Selamat Datang di X3-PRIMA, Melayani Setulus Hati, Memberikan yang terbaik

13.8.09

Indeks Harga

Indeks harga konsumen


Indeks harga konsumen (bahasa Inggris: consumer price index) adalah nomor indeks yang mengukur harga rata-rata dari barang dan jasa yang dikonsumsi oleh rumah tangga (household). IHK sering digunakan untuk mengukur tingkat inflasi suatu negara dan juga sebagai pertimbangan untuk penyesuaian gaji, upah, uang pensiun, dan kontrak lainnya. Untuk memperkirakan nilai IHK di masa depan, ekonom menggunakan indeks harga produsen, yaitu harga rata-rata bahan mentah yang dibutuhkan produsen untuk membuat produknya.
Menurut DR. Winardi, angka indeks merupakan sebuah alat angka matematik yang digunakan untuk menyatakan tingkat harga, volume perniagaan dan sebagainya dalam periode tertentu, dibandingkan dengan tingkat harga, volume perniagaan suatu periode dasar, yang nilainya dinyatakan dengan 100. Sedangkan menurut Samsubar Saleh, angka indeks merupakan suatu analisis data statistik yang terutama ditujukan untuk mengukur berapa besarnya fluktuasi perkembangan harga dari berbagai macam komoditas selama satu periode waktu tertentu. Dalam suatu analisis perekonomian, angka indeks mempunyai peranan yang sangat besar, karena dapat digunakan untuk mengetahui besarnya laju inflasi mapun deflasi yang terjadi di negara tertentu.
Angka indeks dapat sebagai indikator yang penting untuk menentukan kebijakan apa yang harus diambil oleh pemerintah guna mengatasi permasalahan dalam perekonomian. Misalnya, dengan mengetahui perkembangan produksi suatu produk tahun sekarang dibandingkan produksi tahun yang lalu atau perkembangan penduduk tahun sekarang dibandingkan tahun yang lalu, maka pemerintah akan dapat mengambil kebijakan untuk mengembangkan produksi produk tersebut dan mengatasi pertumbuhanpenduduk yang terlau cepat.
Dalam menghitung angka indeks, waktu atau tahun yang lalu disebut sebagai tahun dasar (base periods atau base year), yaitu waktu atau tahun yang dijadikan dasar untuk menentukan perkembangan suatu harga atau berfungsi sebagai waktu atau tahun pembanding.
Penentuan tahun dasar untuk menghitung angka indeks perlu memperhatikan tiga faktor, yaitu:
a) Tahun dasar hendaknya dipilih pada waktu kondisi perekonomian yang relatif stabil;
b) Jarak antara tahun dasar dengan tahun sekarang tidak terlalu jauh; dan
c) Penentuan tahun dasar hendaknya memperhatikan kejadian-kejadian penting, misalnya tahun pada saat terjadinya kenaikan harga BBM, kenaikan tarif dasar listrik dan lain-lain.

Indeks Tidak Tertimbang : Metode angka indeks tidak tertimbang digunakan untuk mengetahui perkembangan suatu harga, yaitu terfokus hanya pada harga dan tidak mempertimbangkan kuantitasnya. Metode angka indeks tertimbang dibagi menjadi dua, yaitu:
a). Angka Indeks Relatif, yaitu untuk mengukur perbedaan “satu” macam nilai/harga/ kualitasnya saja dalam waktu yang berbeda.
b). Angka Indeks Aggregate Sederhana, yaitu membandingkan jumlah dari harga-harga barang persatuan untuk tiap-tiap tahun.

Pengaruh indeks harga konsumen terhadap nilai tukar rupiah
Kenaikan harga minyak dunia berdampak pada kondisi makro ekonomi dan APBN. Baik itu terhadap Indek Harga Konsumen (IHK), nilai tukar rupiah, SBI, IHSG, PDB serta terhadap kesejahteraan masyarakat. Berdasarkan hasil kajian Pusat Penelitian Ekonomi, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (P2E-LIPI) selama tahun 2007 (dan akan dilanjutkan pada 2008), untuk setiap kenaikan ICP 1% menyebabkan kenaikan IHK sebesar 0,016% pada tingkat signifikan 10% (asumsi ceteris paribus).
Kenaikan harga minyak menyebabkan melemahnya nilai tukar rupiah. Berdasarkan penilitian itu jika harga minyak naik 1%, nilai rupiah mengalami depresiasi sebesar 0,02% (asumsi ceteris paribus). 'Kenaikan harga minyak memberikan pengaruh sangat signifikan terhadap pelamahan rupiah,' ujar penilitian itu.
Jika harga minyak naik 1%, SBI jangka waktu tiga bulan naik 0,33% (asumsi cateris paribus). Penelitian P2E-LIPI itu juga menyimpulkan SBI 3 bulan menjadi instrumen untuk memperlunak pengaruh kenaikan harga-harga di pasar domestik dibanding dengan untuk menstimulasi perekonomian.
Jika harga minyak naik 1%, IHSG naik sebesar 0,01%. Namun hubungan ini tidak signifikan. Terhadap PDB, kenaikan harga minyak memberikan pengaruh positif. Setiap kenaikan harga minyak 1%, PDB riil naik sebesar 0,09%. Secara umum penelitian memperlihatkan sisi positif kenaikan harga minyak masih lebih besar dari pengaruh negatif yang terjadi.

Indeks Harga Saham Gabungan Diperkirakan Melemah

Setelah tercatat mencapai rekor tertinggi di poin 881,396 pada perdagangan kemarin, analis memperkirakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Jakarta (BEJ), hari ini, akan mengalami koreksi.
“Kenaikan indeks kemarin sangat kebablasan sehingga hari ini rawan provit taking,” ujar Edwin Sinaga dari PT Kuo Cap Raharja, Rabu (3/11).
Menurut Edwin, meroketnya IHSG pada perdagangan hari ini disebabkan sentimen positif dari laporan keuangan kwartal III tahun 2004 dari beberapa emitem dan menurunnya harga minyak.
Adapun sentimen politik di dalam negeri seperti konflik legislatif dan eksekutif yang sebelumnya diperkirakan memberi efek negatif tidak berpengaruh signifikan. Pada perdagangan hari ini pengaruh faktor politik terutama pertemuan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Ketua DPR RI Agung Laksono dapat menjadi sentimen positif pada pergerakan bursa, karena menunjukkan komitmen penyelesaian konflik dari kedua lembaga.
Edwin menambahkah, dengan tercapainya indeks dipoin 881,396 terjadi perubahan titik kritis menjadi 881. Adapun untuk pergerakan indeks hari ini dperkirakan berada di titik suport 870 dan 863 dengan titik resisten 885 dan 890. Edwin merekomendasikan bebrapa saham lapis kedua seperti properti dan Bank Niaga, mengingat saham unggulan kemungkinan kecil mengalami kenaikan harga.
Hal yang sama diungkapkan Erwan Teguh, analis dari Dana Reksa Sekuritas, yang menyatakan pergerakan indeks akan melemah dibandingkan perdagangan kemarin.
Menurutnya, salah satu sentimen positif dari pergerakan indeks kemarin karena ekspektasi bursa regional terhadap kemenangan Kerry dalam pemilu AS. “Apabila ternyata Bush yang memperoleh suara lebih banyak bisa berdampak sebaliknya,” katanya. Dia merekomendasikan saham-saham unggulan seperti Astra dan Telkom.
Mengenai kemungkinan pencabutan subsidi Bahan Bakar Minyak (BBM) setelah masa 100 hari pemerintahan baru, menurut Edwin, pasar masih menunggu kebijakan pemerintah. Kenaikan BBM, kata dia, harus diikuti dengan pembentukan psikologis kesiapan masyarakat terhadap kebijakan tersebut melalui sosialisasi yang baik dari pemerintah.
Selain itu, pemerintah harus membuat kebijakan pengganti yang bisa diterima oleh masyarakat dari pencabutan subsidi BBM, seperti pemberian subsidi dana pendidikan dan kesehatan untuk kelompok masyarakat ekonomi lemah.
Apabila itu dilakukan, maka pasarpun tidak akan melakukan reaksi negatif. Pencabutan subsidi BBM di antaranya juga mengubah orientasi pelaku pasar, seperti beberapa saham dari sektor batubara dan gas menjadi lebih menarik, karena dengan asumsi sektor tersebut sebagai alternatif pengganti penggunaan BBM.