Selamat Datang di X3-PRIMA, Melayani Setulus Hati, Memberikan yang terbaik

22.9.09

Koleksi Puisiku

Aku ada

Tertulis sudah pena cerita

Menghapuskan jalan hidup berliku tiada rasa

Terukir dalam …

Pemisah dinding peluh bisu

Dan hatiku masih dalam tambatan rindumu

Ketika ku tanggalkan

Makna yang terus tumbuh sesakkan dada

Menjelma kian meraja

Diujung nuranimu

Aku mengerti,

Puisi….

hanya penjara diriku dalam kehampaan

Tidak bisa berbuat apa-apa

Puisi hanyalah kenaifan,

Tak berelemen cinta ini termiliki

Mundur jiwaku dari singgasana keegosian hatimu

Ketika ku berpeluh

Ketika waktu ini merambat jauh

Ketika ini, aku tak ada.

Relungan Senja

Di pojok sepi

Sepi sekali

Ketika ada senyap aku lelap

Dalam hembusan nada,

di tengah hutan-hutan belantara

Kau berdiri ..

Mencari kegundahan hati

Membenahi ketegaran hidupmu

Dalam dunia kegetiranmu

Seorang diri

Menapaki perjalanan sunyi

Tanpa melihat aku, kaku

Terjatuh untuk selalu menyertaimu

Kasih, …

Aku mengenal resahmu

Aku ada, untuk hidupmu…

Percayalah dalam pelukan jiwaku

Cerminan Jiwa

Kata terbata dalam rintihan ambisi bersembunyi

Sematkan tunduknya jiwaku

Tertinggal diri lama menggelora

Jika tidak,

Aorta hidup mendekap tiap nada

Lebih sederhana

Tanpa hati yang termiliki

Dimana dunia tiada asa dihati

Tiada sentuhan belaian rasa kasih nurani

Waktu yang mendewasakanku

Dalam kelabilan cinta

Entah nanti

Ataukah hari esok

Jiwaku kan mengisi jendela pagi

Yang hinggap berparuh hitam

Melumut tiap-tiap detik

Kesaksian cahaya hatimu

Terpatah-patah

Melawan arus hingga gelap gulita

Mencari setitik pangkalan

Prahara cinta dan rasa

Yang redup

Tapi takkan mati

….

Kasih …

Ku masih janggal !!

Takkan adil kau minta rasa diujung senja

Yang bersemayam luka demi satu serpihan

Memungut keraguan

Tercermin bahasa sikap

Rasaku tiada sepi

Tapi jiwaku selalu sangsi

Bahwa cinta, rindu dan setia

Masih selalu milikmu….

Maafkanku …

Ku kan mengeringkan keretakan ini

Untukmu Malam

Dibawah tiang …

Sejenak ku berdiri dalam pautan malam berpekat

Mendengar rintik gerimis hujan sirna kelam

Bergetar sayutan hembusan nafas panjang

Menerawang rasaku

Menoreh kiasan kehidupan

Sang kekasih berlari diburu kekhawatiran

Tak terhias belakang tersiratkan

Tatapan sunyi memandang

Detik jam berjalan pelan
Memejam, mata perlahan
Angin
terus
berceloteh rakus
Saling berebut ricuh dan gundah
diluaran kedamaian

Kalbu ini kehilangan
Jiwa terus saja terpisah lama
Hati kosong sejenak bertapa
Pikiran hilang tak tau entah kemana
dan…


Hampa
hanya tersenyum menyapa

Kuat betapa senyum ini tertahan
Dahsyat betapa tawa ini terpenjara
Hebat betapa rasa ini menjadi landai
Luar biasa…betapa tubuh ini lara

Saat cinta ada di hati
Saat rindu menyelimuti
Saat mata tak kuasa lagi
Saat jiwa membuncah sepi

Semua filantropi mencuatkan nurani

Deraian sepi malam
yang setia menemani kegundahanku

Aku tak tau
kapan ku menghampirimu lagi

Tak dinginkan namun terpahat
Tak diharapkan tapi tertanam
Tak dihiraukan semakin dalam
Tak disiram malah merambat

Mulut ini hanya tersenyum bodoh
Mata ini hanya menatap bodoh
Tangan ini hanya memohon bodoh
Kaki ini hanya melangkah bodoh

Senja malam …

Berikan lagi kekuatan

Agar ku selalu dalam ketenangan

Karena mu malam …

kukenali kau

jauh sebelum kau lihat diriku

seperti dirimu

dalam diam

dalam hening

dalam rasa

dalam batas

bahagia

diatas sirna

diatas senja

diatas luka

diatas batas memelas kerinduan

akan rumah surga

yang jadi keheningan …

untukmu malam !!!

Filantropi Hati

Dik …

Belahan rasa ini sangat pelan

Hingga menjelang cahaya malam

Ku masih tenggelam

Dalam perkamen suci

Berkelopak salju yang berdaun batu

Dan genggaman kita

Menciptakan sayap sufistik

Dalam taman elergi kian terbuka,

Menahan nafas

Seribu bahasa, dalam gulita

Kehadiranmu memberiku ketulusan cinta

Pabila rasamu lahir disuatu hari

Terimalah,

Atau hindari ia

Di bebukitan kelam penuh kegetiran

Licin, dan

Riskan.

Agar tidak timbul senja suram.

Dik …

Sembunyikan kisahku,

Dalam alunan hidupmu

Ukiran jiwamu telah aku titipkan diatas filantropi ini

Hilangkan ragu yang mengikuti angin

Bulan Akhir ini,

Alunan sonatamu aku cari.

Getir

Merangkak sehabis malam

Menaruh harap di tanganku yang risau

Dan percintaan ….

Diatas bumi aku terasingkan

Pucuk hijau merapat kedinginan

Melenguk lembu-lembu terjaga

Berdesir …..

Sungai darah suci

Debaran selaksa rintih di kahyangan

Penuh merjam keheningan

Dari lampu-lampu pejaman mata-mataku

Kasih,…

betapa sepi dan sendirinya

Diriku lari ke selatan di tikungan

Asap hidung dan gigi gemeretakan

Kasih, rasa habis diterka sukma

Menerawang kegelapan malam ini

Menembus nurani dimensi waktu

Saat getar-getar nada berirama dihari sunyiku

Kelabu datang menjemput curahan embun pagi

Sambil terdiam, perlahan ku sadar ….

Rintik salju pun berguguran

Dengan hentakan nada

Kata teroleh dalam belahan jiwa

Serasa hening …..

Ruh pun dipanggil …..

Tubuh menggigil tanpa teman,

Tanpa pengertian curahan kalbu

Aku tersudut dalam rasaku

Kegetiran malam menghanyut didadaku

Ku takkan bisa berganti hati darimu

Jangan tanyakan kenapa …?

Tetap ku jadikan kau belahan rinduku

Hanyut …..

T e r h a n y u t …..

Mendekap belaian bayu

Dihempasan gelombang lentera menyapaku

Jemariku tak sanggup merekah

Hati berucap ….

Teriring angin menjelang

Megacakrawala kau datang

Merubah hariku, tiada gelap

Kian mengalahkan detak jantungku

Menyentuh, pancang-pancang nuraniku,

Walau lingkaranku terbelenggu dimensi jiwa

Yang kan membentangkan senja hariku tanpa musim

Dimana cinta itu terbentuk???

Berawal,

Sampai kelaut?

Ataukah masih ada dicadas dan bebatuan?

Titik itupun akan hilang

Terlepas bahasa cinta

Menengok balik-balik untaian rasa.

Sembunyi ….

Tiada berarti,

.…

..

Malaikat cinta menghadirkan perasaan diantara kita

Diantara nada-nada yang diam membisu

Namun hangat penuh seluruh

Berjuta pijar lentera hati kita

Membawa ruang cinta

Yang kau sematkan dijiwaku

Keakuan

Kasih ……

Katakan ini hanya gundah

Yang merekah di jari-jari diamku

Berniaga dalam hayal

Kehidupan cinta ku

Sejenak sebelum senja

Ku hadirkan sebongkah salju membius dunia waktu

Yang menusuk pisaunya dalam cercahan dimensiku

Tak bermuara aliran deras ini !!!

Sejarah pikiran pun tak lekas layu!

Meninggalkan kisahmu?

Aku tak percaya,

Cinta ini begitu kuat

Hingga satu demi satu tetap terkumpulkan

Bayangmu,

Kasih

Juga

Rindu …..

Kasih, pahamilah ….

Perempuan hadir atas nama cinta

Haru biru langit senja karena cinta

Digenangi racun jingga di sudutmu

Seperti surya membukakan kekalahan kalbu,

Yang berdinding suram penuh rintihan,

Melukis cinta di atas samudra terbelah!

Tiada pernah terdengar

Cumbu rindu uraian kalbu,

Terus mengikis angan-angan tertempa,

Tertunduk hilang

Tertinggal,

Dalam Klise …..

Kasih …


Getar Hati

Kesejukanmu ……

Mengarungi hidupku,

Meniti kaki kecil berkepak

Bersemi, seperti titik embun membasahi dedaunan

Hingga ia perlahan tumbuh

Membuat harapan baru ….

Di relung jiwaku ….

Terpatah-patah memahami kata

Yang mencari makna dibalik langkah senja.

Dan ….

Tatkala aku mencintaimu,

Ku temukan nada cinta suci dipelupuk hatimu

Perlahan bergerak …

Tak terhenti melintasi nada hujan

Dimana dunia terlihat indah

Dalam rauf kedamaian

Untuk mewarnai hatiku

Hariku terasa dekat denganmu …

Aku ..

Kau beri rasa serpihan kerinduan

Belum Teramat lama jiwa ini mengenalmu, menegur mata hatimu,

Hanya sungguh,

kau telah sematkan bisik cinta yang telah sirna dihidupku,

Tak goyah dengan ketidak-pastian

Tiada jasad setetes ragu dalam nuraniku

Dinda…

Kini telah ku tenggelamkan hatiku

Di nuranimu

kau berikan ruang ku berdiri di jiwamu

Sinari aku bagai cahya mentari

Aku berjanji kan beri arti dihidupmu

Tetaplah di sini menemaniku

Menemani langkah senjaku

Kau sematkanku dalam dentingan

Jiwa nurani kalbuku ……..

Hening

Didalam hembusan nada hatiku bergemuruh

Merasakan kian warna dihariku

Keluh kesah hanya diam membiru

Di pertigaan ku bertajuk rindu

Malam kian larut

Menenggelamkan kisah separuh rasaku

menjelma dalam dada

Kebisuan …..

Tanpa Kata …….

Hening …

larut ku titip di peremajaan jiwaku

Disana;lah aku berdiri setengah tiang tanpa henti

Tiada angin yang maraba

Tiada nada yang merasa

Aku tumbuh dalam hening …..

Hening yang bernafaskan kalbu nurani hatiku

Ingin ku gapai secercak sunyi di hidupku

Namun ia hanya terus membelenggu jiwaku

Hingga …..

Hati katakan pada jiwa yang menggigil,

Seandainya sepi porak poranda

Belenggu hitam tenggelam

Dimana cinta bernama diatas dunia

Kadang ia bersembunyi dibalik langkah

Gelisah ….

Terpatah-patah memahami tiap bait senja

Dalam sajak puisi, nada asmara

Rindu …..

Ia melayang terhempas lagi

Makna rintihpun bergema …

Berkali-kali

Seandainya ia tahu !!!

Kasih …..

Kau tak pernah cari arti sesungguhnya

Kala adalah waktu risau

Bertepi kian tersusuri awan tebal

Teriring angin gelappun malam menjelang

Kau tetap biarkan aku dalam kehampaan

Biarkan ku terdiam dihembusan kedinginan

Tak menyentuh …

Dan berucap

Kurengkuh jiwamu dijiwaku

Hingga ruang hitam dan ketakutan terbuang

Kugauli nafsuku dengan selimut kafan

Kasih ….

Ku mati akan cintamu

For you

Dalam nada cinta

Matahari jatuh miring senja

Menuju satu titik hilang

Menengok sela-sela pelita cristal

Merengkuh senandung sikap

Saling menopang tanya

Dalam sederhana rasa

Sentuhan halus jiwa ini, menari landai

Pelangiku …

Dilemakah ini?

Veronika jiwa …

Kau adalah harapan kegundahan ini,

Sekejap dan hanya sekejap

Jantung berdetak kencang mengalahkan detakan waktu

Kau telanjangi jiwaku

Tanpa sisakan, ketulusan hati

Tempuhi rute tajam

Dengan likuan lenyap dimensi malam

Clasical kasih !!!

Kau merasakan ini,

Syair

Hitam

Jentik sudut lidah

Jarum jam berdetak

Aku

… kita …

Janggal

Jika ini tiada!

Cermin

Air

Hujan

Manis

Sunyi

Sembunyikan rasa ini,

Kasih

Kau jiwa bidadari

Setiap lisan,

Hingga

Kau tinggalkan ku dalam dentingan

Jiwa nurani kalbu.

Jiwaku

Bersama Matahari

Sesungguhnya perjalanan ini baru dimulai

Mungkin …?

Meniupkan kharisma uraian kearifan cinta

Diantara samudra terbelah

Bersuara bagai kian meracau

Hening sesaat terpatah tak bertepi

Menuai keperawanan malam

Dalam secarcik kertas putih

Kisah ku …

Apakah ku harus memulai?

Stigma cinta pernah berbekas

Merengkuh jiwa sapaan bathin

Lewat gurat penamu tiada lelap jejak

Meski alunan sonata ketukan nadanya

Memainkan hampa ….

Kau selalu dihatiku …

Di hati ini

Penguasa gulita cahaya jiwa

Peganglah Satu

Puisi cintaku retas rona bianglala

Vertikal terpaku!

Menatap jam berdetak

Memikirkanmu

Peganglah rasaku

Perjalanan liar cinta ini memuncak

Sampai disini….

Saat penaku membeku

Ku tau …

Tak kan pernah ada lorong jiwa harapan buatku

Putih cintamu buat dirinya

Tak begitu luas sisi burukku

Demi sebuah cinta dan rasa

Ucapkanlah, ..!!!

Kau tak pernah menyayangiku!!!


lelah

Ku tirani berkembang dilayar gelap

Penuh merjam detik-detik keheningan

Saat terlabuh ……

Ketika suram datang menghadang

Keluguanmu curahan hatiku

Pada angin ku katakan tak kan pulang

Hehhhmh…

Tiada hidup bergejolak dalam dimensi

Tiada harap tanpa Tanya dalam sunyi

Dimensi cinta, tak pernah tiada ….

Dimensi rasa, hanya sukma yang menjaga

Dilema aku terbawa angin lalu

Yang menghanyutkan seluruh tempaan nada silam

Serasa bergetar alam rincik menjelma

Di kesepian malam hutan belantara

ku buang rasaku

Rasa….

Yang terlalu besar ku berikan Padamu

Dengan tampikan kemelut kusuh

kau jawab cintaku

Demi langit yang mendengarku

Ku tak kan mengenal hatimu

Lagi …

Dan ….

Sekarang ….

Lagi …..

…….

….

..

Relung Hati

Andai Semua kan berubah

Semua hilang tak berarah

Akan tujuan suara hati dalam nurani

Pengertian yang engkau teteskan di kemilau jiwaku

Memberi Rasa yang hanya lepas berirama

Tak tentu apa dan mengapa

Hatiku hilang di gadis Rasa

Tak ingin ku lalui angin tanpa batang

Daun-daun yang berguguran

Hanya tinggal ranting bercabang

Disini ……….

Aku tersungkur dalam rasa ku …..

Menehan uraian kata yang tak bermakna

Aku satu dalam dirimu

Aku tinggal dilubuk hatimu

Aku nada di belahan jiwamu

Aku hilang untukmu

Jikallau kemarau kasih tak pernah berujung …..

Di relung hatimu …

Miss U …….

Kala hembusan nafasmu menusuk tulangku..
Belaian indah matamu sejukkan hatiku..
Saat telingaku haus akan suaramu
Kau Sentuh Hasratku Melalui Tatapmu..

Terpaku jiwaku saat memandang
Terbujur Kaku Tubuhku Saat Kau Sentuh..
Melayang terbayang jiwa entah kemana..
Saat rasakan indahnya bersama dirimu..

Lambaian jiwamu ..
Hantui setiap hembusan nafasku ..
Iringi setiap langkah langkahku ..
Dan memacu setiap semangatku ..

Jiwa terasa sesak tanpa hadirnya kau di sisiku ..
Jantung terasa pekat tanpa tatapanmu..
Dimanakah kau berada malam ini..

Cinta ………
Saat Jiwaku Membutuhkanmu..
Kemanakah engkau pergi ....
Saat ragaku mencarimu …..

Aku telah melolong di gelap gulita….

Berjalan memakai baju-baju lusuh membalut

Tubuh berpeluh ………
dalam teriakan yang kering

Mataku dibentang jarum jam
yang sejak senja memakan malam

Jangkrik tak kunjung henti menyanyikan nada tunggal
mengajakku berjaga menemanimu

Engkau sendiri bulat digantung gelap
menatapku dan menyinarkan kata
“esok aku tak sesempurna malam ini

- kecuali hatiku untukmu”.

Putri,

Jalan Basah sisa hujan

Menuju rawa, sabana hingga belantara

Meliuk pepohonan yang tumbuh rintai bergelantungan

Bahasa berkata bunyi-bunyi suara

Memburu angin layu tanpa mengendap aspal jalan

Yang melekat diatas sepatu jejak sapuan angan

Lihatlah dari awan puisi hitam sayap-sayap cinta terbang

Menjadi musim baru

Dalam belahan semesta jiwaku

Aku yang kaku,

Seakan bersirat kau hadir di hadapku

Mungkinkah matamu menyejukkan jiwa ini?

Karena aroma hatimu telah tercium dirasaku

Menengoklah sedikit!

Apa yang kau sembunyikan dibalik senyummu?

Dibalik keindahan yang tercipta dari putri melatiku

Satu bayang menari landai

Berisi untaian kata-kata indah

Dibersit matamu

Dan ku menunggu

Dan,

Cinta ini harus ku selami

Seiring lirihnya cerita cintaku

Gelisah membuka lembaran sirna

Menyimpan benih kenangan syahdu penuh pilu

Yang bersenandung lewat hati

Kini,

Ku titipkan cinta disenyum ramahmu

Walau ku kan menegur bathinku

Siapakah dirimu?

Yang berusaha mewarnai hatiku

Putri salju

ku ..

Satu

Ketika rumpun itu tumbuh

Serupa desir yang mengakar

Setiap nada yang terhembus adalah kata

Angan, rintik, gerimis dan emosi

Bersatu dalam jubah bertautan

Jiwa ini senyap

Maka diam saja

Biarkan ini terbawa semua

Dalam hening ku malam nanti

Yang ditemani angin malam

menusuk ulu hatiku

Kusadari betapa berartinya

Dirimu bagiku

Kasih…

kau selalu ada

Dalam canda, tawa, dan air mata

Selalu hadir

Diseluruh nafas hidupku

Kasih ..

Kau telah membuatku terbuai mesra

Dalam indahnya kemilau untaian kata cinta

Kau seperti lilin kecil

Penerang dalam pekatnya malam gulita

Kau seperti bintang timur

Pemandu bagi pelaut yang kehilangan arah

Kaulah insan penawat rinduku

Kasih ……….

Ku ingin kau hadir bersamaku

Menjemput mahligai cinta kita berdua

Mengarungi bahtera hidup ini

Dalam makna cinta

Dari dua insan yang berbeda

Karena kita adalah Satu

Dalam jiwa


Senja

Matahari jatuh senja hari

Bersama dedaunan dan dingin warna langit

Jalan basah …

Sisa hujan yang terlalu riskan

Begitu sepi bagai sebutir kuarsa

Di sabtu memorindam,

Ku tak pernah Tanya,

Kerlip-kerlip wajahmu penuh pesona

Bukan untukku,

Tapi untuknya …

Setetes ragu menghanyut dijiwaku

Akankah hatimu mengerti akanku

Yang menghantarkan malam tanpa bintang

Diantara puing-puing krikil tajam

Sebuah keberanian melukai hati ini

Akankah kau lakukan … ?

Dinda ….

Air matamu begitu bening,

Menyuburkan tiap rasa yang bertajuk dihatimu

Apakah kau masih tahu ?

Ku begitu menyayangimu,

Walau ku tahu,

Mahkota cintaku takkan bisa menjadi

Bongkahan harapanku

Tapi biarlah …

Rindu ini amat terasa

Jikapun hanya lewat bathinku

Dinda ….

Titipkan senyumku lewat benak dan hatimu

Dan aku kan menangis …

Dalam temperatur saling berharap

Stigmapun hadir …

Lalu berlari …

……….

…….

Berlari ….

Dan aku …..

Berteriak …. !!!

Senja …

Tolong sampaikan ini

Waktumu …..

Cinta ……….

Hari-hariku …

terlewat dengan tetesan jiwa terlabuhkan

Sambil terdiam diatas felonama sukma

Meniadakan kegetiran rasa di ujung nista

Daunpun gugur satu persatu

Mengiringi kepergianmu

Cinta …..

Yang berpaut dalam permainan takdir,

Bersemayam rindu dibalik langkahku

Bergetar suara alam mendekapku

Melepas haru biru prahara kesaksian rasa

Jiwaku hening, terpatahkan paruh hitam

Dari tepi kesalahanku,

Untaian maafpun tak sampai

Cinta

Bergerak berpijak!

Dalam hembusan tiraian sendu yang menggeluti tubuhku

Semesta ungu menghiasi nada rintihku

Aku

Meredup tanpa cahaya bernyala

Tiap-tiap nafas ku rasakan sesak menyumpal mulutku

Merasakan pahitnya ketiadaanmu,

Cinta

Tubuhku berkeping menjajahi pekatnya malam

Menjelang kedinginan yang tercermin dalam lumuran detik

Saling menopang tanya

Akankah kau hadir dalam dimensiku …….

Ataukah ku tinggal dalam kebisuan ini,

Meniadakan getar rasa bergemuruh menerjang senja

Suryapun tak sanggup menjawab

Kemana kau pergi cinta …..

Waktumu ….

Tiada arti bagi kau sendiri

Hilanglah dari dunia sepi

Cinta …

Pulanglah ….

Dan rasakan …

Belaian kasih sayang ini tertulis untukmu

Di waktumu

Cinta

Waktu yang telah akan usai, dijalan hidupku.