 menit sampai keluar uap

  • Cuci dengan air dan teteskan H2SO4 5% diamkan selama 2 detik, kemudian cuci dengan Alkohol 60% dan cuci dengan air

  • Teteskan Metilen Blue dan biarkan selama 2 menit, kemudian cuci dengan air mengalir dan keringkan dengan kertas saring

  • Teteskan imersi oil dan amati dibawah mikroskop


  1. Pewarnaan khusus ; yaitu pmses uji pewarnaan yang ditujukan untuk mewarnai struktur khusus atau struktur tertentu dari bakteri, seperti struktur spora, kapsul, flagel dan lain-lain.

Pewarnaan Spora

  • Siapkan suspensi bakteri (tambahkan 1,5 mL NaCI 0,9% steril ke dalam tabung agar miring biakan bakteri)

  • Ambil koloni bakteri dengan menggunakan ose dan pindahkan suspensi ke tabung kosong yang steril

  • Pada suspensi bakteri tambahkan Karbol Fuchsin dengan perbandingan 1: 1, kemudian panaskan dalam water bath dengan suhu 80°C selama 10 menit (dengan pemanasan, pori-pori dinding spora akan membesar sehingga zat warna dapat masuk)

  • Ambil sediaan, kemudian teteskan H2SO4 1% biarkan selama 2 detik lalu cuci dengan air

  • Teteskan Metilen Blue dan bairkan selama 2 menit, kemudian cuci dengan air dan keringkan dengan kertas saring

  • Teteskan imersi oil dan amati di bawah mikroskop

  • Hasil : spora berwarna merah, badan sel (vegetatif ) berwarna biru.


Pewarnaan Kapsul

  • Siapkan sediaan hapus, kemudian teteskan Karbol Fuchsin dan diamkan selama 5 menit (panaskan sebentar dengan api kecil agar kapsul mudah ditembus zat warna, meski sukar diwamai) dan cuci ddengan air dan keringkan dengan menggunakan kertas saring.

  • Teteskan imersi oil dan arnati di bawah mikroskop

Hasil : Kapsul tidak berwarna, sel berwarna merah dan latar belakang berwarna hitam


2.4. Proses Sterilisasi Alat

Pengertian Sterilisasi dan Jenis Sterilisasi

Sterilisasi merupakan suatu proses atau kegiatan dengan tujuan untuk membebaskan suatu bahan atau benda dari semua bentuk kehidupan.

Jenis -jenis sterilisasi

Sterilisasi Mekanik (Filtrasi) ; yaitu sterilisasi dengan menggunakan suatu saringan yang berpori sangat kecil (0,22 mikron atau 0,45 mikron) sehingga mikroba akan tertahan pada saringan tersebut. Virus tidak akan tersaring dengan metoda ini. Sterilisasi ini ditujukan untuk bahan yang peka terhadap panas atau mudah menguap (volatile).

Contoh ; larutan enzim dan antibiotik. Sterilisasi dengan penyaringan dapat dilakukan dengan cara :

  • N-disposable filtration apparatus ; yaitu disedot dengan pompa vakum, dengan volume 20-1000 ml

  • Disposable filter cup unit ; yaitu disedot dengan pampa vakum, dengan volume 15-1000 ml

  • Disposable filtration unit dengan botol penyimpan ; yaitu disedot dengan pompa vakum, volume 15-1000 ml

  • Syringe filters ; ditekan seperti jarum suntik, dengan volume 1­20 ml

  • Spin filters ; ditekan dengan gaya sentrifugal, volume kurang dari 1 ml.


  • Sterilisasi secara Fisik (Pemanasan dan Penyinaran)

  • Pemanasan :

  • Pemijaran (dengan api langsung) ; yaitu membakar alat dengan api secara langsung (contoh ; alat jarum inokulum/ose, pinset, dll).

  • Panas kering ; yaitu sterilisasi menggunakan oven dengan suhu 60­-180°C selama 2-3 jam. Sterilisasi ini cocok untuk alat yang terbuat dari kaca (erlenmayer, tabung reaksi, gelas ukur, dll). Alat gelas yang disterilisasi dengan udara panas tidak akan timbul kondensasi sehingga tidak ada tetes air (embun) di dalam alat gelas.

  • Uap air panas ; dimana sterilisasi ini mirip dengan mengukus. Metode ini digunakan untuk bahan yang mengandung air, supaya tidak terjadi dehidrasi.

  • Uap air panas bertekanan ; yaitu dengan menggunakan alat Autoklaf.

  • Penyinaran dengan UV

Dimana sinar UV dapat digunakan untuk proses sterilisasi, contohnya digunakan untuk membunuh mikroba yang menempel pada permukaan interior Safety Cabinet dengan disinari lampu UV.

  • Sterilisasi secara Kimiawi ; yaitu dengan menggunakan senyawa desinfektan (alkohol).


Prosedur Kerja/Cara Kerja Aseptis

  1. Sebelum membuka ruangan atau bagian steril dari tabung/erlenmayer atau cawan petri, hendaknya bagian mulut atau bagian yang mudah terkontaminasi disterilkan dengan cara dibakar atau dilewatkan diatas api terlebih dahulu.

  2. Semua lat (pinset,dil) disemprot terlebih dahulu dengan alkohol lalu dibakar.

  3. Ose atau jarum inokulum yang sudah dipijarkan terlebih dahulu dengan cara dibakar harus ditunggu sampai dingin atau dengan ditempelkannya tutup cawan bagian dalam untuk mempercepat transfer panas (segera dingin).

  4. Semua bagian alat diusahakan selalu dalam kondisi sterilw dengan cara didekatkan ke api.

  5. Jika dalam keadaan kerja di Safety Cabinet tidak perlu memakai pembakar bunsen untuk sterilisasi alat.Akan tetapi, jika dalam keadaan kerja dl luar Safety Cabinet maka semakin banyak sumber api akan

menjamin kondisi aseptis.


Prinsip Kerja Autoklaf

Autoklaf adalah alat untuk mensterilkan berbagai macam alat dan bahan/benda menggunakan tekanan 15 psi ( 2 atm ) dengan suhu 121°C. Suhu dan tekanan tinggi yang diberikan kepada alat dan media yang disterilisasi bertujuan untuk memberikan kekuatan yang lebih besar untuk membunuh seUmikroba dibanding dengan udara panas. Suhu yang digunakan untuk mensterilkan media biasanya 121oC dan tekanan 15 lb/in2 (SI = 103,4 Kpa) selama 15 menit. Alasannya adalah karena air akan mendidih pada suhu tersebut jika digunakan tekanan 15 psi. lni hanya berlaku pada kondisi sea level, jika laboratorium terletak pada ketinggian tertentu maka pengatuan tekanan perlu diseting ulang. Misal Autoklaf berada pada ketinggian 2700 kaki dari permukaan laut, maka tekanan dinaikan menjadi 20 psi agar tercapai suhu 121°C untuk mendidihkan air. Semua bentuk kehidupan akan mati jika dididihkan pada suhu 12. PC dan tekanan 15 psi selama 15 menit.


Pada waktu sumber panas dinyalakan, air dalam autoklaf lama kelamaan akan mendidih dan uap air yang terbentuk akan mendesak udara ayng mengisi autoklaf. Setelah semua udara dalam autoklaf diganti dengan uap air, maka katup udara/uap ditutup sehingga tekanan udara dalam autoklaf naik. Pada saat tercapai tekanan dan suhu yang sesuai, maka proses sterilisasi dimulai dan timer muali menghitung waktu mundur. Setelah proses sterilisasi selesai, maka sumber panas dimatikan dan tekanan dibiarkan turun secara perlahan hingga mencapai 0 psi Autoklaf baru boleh dibukaUntuk memastikan Autoklaf bekerja secara sempurna, dapat digunakan mikroba penguji yang bersufat termofilik dan memiliki endospora yaitu Bacillus stearothermophillus. Umumnya mikroba ini tersedia secara komersial dalam bentuk spore strip. Kertas spore strip ini dimasukan dalam autoklaf lalu disterilkan. Setelah sterilisasi selesai, lalu ditumbuhkan pada media. Jika media tetap bening maka menunjukan autoklaf telah bekerja dengan baik,


2.5. Pembuatan Media Biakan Bakteri

  • Latar Belakang dan Tujuan

Sebelum melakukan pengamatan terhadap bakteri dan jamur di laboratorium, telebih dahulu kitaharus menumbuhkan atau membiakan bakteri/jamur tersebut.

Pembiakan ini dimaksudkan untuk memudahkan pengamatan yang akan dilakukan pada bakteri tersebut di laboratorium, sehingga jika sewaktu-waktu kita membutuhkan kembali bakteri tersebut untuk suatu percobaan maka bakteri atau jamur telah tersedia. Biakan dapat disimpan di dalam lemari es untuk waktu yang cukup lama tanpa adanya kerusakan.

Sampai saat ini populasi mikroba di alam sekitar kita sangat banyak dan beragam. Ratusan spesies mikroba baik fungi dan bakteri menghuni bagian tubuh kita, seperti di mulut, saluran pencernaan dan kulit. Juga udara, tanah dan air yang rnerupakan komponen alam sebagai tempat tinggal kita dihuni oleh beragam mikroorganisme.

Adapun tujuan dari Praktikum Cara Pembuatan Media dan Pembiakan Bakteri, adalah :

  • Mahasiswa mampu membuat media agar sebagai media untuk biakan bakteri.

  • Mahasiswa mampu mempelajari sifat dari berbagai koloni bakteri yang tumbuh pada media biakan (media agar/NA atau NB),dengan selalu memperhatikan kombinasi antara faktor nutrient dan lingkungan fisik (suhu, cahaya,kelembaban, pH, pengaruh oksigen, tekanan osmotik,dll) yang sesuai.

  • Mahasiswa mampu mengerti dan memahami setiap langkah atau cara mengisolasi (cara cawan gores, cara cawan tuang dan cara cawan sebar) suatu mikroba (bakteri/jamur) untuk mendapatkan biakan murni.

  • Mahasiswa mampu mempelajari dan memahami langkah atau cara mendapatkan biakan murni (memisahkan satu jenis mikroba) dari biakan campuran.

  • Mahasiswa mengidentifikasi setiap jenis jamurlbakteri yang tumbuh pada media agar (media biakan).


Proses Biakan Bakteri dan Jenis Koloni

Proses biakan bakteri sangat dipengaruhi oleh suhu, cahaya, kelembaban, keasaman, pengaruh oksigen, tekanan osmotik, mikroorganisme disekitarnya dan zat kimia. (Michael J.Pelczar Jr., 2005 : Dasar-Dasar Mikrobiologi)

Jenis koloni bakteri berdasarkan bentuk, tepian dan elevasi :

  1. Berdasarkan bentuk :

  • Bundar

  • Bundar dengan tepian kerang

  • Bundar dengan tepian timbul

  • Keriput

  • Tak beraturan dan menyebar

  1. Berdasarkan tepian :

  • Licin

  • Berombak

  • Berlekuk

  • Tidak beraturan

  • Siliat


  1. Berdasarkan elevasi :

  • Datar

  • Timbul

  • Cembung

  • Seperti tetesan

  • Seperti tombol

(Mila Ermila, 2065: Penuntun Praktikum Mikrobiologi)


Sifat-sifat koloni pada agar-agar lempengan mengenai bentuk, permukaan dan tepi. Sedangkan sifat-sifat koloni pada agar-agar miring berisikan pada bentuk dan tepi koloni. (dr.Indan Entjang, 2003 : Mikrobiologi dan Parasitologi).

Jamur merupakan salah satu anggota dari fungi. Dimana pertumbuhannya pada makanan mudah dilibat karena tampak berserabut seperti kapas, mula-mula berwarna putih kemudian jika sedah terbentuk spora maka akan terbentuk warna tergantung dari jenis jamurnya. Ada 3 macam morfologi hifa, yaitu :

  • Aseptat atau Senosit

  • Septat dengan sel-sel uninukleat

  • Septat dengan set-sel multinukleat

(Michael J.Pelczar Jr. dan Chan, 2005 : Dasar-Dasar Mikrobiologi)


BAR III
PROSEDUR PERCOBAAN

3.1. Cara Kerja dan Metode

  • Cara Kerja

Suspensi Bakteri dan Agar Miring

  1. Cara memindahkan Media Cair (NB) ke tabung reaksi

  • Siapkan tabung reaksi yang telah disterilkan terlebih dahulu, buka tutup/sumbat tabung di atas api untuk menjamin tetap aseptic.

  • Buka sumbat gelas erlenmayer yang berisi media cair (NB) dengan melewatkan mulut gelas erlenmayer di atas api supaya tetap aseptic.

  • Tuangkan media cair (NB) dari gelas erlenmayer secara hati-hati ke tabung reaksi tadi, dilakukan di atas api agar tetap aseptic.

  • Tutup kembali gelas erlenmayer dan tabung reaksi dengan sumbat dan lewatkan kembali keduanya diatas api agar tetap aseptic.

  • Pemindahan media cair (NB) selesai.


  1. Cara memindahkan Biakan Bakteri pada Media Cair (NB)

  • Siapkan tabung yang berisi media cair dan tabung yang berisi biakan bakteri murni, pegang menggunakan tangan kiri.

  • Panaskan ose/lop inokulasi diatas pembakar Bunsen menggunakan tangan kanan, panaskan sampai seluruh kawatnya berpijar (berwarna merah) dan sebagain tangkai terpanasi.

  • Buka sumbat kedua tabung tadi, mulai dengan buka sumbat tabung yang terdekat dengan tangan kanan dengan cara rnelingkarkan jari kelingking disekitarnya. Lanjutkan membuka sumbat tabung satunya lagi menggunakan jari manis dengan gerakan yang sama, jangan dari arah belakang tapi dari antara kedua tabung.

  • Panaskan kedua mulut tabung tadi dan inokulasikan sejumlah kecil biakan bakteri murni tadi ke tabung berisi media cair.

  • Panaskan kembali mulut kedua tabung tadi dan sumbat kembali kedua tabung tersebut, dimulai dengan tabung yang terdekat dengan tangan kanan.

  • Panaskan kembali lop inokulasi sampai berpijar agar balcteri yang tersisa mati.

  • Berilah nama pada tabung media cair yang berisi sejumlah bakteri dan simpan di inkubator pada suhu 30°C selama 48 jam.


  1. Cara memindahkan Agar Miring ke Tabung Reaksi dan Cawan Petri

  • Siapkan 1 tabung reaksi dan 2 cawan petri yang telah disterilkan

  • Buka sumbat tabung rcaksi dan gelas erlenmayer, tuangkan Nutrient Agar (NA) secara aseptic (dilewatkan di atas api) ke tabung reaksi dan tutup kembali keduanya dengan sumbat dengan tetap dilewatkan di atas api agar tetap aseptic.

  • Simpan tabung reaksi pada posisi miring dan biarkan menjadi dingin agar NA padat.

  • Pegang cawan petri dengan tangan kiri, buka sedikit mulut cawan petri kemudian miringkan dan fiksasi dengan melewatkannya di atas api.

  • Pegang tabung berisi nutrien agar (NA) dengan tangn kanan, buka sumbatnya dan fiksasi mulut tabung dengan melewatkan di atas api.

  • Tuangkan media agar (NA) dari tabung ke dalam cawan petri, fiksasi mulut tabung dan cawan petri lalu tutup kembali cawan petri dan pasang sumbat tabung.

  • Biarkan media NA dalam cawan petri menjadi dingin dan padat.

  • Tuangkan media NA dalam cawan petri yang satunya lagi dengan cara yang sama.


  1. Cara menundahkan Biakan Bakteri pada Media Agar Miring

  • Pegang tabung berisi media steril NA miring yang telah beku/padat dan tabung berisi biakan bakteri murni dengan tangan kiri.

  • Panaskan kawat ose/inokulasi hingga pijar/berwarna merah dengan tangan kanan.

  • Buka sumbat pada kedua tabung tersebut dengan tangan kanan, dimulai pada sumbat terdekat dengan tangan kanan menggunakan jari kelingking dan sumbat kedu.a menggunakan jari manis.

  • Panaskan/lewatkan kedua mulut tabung tadi di atas api.

  • Inokulasikan sejumlah kecil bakteri dari tabung biakan ke tabung berisi media NA miring yang telah padat tadi memakai kawat ose/inokulasi dengan cara menggoreskannya secara zig-zag.

  • Fiksasi dan tutup kembali dengan sumbat kedua tabung tersebut dimulai dengan tabung terdekat dengan tangan kanan.

  • Panaskan kembali kawat ose/lup inokulasi hingga berpijar untuk mematikan bakteri yang mungkin masih melekat.

  • Beri nama pada tabung yang diinokulasi dan simpan dalam inkubator pada suhu 30°C selama 48 jam.


  1. Cara isolasi Bakteri dalam Cawan Cores

  • Siapkan media NA pada 2 cawan petri yang telah dingin dan padat/beku.

  • Siapkan dan pegang tabung berisi biakan bakteri dengan tangan kid, buka sumbat pada tabung dengan tangan kanan kemudian fiksasi mulut tabung di atas api.

  • Panaskan/lewatkan kawat ose/lup inokulasi di atas api.

  • Buka sedikit mulut cawan petri 1, fiksasi atau miringkan mulut cawan petzi lalu lewatkan di atas api.

  • Inokulasikan sejumlah kecil bakteri dari tabung biakan ke cawan petri berisi media NA yang telah padat tadi memakai kawat ose/inokulasi dengan cara menggoreskannya secara zig-zag atau bolak-balik pada permukaan NA dan fiksasi mulut cawan lalu tutup kembali.

  • Panaskan kembali kawat ose/lup inokulasi hingga berpijar untuk mematikan bakteri yang mungkin masih melekat.

  • Siapkan Jus Jambu yang akan digoreskan pada media NA.

  • Buka sedikit mulut cawan petri 2, fiksasi atau miringkan mulut cawan petri lalu lewatkan di atas api.

  • Panaskan kawat ose/lup inokulasi hingga berpijar, biarkan agak dingin.

  • Gunakan lup inokulasi untuk memindahkan satu lup penuh saus, kemudian goreskan beberapa kali lup berisi saus tersebut secara zig-zag atau bolak-bolik pada permukaan NA dan fiksasi mulut cawan lalu tutup kembali.

  • Fiksasi dan tutup kembali tabung berisi biakan bakteri dengan sumbat.

  • Fiksasi kembali kawat ose/lup inokulasi hingga berpijar.

  • Beri nama pada cawan petri berisi bakteri yang ada di ruangan/sampel (cawan petri 1) dan cawan petri berisi goresan saus (cawan petri 2) tadi dan simpan dalam inkubator pada suhu 30°C selama 48 jam.


  1. Cara penyiapan Olesan

  • Siapkan object glass, lalu bersihkan/cuci dengan menggunakan sabun dan bilas dengan air (air hangat) sampai benar-benar bersih.

  • Ambil kapas dan basahi dengan Alkoho170%, lalu usapkan pada object glassn hingga kesat (tanpa noda/lemak).

  • Beri tanda pada bagian bawah object glass untuk mempermudah daerah pengamatan, kemudian fiksasi dan dinginkan.

  • Panaskan/fiksasi kawat ose/lup inokulasi, dinginkan,

  • Ambil suspensi bakteri pada tabung biakan bakteri media suspensi cair (NB) secara aseptic mengguanakan kawat ase/lup inokulasi, lalu fiksasi dan tutup kembali tabung berisi biakan bakteri suspensi cair.

  • Goreskan atau letakkan suspensi bakteri pada lup ke bagian tengah object glass yang telah di beri tanda tadi.

  • Panaskan kembali kawat ose/lup tadi hingga berpijar.

  • Fiksasi atau lewatkan beberapa kali object glass berisi olesan bakteri di atas api hingga terbentuk lapisan putih tipis, yang menandakan bahwa olesan bakteri sudah melekat pada object glass

  • Olesan bakteri siap untuk digunakan pada uji pewarnaan.


  1. Uji Pewarnaan Sederhana

  • Gunakan object glass yang berisi olesan bakteri yang telah difiksasi.

  • Letakkan object glass di atas bak pewarna, tetesi object glass dengan zat warna Metilen Blue dan biarkan selama 1-2 menit agar zat warna melekat pada olesan.

  • Pegang object glass dengan tangan kiri dan miringkan, lalu bilas dengan air/aqua dest untuk menghilangkan/membuang zat warna berlebih.

  • Keringkan air pada object glass dengan menggunakan kertas saring, dengan cara ditepuk-tepuk.

  • Tetesi dengan imersi oil, lalu amati dibawah mikroskop.


  1. Uji Pewarnaan Gram

  • Gunakan object glass yang berisi olesan bakteri yang telah difiksasi.

  • Letakkan object glass di atas bak pewarna, tetesi object glass dengan zat warna primer Gentian Violet dan biarkan selama 3 menit agar zat warna melekat pada olesan.

  • Pegang object glass dengan tangan kiri dan miringkan, lalu bilas dengan air/aqua dest untuk menghilangkan/membuang zat warna berlebih.

  • Tiriskan object glass dengan cara ditegakkan, agar sisa-sisa air turun dan hilang.

  • Teteskan Lugol pada object glass, diamkan selama +/. 1 menit.

  • Miringkan object glass untuk membuang Iodium berlebih, bilas dengan air.

  • Teteskan Alkoho195% pada kaca object, goyangkan selama 30 detik agar merata dan tidak ada zat warna ungu yang mengalir dari object glass.

  • Bilas kembali dengan air dan tiriskan di atas bak pewarnaan.

  • Tetesi dengan zat wama Fuchsin sebagai zat warna tandingan (kedua), biarkan selama 2-3 menit agar zat warna melekat.

  • Bilas dengan air untuk menghilangkan zat warna berlebih, lalu keringkan air pada object glass dengan menggunakan kertas saring, dengan cara ditepuk-tepuk.

  • Tetesi dengan imersi oil, lalu amati dibawah mikroskop.


  1. Uji Pewarnaan Kapsul

  • Siapkan 2 buah object glass yang telah dibersihkan.

  • Teteskan secara aseptic Tinta Cina pada ujung kid object glass 1 dan teteskan bakteri Klebsiella pada ujung kanan object glass 2.

  • Sebarkan organisme/bakteri Klebsiella tadi dengan cara menyebarkan biakan di sepanjang permukaan object glass I dengan cara menyeretnya ke arah kiri dari object glass 1 menggunakan object glass 2.

  • Sebarkan Tinta Cina pada object glass 1 dengan cara menyeretnya ke arah kanan object glass 1 menggunakan object glass 2, sehingga didapat sebaran bakteri yang merata pada pemukaan object glass 1.

  • Tetesi dengan imersi oil, lalu amati dibawah mikroskop.



3.2. Alat dan Bahan

Alat - alat :

  1. Tabung reaksi 3 Buah

  2. Botol semprot + Aquadest 1 Buah

  3. Object glass 5 Buah

  4. Cawan Petri (Petri Disk) 2 Buah

  5. Tabung NB (Butrient Broth) 1 Buah

  6. Kawat Ose/Lup inokulasi 1 Buah

  7. Pembakar Bunsen 1 Buah

  8. Korek api 1 Buah

  9. Kertas saring secukupnya

  10. Kapas + Kasa Steril untuk sumbat

  11. Autuklaf (Sterilisator uap) 1 Buah

  12. Spidol untuk menandai 1 Buah

  13. Mikroskop Medan Terang/Majemuk 1 buah

  14. Pipet Tetes I buah

15. Bak Pewarna 1 buah


Bahan - bahan :

  1. Nutrien Agar (NA)

  2. Nutrient Broth (NB)

  3. Karbol Fuchsin

  4. Metilen Blue

  5. Gentian Violet

  6. Lugol

  7. Imersi Oil

  8. Alkoho195%

  9. Alkoho170%

  10. Tinta Cina



BAB IV

HASIL PERCOBAAN DAN PEMBAHASAN

4.1. Hasil Percobaan

Semua tekhnik/prosedur pengerjaan praktikum dilakukan dengan teknik aseptic. Baik pada alat-alat yang digunakan maupun pada bahan-bahan yang akan dipakai dalam praktikum.

Semua alat dan bahan terlebih dahulu disterilkan/disterilisasi dengan menggunakan alat Autoklaf pada suhu 121 °C dengan tekanan 15 psi selama 15 menit.

Proses pemindahan media cair (NB) ke dalam tabung reaksi dan memindahkan biakan bakteri ke dalam tabung reaksi, dapat dikerjakan dengan aseptic dan dengan hasil yang baik. Hanya saja, pada pembuatan media padat yang dituangkan ke dalam tabung reaksi dan cawan petri memerlukan waktu yang cukup lama. Karena harus dipastikan bahwa media padat sudah berada dalam kcadaan benar-benar padat/beku, sehingga siap untuk digunakan sebagai media biakan bakteri.

Proses pembiakan dan pemindahan bakteri/koloni bakteri dilakukan secara aseptic, berikut juga dengan pembuatan dan pemindahan media biakan bakteri. Penuangan media agar setelah melalui pembuatan dengan proses pemanasan dari tabung reaksi maupun cawan petri dilakukan pada suhu yang tidak terlalu panas, sehingga media padat akan cepat membeku.

Hasil isolasi bakteri pada media padat maupun susupensi cair memberikan hasil yang sangat baik. Dimana bakteri dapat berkembang biak dengan sangat baik pada media agar tersebut. Begitu pula terjadi pertumbuhan yang sangat baik dari bakteri yang diambil dari sampel uji Jus Jambu, dimana terbukti terjadi pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus dan jamur pada media agar padat dalam cawan gores/cawan petri.

Pada Olesan bakteri memberikan hasil yang baik, dimana olesan pada object glass tidak terlalu tebal dan tidak terlalu tipis sehingga object pengamatan mudah diamati melalui mikroskop. Semua pengamatan dilakukan dengan menggunakan Mikroskop Medan Terang/Mikroskop Majemuk.

Pada Uji Pewarnaan Sederhana, hasil pengamatan melalui mikroskop terlihat bahwa koloni bakteri yang diberi zat warna Metilen Blue sel-selnya berwarna biru gelap hampir ungu. Sedangkan koloni bakteri yang diberi zat warna Fuchsin, sel­selnya bewarna merah.

Pada Uji Pewarnaan Gram, hasil pengamatan melalui mikroskop terlihat bahwa ada perbedaan warna antar koloni bakteri. Dimana terdapat warna biru hampir ungu dan warna merah, yang merupakan pembeda antara bakteri Gram Positif dan bakteri Gram Negatif.

Pada Uji Pewarnaan Kapsul, hasil pengamatan melalui mikroskop terlihat bahwa sel-sel bakteri Klebsiella sp.berwarna biru dengan terbungkus kapsul yang sangat terang sehingga tembus pandang dan dengan latar belakang hitam dari Tinta Cina. Hal ini seperti bintang di malam hari yang berada di langit gelap.


4.2. Pembahasan


Semua tekhnik/prosedur pengerjaan praktikum dilakukan dengan teknik aseptic. Baik pada alat-alat yang digunakan maupun pada bahan-bahan yang akan dipakai dalam praktikum. Begitu pun pada saat pemindahan media cair ke dalam tabung reaksi dan pemindahan biakan bakteri ke dalam tabung reaksi, serta proses penuangan media agar padat (NA) ke dalam tabung reaksi dan cawan petri dilakukan secara aseptic. Hal ini dapat dikerjakan dengan aseptic dan didapat hasil yang baik. Selain itu, tekhnik aseptic ini dilakukan dengan tujuan untuk menjamin agar kita terlindungi dari cemaran bakteri dan leboratorium serta infeksi bakteri. Sehingga resiko kecelakaan pads saat praktikum tidak terjadi.

Proses sterilisasi alat-alat dilakukan dengan menggunakan alat Autoklaf, dengan suhu 121°C pada tekanan 15 psi selama 1S menit. Selama sterilisasi tekanan dan suhu selalu dipertahankan dan diawasi untuk menjamin keberhasilan sterilisasi, sehingga denaturasi dan koagulasi protein pada mikroorganisme hidup terjadi dan akhirnya mikroorganisme tersebut mati. Pada akhir sterilisasi, tekanan Autoklaf harus diturunkan dengan cara membuka sumbat pengaman secara perlahan hingga tekanan pada Autoklaf kembali menjadi nol (0).

Proses penuangan media agar padat (NA) ke dalam tabung reaksi dan cawan petri dilakukan secara aseptic, begitupun dengan media suspensi cair pada tabung reaksi. Terutama pada proses penuangan media agar padat ke dalam cawan petri, dilakukan pada suhu yang tidak terlalu tinggilpanas dengan tujuan untuk menghindari adanya kondensasi air yang berlebihan pada tutup cawan petri. Karena adanya kondensasi air yang berlebihan akan menitik kembali pada permukaan agar yang telah padat. Proses pembekuan media agar padat (NA) untuk media suspensi miring maupun cawan gores agak cukup lama, hal ini dikarenakan pengaruh dari suhu ruangan serta kondisi dari tabung reaksi dan cawan petri yang disumbat dan tertutup. Akan tetapi, hasil yang didapat untuk media tersebut sangat baik dan sesuai harapan.

Proses pemindahan, penuangan media agar serta penuangan dan penggoresan bakteri, setiap alat dan media harus melalui fiksasi untuk menjamin keadaan tetap aseptic. Termasuk untuk kawat ose atau lup inokulasi harus difiksasi juga di atas api bagian dalam yang berwarna biru hingga berpijar.

Biakan bakteri pada cawan goreslpetri dilakukan secara aseptic. Penggoresan dilakukan tanpa tekanan yang kuat tapi manatap untuk menghindai terjadinya kerusakan pada permukaan media agar. Pada biakan cawan petri/gores terjadi pertumbuahn bakteri dan jamur dengan sampel uji Jus Jambu.

Pada Uji Pewarnaan Sederhana, hasil pengamatan melalui mikroskop terlihat bahwa koloni bakteri yang diberi zat warna Metilen Blue sel-selnya berwarna biru gelap hampir ungu. Sedangkan koloni bakteri yang diberi zat warna Fuchsin, sel­selnya bewarna merah. Adapun tujuan pemberian zat warna ini adalah untuk memberikan perbedaan yang kontras sehingga sel bakteri dapat dilihat dan diamati melalui pengamatan pada mikroskop. Terutama dapat dilihat adanya perbedaan dari bentuk struktur sel, baik itu bentuk batang (bacillus), bulat (coccus), spiral (koma) maupun bentuk lainnya. Dimana pada penelitian kali ini, baik dengan pemberian zat warna Metilen Blue maupun Fuchsin didapat bentuk dari bakteri adalah coccus (bulat).

Pada Uji Pewarnaan Ciram, hasil pengamatan melalui mikroskop terlihat bahwa ada perbedaan warna antar koloni bakteri. Dimana terdapat wama biru hampir ungu dan warna merah, yang merupakan pembeda antara bakteri Gram Positif dan bakteri Gram Negatif. Dimana dengan pemberian zat wama 1 yaitu Metilen Blue, didapat warna biru hampir ungu path object glass. Sehingga didapatkan data bahwa bakteri itu adalah bakteri Gram Positif. Setelah dilanjutkan dengan pemberian lugol menyebabkan warna bakteri menjadi ungu kristal, lalu dilanjutkan dengan pemberian lodium menyebabkan warna menjadi ungu gelap/kotor sehingga dengan pencucian memakai alkohol menyebabkan adanya differensiasi atau perbedaan yang kontras antara bakteri yang tetap berwarna ungu dengan kuman yang tidak berwarna (zat warna dalam sel bakteri dilarutkan oleh alkohol). Dimana warna bakteri yang ungu tetap ungu merupakan bakteri Gram Positif, dimana bakteri Gram Positif memiliki dinding sel yang tebal sehingga dengan pemberian alkohol dinding bakteri menjadi menyusut karena terjadi dehidrasi dan zat warna ungu kristal lodium akhirnya tertahan di dalam dinding sel bakteri. Sedangkan bakteri Gram Negatif akan tetap bewarna kontras (tidak berwarna) karena struktur dinding selnya tipis sehingga dengan pemberian alkohol akan menjadi lisis atau pecah dan zat warna tidak tertahan di dinding sel. Lalu dengan adanya pemberian warna 2 yaitu Fuchsin yang merupakan warna tandingan, sel bakteri Gram Positif tidak akan menyerap warna 2 karena telah menyerap warna 1 yaitu ungu karena terjadi penyusutan dinding sel dan sel bakteri Gram Negatif yang semula berwarna kontras akan menjasi warna merah karena dengan adanya dinding sel yang telah pecah atau lisis oleh alkohol mengakibatkan zat warna 2 yaitu Fuchsin mampu menembus dinding sel bakteri Gram Negatif. Sehingga bakteri Gam Negatif akan berwarna merah. Dengan demikian terjadi perbedaan warna yang sangat mencolok dari Uji Pewarnaan Gram ini, sehingga kita mampu membedakan antara bakteri Gram Positif dan Gram Negatif berdasarkan warn.anya.

Pada Uji Pewarnaan Kapsul, hasil pengamatan melalui mikroskop terlihat bahwa sel-sel balcteri I~Clebsiella sp. binding set bakteri berwarna biru dengan terbungkus kapsul yang tembus pandang dan latar belakang hitam dari Tinta Cina. Hal ini seperti bintang di malam hari yang berada di langit gelap. Olesan bakteri tetap di fiksasi setelah diratakan, tetapi tidak dengan fiksasi melalui pemanasan yang biasa melainkan melalui fiksasi yang sangat hati-hati agar tidak terjadi kerusakan pada kapsul bakteri.

Sederet pengatnatan terhadap uji pewarnaan bakteri untuk melihat struktur bentuk bakteri ini dilakukan dengan pengamatan melalui Mikroskop Medan Terang/Majemuk.


BAB V
KESIMPULAN


  • Bakteri mempunyai ukuran sel 0,2-l0 mm. Setiap bakteri memiliki morfologi bentuk dasar set yang berbeda-beda yaitu coccus (bulat), bacil (batang), spiral (bentuk koma/spiral) dan polimorfik (banyak bentuk).

  • Protozoa mempunyai keragaman yang luas dalam ukuran dan bentuk. Beberapa spesies bersifat polimorfik.

  • Semua tekhnik/prosedur pengerjaan praktikum dilakukan dengan teknik aseptic. Baik pada alat-alat yang digunakan maupun pada bahan-bahan yang akan dipakai dalam praktikum.

  • Tekhnik aseptic dilakukan dengan tujuan untuk menjamin agar kita terlindungi dari cemaran bakteri dan laboratorium serta infeksi bakteri, sehingga resiko kecelakaan pada saat praktikum tidak terjadi.

  • Semua alat dan bahan terlebih dahulu disterilkan/disterilisasi dengan menggunakan alat Autoklaf pada suhu 121 °C dengan tekanan 15 psi selama 15 menit.

  • Proses pemindahan media cair (NB) dan proses penuangan media agar padat (NA) serta pemindahan biakan bakteri baik ke dalam tabung reaksi maupun cawan petri dilakukan secara aseptic dan didapat hasil yang baik.

  • Hasil isolasi bakteri pada media padat maupun susupensi cair memberikan hasil yang sangat baik. Terjadi pertumbuhan yang sangat baik dari bakteri yang diambil dari sampel uji Jus Jambu, dimana tumbuh bakteri Staphylococcus aureus dan jamur pada media agar padat dalam cawan gores/cawan petri.

  • Pada Uji Pewarnaan Gram, hasil pengamatan melalui mikroskop terlihat bahwa terdapat warna biru hampir ungu (bakteri Gram Positi f dan warna merah (bakteri Gram Negatif).

  • Pada Uji Pewarnaan Kapsul, hasil pengamatan melalui mikroskop terlihat bahwa sel-sel bakteri Klebsiella sp.berwarna biru dengan terbungkus kapsul yang sangat terang sehingga tembus pandang dan dengan latar belakang hitam. Seperti bintang di malam hari yang berada di langit gelap.

  • Proses pengamatan terhadap uji pewarnaan bakteri untuk melihat struktur bentuk bakteri ini dilakukan dengan pengamatan melalui Mikroskop Medan Terang/Majemuk.


DAFTAR PUSTAKA

    1. Pleiczar M.J. Dasar-Dasar Mikrobiologi 1. 1986. Penerbit UI. Press. Jakarta

    2. Prof.DR.D.Dwidjoseputro, 2005 : Dasar-Dasar Mikrobiologi. Penerbit : Djambatan

    3. Hadiotomo, Ratna Siri : Mikrobiologi Dasar Dalam Praktek. Jakarta: Penerbit

PT Gramedia.