Selamat Datang di X3-PRIMA, Melayani Setulus Hati, Memberikan yang terbaik

14.8.09

Laporan BIOKIMIA

Karbohidrat
I. Prinsip dan Tujuan
1.1 Prinsip
a. Teori yang mendasari percobaan ini adalah penambahan asam organic pekat,misalnya H2SO4 menyebabkan karbohidrat terhidrolisis menjadi monosakarida. Selanjutnya monosakarida jenis pentose akan mengalami dehidrasi dengan asam tersebut menjadi furfural, sementara golongan heksisosa menjadi hidroksi-multifulfural
b. Reduksi Cu2+ menjadi Cu+ oleh karbohidrat yang mempunyai gugus aldehid atau keton bebas
2.1 Tujuan
a. Menganalisis struktur dan konfigurasi molekul karbohidrat serta sifat optic yang berkaitan dengan struktur tersebut
b. Menjelaskan rumus serta terdapatnya beberapa monosakarida, oligosakarida dan polisakarida
c. Menerangkan beberapa sifat kimia karbohidrat
d. Menentukan golongan-golongan karbohidrat

II. Tinjauan Pustaka
Karbohidrat adalah polihidroksidehida dan keton polihidroksil atau turunannya. Selain itu juga dsususun oleh dua sampai delapan monosakarida yang dirujuk sebagai oligosakarida. Karbohidrat mempunyai rumus umum berupa CnH2nOn atau mendekati Cn(H2O)n yaitu karbon yang mengalami hidratasi.
Di alam, karbohidrat merupakan hasil sintesa CO2 dan H2O dengan pertolongan sinar marahari dan hijau daun (klorofil). Hasil fotosintesis ini kemudian mengalami polimerisasi menjadi pati dan senyawa –senyawa bermolekul besar lain yang menjadi cadangan makanan pada tanaman. Organisme yang dapat mensintesa makanan pada tanaman.
Penggolongan Karbohidrat
Secara alami, ada tiga bentuk karbohidrat yang penting yaitu :
1 Monosakarida
2 Oligosakarida
3 Polisakarida
Monosakarida
Monosakarida adalah karbohidrat yang sederhana, dalam arti molekulnya hanya terdiri atas beberapa atom karbon saja dan tidak dapat diuraikan dengan cara hidrolisis dalam kondisi lunak menkjadi karbohidrat lain. Monosakarida yang paling sederhana ialah gliseraldehida dan dihidroksiaseton
Macam-macam contoh monosakarida adalah :
1. Glukosa
Glukosa adalah suatu aldoheksosa dan erring disebut dekstrosa karena mempunyai sifat dapat memutar cahaya terpolarisasi kea rah kanan. Di alam glukosa terdapat pada buah-buahan dan madu lebah.




2. Fruktosa
Fruktosa adalah suatu ketohektosa yang mempunyai sifat memutar cahaya terpolarisasi ke kiri dan karenya disebut levulosa. Fruktisa mempunyai rasa manis lebih dari gluosa, juga lebih manis dari pada gula tebu atau sukrosa

3. Galaktosa
Galaktosa jarang terdapat bebas di alam, biasanya berikatan dengan glukosa dalam bentuk laktosa, yaitu gula yang terdapat dalam susu. Galaktosa mempunyai rasa kurang manis daripada glukosa dan kurang larut dalam air

4. Pentosa
Beberapa pentose yang penting adalah arabinosa, xilosa, ribose dan 2-deoksiribosa. Keempat pentose ini terdapat dalam keadaan bebas di alam. Arabinosa diperoleh dari gom arab dengan jalan hidrolisis, sedangkan xilosa diperoleh dari proses hidrolisis terhadap jerami atau kayu.


Oligosakarida
Senyawa yang termasuk oligosakarida mempunyai molekul yang terdiri atas beberapa molekul monosakarida. Dua molekul monosakarida yang berikatan satu dengan yang lain, membentuk satu molekul disakarida.
Contoh Oligosakarida yaitu :
1. Sukrosa
Sukrosa berasal dari tebu,bit dan tumbuhan, misalnya dalam buah nanasa dan dalam wortel




2. Laktosa
Hidrolisis laktosa menghasilkan D-galaktosa dan D-glukosa,karena laktosa adalah suatu disakarida. Ikatan galaktosa dan glukosa terjadi antara atom karbon nomor 1 pada galaktosa dan atom karbon nomor 4 pada glukosa. Oleh karenanya molekul laktosa masih mempunyai gugus -OH gkikosidik, dengan demikian laktosa mempunyai sifat mereduksi dan mutarotasi

3. Maltose
Maltose adalah suatu disakarida yang terbentuk dari dua molekul glukosa. Maltose mudah larut dalam air dan mempunyai rasa lebih manias daripada laktosa, tetapi kurang manis daripada sukrosa

4. Rafinosa
Rafinosa adalah suatu trisakarida yang penting, terdiri atas tiga molekul monosakarida yang berikatan, yaitu galaktosa-glukosa-fruktosa. Atom karbon 1 pada galaktosa berikatan dengan atom karbon 6 pada glukosa, selanjutnya atom karbon 1 pada glukosa berikatan dengan atom karbon 2 pada fruktosa. Apabila dihidrolisis sempurba, rafinosa akan menghasilkan galaktosa, glukosa dan fruktosa
5. Stakiosa
Stakiosa adalah suatu tetrasakarida stakiosa tidak mempunyai sifat mereduksi.
Polisakarida
Polisakarida mempunyai molekul besar dan lebih kompleks daripada mono dan oligosakarida. Molekul polisakarida terdiri atas banyak molekul monosakarida. Polisakarida yang terdiri atas satu macam monosakarida saja disebut homopolisakarida, sedangkan yang mengandung senyawa lain disebut heteropolisakarida. Umumnya polisakarida berupa senyawa berwarna putih dan tidak berbentuk Kristal, tidak mempunyai rasa manis dan tidak mempunyai sifat mereduksi, polisakarida yang dapat larut dalam air akan membentuk larutan koloid. Beberapa polisakarida yang penting di antaranya adalah
1. Amilum
2. Glikogen
3. Dekstrin
4. Selulosa

III. Prosedur Percobaan
1. Uji Molisch
a. Masukkan 1 ml larutan karbohidrat kedalam tabung reaksi yang masih kering dan bersih
b. Tambahkan 3 tetes pereaksi Molisch,kocok
c. Tambahkan 1 ml H2SO4 pekat, dimiringkan
d. Perhatikan terbentuknya cincin berwarna ungu pada batas antara kedua lapisan yang menandakan reaksi positif karbohidrat
e. Lakukan percobaan masing-masing untuk larutan 1 M glukosa, sukrosa, maltose dan arabinosa
f. Catat hasil dan buatlah kesimpula
2. Uji Benedict
a. Masukkan 3 tetes larutan karbohidrat dan 2 ml reagen benedict ke dalam tabung reaksi yang berbeda, kocok.
b. Panaskan di atas penangas air selama 5 menit lalu dinginkan
c. Pembentukan endapan hijau, kuning atau merah menunjukkan reaksi positif
d. Lakukan percobaan serupa pda larutan pati, glukos, galaktosa, sukrosa dan fruktosa
3. Uji barfoed
a. Masukkan 1 ml larutan 0,1 M glukosa yang berisi 1 ml pereaksi barfoed ke dalam tabung reaksi, kocok.
b. Panaskan di atas air mendidih selama 3 menit
c. Dinginkan selama 2 menit pada air mengalir
d. Perhatikan warna atau endapan yang terbentuk, reaksi positif ditandai dengan terbentuknya endapan merah bata
e. Lakukan percobaan serupa pada larutan sukrosa, glukosa, fruktosa dan laktosa
f. Bila tidak terjadi reduksi selama 5menit, lakukan pemanasan selama 15 menit sampai terlihat adanya reduksi.
4. Uji Seliwanof
a. Masukkan 2 ml pereaksi seliwanof, tambahkan 5 tetes larutan uji dan tambahkan ke dalam tabung reaksi
b. Didihkan di atas api kecil selama 30 detik atau dalam penangas air selam 1 menit
c. Terjadinya perubahan warna merah dan endapan menunjukkan reaksi positif untuk ketosa, bila endapan dilarutkan dalam alcohol maka akan terjadi larutan berwarna merah
d. Lakukan percobaan pda sampel fruktosa, glukosa dan sukrosa.
5. Hidrolisis Sukrosa
a. Masukkan ke dalam tabung reaksi 5 ml larutan sukrosa 0,1 M kemudian tambahkan 1 ml HCl 10%
b. Campurlah dengan baik, lalu panaskan dalam penangas air mendidih selama 15 menit
c. Setelah dingin netralkan larutan dengan NaOH 2% dan uji dengan kertas lakmus
d. Selanjutnya lakukan uji Benedict, Seliwanof dan Barfoed.
6. Tes Pati dengan Iodium
a. Masukkan ke dalam 3 tabung reaksi masing-masing 3 ml larutan pati 1 %
b. Tambahkan 2 tetes air ke dalam tabung pertam, tambahkan 2 tetes HCl 6 N ke dalam tabung ke dua, tambahkan 2 tetes larutan NaOH 6 N ke dalam tabung ke tiga.
c. Ke dalam masing-masing tabung tambahkan 1 tetes 0,01 M larutan iodium.
d. Amati perubahan 3 warna yang ada dalam tabung reaksi tadi
e. Panaskan tabung yang berwarna biru, dinginkan perlahan-lahan, lalu amati perubahan warna yang terjadi

IV. Alat dan Bahan
1. Uji Molisch
Alat :
1. Tabung Reaksi
2. Pipet
3. Gelas Ukur 1000 ml
4. Gelas Ukur 100 ml
Bahan :
1. 10 gr α-naftol
2. 95 % etil alcohol
3. Sukrosa 0,1 M
4. Glukosa 0,1 M
5. Arabinosa 0,1 M
6. Maltosa 0,1 M
2. Uji Benedict
Alat :
1. Tabung Reaksi
2. Pipet
3. Gelas Ukur 1000 ml
4. Gelas Ukur 100 ml
Bahan :
1. Natrium Sitrat
2. Na2CO3 Anhidrat
3. CuSO4
4. Galaktosa 0,1 M
5. Fruktosa 0,1 M
3. UJI Barfoed
Alat :
1. Tabung Reaksi
2. Pipet
3. Gelas Ukur 1000 ml
4. Gelas Ukur 100 ml
Bahan :
1. Kristal tembaga asetat
2. Asam laktat
3. Laktosa
1.1.1 Uji Seliwanof
Alat :
1. Tabung Reaksi
2. Pipet
3. Gelas Ukur 1000 ml
4. Gelas Ukur 100 ml
Bahan :
1. Resorcinol
2. HCl encer


4. Hidrolisis Sukrosa
Alat :
1. Tabung Reaksi
2. Pipet
3. Gelas Ukur 1000 ml
4. Gelas Ukur 100 ml
Bahan :
1. HCl Pekat
2. Sukrosa


5. Tes Pati dengan Iodium
Alat :
1. Tabung Reaksi
2. Pipet
3. Gelas Ukur 1000 ml
4. Gelas Ukur 100 ml
Bahan :
1. HCl Pekat
2. NaOH Padat
3. 1% Pati


2. Pembahasan
Dalam Praktikum I, diperoleh hasil sebagaimana tertera ditabel I
Tabel I

No Zat Uji Hasil Uji Molisch Karbohidrat (+/-)
1. Glukosa Terbentuk cincin berwarna ungu +
2. Sukrosa Terbentuk cincin berwarna ungu +
3. Arabinosa Terbentuk cincin berwarna ungu +
Pada uji molisch, semua zat uji adalah termasuk karbohidrat, hal tersebut dapat dilihat pada terbentuknya cincin berwarna ungu. Reaksi yang berlangsung adalah sebagai berikut :









Rumus dari cincin ungu yang terbentuk adalah sebagai berikut :









Pada uji Benedict, indicator terkandungnya Gula reduksi adalah dengan terbentuknya endapan berwarna merah bata, hal tersebut dikarenakan terbentuknya hasil berupa Cu2O.
Hasil uji pada uji Benedict adalah sebagaimana tertera di tabel 2.
Tabel 2
No. Zat Uji Hasil Uji Benedict Gula Reduksi (+/-)
1. Pati 1% Terbentuk warna hijau dan tidak terbentuk endapan -
2. Sukrosa 1% Terbentuk warna biru dan tidak terbentuk endapan -
3. Galaktosa 1% Terbentuk endapan merah bata +
4. Fruktosa 1% Terbentuk endapan merah bata +
5. Glukosa 1% Terbentuk endapan merah bata +

Berikut reaksi yang berlangsung :





Hasil uji pada uji Barfoed adalah sebagaimana tertera di tabel 3.
Tabel 3
No. Zat Uji Hasil Uji Barfoed Monosakarida(+/-)
1. Sukrosa 1% Tidak terbentuk endapan -
2. Laktosa 1% Tidak terbentuk endapan -
3. Fruktosa 1% Terbentuk endapan merah bata +
4. Glukosa 1% Terbentuk endapan merah bata +

Pada uji seliwanoff, ketosa terdeteksi pada zat uji fruktosa dengan terbentuknya warna jingga, yaitu karena terbentuknya resorsinol.
Hasil uji pada uji seliwanoff adalah sebagaimana tertera di tabel.
No. Zat Uji Hasil Uji Barfoed Monosakarida(+/-)
1. Sukrosa 1% Kuning jingga -
2. Fruktosa 1% Merah jingga +
3. Glukosa 1% Bening -
4. 1% Terbentuk endapan merah bata +

Berikut reaksinya :


Pada uji hidrolisis sukrosa, hidrolisis sempurna apabila menjadi senyawa yang lebih sederhana yang terdeteksi pada perubahan warna. Hal ini terlihat padas perubahan warna setiap tiga menit disertai perbedaan hash hidrolisis pula. Larutan hasil hidrolisis sebelum dilakukan uji Benedict untuk menentukan hasil akhir harus dinetralkan terlebih dahulu, karena semula masih dalam suasana asam.
Pada uji Hidrolisis sukrosa ini dilakukan uji Benedict, Seliwanoff, dan Barfoed supaya dapat mengidentifikasi monosakarida-monosakarida yang terbentuk (glukosa dan fruktosa.
Sementara itu, yang dimaksud dengan gula inverse adalah gula yang dapat memutar bidang polarisasi, karena memiliki gugus aldehida dan keton bebas.
Tabel 5
Uji Hasil uji
Benedict Terbentuk Endapan merah bata
Seliwanoff Terbentuk Merah jingga
Barfoed Terbentuk endapan merah bata

Pada Uji iodium, pada masing-masing zat uji memiliki indikasi yang berbeda-beda. Dari sepuluh zat uji, amilum, glikogen, dan deskstrin positif polisakarida.
Untuk uji iodium, didapat hasil sebagaimana tertera di tabel 2.
Zat Uji Air HCl NaOH
Pati 1% Cincin biru Cincin biru Cincin biru
Pati + I2 panaskan Putih keruh jernih Lar putih

6. Kesimpulan

1. Amilum, sukrosa, laktosa, galaktosa, fruktosa, glukosa dan arabinosa masing-masing dalam larutan 1%. Terbukti positif karbohidrat
2. Pada laktosa, Galaktosa, Fruktosa, Glukosa, dan Arabinosa terdapat gula inversi yaitu dengan terbentuknya endapan merah bata.
3. Pada Sukrosa dan Laktosa, adalah monosakarida. Sedangkan, Galaktosa, Fruktosa, Glukosa, dan Arabinosa adalah disakarida
4. Pada zat Uji Arabinosa, terdapat pentosa dari uji Barfoed
5. Pada Uji Seliwanof, Ketosa terdapat pada fruktosa
6. Hasil hidrolisis sukrosa adalah monosakarida-monsakarida (glukosa dan freuktosa) yang terdeteksi pada uji Benedict, Seliwanoff, dan Barfoed

7. Daftar Pustaka
1. Feseenden dan Fessenden. 1997. Dasar-Dasar Kimia Organik. Binarupa Aksara. Jakarta
2. Jalip, IS. 2008. Praktikum Kimia Organik, Edisi kesatu. Laboratorium Kimia Universitas Nasional. Jakarta
1.2 Lipid
Prinsip
a. Berdasarkan kelarutan dari suatu senyawa like disolven like yaitu senyawa yang bersifat polar akan larut dalam pelarut polar, sedangkan senyawa non polar akan larut dalam pelarut non polar
b. Berdasarkan reaksi antara asam lemak (karboksilat) dan gliserol (alcohol) dengan basa maka akan terjadi penyabunan
c. Berdasarkan dehidratasi gliserol oleh KHSO4 anhidrat membentuk senyawa aldehid tidak jenuh atau akrolein yang mempunyai bau khas

Tujuan
a. Menguraikan struktur dan sifat-sifat fisika serta kimia asam lemak dan lemak
b. Menerangkan struktur dan sifat fosfolipiod, sfingolpid dan terpen
c. Menjelaskan struktur, tata nama dan sifat-sifat senyawa yang termasuk golongan steroid
d. Untuk mengetahui derajat kelarutan lemak dalam pelarut air, alcohol, alcohol panas dan chloroform
e. Untuk menuraikan asam lemak menjadi asam lemak














1.3 Protein
Prinsip
a. Berdasarkan reaksi antara protein asam amino fenolik dengan larutan merkuri dalam asam nitrat akan terjadi endapan putih dan dapat berubah merah jika dipanaskan
b. Berdasarkan reaksi antara asam amino dengan ninhidrin disertai dengan pembebasan Co2 + ammonia menghasilkan senyawa yang berwarna biru
c. Berdasarkan reaksi pembentukan kompleks Cu2+ dengan gugus CO-NH (reaksi biuret) dan rantai peptide dalam suasana basa membentuk warna ungu /violet

Tujuan
a. Menentukan protein dari golongan asam asam amino fenolik seperti tirosin
b. Untuk mengetahui adanya asam amino bebas dari pembentukan senyawa aldehid disertai dengan pembebasan CO2 + NH3
c. Untuk menentukan dua atau lebih ikatan peptide pada protein
















BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

1.1 KARBOHIDRAT

1.2 PROTEIN
Protein berasal dari protos atau proteos yang berarti pertama atau utama. Protein merupakan komponen penting sel hewan dan manusia. Oleh karena sel itu merupakan pembentuk tubuh, maka potein yang terdapat dalam makanan berfungsi sebagai zat utama dalam pembentukan dan pertumbuhan
Kita memperoleh protein dari makanan yang berasal dari hewan atau tumbuhan. Protein yang berasal dari hewan disebut protein hewani, sedangkan yang berasal dari tumbuhan disebut potein nabati. Tumbuhan membentuk protein dari CO2, H2O dan senyawa nitrogen. Protein digunakan sebagai sumber pembentukan sel-sel tubuh dan sebagai sumber energy apabila tubuh kita kekurangan karbohidrat dan lemak. Komposisi rata-rata unsure kimia yang terdapat dalam protein yaitu Karbon 50%, hodrogen 7%, oksigen 23%, nitrogen 16%


1.3 LIPID
Lipid adalah salah satu kelompok senyawa organik yang terdapat dalam tumbuhan, hewan atau manusia dan yang sangat berguna bagi kehidupan manusia. Senyawa yang termasuk lipid mempuyai rumus sruktur yang serupa atau mirip,sifat kimia dan fungsi biologisnya berbeda-beda, tapi walau demikian para ahli mengelompokan lemak dan senyawa organic dalam satu kelompok yaitu lipid.
Lipid dapat diperoleh dari hewan atau tumbuhan denagn cara ekstraksi menggunakan alcohol panas, eter atau pelarut lemak. Macam-mcam senyawa serta kuantitasnya yang diperoleh melalui ekstraksi itu sangat tergantung pada bahan alam sumber lipid yang digunakan.
Senyawa-senyawa yang termasuk lipid ini dapat dibagi dalam beberapa golonga. Ada beberapa cara penggolongan yang dikenal, Bloor embagi lipid dalam tiga golongan besar yaitu :
1. Lipid sederhana, yaitu ester asam lemak dengan berbagai alcohol, contohnya lemak atau gliserida dan lilin
2. Lipid gabungan yaitu ester asam lemak yang mempunyai gugus tambahan, contohnya fosfolipid, serebroida
3. Derivate lipid, yaitu senyawa yang dihasilkan oleh proses hidrolisis lipid,contohnya asam lemak, gliserol dan sterol
Golongan lipid berdasarkan kemiripan struktur kimianya yaitu :
1. Asam lemak
2. Lemak
3. Lilin
4. Fosfolipid
5. Sfingolipid
6. Terpen
7. Steroid
8. Lipid kompleks
Salah satu kelompok senyawa organik yang terdapat dalam tum¬buhan, hewan atau manusia dan yang sangat berguna bagi kehidup¬an manusia ialah lipid. Untuk memberikan definisi yang jelas ten¬tang lipid sangat sukar, sebab senyawa yang termasuk lipid tidak mempunyai rumus struktur yang serupa atau mirip. Sifat kimia dan fungsi biologinya juga berbeda-beda. Walaupun demikian para ahli biokimia bersepakat bahwa lemak dan senyawa organik yang mempunyai sifat fisika seperti lemak, dimasukkan dalam sate kelompok yang disebut lipid. Adapun sifat fisika yang dimaksud ialah: (1) tidak larut dalam air, tetapi larut dalam satu atau lebih dari satu pelarut organik misalnya eter, aseton, kloroform, benzena yang sering juga disebut “pelarut lemak”; (2) ada hubungan dengan asam-asam lemak atau esternya; (3) mempunyai kemungkinan digunakan oleh makhluk hidup. Kesepakatan ini telah disetujui oleh Kongres Internasional Kimia Murni dan Terapan (International Congress of Pure and Applied Chemistry).
Jadi berdasarkan pada sifat fisika tadi, lipid dapat diperoleh dari hewan atau tumbuhan dengan cara ekstraksi menggunakan alkohol panas, eter atau pelarut lemak yang lain. Macam senyawa-senyawa serta kuantitasnya yang diper¬oleh melalui ekstraksi itu sangat tergantung pada bahan alam sumber lipid yang digunakan. Jaringan bawah kulit di sekitar perut, jaringan lemak sekitar ginjal mengandung banyak lipid terutama lemak kira-kira sebesar 90%, dalam jaringan otak atau dalam telur terdapat lipid kira-kira sebesar 7,5 sampai 30%.
Penggolongan
Senyawa-senyawa yang termasuk lipid ini dapat dibagi dalam beberapa golongan. Ada beberapa cara penggolongan yang dikenal. Bloor membagi lipid dalam tiga golongan besar yakni (1) lipid sederhana, yaitu ester asam lemak dengan berbagai alkohol, con¬tohnya lemak atau gliserida dan lilin (waxes) ; (2) lipid gabungan yaitu ester asam lemak yang mempunyai gugus tambahan, contoh¬nya fosfolipid, serebrosida; (3) derivat lipid, yaitu senyawa yang dihasilkan oleh proses hidrolisis lipid, contohnya asam lemak, gliserol, dan sterol. Di samping itu berdasarkan sifat kimia yang penting, lipid dapat dibagi dalam dua golongan yang besar, yakni lipid yang dapat disabunkan, yakni dapat dihidrolisis dengan basa, contohnya lemak, dan lipid yang tidak dapat disabunkan, contohnya steroid.
Dalam bab ini lipid dibagi dalam beberapa golongan berdasarkan kemiripan struktur kimianya, yaitu: (1) asam lemak: (2) lemak: (3) lilin; (4) fosfolipid; (5) sfingolipid; (6) terpen; (7) steroid; (8) lipid kompleks. Dalam uraian berikut akan dibahas masing-masing golongan terse¬but di atas.
















BAB III
PROSEDUR PERCOBAAN
1.1 KARBOHIDRAT


1.2 PROTEIN
3.2.1. Uji Millon
1. Taruh sedikit serbuk albumin di atas keeping tetes, tambahkan beberapa tetes reagen millon, aduk baik-baik. Biarkan beberapa lam dan perhatikan warna merah yang terjadi. Ulangi percobaan ini dengan serbuk kasein dan gelatin
2. ke dalam 2 ml larutan 2% albumin dalam tabung reaksi baik hingga terbentuk endapan putih. Panaskan hati-hati hingga mulai timbul warna merah yang berarti reaksi miloon positif. Ulangi percobaan ini untuk larutan kasein dan gelatin
3. ke dalam 2 ml larutan 2% fenol tambahkan beberapa tetes pereaksi Millon kemudian panaskan hati-hati dan amati hasilnya.
3.2.2. Uji Ninhidrin
5. Ke dalam 0,1 ml larutan 2% albumin tambahkan 1 ml 0,1 N larutan buffer asam asetat PH 5 dan kemudian tambahkan 20 tetes larutan ninhidrin dalam aseton
2. Panaskan campuran tersebut diatas dalam penangas air mendidih selama beberapa menit, perhatikan warna yang terjadi.
3.2.3. UJI Biuret
1. ke dalam tabung reaksi tambahkan 1 ml 2% albumi dan 1 ml CuSO4 sampai terbentuk warna ungu.
2. Ke dalam tabung reaksi masukkan urea sedikit dan panaskan hingga melebur. Dinginkan dan perhatikan baunya. Larutkan urea yang telah dingin tersebut di atas dengan air, kemudian lakukan reaksi biuret seperti cara (1)
3.2.4. Titik Isoelektrik Protein
1. Ke dalam 5 tabung reaksi masing-masing tambahkan 5 ml larutan 0,5% kasein. Selanjutnya pada kelima tabung tersebut tambahkan masing-masing buffer asetat pH 6.0,5.3,5.0,4.1, dan 3.8.
2. Kocok campuran baik-baik serta catat derajat kekeruhan setelah 0 menit, 10 menit, dan 30 menit.
3. Setelah 30menit kelima tabung diatas dipanaskan dalam penagas air mendidih selam 30 menit. Pembentukkan endapan/kekeruhan paling cepat terjadi dekat titik isoelektrik larutan protein. Pehatikan apa yang terjadi dan catat

1.3 LIPID
3.3.1. Uji Kelarutan
1. Sediakan 4 tabung reaksi dan tambahlan ke dalamnya :
Tabung 1 : tambahkan 2 ml air
Tabung 2 : tambahkan 2 ml alcohol dingin
Tabung 3 : tambahkan 2 ml alcohol panas
Tabung 4 : tambahkan 2 ml kloroform
Kemudian masukkan ke dalam tiap tabung 0,2 ml minyak goreng. Kocok hati-hati.
2. Ambil 2-3 tetes dari masing-masing tabung di atas dan teteskan pada kertas saring, noda yang tertinggal pada ketas saring dikeringkan. Adanya noda yang tertinggal pada kertas saring menunjukkan lemak/lipd yang larut dalam pelarut
3.3.2. Hidrolisa Mentega
1. Masukkan 5 gram mentega ke dalam beacker glass kecil lalu tambahkan 35 ml larutan NaOH alkoholis (20% NaOH dalam 40% etil alcohol), tutup dengan kaca arloji dan panaskan di atas air mendidih sampai penyabunan sempurna. Kesempurnaan penyabun an, kemudian masukkan ke dalam tabung reaksi yang berisi air. Bila penyabunan telah sempurna akan diperoleh larutan jernih tanpa tetes minyak pada permukaan.
2. Setelah penyabuan sempurna lalu ditambahkan 10 ml air dan pindahkan ke dalam beacker glass 250 ml. panaskan diatas penangas air mendidih sampai semua alcohol keluat menguap(tidak tercium bau alcohol).
3. Ambil 1 ml larutan sabun pada tahap 2, masukkan ke dalam tabung reaksi, lalu tambahkan 1 ml air dan NaCl padatan hingga jenuh. Apayang terjadi dan jelaskan peristiwa ini.
4. ambil 1 ml larutan sabun pada tahap 2, masukkan ke dalam tabung reaksi, kocock dan perhatikan pembentukkan busa. Lalu tambahkan1 ml air dan 0,5 ml 0,1 N CaCl2. Perhatikan apakah terjadi endapan ? Jelaskan!
5. Ambil 5 ml larutan sabun pada tahap 2. Tambahkan 2 N H2SO4 (periksa dengan lakmus) hingga asam. Perhatikan pembentukkan bau asam butirat dan asam lemak lainnya yang mudah menguap.

3.3.3. Uji Akrolein
1. Sediakan 3 tabung reaksi yang bersih dan kering, lalu ke dalam masing-masing tabung masukkan 10 tetes olive oil, gliserol atau asam palmitat.
2. Ke dalam masing-masing tabung tambahkan sejumlah volume yang sama KHSO4, lalu dipanaskan pelan-pelan langsung di atas api. Perhatikan bau akrolein yang menusuk hidung.
3.3.4. Uji Lieberman-Burchard untuk Kolesterol
1. Sedikit kolesterol larutkan dalam kloroform sampai larut seluruhnya
2. Tambahkan 10 tetes asam asetat anhidrid dan 2 tetes asam sulfat pekat, kocok perlahan-lehan dan biarkan beberapa menit. Perhatikan perubahan warna

















BAB IV
ALAT DAN BAHAN

1.2 KARBOHIDRAT
1.3 PROTEIN
1.3.1 Uji Millon
Alat :
1. Tabung reaksi
2. Batang pengaduk
3. Gelas ukur
Bahan :
1. Merkuri
2. Asam nitrat pekat
3. Albumin
4. Fenol
1.3.2 Uji Ninhidrin
Alat :
1. Tabung reaksi
2. Batang pengaduk
3. Gelas ukur
1.3.3 Uji Biuret
Alat :
1. Asam asetat
2. Natrium asetat
3. Ninhidrin
4. 2 % Albumin

1.3.4 Titik Isoelektrik Protein
Alat :
1. Tabung reaksi
2. Batang pengaduk
3. Gelas ukur
Bahan :
1. Buffer Asetat pH 6
2. Buffer Asetat pH 6
3. Buffer Asetat pH 6
4. Buffer Asetat pH 6
5. Buffer Asetat pH 6
6. 0,5 % Kasein
1.4
1.5 LIPID
1.5.1 Uji Kelarutan
Alat :
1. Tabung reaksi
2. Penangas air
3. Kassa
4. Bunzen
5. Kertas saring
Bahan :
1. Minyak kelapa
2. Kloroform
3. Alcohol
4. Air
1.5.2 Hidrolisa mentega
Alat :
1. Beacker glass
2. Kaca arloji
3. Penangas air
4. Kertas lakmus
Bahan :
1. NaOH
2. Etil alcohol
3. CaCl2
4. H2SO4
1.5.3 Uji Akrolein
Alat :
1. Tabung reaksi
2. Pemanas Bunsen
Bahan :
1. Gliserol
2. Olive oil
3. Asam palmitat
4. KHSO4
1.5.4 Uji Lieberman-Burchard untuk kolesterol
Alat :
1. Beacker glass
2. Tabung reaksi
Bahan :
1. Kolesterol
2. Asam asetat anhidrid
3. H2SO4





BAB V
HASIL PERCOBAAN
5.1. KARBOHIDRAT
5.1.1. Uji Molisch
No. Zat Uji Hasil Uji Molisch Karbohidrat (+/-)
L Glukosa Terbentuk cincin berwarna ungu + -
2. Sukrosa Terbentuk cincin berwarna ungu +
3. Arabinosa Terbentuk cincin berwarna ungu +
Pada uji Molisch, semua zat uji adalah termasuk karbohidrat. hal tersebut dapat dilihat pada terbentuknya cincin berwarna ungu. Reaksi yang berlangsung adalah sebagai berikut

5.1.2. Uji Benedict
Pada uji Benedict, indikator terkandungnya Gula Reduksi adalah dengan terbentuknya endapan berwarna merah bata. hal teresebut dikarenakan terbentuknya hasil reaksi berupa CuzO.
No. Zat Uji Hasil Uji Benedict Gula
Red ulcsi (+/-)
I. pati 1% Terbentuk warna hijau dan tidak
terbentuk endapan -
2. Sukrosa 1% Terbentuk warna biru dan tidak
terbentuk endapan -
Galaktosa 1% Terbentuk endapan merah bata +
4. Fruktosa 1% Terbentuk endapan merah bata +
5. Glukosa I% Terbentuk endapan merah bata +





5.1.3. Uji Barfoed
No. Zat Uji Hasil Uji Barfoed Monosakarida (+l-)
1. Sukrosa 1% tidak terbentuk endapan -
2. Laktosa 1% tidak terbentuk endapan -
3. Fruktosal % Terbentuk endapan merah bata +
4.
I Glukosal % Terbentuk endapan merah bata +

5.1.4. Uji Seliwanof
Pada uji Seliwanof. ketosa terdeteksi pada zat uji Fruktosa dengan terbentuknya warna jingga; yaitu karena terbentuknya resorsinol. Hasil uji pada uji Seliwanoff adalah sebagaimana tertera di tabel. Tabel. 4
No. Zat Up Hasil tJji Seliwanof ketdsa (+/-)
1. Sukrosa 1% Kuning Jingga -
2. Fruktosa 1% Merah Jingga +
3. Glukosa I % Bening -

?ada uji hidrolisis sukrosa, hidrolisis sempurna apabila menjadi senyawa yang ;bih sederhana yang terdeteksi pada perubahan warna. Hal ini terlihat padas ~-erubahan warna setiap tiga menit disertai perbedaan hasil hidrolisis pula. _arutan hasil hidrolisis sebelum dilakukan uji Benedict untuk menentukan -asil akhir harus dinetralkan terlebih dahulu, karena semula masih dalam -aasana asam.
Pada uji Hidrolisis sukrosa ini dilakukan uji Benedict, Seliwanoff, dan Barfoed supaya dapat mengidentifikasi monosakarida-monosakarida yang :-rbentuk (glukosa dan fruktosa.
Sementara itu, yang dimaksud dengan gula inverse adalah gula yang Japat memutar bidang polarisasi, karena memiliki gugus aldehida dan keton '%
5.2. PROTEIN
5.2.1. Uji Millon
5.2.2. Uji Ninhidrin
5.2.3. Uji Biuret
5.2.4. Titik Isoelektrik Protein
5.3. LIPID
5.3.1. Uji Kelarutan
5.3.2. Hidrolisa Mentega
5.3.3. Uji Akrolein
5.3.4. Uji Lieberman – Burchard Untuk kolesterol






























BAB VI
KESIMPULAN






























DAFTAR PUSTAKA

Rahayu,Kiki, Modul Praktikum Biokimia, Bandung
Poedjiadi,Anna. 1994. Dasar-dasar Biokimia, Penerbit : Universitas Indonesia . Jakarta
www. google.com