Selamat Datang di X3-PRIMA, Melayani Setulus Hati, Memberikan yang terbaik

13.8.09

obat

Tabel obat yang dapat mengusir obat dari ikatannya dengan protein plasma adalah fgt afinitas ikatan
Asetaminofen antidiabetik oral, antipirin, aspirin, garbiturat, sulfonamide, salisilat, tollutamid, trankuilansia, klofibiat, difenhidramia, asam etakrinat, iudomethasin, fenilbutazon, oksifenbutazon, PABA, kloralhidrat.

V. Modifikasi kerja pada pusat aktif R/
Interaktan dapat dipotensiasi intensitas kerja obat pada R/ dengan 3 mekanisme umum
a. Tinggi Konsentrasi pada R/ nya
b. Tinggi Reaktivitas pada R/ nya
c. Tinggi Konsentrasi zat endogen pada R/

Inhibitor kolinsitease – insektisida
MAO inhibitor norepihefria seperti dekstro ampetamin dan tiramin. Endrophonium dan neostiganin – inhibitor kolin esterare atropine – asetilkolin – atropin dapat nimadaki efek asetille amfetamin – efedrin – efek.

VI. Modifikasi biotransformasi : Induksi enzim, Inhibisi enzim
Dengan terjadinya induksi enzim maka :
1. Umumnya respon pasien terhadap pengobatan rendah , tetapi dapat juga terjadi sebaliknya.
2. Dapat menghilangkan zat kimia endapan atau eksogen yang tidak diinginkan.
3. Dapat menimbulkan situasi yang membahayakan bila metabolite yang tak diinginkan diproduksi dalam jumlah berlebih dengan cepat
4. Dapat timbul toleransi  akibat punya 6 oleh yang mempengaruhi ssp
5. Dapat mengarah pada interprestasi yang salah ser klinik

Zat Penginduksi Enzim
Antibiotik Insektisida
Rifampasin ++++ Aldri, dieldri +++
Griseofulu ++++ Klorfenotan ++++
Anti epilepsy Heksaklorsikloheksan +++
Hidantoin +++ Muskelrelaksan
Parametadion ++ Karlsoprodol +
Antihistamin Mefenesin +
Klorsiklisih ++ Antidiabetika oral
Difenhisramin ++ Karbutamin ++
Antirematik Tolbutamid +++
Fenilbutazoa +++ Psikofarmala
Hipnotik Klorpromazin ++
Barbiturat ++++ Imipramin ++
Dioksopiperdin ++ Meprobamat +
Ureida ++ Trifupromazin ++

 Induksi enzim  terjadi interaksi setelah 1 minggu dipakai.










Interaksi Obat Akibat Induksi Enzim
Indikator Aktivitas Obat Berkurang oleh peningkatan metabolisme
Barbiturat Antikoagulau kumarin, digitoksin, difenilhidautan dipiron, griseouvulfin, hidrokortison, testosterone, estradiol (zat tubuh) Gilimubin (zat tubuh), bishidroksi kumarin
Kloralhidrat Etanol
Etand Pentobarbital, tol butamid
Glutetimid Dipiron, warfaria
Griseofulpin Warfarin
Fenilbutazon Aminopirin, hidrokortizon

Tabel Obat penginduksi enzim mikrosonal hati
Antikolin esterase Antikoagulau kumarin
Antidabetika oral Androgen
Estrogen P’inhibisi MAO
Kloram fenikol Kontrasepsi oral
Kinakrin Seny anabolic
INH PAS

Tabel 10 Karena Inhibisi Enzim
Inhibitor Enzim Ativitas obat Tinggi karena metabolisme rendah
Bishidroksi kumarin, warfain Difenilhildatoin
Disulfirom
Isoniazid
PAS
Fend Butazon
Sulfa fenazol
Aspirin Tolbutamid
Bishidroksi kumarin
Kloramfenikd
Feniramidol
Fenil butazon
Sulfafenazon
Hidrokortison


VII. Pengubahan Proses Ekskresi terutama melalui ginjal
 Pengasaman urin mempercepat ekskresi basa lemah. Contohnya : NH4Cl
Pembasaan urin mempercepat ekskresi basa lemah. Contohnya NaBC
 Persaingan dalam ekskresi karana system transport yang sama contoh Probenesid – penisilin
Probenesid memperpanjang kerja penisilin satu setengah kalinya karena probenesid mempunyai system sekresi ditubulus yang sama dengan penisilin bertalian
Probenesid  obat pirai, menghambat reabsorpsi asam urat dan mempercepat ekskresi dengan duretika cairan tinggi sebagi obat keluar lebih banyak.
 Perubahan proses ekskrei dapat digunakan untuk intoksitas contoh Keracunan morfn  diasamkan
Barbitural  dibasakan
Obat yang mempengaruhi ekskresi obat
Alcohol  dimetabolisme atau menghasilkan asam asam askorbat
Femilbutazon  varokontriksi di ginjal
NH4Cl
Diuretic
Natrium Sitrat

VIII. Pengubahan terhadap kesetimbangan cairan
Ekskresi ion dapat ditingkatkan oleh saluretik, ekskresi ion dapat mengubah keseimbangan cairan. Saturetik dapat menurunkan tekanan darah

Hal yang perlu diperhatikan pada IO
 Tidak semua obat berinteraksi signifikan secara klinik
 Interaksi tidak selamanya merugikan (penisilin-probenesid)
 Jika 2 obat erinteraksi tidak berarti tidak boleh diberikan
 Kadang-kadang suatu obat spesifik kontra indikasi untuk obat +++
 Interaksi obat tidak hanya untuk terapi yang berbeda tapi kadang-kadang untuk menngobati penyakit yang sama.
 Interaksi dapat dimanfaatkan untuk tingginya pengobatan

Interaksi Obat – Makanan
Makanan dapat mempengaruhi obat pada tahap absorpsi, Distribusi, metabolisme, eliminasi, obat, ekskresi
Alcohol  menginduksi enzim caffeine
Kangkung  brom
Tiamin
Serotonih  kepala ikan

Potensi Toksisitas dapat terjadi
 Pada pemberian inhibitor monoamine oksidase bersam-sama dengan makanan yang mengandung presoramin seperti histamine, tiramin, triptomin, norepinefirin, oktapamin dan serotonin dapat terjadi hipertensi dan sakit kepala.
 Penggunaan makanan yang mengandung garam kalsium harus diperhatikan pada penggunaan glikosida jantung karena kontraksi jantung dapat sangat berlebihan.
Keju, alpukat mengandung tiramin
Coffein  kontraksi jantung
Serotonin  vasokintriksi
Interaksi Obat dan makanan
Farmakokinetik
Farmakodinamik

Interaksi obat dalam makanan dipengaruhi oleh beberapa factor individual seperti :
 Sistem enzim contoh tripsin
 Derajat penggosongan lambung dan efisiensi absorpsi
 Contoh Obat lipifil + makanan lemak  absorpsi tinggi
Obat lifofil + makanan Serat  absorpsi rendah
 Flora bakteri
Ikut membantu metabolism obat. Flora bakteri musnah  karena antibiotic  diare
 Kebiasaan makanan +++ maupun minum alcohol, minum jamu, minum kopi dan kebiasaan merokok, semuanya dapat meningduksi enzim mikrosomal hati sehingga metabolism obat lain menjadi lebih cepat.
Merokok  potensiasi/ adiksi dengan obat-obatan kolinergik
 tukar peptic

 Uap rokok mengandung hidrokarbon polisiklik yang menginduksi hepatic oksidase. Metabolism fenaseta dan teofilin menjadi sangat demikian juga metabolite impromin T pada perokok sehingga untuk menghasilkan efek yang diinginkan diperlukan dosis yang lebih tinggi.




No Nama Obat Makanan Interaksi yang terjadi
1 Obat yang bersifat as. lemah Asam : as. Strat
As. Askorbat Absorpsi naik, ekskresi berkuranng
2 Obatnya bersifat lemah asam Absorpsi turun, ekskresi naik
3 Tetrasiklin kinolon Susu, makanan yang mengandung susu dan kalsium Tetra tidak diabsorpsi karena terbentuk kompleks khelat dengan kalsium
4 Anti hipertensi Tiramin, lemak/kolestrol Mengurangi efek hipertensi karena makanan tersebut naik tekanan darah
5 Glikosida jantung Mineral, Ca, Susu, liquiritae, K Mempengaruhi kerja glikosida jantung
6 Diuretik, spironoklaktin Tiamteren Sari jeruk, liquaertae, pisang (kalium) Hiperkaliemin
7 Furosemid as. Etakrinat karboanhidrase inhibitor Sari jeruk, liquaertae, pisang (kalium) Menghilangkan hipokahemia
8 Penghambat MAO Makanan yang mengandung presoramin : tiramin , histamine, triptamin, serotonim Terjadi hipertensi. Bisa kematian
9 Difenilhidanfoin Vit. D DPH Menginduksi enzim yang menguraikan Vit. D
10 INH Vit. B6/vit B Kompleks Membantu mengurai vit D
11 Tolbutamid Gula Menutup efek anti-diabetik
12 Sedati f-hinotik Depresan SSP Kangkung (Growin) Efek depresan SSP
13 Antihistanin dikosida logam, alkana Tannin, the, buah Terbentuk kompleks hingga obat tidak berefek, kecuali untuk mengatasi keracunan.
14 Preparat ben Fe (II) Vit. C Oksidasi Fe2+ menjadi Fe3+ dihambat O, vit. C sehingga absorpsi bei lebih baik
15 Depressan SSP,
Analsetik-narkotik
Antikolinergik, antihistamin, antipsikotik, musked relaskson seatrd alkohol Kenaikan penekanan terhdap SSP
16 Anatgonis as. Folat/ metotreksat Alkohol, As. glutamat Kenaikan kerusakan hati as. Glutamate memblokir karja anti kanker.
17 Antidepresah trisiklik Meprobamat, perfenaza, nortriptilin Monosodium glutamate
18 Greseofunsn lemak T absorpsi smiseofulum
19 Kolestirumin, paraffin cair Vit. A, D, E, dan K Absorpsi Vit. Berkurang
20 Garam empedu Vit. A Absorpsi vit. A dan T
21 Penghambat MAO kufein Hipertensi
22 Apirin alkohol Naik pendarahan lambung
23 Tablet salat enterik Makanan pH basa Tablet pecah dilambung
24 Amfetamin
Tiramin, serotonin Hipertensi
25 Sikloserin Vit. B kompleks Ekskresi vit. B kompleks naik
26 Pirimetamin Vit. B12 Mengurangi anemia
27 Neomisin Vit. B12 Absorpsi vitamin berkurang, tidak diabsorpsi di saluran cerna  rendahnya flora normal, dapat mengurangi absorpsi lemak, depresi sumsum tulang.
28 PAS Vit. B12 absorpsi dan ekskresi Vit. B12 dihambat
29 Alkohol/eliksir Vit. B12 absorpsi Vit. B12 berkurang

30 Levodopa Vit. B6 Antagonis
31 kloramfenikol Vit. B6, B12
Depresi sumsum tulang berkurang

Zat yang terkandung dalam makanan
No Nama Zat Sumber Makanan
1. Kufein Minuman kopi
2. Tanen Air teh, buah-buahan (jambu biji, sawo, salak)
3. Asam–asam askorbat, asam sitrat, asam cuka Buah-buahan : Tomat, jeruk, mangga dll
4. Alkohol Makanan minuman tape
5. Scrotonin/5-hidroksi triptamin Pisang, nenas
6. tiramin Ekstra ragi, buah alpukat
7. Dopa dan dopamine presor amin dalam jumlah yang bervariasi Kacang-kacangan, hati sapi, hati ayam, ikan coklat, keju
8. Vitamin A Susu, mentega, hati, telur wortel, sayuran hijau
9. Vitamin B1 Sayuran hijau, kapri, ragi, hati
10. Vitamin B6 Hati, daging, ikan, telur, sayuran hijau/kuning, ikan kerang, telur, polong-polongan.
11. Vitamin B12 Hati, daging, ikan, keju, susu, telur, hati, bayam, bunga kol, bawang
12. As. Folat Polong-polongan
13. Vitamin C Jeruk, anggur, kol, bunga kol, bayam, tomat, bawang,
14. Vitamin D Susu, mentega, minyak ikan
15. Vitamin E Kedele, jagung, minyak, hati, telur, mentega
16. Vitamin K Bayam, kol, bunga kol, hati
17. Besi Hati, telur, kerang, bayam, tomat, kacang,
18. Mg Kacang kedele
19. Ca Susu, makanan yang mengandung susu.


Interaksi obat – Lingkungan
• Factor lingkungan dapat juga memperngaruhi efek suatu obat umunya karena kontak seseorang dengan zat disekelilingnya
• Insektisida DDT dan kloridan dapat menginduksi enzim mikrosomal hati bila terus menerus terhisap melalui pernafasan. DDT menginduksi enzim mikrosoma hati yang menguraikan bilirubin dan meningkatkan metabolism kortisol pada manusi. Demikian pula kordan menginduksi enzim yang menguraikan kortisol.
• Pelarut organic seperti benzene eter kloroform yang terhisap terus menerus di laboratorium dapat bersifat hepatotoksik. Gangguan hati dapat menyebabkan gangguan metabolism obat lain. Di samping benzene bersifat karsinigenik.
• Jamur  menginduksi enzim  aflatoksin

I O dengan Diafucos Klinik
• Adanya obat dalam darah dan urin dapat mengganggu penetuan klinis sehingga menyebabkan kekeliruan dalam diagnosis. Beberapa obat dapat mewarnai urin dan feses dan yang lain menyebabkan gangguan pada penetuan zat tubuh. Contohnya kolestrol, as. Urat, glukosa, protein, SGOT, SGPT, dikalin fosfatase dll
• Untuk penentuan klinis yang diganggu oleh zat +++, harus dipilih metode lain memungkinkan. Sebagai contoh pada penetuan glukosa darah dapat dipilih metode enzimatik clinistik dan tes tape yang lebih spesifik dibandingkan dengan metode felling, genedict yang di ganggu oleh fruktosa, galaktosa, kreatinsn, as. Orat, kamper, nentol, para aminobentazoat, aminopirin, salisilat, Vitamin C, semuanya dapat mereduksi cusoy, sehingga hasil/penentuan lebih tinggi.

Gol. Obat Nama obat Perubahan warna
Analsetik Etaksazen (sevenium) sallsilazo sulfapiridin PAS dan drivatnya Hijau kuning
Kuning jingga (dlu urin alkali)
Menguraikan warna (tidak spesifik)
Antimikro Sillfonamida, nitrofurantoin,
refampisin Kuning kemerahan / kecoklatan jingga
jingga
Antikoagulan Henidion, indanendion Jingga (urin, jingga)
Antikonvulsan diferillhidrintoin Merah sampai coklat merah
Anti dipresasi

Anti dot sanida Amiltriptila

Metilen biru Hijau/biru b’fluoresensi biru
Hijau biru
antiprotozoa Kinin dan derivatnya primakuin naftoat primakuin, klorokuin, kurhakrin
metroaidatol Coklat sampai hitam, kuning kemerahan

Kuning
Warna gelap
Zat V, diagnotik d uretik
Zat hemostatik Fenol, sulfonflalein triamiteren
Totomium Kemerahan
Biru muda be’fluoresensi biru muda
Laksan, katartika Kaskara rubah, 1,8 dihidroksi antrakumon Coklat merah, sampai hitam merah
Relakson otot skelet Klorsoksazon Jingga/ merah ungu
Trankuilansia Fenotiazin Merah/coklat merah
Vitamin keboflanen Kuning




Bila G-GPD kurang  NADP banyak  GSSG tidak direduksi (menekan rx GSSG menjadi GSH)
GSH diperlukan untuk penstabil membrane kekurangan GSH, eritrosit lisis.
Usia eritrosit 120 hari
Pd defisiensi G-GPD usia eritrosit pendek

Regulasi pecahnya sel darah merah (normal)
• Pada eritrosit muda konsentrasi G-G PD normal dengan peningkatan usia eritrosit enzim cepat turun dari sel normal (bukan defisiensi) dan cepat hilang dari sel darah merah.
• Bila kemudian mendapatkan obat yang efek sampingnya terhadap darah terutama hemolins maka terjadi efek samping anemia hemolitik.

Bila defisiensi G-GPD
• Anemia hemolitik tinggi Fatal
• Obat yang efek sampingnya hemolisis akan menonjol pada orang defisiensi G-G PD yaitu :
 Anti malaria
 Aspirin
 Vit K, analog Vit K
 P-aminosalisat
 Fenasetin
 Fenotiazin
 Kaptoril
 Sulfan (dapson)
 Glaferin
 Sulfenamida
 Penisilin dosis tinggi
 Naproxen
 As. Nalidiksat
 Rifampisin
 Metal dopa
 Dll

• ES anemia hemolitik paling parah pada orang negro (afrika), pddk laut tengah (yunani, Sardinia), orang india 10%.
• Difisiensi G-B PD ada gen ikatan X resesif frekuensi 10 % pada negro pria, 1% pada negro wanita
• Pada bayi defisiensi G-GPD terlihat adanya anemia pada pemberian vitamin K atau obat yang masuk ke dalam ASI

Anemia hemolitik dapat juga terjadi karena defisiensi :
Adenosine trifosfat adorilat kinase Aldotase A difosfogliserat mutase Gamma-glutamy sistein sintetase Glukosa G-fosfat dehidrogenase glutation peroksidase glutation sintetase heksokinase heksosefosfal isomerare fosfogliserat kinase, pirimidin 5`nukleotidase, piruvat kinase, triosefosfat isomerase, gangguan glekuronil transferase, hiperbilirubinema non hemolitik (morbur crislanaffar).

Defisiensi Glukoronil Transferase
• Eliminasi metabolisme obat (glukuronidase) bilirubin darah naik  kernikterus (sampainya bilirubin ke otak)
• Parasetamol
• Kloramfenikol
• Sulfonamide
• Fenobarbital  menginduksi enzim yang menguraikan bilirubin
• Panmyelopathi/ anemia aplastik
• Gangguan pematangan sel darah merah  reversible
• Rx. Herxheimer  Jarisch pada tifus  syockanaflaktik  karena gangguan endokoksin 600x.
• Hambatan sintesis protein mikrosonal  inhibisi enzim (bila pemakaian terus menerus)

Sulfonamid




Kontra Indikasi :
Pada insufisiensi glukuronil transferase
Bayi < 2 Bulan
Wanita hamil
Wanita menyusui







NH-CO-CH3 NH-CO-CH3








Parasetamol (penyebab nekrosis hati) P. Penentu (penyebab methemogtobinema).
KI : defisiensi glukoronil transferase. Bayi > 2 Bulan.

Keracunan akut fenasetik : gelisah, methemoglobinemia, lemah, delirium, kejang, lumpuh pernafasan, koma
Keracunan kronis :
Anemia nemolitik
Keracunan ginjal

Asetilase :
Variase individu, factor genetik
Produksi enzim lebih banyak maka aktivitas naik atau jumlah enzim tetap tetapi struktur berbalik.
Asetilator lambat :
Eskimo 5%
Jepang 10%
Korea 11%
Ainu 13%
Thailand 33%
Filipina 32%
Indonesia (jawa) 33%
Burma 37%
Cina 22%
Negro 50%

Kecepatan asetilasi tinggi pada diabetes (mungkin kenaikan enzim akibat kelainan metabolism), efek obat +++ cepat hilang.
Penurunan asetilasi
Pada malnutrisi primer atau sekunder
Penentuan kelompok asetilator
Menggunakan obat yang diasetilasi
Penetuan kinetic
Penentuan + ½
Rasio metabolit senyawa asetil

Obat yang diasetilasi : Isoniazid, Dapen (DOS), hidalazid PABA, PAS, Sulfonamida




INH
Asetilasi 75%
T ½ berbeda pada asetilator cepat dan lambat.
Dosis yang tinggi muncul : gangguan SSP dan Penfer : pusing, sakit kepala, hipernefleksa neuritis, gangguan saluran cerna, alergi, ieukopensa, kerusakan hati (jarang).
INH  defisiensi Vit B6.

Sulfonamida :
Asetilasi 0.60%
Sulfakarbamid 15%
Sulfisumidin 10-35%
Sulfamoksol 45-60%
Sulfametoksazol 0-30%
Sulfametoksidiazin 15-30%
Sulfadimetiksin 10-25%
Efe samping Kristal uria menonjol pada asetilator cepat (asetil sulfanamida mengendap)
PAS : asetilasi 75-85%
Metabolisme : asetil PAS, glisin PAS, asetilator lambat : efek
samping naik.
Toksisitas  sebanding dengan bayi < 1 bulan.
ES : gangguan saluran cerna
Alergi
Kadar protombin turun
Hambatan kerja kelenjar tiroid
Gangguan darah

Toksisitas fenitoin naik pada asetilator lambat

Akatolasemia (defisiensi katalase)
Katalase menguraikan H2O2
Pada pencabutan gigi digunakan H2O2
Akatalasemia yang menggunakan H2O2 pada gigi terjadi parodontosis parah, nyeri gusi, methonoglobinemi H2O2 terbentuk dari oksidasi sel dalam tubuh.
Efek H2O2 : gangguan intestin
Iritasi
Tukak kulon

Defisiensi methemoglobin reduktase
Met Hb normal 1-3% secara normal direduksi.
Difisiensi met Hb reduktase  kadar met Hb dalam darah naik 20-50 kali.
Gejala methemoglobinasemia :
Sianosis, sakit kepala, pusing, lesu, jantung berdebar, sulit bernafas, suhu tubuh turun, kematian.
Vit C + Ca  batu ginjal
Penyebab : obat (fenasetin), naftolen (mainan), nitrit,dll.
Terapi : reduktor IV (birutoluidin, as. Askarbat, glutation, metilen biru).

Polimorfisme kolineterase dalam plasma
Kolinesterase cacat aktivitas 20-30 % kolinesterase normal __> penguraian suksa metonium lambat.
Kasus : setelah penyuntikan suksametonium klorida (muskel) relaksan 3-4% pasien mengalami relaksasi otot dan lumpuh pernafasan. Tidak terjadi pada dibukain. Dibukain hanya diuraikan o, pseudoesterase. Pada kerusakan hati esterase naik.

Produksi berlebih asam aminolevulenat sutetase
Enzimopati S ALA – sintetase (berlebih) menyebabkan profina dominan, produksi porfirin, dan precursor porfirin naik.
Porfiria : kelainan metabolism ditandai dengan adanya forfirin dalam darah dan zat lain, feses, urin serta suptom klinik lain termasuk warna urin gelap.

Obat dengan efek samping porfiria (induksi S ALA – sintetase), Barbiturat, alilbarbiturat, fenobarbital, fenilbutazon, sulfinamida, estrogen, preguandid, preghandol, sulfon, griseovulfin, klorokum, sedormid.

Obat diatas dapat digunakan untuk defesiensi S ALA-sintetase pada forfiria karbandikat.

Penginduksi S ALA-sintetase selain obat.
- heksaklorobenzen (fungsida pada sayuran)
- kelaparan (glukosa merupakan repressor aktivitas S ALA-sintetase hepatic)

Haem : gugus prostetik dari hemoglobin, mioglobin, katalase, peroksidase dan setokrom.
Salah satu prekursoe haem : proporfirin
2 α ketoglutarat + glisin  pirol
4 pirol  protoporfirin III
protoporfirin III + Fe  haem
4 haem + globin  hemoglobin



Glisin + suksinil Co-A
S ALA-sintetase
S aminolevulinat (S ALA) porfobilinogen (PBG)
+
Uroporfirinogen (URO I)

Uroporfirinogen III (urugen III)
URO I, III  Urogen III coproporfirinogen III
Oksidasi (coferogen III)
Copro I, III  coprogen III protoporfirin III (proto)

Uro (uroporfirin) I, III, Copro (coproporfirin) I, III terdeteksi dijaringan.

Sistematika
Patofisiologi
Fungsi
Penyakit
Klasifikasi penyakit
Obat yang merusak

Klasifikasi Porfiria
1. Porfiria etsitropoetik (konsenital entropoetik)
 waktu hamil
2. Porfiri hepatic
A. Diperoleh secara genetic
- acute intermittent porfiria (swedia)
- porfiria variegate (Afrika selatan)
- coporfina herediter
- porfiria cutaneatarda

B. Akibat toksin, alkoholisive, industry heksaklorobenzen
- Porfiria intermitten akut (porfiria hepatic, sertgenetik) terjadi pada dewasa muda
Gejala : kolik abdominal, parasis (lemah otot), paralisis, gangguan fisik.
- Porfiria kutanea tarda (genetic) terjadi pada dewasa
Gejala : fotosensitif, pigmentasi kulit, disfungsi hati
- Porfiria konginetal (forfiria entropoetik, forfiria fotosensitif) terjadi pada bayi baru lahir.
Gejala : - dermatitis (eksim, kena sinar matahari terbentuk
vesikel)
- Ggn gusi merah

Gangguan biokimia metabolism pirol Peningkatan Gejala klinis
Aktivitas S-ALA sintetase tinggi S-ALA
PBG Acute intermittent porfiria porfina variegate coporfina herediter
Aktivitas Urogen III Co Sintetase rendah Pembentukan Uro I Eritropoetik porfiria kongenietal
Produksi proto III tinggi
Akumulasi proto III Proforforia (adanya protoporfirin dalam eritrosit



POLIMERFISME SITOKROM P-450
Polimorfisme mengubah aktivitas oksidasi, ada kel. Oksidator cepat
 > 90% penduduk eropah oksidator cepat untuk spartein, debresokuin, nortreptilin, pemblok α- adrenoseptor (propanoid, metoprolol).
 Luar eropah oksidator lambat  kadar plasma tinggi  toksiditas naik
 Keracunan antidepresan trisiklik : gejala kardiovaskular berat, tahidkardia, gangguan oetimus jantung, hipertemia, delirium, kejang, pada kasus berat jantung dan pernafasan berhenti.

KERACUNAN BLOCKER, β – ADRENOSEPTOR
Gejala :
 Tak spesifik
Gejala saluran cerna (mual, muntah, diare)
Gangguan SSP (lelah, sakit kepala, linglung)
Alergi
 Spesifik
Kontraksi jantung lemah, bradikardia, gangguan sirkulasi lupotonik dan ferifer, hipoglismia spontak, ketoasidosis pada penderita DM, gangguan verifikasi saluran nafas

• RESISTENSI VIT D
Tidak dapat menggunakan Vit D  rakkitis
Penanganan dengan vit D dosis tinggi IV

• Modifikasi enzim dekarboksilase
Keju (tirosin) dekarboksilase tiramin. Bila aktivitas dekarboksilase tinggi, tiramin tinggi  liper teksi.


PATOLOGI SISTEM BIOTRANSFORMASI
Etiologi :
- Genetik (defisiensi enzim, luperaktif enzim)
- Infusiensi hati
- Variasi flora usus
- Kerusakan hati (zat hepatotoksik, virus)
- Induksi enzim
- Inhibisi enzim

Pacacet : mengikat makromolekul metabolit dan minyak hati
Vit E : kelebihan  toksik/ merusak hati.

INSUFISIENSI HATI
Fungsi hati menurun, kemampuan metabolism turun, gangguan sintesis, katabolisme dan sekresi hati
Gangguan fungsi hati akut
Kronik
Ringan
Berat
Komahepatikum

GANGGUAN METABOLISME
 Gangguan energy metabolism (pengurangan konsentrasi ATP, penurunan perbandingan NAD/NADH)
 Gangguan metabolisme karbohidrat (penurunan kandungan glikogen, kuperglisemia, hipoglisemia, tidak mampu menggunakan laktat)
 Gangguan metabolism lipid (reduksi sintesis lipoprotein tidak mampu menggunakan as. Lemak sebagai hiperlipidanya tidak mampu esterifikasi kolestrol)
 Gangguan metabolism dan sintesis protein
 Gangguan metabolism Gilerubin
 Gangguan struktur sel hati
Kontra idikasi : zat hepatotoksik, indicator dan inhibitor enzim.

KOMA HEPATIKUM DAN PELEMAKAN HATI
Koma hepatikum : gangguan kesadaran dengan perubahan fisik, gangguan motorik dan patologi pada ensefalogram
Pelemakan hati ditunjukan dengan akumulasi lemak terutama trigliserida sampai 29% berat hati.
Akibat penimbunan lemak di hati terjadi gangguan sintesis VLDL, apoliprotein, fosfolipid, kolestrol dan trigliserida dalam hati.

FIBROSIS HATI DAN SIROSIS HATI
Fibrosis hati : perbanyakan jaringan ikat pada hati
Sirosis hati : gangguan hati dengan fibrosis dan nekrosis sel hati (kerusakan jaringan gangguan struktur pembuluh).

AKIBAT SIROSIS
• Kemampuan sintesis turun
• Aktivitas kolin esterase turun
• Albumin serum turun
• Factor pembekuan darah turun
• Penurunan fungsi konjugasi dan detoksifikasi
• Bilinoin dan amoniak serum naik

Klasifikasi sirosis berdasarkan factor penyebab :
• Sirosis etil asetat, alcohol 40-50 %
• Sirosis post hepatitis, alcohol 20-30 %
• Sirosis koreptogenetik (penyebab tidak jelas), alcohol 25-30 %
• Sirosis Idiopati (pada wanita menopause)
• Sirosis aktif (pada usia muda0

Penyebab gangguan hati
• Inteksikasi alcohol, klorofom, toksin falaidin, α amanitin, fosfor
• Infeksi virus, spirokhet, protozoa, bakteri
• Zat hepatotoksik, inductor- inhibitor enzim
• Kekurangan oksigen, vit a, nutrisi lain.



Kegagalan pengobatan akibat induksi enzim
Obat KB cepat terurai oleh pemakaian :
• Barbiturat
• Dioksopendin, ereida (redatif)
• Klorpromazin (trarkuilansia)
• Kmipramin (antidepresan)
• Meprobanat (antidepresah)

Parameter kerusakan hati :
Lisin : bilirubin naik
Serum : alkali fosfatase naik
Bilirubin naik
Glukosa darah turun
Brom sulfalein naik (BSP naik)
Flokulasi selain naik
Kolestrol turun
SGOI tinggi
Kekeruhan timol naik

Obat hepatotoksin
Allopurinol
Asufoterin B
Kloramfenifol
Floudiazedpoked
Klorpromazin
Siklofosfamid
Sikloserin
Difenilhidantoin
Impiramin
Indometan
Tolbutamid
Metotrakesat
Metil dopa
Metal tidurasil
Novobiosin
Olean domisin
Oksasilin
Oksazepan
PAS
Perfenazin
Fenotazin
Prokainamid
Propitioursic
Sulfonamide
Tetrasiklin

Tabel zat yang mereduksi penyakit hati
FATOFARMAKOLOGI SISTEM EKSKRESI
• Gambar ginjal
• Fungsi ginjal :
- Ekskresi produk buangan dan racun
- Mengontrol konsentrasi dan vol darah dengan cara ekskresi alir dan senyawa terlarut.
- Mengatur pH darah
- Sekresi hormon (rennin, erythroprotein, 1,2,5 – hidroxy Vitamin D3)
(erythroprotein : penyakit ginjal  anemia karena terjadi pematangan sel darah merah)
- Menyimpan nutrient ttl dengan mencegah ekskresi berlebihan

• Proses di Ginjal :
- Fillrosiglomerulus
- Reabsorpsi tubular
- Sekresi tubular

GANGGUAN GINJAL AKUT (GGA)
Definisi : penurunan fungsi ginjal mendadak, dalam beberapa jam sampai beberapa hari yang menyebabkan gagal ginjal untuk mensekresi sisa metabolisme nitrogen dengan dan tanpa disertai terjadinya gangguan keseimbangan dan cairan elektrolit.
Definisi bates : GGA kenaikan kreatinin serum > 50% atau mencapai 2 mg/dl. Gagal ginjal gem kenaikan kreatianin 100% atau sekurang-kurangnya 3 mg/dl.
Di USA : angka kejadian diluar RS 100 Kasus/1 juta penduduk. Angka kejadian di RS 0,5 – 1%.

GAGAL GINJAL AKUT (ARF)
Gagal ginjal akut adalah penurunan fungsi ginjal secara tiba-tiba yang dikarakterisasi oleh :
- Ketidakmampuan ginjal untuk mensekskresikan produk metabolite (senyawa nitrogen yang tidak berguna dan air).
- Ketidakmampuan dalam memelihara keseimbangan asam-basa
- Menurunnya kecepatan filtrasi glomerular (GFR) dan bersifat reversibel.

Perjalanan penyakit :
• Tahap inisiasi : kadar kreatinin serum naik, volume urin turun, retensi cairan, gangguan elektolit.
• Tahap menetap : volume urin mulai naik, masih terdapat retensi dan gangguan elektrolit
• Tahap penyembuhan : kadar keratinin serum menurun, fungsi tubulus berangsur normal.

Penyebab GGA : dehidrosi, syok, hipolemia, sepsis, nafrotoksisitas obat, gagal jantung, obstruksi post renal.
Gejala klinis : uremia, lemah badan, gatal-gatal, nafsu makan menurun, mual muntah, hematenssis, turun kedasaran hingga koma.

Gangguan elektrolit : hipo/ hiperkalemia, hipo/ hiper natremia, asidosis metabolic, udem pasu asites.
Efusi pleura

Pemeriksaan Lab
1. Kreatinin
2. Fraksi ekskresi Na
Fena : Na urin/cara urin X Cr serum/ Na. serum X 100
3. Fraksi ekskresi urea : perhitungan

Klasifikasi berdasarkan etologi
• Prerenal : penurunan aliran darah ke ginjal, kurang cairan tubuh, volume darah efektif turun, pengaruh obat (kasus 60-70%).
• Renal (intrinsic) : injuri / gangguan pada tubulus atau glomerulus, vascular, interstikal (25-40%).
• Post renal : sumbatan total atau pasrsial pada ginjal, vreter, kandung kemih (5-10%).

PRERENAL AZOTEMIA
Akibat hipoperfusi pada parenkhim ginjal dengan atau tanpa hipotensi arterial sistemik.
• Hipoperfusi dengan adanya hipotensi renal disebabkan turunnya volume intravascular dan turunnya volume darah efektif.
• Hipoperfusi tanpa hipotensi disebabkan hamabatan bilateral arteri renal.

Penyebab prenal Azotemia
- Hipovolemia (kehilangan darah, penggunaan diuretic berlebih)
- Varodilatasi perifer (obat antihipertensi)
- Penurunan cardiac output
- Peningkatan aristensi pembuluh renal

Obat-obatan yang menyebabkan prenal azotamia :
 NSAID¬5 : menghambat produksi prostaglandin, sehingga menyebabakan peningkatan tahanan affereut arferiolat.
 ACEI : menurunkan tahanan affereut arteriolar. Turunnya produksi ultrafiltrat glomerulat untuk menurunkan tekanan hidrostatik glomerular tanpa adanya kerusakan pada ginjal.

ARF interinsik
Terjadi karena kerusakan pada ginjal itu sendiri, kerusakan terjadi pada bagian
- tubulus
- Interstitum ginjal
- Glomereulus




POST RENAL FAILURE (PRF)
Disebabkan oleh obstruksi yang terjadi dari tubular ginjal samapi metra. Terjadi penumpukan buangan nitrogen. Obstruksi yang terjadi adalah obstruksi kandang kemih.

Penyebab PRF
 Obstruksi Uretra (terjadi pembekuan darah batu dan Kristal, narkrosis papilari, tumor dan frosis).
 Obstruksi kandung kandung kemih
(infeksi kandung kemih, hipertrofiprostatkau kerkemih, insufisiensi saraf, obat).

Obat yang Memproduksi PRF :
- Bloker ganglionik : murkurelaksan antikolinergik.
- obat antikolinergik

Penangan Konservatif :
- Tahap I : Memperbaiki etiologi rehidrasi untuk dehidrasi sepsis diobati.
- Tahap II : Merubah oliguria menjadi non oliguria, pemberian diuretic (furosemid, butetanid, manitol).
- Tahap III : Mempertahankan komeostatis tubuh, hiperkalemia, dan asidosis dihindarkan. Diet protein : 0.8-1.05/kg perhari, garam dikurangi.
Penanganan dengan renal replacement therapy (dialesr, hemoperfusi, cangkok ginjal).

Kriteria untuk renal replacement theraphy
Oliguria (output urin < 200 ml/12 jam)
Anuria (<50 ml/12 jam)
Hiperkalemia (>6,5 mmol/l)
Severe academia (pH <7,1)
Azotamia (urea > 30 mmol)
Urenic pericorditis
Uranic neuropathy/ myopathy
Hyperthermia  suhu tubuh naik/deman
Over dosis obat