Selamat Datang di X3-PRIMA, Melayani Setulus Hati, Memberikan yang terbaik

13.8.09

perekonomian

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Jika kita pelajari sejarah perekonomian Indonesia sejak masa awal Orde Baru hingga kecenderungannya pada era globalisasi pada tahun 2020 nanti, maka akan kita peroleh suatu perkembangan yang “taat asas”. Artinya, produk unggulan maupun andalan pemasukan devisa (PDB) secara perlahan namun pasti menunjukkan pergeseran dari sektor primer, sekunder dan tersier. Hal ini secara langsung juga membawa pengaruh terhadap perubahan struktur sosial masyarakat, dari budaya pertanian tradisional menjadi budaya industri modern.

Perubahan atau tranformasi yang terjadi dalam struktur ekonomi maupun struktur sosial ini sebenarnya merupakan suatu gejala yang sangat wajar bagi perekonomian suatu negara di manapun, seiring dengan perkembangan teknologi industri serta permintaan masyarakat modern terhadap jasa-jasa pelayanan umum. Meskipun demikian, tentu saja akan terjadi dampak-dampak yang ditimbulkan baik positif maupun negatif.

Dalam kaitan ini, kita perlu berpegang pada suatu “aksioma” bahwa globalisasi perdagangan dan investasi dunia yang mengarah kepada revolusi 3 T (Triple T Revolution), adalah suatu proses alamiah yang pasti terjadi. Oleh karena itu, munculnya dampak negatif tidak harus ditakuti, sebab seluruh pelaku ekonomi nasional maupun pihak pemerintah sendiri memiliki keyakinan yang kuat bahwa dampak positif yang ada lebih banyak dibanding dengan dampak negatifnya. Inilah tantangan kita untuk memanfaatkan setiap proses transformasi bagi kepentingan masyarakat seluruhnya.

1.2.Identifikasi Masalah

Dengan latar belakang sebagaimana diutarakan diatas, dapat dikemukakan identifikasi masalah yang berkenaan dengan transdormasi struktural perekonomian Indonesia sebagai berikut :

· Penguatan pertumbuhan ekonomi

· ekspansi perekonomian

· Peningkatan di sisi

· permintaan di atas, diprakirakan masih mampu direspons secara memadai oleh sisi penawarannya.

1.3.Kerangka Teori

· Makro meliputi tindakan konsumen secara keseluruhan.kegiatan keseluruhan pengusaha, perubahan keseluruhan kegiatan ekonomi

· Makro, bagaimana segi permintaan dan penawaran menetukan tingkat kegiatan dalam perekonomian, masalah utama yang selalu dihadapi setiap perekonomian, peranan dan campur tangan pemerintah untuk mengatasi masalah ekonomi.

Pertumbuhan ekonomi dapat didefinisikan sebagai perkembangan kegiatan dalam perekonomian yang menyebabkan barang dan jasa yang diproduksikan dalam masyarakat bertambah

Kemampuan bertambah ini karena faktor – faktor produksi akan selalu mengalami pertambahan dalam jumlah dan kualitasnya

Misalnya investasi akan menambah jumlah barang modal, teknologi yang digunakan berkembang, tenagakerja bertambah sebagai akibat perkembangan penduduk, pengalaman kerja dan pendidikan menambah keterampilan mereka

Pendapatan nasional adalah istilah yang menerangkan tentang nilai barang- barang dan jasa-jasa yang diproduksikan suatu negara dalam satu tahun tertentu, terdiri dari Produk Nasional Bruto (PNB) dan Produk Domestik Bruto.

BAB II

ANALISIS DAN KERANGKA PEMIKIRAN

2.1.Kerangka Pemikiran

Analisis antara input (fenomena-fenomena ekonomi baik pada skala lokal, nasional maupun internasional), proses (terjadinya transformasi struktural perekonomian maupun sosial ketenagakerjaan), serta output (dalam pengertian dampak dan implikasi yang ditimbulkan dari proses).

2.2.Analisis

Dari uraian-uraian diatas dapat diketahui bahwa proses globalisasi yang mengarah kepada proses transformasi selalu memiliki dua sisi akibat yang berbeda. Disatu sisi, akibat positif yang ditimbulkan adalah modernisasi kehidupan masyarakat ; sementara disisi lain, bagi pihak-pihak yang tidak dapat memanfaatkan peluang yang ada, akan menerima akibat negatif yakni tergilas oleh laju dan proses transformasi itu sendiri.

Oleh karena itu, dalam analisis permasalahan ini akan dikemukakan beberapa strategi untuk mengantisipasi serta mengeliminasi dampak-dampak yang kurang menguntungkan, serta mengoptimasi dampak positif yang mungkin timbul.

Pertama, pada tahun 2020 penduduk Indonesia sudah menjadi penduduk perkotaan. Perkembangan kota tersebut sejalan dengan transformasi ekonomi, yang mengakibatkan tingginya laju urbanisasi. Urbanisasi sendiri membawa berbagai dampak dalam pembangunan. Pada sisi negatifnya, urbanisasi menimbulkan ekses-ekses dan masalah-masalah sosial. Akan tetapi, meningkatnya konsentrasi penduduk karena memungkinkan penyediaan pelayanan sosial dan berbagai kebutuhan dasar menjadi lebih mudah. Perkembangan wilayah kota juga mendorong majunya wilayah pedesaan di sekitarnya, selain dapat mengurangi tekanan penduduk di desa.

Kedua, memperluas upaya diversifikasi usaha kearah agribisnis (industrialisasi yang berbasis kepada produk pertanian). Sistem agribisnis ini dimaksudkan untuk mencapai dua tujuan yaitu menghasilkan bahan pertanian sampai ke pasar, serta menghasilkan salah satu faktor produksi bagi sector

industri. Tujuan pembangunan pertanian secara keseluruhan dapat tercapai jika dikaitkan secara langsung kepada proses industrialisasi.

Ketiga, sejalan dengan pengembangan agribisnis, maka perlu diciptakan pula industri pedesaan yang kokoh, yakni industri yang terletak di pedesaan, menggunakan metode produksi padat karya dan tenaga kerja kebanyakan didapatkan dari sekitar desa.

Keempat, diperlukan upaya penggalakan transmigrasi dan pembukaan daerah-daerah baru (moving frontier) yang dapat dijadikan sebagai strategi untuk mengatasi masalah realokasi bagi pekerja-pekerja yang tergusur oleh proses industrialisasi.

BAB III

PEMBAHASAN

3.1.PEREKONOMIAN INDONESIA

Kajian terhadap perekonomian Indonesia, secara ilmiah baru bisa dilaksanakan semenjak lahirnya Orde Baru. Hal ini disebabkan pada masa-masa sebelumnya, pemerintah cenderung bersikap tertutup dalam kebijakan ekonominya. Disamping itu, kondisi politik keamanan yang belum mantap, menyebabkan tingkat perkembangan ekonomi menjadi terhambat. Inilah yang menjadikan kondisi perekonomian Indonesia pada pertengahan dasawarsa 1960-an sebagai suatu masa suram.

Tingkat produksi dan investasi di berbagai sektor utama menunjukkan kemunduran semenjak tahun 1950. Pendapatan riil perkapita dalam tahun 1966 lebih rendah dari pada tahun 1938. Sektor industri yang menyumbangkan hanya 10 % dari GDP dihadapkan pada masalah pengangguran kapasitas yang serius. Pada masa ini defisit anggaran belanja negara mencapai 50 % dari pengeluaran total negara, ditambah lagi dengan penerimaan ekspor yang sangat menurun serta hiperinflasi periode 1964-1966, menjadikan Indonesia mengalami kelumpuhan perekonomian.

Meskipun demikian, menjelang tahun 1977 perekonomian Indonesia telah mengalami perubahan struktural yang cukup menyolok, sebagai akibat kebijaksanaan pemerintah yang ditunjang oleh naiknya harga minyak bumi. Selama dasawarsa setelah tahun 1965, bagian GDP atau PDB yang berasal dari sektor pertanian turun dari _ 52 % menjadi _ 35 %, sedangkan bagian GDP yang berasal dari sektor pertambangan telah melonjak dari _ 3,7 % menjadi _ 12 %.

3.2. Perkembangan Makroekonomi Terkini

Penguatan pertumbuhan ekonomi diprakirakan berlanjut pada triwulan II-2007.Setelah mencatat pertumbuhan yang cukup tinggi pada triwulan I-2007, PDB diprakirakan tumbuh mencapai 6,1% pada triwulan II-2007. Dari sisi permintaan, ekspansi perekonomian tersebut terutama ditopang oleh peningkatan pertumbuhan konsumsi swasta dan ekspor. Perbaikan konsumsi swasta didorong oleh membaiknya daya beli masyarakat. Ekspor diprakirakan tumbuh tinggi seiring

dengan permintaan dunia yang masih tinggi dan membaiknya daya saing dari sisi harga. Investasi diprakirakan juga akan tumbuh tinggi sebagai respon dunia usaha atas tingginya pertumbuhan konsumsi swasta dan ekspor. Peningkatan di sisi permintaan di atas, diprakirakan masih mampu direspons secara memadai oleh sisi penawarannya. Upaya sisi penawaran dalam merespons peningkatan sisi permintaan dilakukan dalam bentuk peningkatan kapasitas produksi dan tingkat utilisasi kapasitas, serta penurunan jumlah persediaan/inventori. Di sisi eksternal, realisasi NeracaPembayaran Indonesia (NPI) pada triwulan II-07 mencatat surplus yang cukup besar disumbang oleh tingginya minat investor asing pada SUN, SBI dan saham serta kenaikan harga komoditas internasional yang masih berlangsung. Dengan perkembangan NPI tersebut, realisasi posisi cadangan devisa sampai dengan akhir triwulan II-2007 menjadi USD 50,9 miliar atau mencukupi kebutuhan impor dan pembayaran utang luar negeri (ULN) pemerintah selama 5

bulan.

PERTUMBUHAN EKONOMI

Perekonomian nasional pada triwulan II-2007 masih berada pada fase ekspansi dan diprakirakan akan tumbuh mencapai 6,1.Perkembangan terkini berbagai indikator dan hasil survei memberikan indikasi bahwa perekonomian masih berada pada fase ekspansi pada triwulan II-2007. Perkembangan tersebut ditunjukkan pula oleh perkembangan indikator penuntun (leading indicator) PDB yang menggambarkan fase ekspansi perekonomian sampai dengan akhir 2007. Berdasarkan asesmen terhadap indikator dan hasil survei, pada triwulan II-2007 PDB diprakirakan akan tumbuh secara tahunan sebesar 6,1%

Permintaan Agregat

Struktur pertumbuhan PDB pada triwulan II-2007 masih ditopang oleh pertumbuhan konsumsi rumah tangga dan ekspor. Di sisi permintaan domestik, konsumsi rumah tangga akan tumbuh

tinggi seiring dengan membaiknya daya beli masyarakat dan optimisme konsumen. Di sisi permintaan eksternal, ekspor juga akan tumbuh tinggi

meskipun tidak setinggi pertumbuhan tahun lalu sejalan dengan kondisi global yang masih

kondusif. Sebagai respons terhadap meningkatnya kegiatan konsumsi dan ekspor,

investasi (PMTB) akan tumbuh lebih tinggi. Sejalan dengan meningkatnya kegiatan

ekonomi, impor juga akan tumbuh lebih tinggi. Konsumsi rumah tangga pada triwulan II-2007 diprakirakan tumbuh lebih tinggi. Penguatan pertumbuhan konsumsi rumah tangga tersebut terutama diakibatkan oleh peningkatan daya beli masyarakat, khususnya untuk masyarakat kelas menengah ke atas, dan sentimen positif konsumen terhadap kondisi perekonomian secara keseluruhan. Konsumsi rumah tangga diprakirakan tumbuh mencapai 4,8% . Penjualan kendaraan bermotor, khususnya mobil, menunjukkan pertumbuhan yang cukup tajam . Di samping itu, pertumbuhan penjualan produk elektronik mulai pulih setelah mencatat pertumbuhan negatif pada 2006. Untuk indikator sektor moneter, meningkatnya konsumsi swasta dicerminkan oleh tingginya pertumbuhan riil M1. Dari sisi pembiayaan, peningkatan konsumsi swasta tersebut didukung oleh pertumbuhan riil kredit konsumsi yang meningkat sejalan dengan kecenderungan penurunan suku bunga kredit konsumsi. Peningkatan kegiatan konsumsi juga didukung oleh membaiknya optimisme masyarakat, sebagaimana terlihat pada hasil Survei Konsumen Bank Indonesia. Sementara itu, hasil Survei Penjualan Eceran Bank Indonesia menunjukkan bahwa kegiatan konsumsi masyarakat juga cenderung meningkat. Investasi pada triwulan II-2007 diprakirakan masih berada dalam fase ekspansi. Fase ekspansi tersebut ditunjukkan oleh perkembangan indikator penuntun investasi. Ekspansi pertumbuhan Pembentukan Modal Tetap Domestik Burto (PMTB) tersebut didukung optimisme sentimen bisnis para pelaku usaha dan ketersediaan pembiayaan yang relatif memadai. Percepatan pertumbuhan PMTB merupakan respons positif pengusaha terhadap ekspansi perekonomian, khususnya kegiatan konsumsi dan ekspor. Namun demikian, optimisme peningkatan investasi masih dibayang-bayangi oleh lambatnya kemajuan implementasi kebijakan pemerintah di bidang perbaikan iklim investasi dan pembangunan infrastruktur. Dengan perkembangan tersebut, pertumbuhan PMTB pada triwulan II-2007 diprakirakan akan mencapai 8,8. Peningkatan investasi pada triwulan II-2007 ditopang oleh akselerasi pertumbuhan investasi non-bangunan. Sebagai respons atas peningkatan kegiatan konsumsi dan ekspor, investasi nonbangunan pada triwulan II-2007 diprakirakan mengalami kenaikan pertumbuhan yang cukup tinggi . Beberapa indikator yang erat kaitannya dengan pergerakan investasi nonbangunan seperti produksi mesin dan perlengkapannya serta impor mesin/pesawat mekanik menunjukkan peningkatan yang cukup tinggi. Sementara itu, pertumbuhan investasi bangunan cenderung relatif stabil. Perkembangan indikator dini dan survei yang terkait dengan investasi menunjukkan peningkatan dan mencerminkan optimisme pelaku bisnis yang relatif masih tinggi. Pertumbuhan riil kredit investasi masih dalam tren meningkat, meskipun sedikit melambat pada awal 2007 . Sementara itu, pertumbuhan impor barang modal masih cenderung meningkat. Beberapa hasil survey menunjukkan optimisme para pelaku bisnis. Survei Jetro menunjukkan optimisme perusahaan perusahaan Jepang terhadap kondisi perekonomian domestic Demikian pula, survei Indeks Tendensi Bisnis-BPS menunjukkan bahwa sentimen bisnis para pelaku usaha terhadap kondisi perekonomian secara umum masih baik . Kondisi eksternal, baik dari sisi pemintaan maupun daya saing dari sisi harga, diprakirakan masih kondusif bagi kinerja ekspor nasional. Permintaan dan harga dunia yang masih cenderung meningkat berdampak pada meningkatnya pertumbuhan ekspor pada triwulan II-2007. Setelah mencatat pertumbuhan sebesar 8,9% pada triwulan I-2007, ekspor diprakirakan akan tumbuh menjadi 9,1% pada triwulan II-2007. Berdasarkan sektor dan golongan komoditas, ekspor nasional masih didominasi oleh komoditas pertanian dan pertambangan yaitu komoditas lemak dan minyak hewani/nabati termasuk CPO, komoditas bahan bakar mineral, komoditas bijih, kerak, dan abu logam, serta komoditas karet.

Seiring dengan peningkatan kegiatan ekonomi, impor pada triwulan II-2007 diprakirakan akan tumbuh lebih tinggi . Impor diprakirakan masih berada pada fase ekspansi seperti ditunjukkan oleh pergerakan indikator penuntun. Ekspansi pertumbuhan impor tersebut sejalan dengan ekspansi kegiatan perekonomian baik untuk keperluan konsumsi dan produksi. Dengan melihat prakiraan mengenai ekspansi pertumbuhan konsumsi, investasi, dan ekspor, maka impor pada triwulan II-2007 diprakirakan akan tumbuh mencapai 9,0% Berdasarkan golongan penggunaan barang, pertumbuhan impor didorong oleh pertumbuhan impor barang konsumsi dan bahan baku.

Operasi Keuangan Pemerintah

Pada bulan Mei 2007 terjadi surplus anggaran yang cukup besar sehingga secara keseluruhan Januari- Mei 2007 operasi keuangan pemerintah mencatat surplus anggaran yang lebih besar dari periode yang sama di tahun sebelumnya (Rp 25,2 triliun atau 0,7% dari PDB pada 2007 dibandingkan dengan Rp 6,3 triliun atau 0,2% dari PDB pada 2006). Besarnya surplus terkait dengan penyerapan belanja pemerintah pusat yang masih rendah. Implementasi berbagai penyempurnaan peraturan terkait Pengadaan Barang / Jasa Pemerintah1 belum secara signifikan mempengaruhi realisasi Belanja Modal. Penyerapan yang lebih rendah juga terjadi pada Belanja untuk Daerah disebabkan belum dikeluarkannya DBH. Dengan perkembangan demikian, penyerapan Belanja Negara mencapai 26,8% dari APBN, sedikit lebih rendah dari penyerapan pada periode yang sama tahun 2006 (27,7% dari APBNP). Kontribusi fiskal pada sektor riil selama triwulan II-2007 terutama bersumber dari investasi pemerintah. Dengan memperhatikan realisasi komponen Belanja Negara selama bulan April-Mei 2007, pertumbuhan konsumsi pemerintah pada triwulan II-2007 diprakirakan relatif sama dibandingkan triwulan I-2007 sedangkan investasi pemerintah diprakirakan meningkat .Pertumbuhan konsumsi terutama didorong oleh konsumsi pemerintah pusat sedangkan investasi pemerintah didorong oleh investasi pemerintah daerah. Transfer pemerintah ke sektor riil di bulan April-Mei 2007 mengalami peningkatan dibanding periode yang sama tahun sebelumnya, yang terutama bersumber dari besarnya realisasi subsidi dan bantuan sosial. Bantuan social gMbarang Konsumsi (val) gMbahan Baku (val) Rata2 gMbahan baku Rata2 gMbarang konsumsi PDB Impor (rhs) gMbarang modal (val) Rata2 gMbarang Modal 1 Beberapa poin penting dalam PP 8 tahun 2006 dan PP 79 tahun 2006 tentang Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah adalah bahwa kementrian dan lembaga negara serta pemerintah daerah dan Pimpinan BUMN dan BUMD dapat mengadakan proses pengadaan barang/jasa sebelum dokumen anggaran disahkan sepanjang anggaran untuk kegiatan yang bersangkutan telah dialokasikan, dengan ketentuan menerbitkan surat penunjukan penyediaan barang/jasa (SPPBJ) dan penandatangan kontrak pengadaan barang/jasa dilakukan setelah dokumen anggaran untuk kegiatan/proyek disahkan. Selain itu, PP juga mengatur tentang pengunduran kewajiban sertifikasi bagi pejabat pembuat komitmen diundur sampai dengan akhir 2007 dan pekerjaan lelang sampai dengan Rp50 juta dapat dilakukan penunjukkan langsung.Hal

tersebut, antara lain dialokasikan untuk cadangan dana penanggulangan bencana alam, Bantuan Operasional Sekolah (BOS), Beasiswa Khusus Murid (BKM), dan pelayanan kesehatan gratis di Puskesmas dan Rumah Sakit Kelas III. Peningkatan bantuan sosial selama bulan April-Mei 2007. merupakan salah satu penyumbang meningkatnya konsumsi swasta pada triwulan II-2007.

Penawaran Agregat

Trend perbaikan pertumbuhan ekonomi pada triwulan II-2007 diprakirakan masih akan terus berlanjut dan tercermin pada beberapa indikator sektoral. Perbaikan pertumbuhan sisi penawaran terjadi pada hampir semua sektor ekonomi. Indikasi respon perbaikan ini tercermin dari trend peningkatan penggunaan kapasitas produksi pada Survei Kegiatan Dunia Usaha serta Survei Produksi Bank Indonesia. Pada triwulan II-2007, PDB sisi penawaran diprakirakan masih akan tumbuh meningkat yaitu sebesar 6,1% Pertumbuhan tersebut terutama bersumber dari pertumbuhan sektor utama seperti sektor industri pengolahan (5,5%), sector pertanian (3,2%) dan sektor pengangkutan & komunikasi (13,6%) yang terus tumbuh dengan trend meningkat. Sementara itu, sektor-sektor lainnya seperti sector perdagangan, hotel, dan restoran, serta sektor bangunan juga berada pada trend pertumbuhan yang tinggi meskipun sedikit melambat. Dengan kondisi ini, penopang utama pertumbuhan sisi penawaran masih akan berasal dari sektor industry pengolahan, perdagangan, hotel, dan restoran serta sektor pengangkutan dan komunikasi. Secara tahunan, sektor industri pengolahan pada triwulan II-2007 diprakirakan akan tumbuh sebesar 5,5%, lebih tinggi dibandingkan triwulan I-2007. Kondisi ini tercermin pada trend peningkatan prompt indikator maupun beberapa survei yang terus menunjukkan perbaikan. Faktor pendorong peningkatan produksi antara lain bersumber dari terus membaiknya permintaan domestik dan ekspor, penurunan suku bunga pinjaman, serta perbaikan ekspektasi kondisi ekonomi kedepan seiring dengan terus membaiknya indikator ekonomi makro secara menyeluruh. Prakiraan bahwa pertumbuhan sektor industri pengolahan tersebut masih dalam fase ekspansi juga didukung oleh pergerakan leading indicator hingga 1-2 triwulan ke depan serta trend kontribusi pertumbuhan subsektor industry yang mengalami peningkatan di beberapa kelompok. Secara tahunan, sektor perdagangan, hotel, dan restoran diprakirakan akan tumbuh sebesar 7,5% di triwulan II-2007, sedikit lebih rendah dibandingkan pertumbuhan diawal tahun. Membaiknya kondisi permintaan konsumsi RT merupakan salah satu faktor utama masih tingginya pertumbuhan di sektor perdagangan, hotel dan restoran. Beberapa indikator mengkonfirmasi pertumbuhan di sector perdagangan, hotel, dan restoran. Kondisi ini tercermin dari masih positifnya trend pertumbuhan arus bongkar muat kargo di 4 (empat) pelabuhan utama (yakni Belawan, Tanjung Priok, Tanjung Perak, dan Ujung Pandang) yang mengindikasikan meningkatnya arus perdagangan sejalan dengan pertumbuhan sektor perdagangan yang tinggi. Disisi lain, pertumbuhan indeks penjualan eceran hasil Survei Penjualan Eceran BI meskipun sedikit menurun masih mengindikasikan membaiknya kondisi perdagangan di awal triwulan II-2007. Secara tahunan, di triwulan II-2007 pertumbuhan sektor pertanian diprakirakan akan tumbuh sebesar 3,2%, mengalami peningkatan signifikan jika dibandingkan pertumbuhan triwulan I-2007. Relatif tingginya pertumbuhan pada sector pertanian ini diprakirakan akan berasal dari pertumbuhan sub sektor tanaman bahan makanan, serta sub sektor perkebunan. Bergesernya musim panen raya hingga baru terjadi diawal triwulan II-2007 merupakan salah satu faktor pendorong peningkatan pertumbuhan di sektor pertanian. Sementara itu, tingginya permintaan terhadap ekspor kelapa sawit dan terus meningkatnya harga kelapasawit di perdagangan dunia mendorong peningkatan produksi yang signifikan didalam negeri.Sektor pertambangan dan penggalian di triwulan II-2007 diprakirakan akan tumbuh sedikit melambat. Pada triwulan II-2007, sektor pertambangan diprakirakan akan tumbuh sebesar 3,6% sedikit lebih lambat dibandingkan pertumbuhan di awal tahun. Kondisi ini seiring dengan relatif tidak berubahnya insentif harga terhadap komoditas primer Indonesia. Beberapa ekspor barang tambang pada akhir triwulan I-2007 mengindikasikan sedikit perlambatan. Pertumbuhan sektor ini dikonfirmasi oleh produksi komoditas utama sub sektor pertambangan tanpa migas yang tercermin dari pertumbuhan ekspor bijih, kerak dan abu logam serta ekspor batubara. Sementara itu, kinerja sub sektor minyak dan gas bumi mengalami sedikit perbaikan, seperti tercermin dari meningkatnya pertumbuhan produksi minyak pada bulan April 2007. Sektor pengangkutan dan komunikasi masih akan tumbuh tinggi. Pada triwulan II-2007, sektor pengangkutan dan komunikasi diprakirakan masih akan mengalami trend peningkatan pertumbuhan menjadi sebesar 13,6% lebih tinggi jika dibandingkan pertumbuhan triwulan I-2007. Beberapa faktor yang mendorong tingginya pertumbuhan sektor pengangkutan dan komunikasi antara lain dari semakin berkembangnya inovasi telekomunikasi dan murahnya biaya pulsa yang mendorong berlanjutnya trend peningkatan jumlah pelanggan telepon seluler hingga akhir triwulan I-2007 serta peningkatan jumlah penumpang baik darat maupun udara yang terjadi diawal triwulan II-2007. Sementara itu, pertumbuhan sektor bangunan diprakirakan mencapai 9,2% sedikit lebih rendah jika dibandingkan triwulan I-2007. Pertumbuhan yang tinggi ini dikonfirmasi oleh tingginya pertumbuhan pembangunan properti komersial, terutama untuk perkantoran, apartemen, dan lahan industri di akhir 2006 dan awal 2007. Sementara itu, kredit yang disalurkan bank melalui kredit properti maupun kredit konstruksi tumbuh relatif stabil, terutama sejak kenaikan harga BBM pada Oktober 2005.

Kesenjangan Output (Output Gap)

Mencermati kondisi permintaan dan penawaran seperti telah disebutkan di atas, pada triwulan II-2007 peningkatan permintaan diprakirakan masih dapat direspon oleh sisi penawaran. Respon sisi penawaran dapat berupa peningkatan kapasitas produksi, peningkatan tingkat utilisasi kapasitas, dan penggunaan stok.Perkembangan interaksi antara permintaan dan penawaran tersebut sejalan dengan perkembangan output gap yang masih negatif Kondisi output gap tersebut mengindikasikan bahwa tekanan inflasi dari factor output gap relatif minimal.

NERACA PEMBAYARAN INDONESIA

Transaksi Berjalan

Surplus transaksi berjalan diprakirakan masih akan berlanjut di triwulan II-2007 walaupun cenderung menurun dibandingkan triwulan sebelumnya maupun triwulan II-2006. Surplus transaksi berjalan tersebut terutama didorong oleh kinerja ekspor nonmigas yang tumbuh sebesar 15,4% meskipun lebih rendah dari pertumbuhan triwulan sebelumnya sebesar 22,2%. Pertumbuhan ekspor nonmigas tersebut didukung oleh prakiraanvolume perdagangan dan harga komoditi dunia yang masih tinggi. Di sisi lain, laju pertumbuhan impor nonmigas diprakirakan sebesar 21,9% meningkat dari triwulan sebelumnya sebesar 11,6%. Membaiknya permintaan domestik dan meningkatnya investasi diprakirakan akan mendorong peningkatan kinerja impor nonmigas. Beberapa komoditi unggulan sektor pertanian seperti karet, di sector pertambangan seperti batubara dan tembaga, serta tekstil, elektronik, CPO dan mesin-mesin di sektor industri manufaktur diprakirakan akan menjadi penopang kinerja ekspor nonmigas. Ekspor CPO diprakirakan akan mengalami peningkatan dengan negara tujuan utama India dan Cina. Kenaikan ekspor tersebut didorong oleh ekspansi lahan kelapa sawit yang direncanakan sampai tiga tahun mendatang akan bertambah 1,5 juta hektar dengan target produksi bertambah 18 juta ton. Tingginya permintaan CPO dunia yang didorong oleh maraknya pengembangan sumber energi alternatif, diprakirakan ikut berkontribusi terhadap meningkatnya harga CPO, yang pada gilirannya akan mendorong pertumbuhan ekspor komoditi tersebut. Namun demikian, tingginya harga CPO mendorong pemerintah melakukan peningkatan pajak ekspor CPO untuk mengamankan pasokan minyak goreng di dalam negeri. Neraca perdagangan migas diprakirakan masih mengalami surplus sebesar USD1,3 miliar, sedikit lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Surplus neraca perdagangan migas terkait dengan surplus neraca perdagangan gas yang diprakirakan masih dapat menutupi defisit neraca perdagangan minyak. Sementara itu, prakiraan harga minyak dunia yang mencapai USD60,00 per bbl dan kenaikan produksi yang hanya mencapai 1 juta bpd belum dapat memberikan kontribusi yang signifikan terhadap kinerja ekspor migas. Transaksi jasa selama triwulan II-2007 diprakirakan mengalami kenaikan deficit sebagai dampak dari kenaikan nilai impor baik migas maupun nonmigas yang menyebabkan kenaikan biaya angkut. Namun demikian, penerimaan devisa dari turis diprakirakan akan mengalami peningkatan sejalan dengan kenaikan jumlah turis masuk ke Indonesia. Namun pengeluaran devisa di jasa pariwisata masih akan tinggi terkait antara lain dengan pengeluaran devisa dari turis domestik yang berwisata ke luar negeri. Sementara itu, meningkatnya profit transfer perusahaan FDI dan bank asing di Indonesia ke luar negeri memberikan kontribusi pada kenaikan defisit transfer pendapatan sebesar USD4,4 miliar, dari tahun sebelumnya USD4,1 miliar. Kenaikan penerimaan devisa TKI selama triwulan II-2007 diprakirakan akan mendorong surplus current transfer menjadi sebesar USD1,2 miliar.

Neraca Modal dan Finansial

Stabilitas makro ekonomi dan tingginya tingkat suku bunga domestik disbanding luar negeri mendorong derasnya aliran masuk modal khususnya investasi portofolio di triwulan II-2007. Aliran masuk investasi portofolio tersebut terutama berupa pembelian saham, SUN dan SBI yang mencapai neto USD3,9 miliar. Realisasi pembelian SUN dan SBI serta saham oleh asing sampai dengan Mei sudah tinggi, melebihi prakiraan triwulan II sebelumnya. Tingginya arus masuk modal asing tersebut menyebabkan transaksi modal dan finansial diprakirakan mengalami surplus USD2,3 miliar, meningkat tajam dari angka di periode yang sama tahun 2006 sebesar surplus USD26 juta. Angka tersebut juga lebih tinggi dari realisasi triwulan sebelumnya USD1,7 miliar. Namun demikian, sejalan dengan surplus transaksi berjalan dan transaksi keuangan, penempatan aset penduduk di luar negeri diprakirakan meningkat mencapai USD2 miliar. Bertambahnya aset tersebut bersumber dari meningkatnya rekening giro milik bank dan perusahaan domestik

di luar negeri.

Cadangan Devisa

Dengan kinerja NPI tersebut, posisi cadangan devisa per Juni 2007 mencapai\USD50,9 miliar atau setara dengan 5 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah.

KEBIJAKAN MAKROEKONOMI

Pada 12 Juni 2007 pemerintah mengeluarkan paket kebijakan ekonomi yang tertuang di dalam Inpres No. 6/2007 tentang Kebijakan Percepatan Pengembangan Sektor Riil dan Pemberdayaan UMKM. Paket kebijakan tersebut merupakan penguatan dan perluasan dari kebijakan-kebijakan pemerintah sebelumnya yang mencakup perbaikan iklim investasi, reformasi sektor keuangan, pembangunan infrastuktur, dan pemberdayaan UMKM. Paket kebijakan tersebut terdiri dari 141 rencana tindak (sebagian besar merupakan kelanjutan dari rencana tindak yang terdapat di dalam kebijakan-kebijakan sebelumnya) dengan rincian sebagai berikut: perbaikan iklim investasi sebanyak 41 langkah, reformasi sektor keuangan 43 langkah, percepatan pembangunan infrastruktur sebanyak 28 langkah, dan menyangkut UMKM sebanyak 29 langkah. Terkait dengan pengembangan infrastruktur, kebijakan pemerintah difokuskan pada upaya-upaya untuk mempercepat realisasi pembangunan infrastruktur. Ada 3 area utama yang menjadi target kebijakan pemerintah yaitu pertama: perbaikan hokum dan peraturan; kedua: penguatan institusi, khususnya terkait dengan pembagian tanggung jawab antara pemerintah pusat dan daerah serta fungsi dan peran BUMD; dan ketiga: perbaikan manajemen pembangunan infrastruktur yang antara lain mencakup proses pembebasan tanah dan review terhadap kebijakan public service obligation.

BAB IV

PENUTUP

4.1.Kesimpulan

Pada dasarnya suatu perubahan pada bidang tertentu akan membawa dampak kepada perubahan di bidang lainnya. Dalam konteks globalisasi saat ini, perubahan yang paling mendasar memang melanda sektor ekonomi, dimana membawa akibat kepada perubahan sektor sosial, tenaga kerja, maupun sektor-sektor lainnya. Sesuai dengan hukum perubahan yang mengatakan bahwa tidak ada sesuatu yang abadi kecuali perubahan itu sendiri, maka terjadinya transformasi struktural perekonomian jelas tidak bisa ditolak.

Akan tetapi dengan beberapa langkah sebagaimana dikemukakan diatas, diharapkan proses transformasi tersebut tidak akan menjerumuskan bangsa Indonesia kepada kondisi daya saing yang lemah, sebaliknya mampu memperbaiki kinerja ekonomi Indonesia yang telah lama diragukan banyak pihak. Dengan demikian, proses transformasi perekonomian tadi pada hakekatnya merupakan stimulator bagi bangsa Indonesia untuk menghilangkan berbagai hambatan internal yang ada, sekaligus menjawab tantangan-tantangan eksternal yang muncul secara efisien.

4.2.SARAN

Tidak dapat dilepaskan dari seluruh upaya atau strategi diatas adalah peningkatan kualitas, kemampuan dan profesionalisme aparat pemerintah serta para pelaku ekonomi nasional dalam menyambut era globalisasi ekonomi dengan langkah-langkah nyata. Dalam hal ini, peningkatan pendidikan dan pelatihan, percepatan alih teknologi serta pengurangan ketergantungan kepada pihak luar, merupakan upaya-upaya penting dan mendesak untuk mengoptimalkan kemampuan yang telah ada. Disamping itu, peran pemerintah melalui berbagai kebijakan publik untuk menciptakan iklim usaha yang kondusif bagi perkembangan industri kecil dan menengah juga memegang peran vital untuk mendorong lebih lanjut proses transformasi ekonomi demi kepentingan dan kesejahteraan masyarakat Indonesia.

DAFTAR PUSTAKA

Evaluasi Kinerja Pertanian 1996 : Dari Impor Beras, Sampai Konversi Tanaman Cengkeh, Kompas, 27 Desember 1996, hal. 17.

Hadi Prayitno dan Budi Santoso, Ekonomi Pembangunan, Jakarta : Ghalia Indonesia, 1996, hal. 233.

Hadi Prayitno, op.cit., hal. 236-237.

Dorodjatun Kuntjoro Jakti, Perencanaan Ekonomi Nasional Menghadapi Tantangan Globalisasi, sebagaimana dikutip dari Marzuki Usman, Transformasi Administrasi Bisnis Dalam Menghadapi Persaingan Globamakalah pada Seminar PERSADI, Bandung : 1997, hal. 4.

Ginandjar Kartasasmita, Visi Pembangunan 2018 : Tantangan Bagi Profesi Administrasi, makalah pada Seminar Nasional PERSADI, Jakarta : Bappenas, 1997, hal. 10

Dawam Raharjo, Perekonomian Indonesia : Pertumbuhan dan Krisis, Jakarta : LP3ES, Cet. Kedua, 1994, hal. 206.

Hadi Prayitno, op.cit., hal. 222.

Komarudin, op.cit., hal. 46-47.

Laporan Kebijakan Moneter - Triwulan II-2007

Perkembangan Makroekonomi Terkini