Selamat Datang di X3-PRIMA, Melayani Setulus Hati, Memberikan yang terbaik

22.9.09

Sekber

MEMBANGUN PERADABAN DARI RUANG KECIL

Sekretariat bersama mahasiswa atau sering juga disebut sekber adalah sarana yang digunakan para mahasiswa sebagai wadah aktivitas organisasi kemahasiswaan. Sebagai sarana organisasi, sekber biasa digunakan untuk rapat, kajian, diskusi hingga tempat penyimpanan barang-barang keramat organisasi yang dianggap perlu diabadikan. Oleh karena itu tidak heran jika sekber berfungsi sebagai gudang organisasi.”

Setiap organisasi meniscayakan adanya rapat. Sering atau tidaknya rapat itu dilaksanakan tergantung pada kebijakan yang diterapkan di dalam organisasi itu sendiri. Dan biasanya agenda rapat ini tertuang dalam Anggaran Dasar/Anggaran Rumah Tangga organisasi. Secara formal rapat dilakukan sebagai cara pengambilan keputusan berdasarkan musyawarah mufakat. Dan bentuknya bisa curah pendapat demi terbentuknya agenda kerja, program dan lain-lain. Rapat bukan hanya menjelang pelaksanaan kegiatan, akan tetapi ia perlu dilaksanakan dalam setiap kurun waktu tertentu, misalnya rapat harian, mingguan, bulanan atau juga kondisional. Hal itu dilakukan dalam rangka merancang, mengonsep, mengorganisir, mengevaluasi dan mengontrol roda organisasi agar satu sama lain terkoordinir dengan sinergis, efektif dan efisien.

Selain itu ada banyak jenis rapat yang biasa dilaksanakan di suatu organisasi. Misalnya, rapat pimpinan (rapim), rapat koordinasi bidang (rakorbid), rapat panitia (rapan), rapat konsolidasi (rakon), rapat besar (rabes), rapat kecil (breafing) dan lain-lain. Namun yang substansial darinya adalah mencari kesepahaman dan kesepakatan tentang hal-hal yang akan dan telah direncanakan untuk direalisasikan bersama. Atau seperti telah disebutkan di atas bahwa, rapat adalah proses pengambilan keputusan berdasarkan musyawarah mufakat.

Kemudian untuk memperkuat eksistensi, sinergisitas dan efektivitas organisasi maka harus dilakukan komunikasi yang baik diantara para pengurus. Komunikasi bisa menjadi tali pengikat orang-orang yang ada di sebuah organisasi. Oleh karena itu, perlu dibangun sebuah kultur organisasi yang kondusif dan dinamis sesuai dengan tuntutan zaman. Salah satu bentuk komunikasi tersebut adalah dengan mengadakan kajian atau diskusi.

Diskusi merupakan proses komunikasi yang paling strategis untuk diterapkan di sebuah organisasi. Ia juga bisa sebagai representasi sebuah agenda atau program kerja organisasi. Diskusi adalah wahana bertukar ide, gagasan, pendapat dan pemikiran untuk menemukan pemahaman baru dalam kerangka berfikir yang sama. Dan latar belakang terjadinya diskusi biasanya akibat adanya perbedaan pendapat dan pemikiran ataupun dikarenakan adanya permasalahan dan isu-isu yang sedang berkembang yang menarik untuk didiskusikan. Dan berdiskusi adalah langkah konkrit untuk mengikat perbedaan dalam satu kerangka berfikir yang sama guna memperoleh kesepahaman ide, pendapat dan pemikiran. Oleh karena itu diskusi dilakukan juga untuk menemukan gagasan solutif guna memecahkan permasalahan yang terjadi.

Betapa pentingnya peranan diskusi di tengah-tengah kehidupan berorganisasi. Sehingga baik secara arti maupun pilosofi, diskusi mengandung sebuah pesan yang mendalam. Karena memang, diskusi sebagai proses komunikasi adalah sebuah preposisi. Diskusi sebagai proses transformasi ide, pemikiran, informasi, wawasan, ilmu pengetahuan dan pengalaman yang bisa dilakukan secara terus menerus. Bila sudah terjalin komunikasi yang baik, maka secara otomatis akan tercipta kultur intelektual mahasiswa dalam berorganisasi di tengah-tengah kehidupan masyarakat kampus. Dan yang menjadi parameternya adalah kesadaran publik dalam berpikir, bersikap dan berprilaku sesuai nilai-nilai rasionalitas dan kebenaran universal.

Kemudian roda organisasi akan terus berputar bila ditunjang oleh elemen-elemen organisasi baik yang bersifat materil maupun imateril yang antara lain; struktur organisasi, struktur pengurus, AD/ART, program kerja dan sarana prasarana. Bila salah satu dari elemen-elemen tersebut tidak terpenuhi maka organisasi akan mengalami kepincangan. Ibarat mobil tanpa ban. Atau juga ibarat kereta tanpa rel. Dan organisasi akan dinamis bila hal tersebut terpenuhi atau paling tidak saling memenuhi meskipun keberadaannya situasional sesuai dengan kebutuhan.

Kemudian terkait dengan sekber sebagai gudang organisasi mengandung makna bahwa selain berfungsi sebagai tempat pertemuan, dokumentasi, imventarisasi dan penyimpanan barang-barang keramat organiasasi, iapun harus dijadikan sebagai pusat studi ilmu pengetahuan dan keterampilan. Sehingga bukan saja sebagai tempat seperti disebutkan di atas, terlebih sebagai sarana untuk mencetak kader-kader intelektual yang peka terhadap realitas yang terjadi. Bila ruang intelektual mahasiswa sudah terbangun, maka konsekuensinya, mereka dituntut untuk mampu menciptakan perubahan dan perkembangan diri dan lingkungan yang labih baik di tengah-tengah kehidupan masyarakat kampus khususnya. Hal tersebut akan terealisasi bila adanya komitmen dan sinergisitas di antara organisatoris, visi, misi, program kerja serta sekber sebagai sarana prasarana organisasi.

Sebagai sarana prasarana organisasi, sekber dapat dijadikan wadah strategis dalam membangun harapan dan cita-cita organisasi dan organisatoris. Ia dapat menjadi sarana yang menghimpun ide, gagasan, pendapat, pikiran para mahasiswa yang pada akhirnya akan berimplikasi pada wilayah gerak mahasiswa. Bila gerak mahasiswa adalah perhimpunan ide-ide, gagasan dan pemikiran bersama, maka secara otomatis gerak mereka berdasarkan kesadaran kolektif yang tercerahkan. Dengan begitu sekber merupakan ruang kecil yang mampu membangun peradaban baru yang lebih besar dari sekedar ruangan berukuran 200x300 cm.