Selamat Datang di X3-PRIMA, Melayani Setulus Hati, Memberikan yang terbaik

14.8.09

Perkembangan Kurikulum Pendidikan Sains di Jepang

Perkembangan Kurikulum Pendidikan Sains di Jepang

Di Jepang terdapat sekolah negeri dan swasta, yang terdiri dari sekolah umum dan kejuruan. Seperti di Indonesia, bagi siswa yang ingin melajutkan ke perguruan tinggi, maka mereka harus mengambil sekolah umum, sedangkan mereka yang dari sekolah kejuruan dapat langsung bekerja. Kebanyakan orang menginginkan sekolah sampai perguruan tinggi, karena pekerjaan yang dijanjikan lebih baik dari pada jika hanya lulusan sekolah kejuruan. Sampai tingkat Sekolah negeri merupakan sekolah gratis, sedangkan sekolah swasta memerlukan biaya yang cukup banyak. Dengan demikian maka sekolah negeri dan umum merupakan sekolah yang paling diminati. Oleh karena itu persaingan untuk masuk ke sekolah umum negeri juga sangat ketat.

Kurikulum pendidikan sains di Jepang telah mengalami beberapa kali perubahan.
Pada tahun 1955, kurikulum pendidikan setelah PDII disusun, kurikulum ini merupakan kurikulum yang paling padat dan memuat pengetahuan yang paling banyak dibandingkan dengan kurikulum-kurikulum berikutnya.
Pada tahun 1967, kurikulum pendidikan Jepang menerima metode Investigative Learning, yang karenanya materi pengajaran menjadi sedikit, hanya bagian-bagian yang sesuai dan memungkinkan dilakukannya kegiatan investigative saja yang dimuat di dalam kurikulum ini.
Tahun 1977 kurikulum diubah lagi. Kali ini mendapat pengaruh ゆとり(artinya pendidikan yang tidak membebani siswa). Dengan pengaruh ini semua siswa dites, berdasarkan hasil tes ini bagian dari kurikulum yang dianggap sulit dibuang, dengan demikian isi kurikulum berkurang lagi.
Tahun 1988 terjadi perubahan pandangan pada kalangan pendidikan di Jepang. Pada saat ini kegiatan hands-on dianggap penting. Maka dalam kurikulum hanya topic-topik yang bisa dihands-on kan saja yang dimuat, bagian yang tidak memungkinkan kegiatan hands-on tidak dimuat di dalam kurikulum.
Kurikulum yang dipakai sekarang ini merupakan kurikulum yang disusun pada tahun 1998. Dibandingkan dengan kurikulum lainnya, kurikulum ini merupakan yang paling sedikit dan paling ringan muatannya. Kurikulum ini mendapat kritikan dari kalangan pengusaha seperti Toyota dan Sharp. Mereka menganggap kurikulum yang sekarang ini tidak memberikan kesempatan belajar yang cukup bagi anak-anak berbakat. Anak-anak yang cemerlang dianggap tidak mendapat tantangan yang cukup dari kurikulum yang sekarang ini. Oleh karena itu, tahun 2008 mungkin kurikulum ini juga akan mendapat perubahan lagi.
Kurikulum pendidikan Sains yang sekarang ini dilaksanakan di Jepang memiliki 4 hal penting yang menjadi point of view dari evaluasinya, yaitu:
Interest and respect in the learning
Scientific thinking
Skill of techniques in observation and experiment
Having knowledge of natural phenomenon