Selamat Datang di X3-PRIMA, Melayani Setulus Hati, Memberikan yang terbaik

13.8.09

Gerakan Mahasiswa

Mahasiswa dan Demokrasi


Siapapun dia tidak bisa memungkiri, bahwa gerakan mahasiswa memiliki peranan yang cukup berarti dalam perjalanan bangsa ini. Berbagai macam momen dan peristiwa yang terjadi senantiasa menghadirkan sosok mahasiswa sebagai bagian dari unsur terpenting.

Setumpuk predikat filosofis dikalungkan buat mahasiswa; mahasiswa sebagai agen perubahan (agent of change), kontrol sosial (social control), kekuatan moral (moral force), cadangan potensial (iron stock), dan sebagainya walaupun akhirnya seiring dengan semakin terkikisnya vitalitas mahasiswa, akhirnya predikat itu menjadi ungkapan romantisme belaka. Pertanyaan yang patut diajukan, mengapa gerakan kaum intelektual ini seolah belum menemukan pola baku dalam melawan segala tirani dan kesewenangan-wenangan para penguasa, yang semakin hari semakin tidak lagi memihak kepada rakyat yang sebagian besar umat Islam? Kaitannya dengan demokrasi, memang kita akan melihat bahwa mahasiswa adalah bagian dari komponen yang telah terbodohkan dengan demokrasi. Mereka hampir sepakat bahwa demokrasi adalah ide yang baik untuk diambil hingga akhirnya menjadi nilai – nilai yang mewarnai perjuangannya. Setidaknya mahasiswa masih akan berkilah jika diperhadapkan dengan keburukan dan kegagalan demokrasi, bahwa bangsa Indonesia memang masih pada tahap belajar berdemokrasi atau transisi demokrasi. Padahal negara demokrasi sendiri hanya ada dalam komik-komik yang dikarang oleh tokoh-tokoh Barat dan para Islamofhobia. Kemudian mahasiswa (termasuk mahasiswa islam) ikut-ikutan latah seperti apa yang dikatakan mereka. Akibatnya gerakan mahasiswa tidak lagi memiliki orientasi yang sejalan dengan ide-ide Islam sebagai ide terbaik yang seharusnya menjadi Value of objektif bagi pergerakan mereka. Ironis Memang !!!!!

Saat ini isu kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) sudah di depan mata. Akibatnya jika hal itu terjadi maka rakyat tinggal menanti hujan untuk “gulung kasur”. Sekarang pun tidak sedikit para pedagang baik di pasar tradisional maupun pasar modern telah berencana untuk menaikan harga jual mereka. Hal ini tidak saja akan berdampak terhadap kebutuhan masyarakat akan pendidikan terlebih akan berdampak terhadap harga kebutuhan bahan pokok (sembako). Karena BBM adalah sumber dari seluruh aspek kebutuhan hidup masyarakat. Akibatnya jangankan untuk membayar biaya pendidikan terlebih akan sangat membebani rakyat kecil yang notabene selalu berusaha untuk menutupi kebutuhan perutnya. Hal ini tentunya tidak lepas dari peran dan tanggung jawab mahasiswa sebagai kaum intelektual untuk mampu meluruskan kondisi ini.

Kawan-kawan mahasiswa, mari kita saksikan bahwa terdapat beberapa hal yang menjadi faktor kerancuan dari gerakan mahasiswa saat ini yang sekaligus sebenarnya menjadi faktor dari berbagai macam kegagalan–kegagalan pencapaian usaha mahasiswa.

Pertama, ide yang Tidak Jelas. Pengadopsian sebuah ide atau pemikiran gerakan menjadi unsur yang penting bagi gerakan mahasiswa sebagai nilai perjuangan nantinya. Ide atau pemikiran itu haruslah ide dan pemikiran yang benar dan jelas. Dalam artian telah melalui proses studi kelayakan dan disimpulkan apakah baik untuk diadopsi. Ternyata prinsip ini dilupakan oleh gerakan mahasiswa selama ini. Mahasiswa tidak mampu menampilkan diri sebagai insan yang cerdas, lebih bersifat emosional tapi non konseptual. Banyak bermain pada wilayah kritik auto kritik tapi kering akan solusi. Ketika Barat menyerukan demokratisasi, mahasiswa pun menyerukan hal yang sama. Ketika Barat menyerukan pluralisme, mahasiswa pun latah dengan apa yang dikatakan pihak Barat. Yang lebih disayangkan ketika gerakan mahasiswa justru menjadi pelanggeng sistem status quo yang jelas – jelas telah busuk dan tidak layak dipelihara. Lagi – lagi karena mahasiswa tidak memiliki pemikiran dan konsep yang jelas.

Kedua, gerakan mahasiswa tidak menyentuh akar permasalahan. Karena tidak lagi didasari sebuah ide dasar yang jernih dan sahih, maka tidak dapat lagi melihat dengan jeli apa sebenarnya akar permasalahan yang terdapat di negeri-negeri kaum muslimin termasuk di Indonesia. Karena alasan seperti itu mengakibatkan solusi yang disodorkan oleh gerakan mahasiswa tidak pernah menyelesaikan permasalahan dengan tuntas. Malah solusi yang ditawarkan oleh mereka tidak lebih dari sebuah upaya yang mempercantik rongsokan `mobil' yang berkarat. Misalnya menyelesaikan permasalahan kebobrokan ekonomi tidak hanya sebatas tolak privatisasi atau turunkan harga kebutuhan pokok. Ataupun melihat ketidakadilan tidak mungkin kita hanya menyerukan tegakan keadilan dan bersihkan aparat pemerintah dari KKN. Semua itu terjadi akibat hegemoni system Kapitalis-Sekuler yang diterapkan pada kita. Memang asas kehidupan di negeri ini jelas-jelas berdiri di atas sekulerisme. Tapi mengapa kita takut mengatakan bahwa system sekarang sudah bertolak belakang dengan Islam. Mengapa kita takut mengatakan bahwa hanya satu aturan Islamlah yang benar. Bukankah kita semua tahu sendiri bahwa kebobrokan kehidupan saat ini karena tidak diterapkannya sistem Islam secara Kaffah. Malah kita terjebak dalam roda pergerakan sistem Kapitalis saat ini, bukankah Allah telah mengingatkan kita "Siapa saja yang berpaling dari dzikri (kitab-Ku),maka baginya kehidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya di pada hari Kiamat dalam keadaan buta." (QS. Thaha [20]:124).

Ketiga, metode gerakan yang salah. Dikarenakan sebagian gerakan mahasiswa tidak melihat akar permasalahan dengan jeli, ini mengakibatkan desakan-desakan yang dilancarkan tidak lagi bersifat solutif. Metode mereka lebih bersifat tambal sulam (reformasi) atas sistem saat ini. Bukannya akan memperbaiki kondisi tapi akan semakin rusaklah kondisi kehidupan umat yang selama ini terpuruk oleh sistem Kapitalis sekarang. Katakanlah pada semua. Logika darimana perjuangan kita harus reformatif padahal asas kehidupan masyarakat kita adalah sekuler. Kecuali bila dalam kehidupan kita telah tegak sistem Islam. Seharusnya saat ini kita bongkar asas itu dan kita gantikan dengan Islam. Perubahan yang harus kita lakukan adalah perubahan mendasar dan menyeluruh. Karena dasarnya saja sudah salah apalagi cabang-cabangnya. Bila kita masih saja menyerukan seruan-seruan yang hanya sebatas tegakan supremasi hukum, berantas KKN, tegakan keadilan, turunkan harga kebutuhan pokok, tolak BBM, dsb, tanpa membongkar asas kehidupannya yang sesat, maka sama saja kita mengakui diterapkannya sistem sekulerisme.

Keempat, pragmatis gerakan. Idealisme sebagian gerakan mahasiswa tidak lagi muncul dalam pemikiran-pemikirannya. Idealisme itu seolah tenggelam ditengah kegalauan kehidupan ini. Berbenturan dengan kebutuhan perut, berbenturan dengan ketidakpercayaan diri dalam menghadapi arogansi Barat ataupun berbenturan dengan mayoritas suara yang menyesatkan. Sehingga bukannya melurusakan segala fenomena yang rusak yang bertentangan dengan aturan-aturan Islam, malah mencari-cari dalil demi jastifikasi realitas yang ada. Sekali lagi, bukannya terjadi perubahan yang Islami malah akan semakin eksisnya sistem sekuler sekarang. Ingatlah bahwa realitas tidak bisa kita jadikan dalil dalam menetapkan hukum melainkan objek yang harus dihukumi. Karena kita tidak bisa katakan bahwa riba itu halal dikarenakan masyarakat telah terlanjur banyak menerapkannya. Justru Islamlah yang seharusnya menjadi standar hidup bagi realitas umat ini. Allah Swt. berfirman "Sesungguhnya Kami telah menurunkan kitab kepadamu dengan membawa kebenaran supaya kamu mengadili (menghukumi) manusia dengan apa yang telah Allah wahyukan kepadamu" (QS. An-Nisa' [4]: 105).

kelima, gerakannya non-ideologis. Ideologi merupakan pandangan hidup yang menyeluruh yang akan menelurkan sebuah sistem bagi kehidupan manusia. Inilah simpul dari semua kerancuan gerakan mahasiswa muslim saat ini. Gerakan-gerakan mereka tidak dilandasi sebuah ideologi Islam yang jelas. Sehingga dapat kita saksikan, ide-ide yang diusung oleh sebagian gerakan mahasiswa lebih bersifat serabutan, dengan mencampurkan Ide-ide sekuler dan Islam. Akibatnya arah perjuangan merekapun tidak menentu. Konsep-konsep perubahan dan kebangkitan pun lebih banyak mengekor pada konsep-konsep Barat. Karena pemikiran mereka tidak lagi berhubungan dengan lingkungan, kepribadian, dan sejarah kaum muslimin, serta tidak lagi bersandar pada ideologi kita yaitu Islam. Oleh karena itu, kita yang karena telah terdidik seperti itu menjadi suatu kelompok asing ditengah-tengah umat, yang tidak lagi memahami keadaan kita dan hakikat kebutuhan umat Islam.

Ketahuilah kawan-kawan mahasiswa, kita semua akan menjadi saksi kehancuran dari negeri ini bila kita biarkan sistem yang bobrok ini. Tidak cukup kita hanya menyerukan isu-isu yang parsial, melainkan harus menyentuh akar permasalahannya yaitu ganti sistem ini dengan sistem yang baru yakni Islam. Sesungguhnya menjadikan demokrasi sebagai cita – cita dan standar perjuangan adalah kekeliruan besar mahasiswa/gerakan mahasiswa dan akan selamanya menjadi faktor kegagalan demi kegagalan yang kita dapatkan. Islam adalah ideologi kita yang mampu memberikan solusi pada semua permasalahan umat manusia. Ke depan, gelombang perubahan dan benturan ideologi akan semakin terasa, Islam akan menantang dan meruntuhkan Kapitalisme-Sekuler. Tinggal kita serukan kepada kawan-kawan mahasiswa, apakah kita akan berada dibalik perjuangan kapitalis dan sosialis atau dibalik perjuangan Islam? Sangat disayangkan jika ada yang salah pilih tapi lebih disayangkan lagi jika ada yang tidak memilih apa–apa selain hanya diam dan bungkam. Wallahu A'lam Bishowab.