Selamat Datang di X3-PRIMA, Melayani Setulus Hati, Memberikan yang terbaik

22.9.09

Coretan Senja

Titrasi Pengendapan

Prinsip

Jumlah metode tidak sebanyak titrasi asam-basa ataupun titrasi reduksi-oksidasi (redoks)

Kesulitan mencari indikator yang sesuai

Komposisi endapan seringkali tidak diketahui pasti, terutama jika ada efek kopresipitasi

Kelarutan = konsentrasi larutan jenuh zat padat

(kristal) di dalam suatu pelarut pada suhu tertentu.

BaSO4(p) Ba2+ + SO42-

Tetapan Hasilkali Kelarutan : Ksp = [Ba2+] [SO4]2-

Faktor-faktor yang mempengaruhi pengendapan

1.SUHU

2.SIFAT PELARUT

3.ION SEJENIS

4.AKTIVITAS ION

5.pH

6.HIDROLISIS

7.HIDROKSIDA LOGAM

8.PEMBENTUKAN SENYAWA KOMPLEKS

Metode titrasi pengendapan

Argentometri

Merkurimetri

Titrasi Kolthoff

Argentometri

Metode ini paling banyak digunakan, karena hasil kali kelarutan garan perak halida sangat kecil

Ksp AgCl = 1,82 . 10-10 Ksp AgCN = 2,2 . 10-16

Ksp AgCNS = 11,1 .10-12 Ksp AgI = 8 3, .10-1

Ksp AgBr = 5,0 . 10-13

Tiga cara penentuan titik ahir titrasi :

cara Mohr indikator CrO4-2

cara Volhard indikator Fe3+

cara Fajans Fluorescein (indikator adsorpsi)

ARGENTOMETRI – MOHR

Titrasi Mohr digunakan untuk menentukan kadar halida atau pseudohalida di dalam larutan Kromat (CrO42-) sbg indikator titik ahir karena membentuk endapan Ag2CrO4 dengan ion perak. berwarna merah saat bereaksi dengan ion perak.

Ksp Ag2CrO4 = 1 2,2 .10-12 mol3.L-3

Ksp AgCl = 1,82 . 10-10 mol2.L-2

ARGENTOMETRI - VOLHARD

Titrasi Volhard merupakan teknik titrasi balik, digunakan jika reaksi berjalan lambat atau jika tidak ada indikator yang tepat utk pemastian TE. Prinsip titrasi :

Larutan perak ditambahkan berlebih ke dalam larutan (pseudo)halida

Br- + Ag+ AgBr (endapan)

berlebih

Metode Volhard banyak digunakan untuk reaksi Ag+ dan Cl- karena selain kelarutan endapannya kecil, suasana asam akan mencegah hidrolisis indikator Fe3+. Jika metode ini dilakukan dalam suasana netral akan terganggu oleh endapan kation-kation lain. Metode Volhard digunakan pada titrasi langsung Ag+ dengan larutan CNS- atau titrasi tidak langsung pada penentuan kadar Cl-, Br- dan I-.

Pada titrasi tidak langsung Br- dan I- tidak terganggu oleh CNS- karena kelarutan AgBr = kelarutan AgCNS , sedangkan kelarutan AgI <>

Kesalahan titrasi Cl- dapat terjadi jika endapan AgCl bereaksi lanjut dengan CNS- :

AgCl(p) + CNS- AgCNS + Cl-

Karena kelarutan AgCNS < style=""> menjadi lebih kecil. Hal tsb dapat dicegah dengan penyaringan endapan AgCl atau dengan penambahan nitrobenzen (racun !)

Sebelum titrasi dengan CNS-. Nitro benzen menjadi lapis minyak yang memisahkan endapan dari CNS-.

ARGENTOMETRI – FAJANS

Titrasi Fajans menggunakan indikator adsorpsi, yakni senyawa organik yg teradsorpsi ke permukaan padat endapan (koloidal) selama proses titrasi berlangsung.

Contoh : Fluoresens sbg anion fluoresenat (hijau kuning)

bereaksi dg Ag+ membentuk endapan merah intensif yg teradsorpsi ke permukaan endapan koloidal krn adanya pasangan muatan ion.

Adsorpsi senyawa organik berwarna pada permukaan endapan dapat menginduksi pergeseran elektronik intramolekuler yang mengubah warna. Gejala tsb digunakan untuk mendeteksi titik akhir titrasi pengendapan garam-garam perak

Sebelum TE :

(AgCl).Cl- M+

Lapisan primer Lapisan sekunder Kelebihan Cl-

Setelah TE :

(AgCl).Ag+ X-

Lapisan primer Lapisan sekunder Kelebihan Ag+

Faktor-faktor yang dipertimbangkan dalam memilih indikator adsorpsi

:

1) Pada TE jangan dibiarkan AgCl menggumpal menjadi partikel besar, karena akan menurunkan dengan tajam daya adsorpsi permukaan endapan terhadap indikator. Jika itu terjadi, diatasi dengan penambahan dextrin, sebagai koloid pelindung agar endapan terdispersi lebih banyak. Dengan adanya dextrin maka perubahan warna menjadi reversibel, dan setelah lewat TE dapat dilakukan titrasi balik dengan larutan baku Cl-.

2) Adsorpsi indikator harus mulai terjadi sesaat sebelum TE dan makin cepat pada TE. Indikator yang jelek performansinya akan teradsorpsi kuat sehingga mensubstitusi ion-ion yang telah teradsorpsi sebelum TE.

3) pH larutan harus terkontrol agar dapat mempertahankan konsentrasi ion dari indikator asam lemah ataupun basa. Misalnya, fluoresein (Ka = 10-7) dalam larutan yang lebih asam dari pH 7 melepas fluoreseinat sangat kecil sehingga perubahan warna tidak dapat diamati. Fluoresein hanya dapat digunakan pada pH 7-10, sedangan difluoresein (Ka=10-4) digunakan pada pH 4-10.

4) Sebaiknya dipilih ion indikator yang muatannya berlewanan dengan ion penitrasi. Adsorpsi indikator tidak terjadi sebelum terjadi kelebihan titran. Pada titrasi Ag+ dengan Cl- dapat digunakan metil violet (garam klorida dari suatu basa organik) sebagai indikator adsorpsi. Kation tidak teradsorpsi sebelum terjadi kelebihan Cl- dan koloid bermuatan negatif. Dalam hal tersebut dapat digunakan indikator diklorofluoresein, tetapi harus ditambahkan sesaat menjelang TE.

Efek Pembentukan Kompleks thd Titrasi Argentometri
Banyak endapan membentuk kompleks larut dengan ion-ion pengendap. Kelarutan semula turun krn efek ion sejenis hingga melewati minimum lalu AgCl membentuk kompleks dg Ag+ dan Cl-

Indikator Adsorpsi

INDIKATOR ANALIT TITRAN KONDISI REAKSI

Diklorofluoresein Cl- Ag+ pH = 4

Fluoresein Cl- Ag+ pH = 7 – 8

Eosin Br-, I-, SCN- Ag+ pH = 2

Hijau Bromkresol SCN- Ag+ pH = 4 – 5

Ungu Metil Ag+ Cl- lar. asam

Rhodamin 6G Ag+ Br- HNO3 s/d 0,3 M

Contoh Titrasi Pengendapan

ANALIT TITRAN INDIKATOR METODE

Cl-, Br- AgNO3 K2CrO4 Mohr

TITRASI MERKURIMETRI

Hg2+ + 2 Cl- HgCl2 (berlaku utk halida lain)

Jika ion halida dititrasi dengan merkuri nitrat, pd TE tidak ada [Hg2+] karena selama titrasi terbentuk endapan HgCl2, namun setelah TE terjadi kenaikan [Hg2+] yg segera bere- aksi dg indikator membentuk kompleks Hg-Indikator; mis. indikator nitroprusid membentuk endapan putih, indikator difenilkarbazid atau difenilkarbazon dlm asam membentuk warna ungu intensif. Diperlukan koreksi dg titrasi blanko : 0,17 ml Hg(NO3)2 0,1 N untuk 50 ml HgCl2 0,05 N. Volume titrasi blanko bervariasi sesuai besarnya [HgCl ]2 TE karena [Hg2+] berlebih akan beraksi dg HgCl2 : HgCl2+ Hg2+g =2HgCll+