Selamat Datang di X3-PRIMA, Melayani Setulus Hati, Memberikan yang terbaik

13.8.09

Diare

Penyebab Diare dan Gejala Diare

Penyebab Diare

Diare bukanlah penyakit yang datang dengan sendirinya. Biasanya ada yang menjadi pemicu terjadinya diare. Secara umum, berikut ini beberapa penyebab diare, yaitu:

  1. Infeksi oleh bakteri, virus atau parasit.
  2. Alergi terhadap makanan atau obat tertentu.
  3. Infeksi oleh bakteri atau virus yang menyertai penyakit lain seperti: Campak, Infeksi telinga, Infeksi tenggorokan, Malaria, dll.
  4. Pemanis buatan

Berdasar metaanalisis di seluruh dunia, setiap anak minimal mengalami diare satu kali setiap tahun. Dari setiap lima pasien anak yang datang karena diare, satu di antaranya akibat rotavirus. Kemudian, dari 60 anak yang dirawat di rumah sakit akibat diare satu di antaranya juga karena rotavirus.

Di Indonesia, sebagian besar diare pada bayi dan anak disebabkan oleh infeksi rotavirus. Bakteri dan parasit juga dapat menyebabkan diare. Organisme-organisme ini mengganggu proses penyerapan makanan di usus halus. Dampaknya makanan tidak dicerna kemudian segera masuk ke usus besar.

Makanan yang tidak dicerna dan tidak diserap usus akan menarik air dari dinding usus. Di lain pihak, pada keadaan ini proses transit di usus menjadi sangat singkat sehingga air tidak sempat diserap oleh usus besar. Hal inilah yang menyebabkan tinja berair pada diare.

Sebenarnya usus besar tidak hanya mengeluarkan air secara berlebihan tapi juga elektrolit. Kehilangan cairan dan elektrolit melalui diare ini kemudian dapat menimbulkan dehidrasi. Dehidrasi inilah yang mengancam jiwa penderita diare.

Selain karena rotavirus, diare juga bisa terjadi akibat kurang gizi, alergi, tidak tahan terhadap laktosa, dan sebagainya. Bayi dan balita banyak yang memiliki intoleransi terhadap laktosa dikarenakan tubuh tidak punya atau hanya sedikit memiliki enzim laktose yang berfungsi mencerna laktosa yang terkandung susu sapi.

Tidak demikian dengan bayi yang menyusu ASI. Bayi tersebut tidak akan mengalami intoleransi laktosa karena di dalam ASI terkandung enzim laktose. Disamping itu, ASI terjamin kebersihannya karena langsung diminum tanpa wadah seperti saat minum susu formula dengan botol dan dot.

Diare dapat merupakan efek sampingan banyak obat terutama antibiotik. Selain itu, bahan-bahan pemanis buatan sorbitol dan manitol yang ada dalam permen karet serta produk-produk bebas gula lainnya menimbulkan diare.

Hal ini terjadi pada anak-anak dan dewasa muda yang memiliki kadar dan fungsi hormon yang normal, kadar vitamin yang normal dan tidak memiliki penyebab yang jelas dari rapuhnya tulang.

Orang tua berperan besar dalam menentukan penyebab anak diare. Bayi dan balita yang masih menyusui dengan ASI eksklusif umumnya jarang diare karena tidak terkontaminasi dari luar. Namun, susu formula dan makanan pendamping ASI dapat terkontaminasi bakteri dan virus.

Gejala Diare

Gejala diare atau mencret adalah tinja yang encer dengan frekuensi 4 x atau lebih dalam sehari, yang kadang disertai:

  • Muntah
  • Badan lesu atau lemah
  • Panas
  • Tidak nafsu makan
  • Darah dan lendir dalam kotoran

Rasa mual dan muntah-muntah dapat mendahului diare yang disebabkan oleh infeksi virus. Infeksi bisa secara tiba-tiba menyebabkan diare, muntah, tinja berdarah, demam, penurunan nafsu makan atau kelesuan.

Selain itu, dapat pula mengalami sakit perut dan kejang perut, serta gejal-gejala lain seperti flu misalnya agak demam, nyeri otot atau kejang, dan sakit kepala. Gangguan bakteri dan parasit kadang-kadang menyebabkan tinja mengandung darah atau demam tinggi.

Diare bisa menyebabkan kehilangan cairan dan elektrolit (misalnya natrium dan kalium), sehingga bayi menjadi rewel atau terjadi gangguan irama jantung maupun perdarahan otak.

Diare seringkali disertai oleh dehidrasi (kekurangan cairan). Dehidrasi ringan hanya menyebabkan bibir kering. Dehidrasi sedang menyebabkan kulit keriput, mata dan ubun-ubun menjadi cekung (pada bayi yang berumur kurang dari 18 bulan). Dehidrasi berat bisa berakibat fatal, biasanya menyebabkan syok.

"Escherichia coil"

Indikator Air Bersih ADA genus Escherichia, terdapat satu spesies bakteri yang sering diisolasi dari bahan klinis dan sering dijadikan sebagai objek penelitian yaitu bakteri Escherichia coli. Bakteri berbentuk batang ini merupakan organisme penghuni utama di usus bestir, hidup komensal dalain kolon manusia dan diduga berperan dalam pembentukan vitamin K yang penting untuk pembekuan darah. Namun demikian, sebagai flora normal tubuh manusia,hakteii yang sering disebut dengan koli tinja ini juga akan dapat menimbulkan penyakit apabila masuk ke organ atau jaringan lain. Contohnya adalah timbulnya poneumonia, endokarditis, infeksi pada h ►ka, dan abses pada berbagai organ. Selain itu, E. coli juga merupakan penyebab utama meningitis pada bayi yang barn lahir dan penyebab infcksi tractus urinarius pada manusia yang dirawat di nimah sakit (nosocomial infection ).

Penyebab diare

Dari berbagai penelitian menunjukkan, beberapa galur atau strain dari bakteri E. coli juga dapat menyebabkanwabah diare atau muntaber, terutama pada anakanak.Bak-teri penyebab penyakit yang cukup berbahayaini diklasifikasikan berdasarkan karakteristik sifat-sifatvin lensinya. Setiap kelompok dapat menyebabkan penyakit diare melalui mekanisme yang berbeda-beda. Kelompok

E. coli tersebut di antaranya adalah sebagai berikut:Pertama, E. coli enteropatogen (EPEC), merupakanpenyebab diare terpenting pada bayi, terutama di Negara berkembang. Mekanismenya adalah dengan cara melekatkan dirinya pada sel mukosa usus kecil dan membentuk filanrerrtous actin pedestal sehingga menyebabkan diare cair (watery diarrheae) yang bisa sembuh dengan sendirinya atau berlanjut menjadi kronis. Diare seperti ini dapat disembuhkan dengan pemberian antibiotika.Kedua, E. coli cnterotoksigenik (ETEC), juga merupakan penyebab diare wnum pada bayi di negara berkembang seperti Indonesia. Berbeda dengan SPEC, E. coli jenis ini memproduksi beberapa jenis eksotoksin yang tahan maupun tidak tahan panas di bawah kontrol genetis plasmid. Pada umumnya, eksotoksin yang dihasilkan bekerja dengan cara merangsang sel epitel usus untuk menyekresi banyak cairan sehingga terjadi diare.Ketiga, E. coli enterohemoragik (EHEC) dan galur yang memproduksi verotoxin (VTEC). Di Amerika dan Kanada, VTEC menyebabkan sejumlah kejadian luar biasa diare dan kolitis hemoragik. Penyakit ini hersifatakut dan bisa sembuh sepontan, penyakit ini ditandai dengan gejala nyeri abdomen, diare disertai darah, gejala seperti ini merupakan komplikasi dari diare ringan. Keempat, E. coli entroinvasif (EIEC), menyebabkan penyakit yang mirip dengan penyakit yang disebabkan oleh bakteri Shigella. Penyakit ini paling hanyak terjadipada anak-anak di negara berkembang. Bakteri sepertiini menimbulkan penyakit oleh karena kemampuannya dalam menginvasi sel epitel mukosa usus.Kelima, E. Coli enteroagregatif, (EAEC), menyebabkan diare aktrt dan kronik pada orang-orang di negara berkembang.Penyakit ini ditandai dengan pola perlekatan khas pada sel usus manusia . Namun, masih perlu adanya penelitian yang lebih lanjut tentang adanya faktor-faktor virulensi galur EAEC irii.

YOGYAKARTA - Probiotik lokal berpotensi untuk mengatasi diare. Saat ini sedang dilakukan penjajagan ”komersialisasi” isolat probiotik lokal untuk dapat digunakan mengatasi diare yang terjadi di Indonesia.

Hal itu dikemukakan peneliti dan guru besar dari Fakultas Pertanian UGM Prof Dr Endang S. Rahayu pada Republika, Ahad. Isolat probiotik lokal yang akan dikembangkan dari dadih dan gatot, yang kedua masuk genus Lactobacillus. Untuk pengembangan sebagai anti diare dalam bentuk powder yang dimasukkan ke dalam kapsul atau sase. Kalau pengembangan untuk pangan bisa dalam bentuk minuman, ungkap dia.

Untuk itu ”human trial” sedang dirancang untuk uji efikasi dan efisiensi isolat yang dimiliki oleh para peneliti di Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Gadjah Mada, dengan ketua Tim Prof. Dr. Endang S. Rahayu bekerjasama dengan Dr. M. Juffrie, PhD., SpA(K) dari Fakultas Kedokteran, UGM.

Menurut Trisye (panggilan akrab Prof Dr Endang S. Rahayu), Indonesia produk-produk probiotik juga telah banyak di pasaran, baik sebagai pangan fungsional dengan yakult yang mengklaim sebagai pelopor probiotik, susu formula produk Nestle (dancow dengan Lactobacillus), juga bebagai suplemen yang dikeluarkan oleh PT Kalbe Farma, yaitu Synbio, BioGaia, Rilus, Dialac, dll.

Namun sampai dengan saat ini probiotik yang dipasarkan di Indonesia adalah berasal dari import dengan memanfaatkan strain-strain bakteri dari peneliti-peneliti di luar negeri, baik Jepang maupun Eropa. Tantangan yang dihadapi oleh peneliti Indonesia adalah mengangkat isolat probiotik lokat untuk dapat dikomersialkan, tutur Trisye yang juga Ketua Indonesian Society for Lactic Acid Bacteria ini.

Penelitian tentang probiotik sebetulnya telah lama dikembangkan di Fakultas Teknologi Pertanian dan Pusat Studi Pangan dan Gizi, Universitas Gadjah Mada (PSPG) lebih dari 10 tahun yang lalu. Diawali dengan isolasi bakteri asam laktat (yang juga dikenal sebagai freindly bacteria) dari berbagai makanan fermentasi, diantaranya dadih, tape ketan, tempe, growol, gatot, asinan, dll.

Penelitian tersebut dilakukan oleh Prof. Dr. Endang S. Rahayu beserta timnya yang waktu itu berkolaborasi dengan peneliti Luar Negeri di bidang yang sama dari Jepang dan Amerika. Ratusan koleksi bakteri asam laktat saat ini disimpan di koleksi kultur yang dimiliki oleh PSPG yaitu FNCC (Food and Nutrition Culture Collection). Isolat-isolat bakteri asam laktat selanjutnya diseleksi dan dipilih yang memiliki potensi sebagai agensia probiotik.

Lebih lanjut Trisye mengatakan salah satu pemilihan isolat adalah kemampuan antagonistiknya terhadap pathogen lokal, penyebab diare yang dikoleksi oleh Balai Laboratorium Kesehatan Yogyakarta, yaitu E. coli enteropatogenik dan enterotoksigenik, Shigella dysentriae, Salmonella, dll. Kecuali mampu menghambat patogen lokal, isolat yang dimiliki UGM ini secara in vitro juga mampu mengikat aflatoksin yaitu karsinogen yang dihasilkan oleh jamur Aspergillus flavus yang sering dijumpai mengkontaminasi kacang-kacangan.

Menurut Ketua Unit Kelompok Kerja Gastro Hepatologi Ikatan Dokter Anak Indonesia Pusat dr M.Juffrie, PhD, Sp.A(K), akhir-akhir ini penggunaan probiotik mulai dikenalkan untuk mengatasi masalah diare di Indonesia. Apalagi di Indonesia diare merupakan penyebab kematian terbesar pada bayi dan balita yaitu masing-masing sekitar 42 persen dan 25 persen.

Adapun penyebab diare terbesar berdasarkan survey secara umum adalah rotavirus (sekitar 60%), berikutnya adalah bakteri patogen. Sedang pada anak balita, hampir 84% penyebab diare adalah rotavirus, yang lainnya adalah oleh bakteri patogen yang didominasi oleh Shigella, Salmonella, Aeromonas, Campylobacter, dll, jelas dia.

Selanjutnya Trisye mengatakan probiotik sesuai dengan ketentuan dari FAO/WHO, 2001 diartikan sebagai mikroorganisme hidup yang saat dikonsumsi dengan jumlah yang cukup tetap hidup sampai mencapai GI tract (saluran Gastro Intenstin) serta memberikan manfaat kesehatan. nri/pur