Selamat Datang di X3-PRIMA, Melayani Setulus Hati, Memberikan yang terbaik

3.6.09

lemak biokimia

Penyebab :

Serangan alkali pada lapisan cat yang berbahan perekat mengandung minyak seperti alkyd gloss. Alkali dan minyak akan bereaksi secara kimiawi yang disebut penyabunan dimana memberi hasil akhir seperti sabun dan menyebabkan lapisan cat menjadi lunak dan terbentuk gumpalan yang lengket.

Pencegahan :

Permukaan yang akan di cat harus bebas alkali. Tidak dianjurkan tembok dari plesteran semen atau beton yang masih baru di cat dengan cat dasar alkyd, tetapi sebaiknya dengan cat acrylic dasar air atau jenis yang tidak mengandung minyak

Perbaikan :

Kerok seluruh lapisan cat dan kemudian bersihkan permukaan secara sempurna. Selanjutnya beri lapisan cat lain yang sesuai dengan media yang akan di cat.
BAB I
PENDAHULUAN
Latar Belakang


Perkembangan ilmu pengetahua dan teknologi yang telah menjerat kepada seluruh komponen sisi keberlangsungan hidup manusia tidak bisa masuk begitu saja. Dibutuhkan komitmen bersama baik pemereintah sebagai wadah penggerak utama maupun komponen masarakat yang secara langsung berhadapan untuk dapat menguasai dan memanfaatkannya. Sehingga didapat hasil yang berkesinambungan antara perkembangan ilmu pengetahuan, penemuan teknologi baru dengan daya guna yangbisa dipakai oleh masyarakat.
Atas dasar komitmen tersebut maka tidak bisa dipungkiri keberadaaan seoarang mahasiswa khususnya mahasiswa Ilmu kelautan dituntut harus memiliki dayan guna baik dalam menciptakan keilmuan dan teknologi terbaru maupun memanfaakan keilmuan dan teknologi yang sudah ada yang bisa diterapkan di lingkungan masarakat dalam cakupan kecilnya dan bangsa dalam cakupan besarnya.
Untuk mencapai komitmen tersebut di atas, maka langkah awal yang bisa dilakukan oleh seorang mahasiswa ilmu Kelautan adalah dengan mempelajari konsep keilmuan yang berkaitan erat dengan Progran Strudi Ilmu kelautan salah satunya adalah dengan melakukan satuan acara praktikum pada mata kuliah Biokimia dengan sub bahasan yang diparktikumkan adalah “ Uji Lemak / Minyak, dan Ektrasi Alginat Pada Rumpu Laut”.


Maksud dan Tujuan
Setelah melakukan praktikum Biokimia serta dengan menyusun laporan hasil praktikum diharapkan mahasiswa Ilmu Kelautan mampu :
menentukan bilangan penyabunan.
menentukan asam lemak.
menentukan uji kelarutan minyak/lemak.









http://www.geocities.com/aroyy_sasser/Aroyy/Tinjauan_Pustaka.htm

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Pengertian Lemak/ Minyak
Lipid (dari kata yunani Lipos. Lemak) merupakan penyusun tumbuhan atau hewan yang dicerikan oleh sifat kelarutannya. Terutama lipid tidak bisa larut dalam air, tetapi larut dalam larutan non polar seperti eter.
(Hart, 2003)

Lemak atau minyak ialah triester dari gliserol dan disebut trigliserida. Bila minyak atau lemak dididihkan dengan alkali, kemudian mengasamkan larutan yang dihasilakan, maka akan didapatkan gliserol dan campuran asam lemak. Reaksi ini disebut penyabunan.

(Hart, 2003)

Lemak/minyak merupakan asam karboksilat/asam alkanoat jenuh alifatis (tidak terdapat ikatan rangkap C=C dalam rantai alkilnya, rantai lurus, panjang tak bercabang) dengan gugus utama –COOH dalam bentuk ester/gliserida yaitu sesuatu jenis asam lemak atau beberapa jenis asam lemak dengan gliserol suku tinggi.

(smk3ae.wordpress.com /23/05/09)

Lemak/ minyak ialah trigliserida, yaitu trimester dari dliserol. Asam lemak ialah asam yang diperoleh dari proses penyabunan lemak/ minyak.

(Hart, 2003)


Minyak / lemak merupakan lipida yang banyak terdapat di alam. Minyak merupakan senyawa turunan ester dari gliserol dan asam lemak. Struktur umumnya adalah :

CH2-O-C-R1

CH-O–C–R2

CH2–O–C–R3
R1,R2, R3 adalah gugus alkil mungkin saja sama atau juga beda. Gugus alkil tersebut dibedakan sebagai gugus alkil jenuh (tidak terdapat ikanatanrangkap) dan tidak jenuh (terdapat ikan rangkap).

(Hart, 2003)

Lemak adalah suatu gliserida dan merupakan suatu ester. Apabila ester ini bereaksi dengan basa maka akan terjadi saponifikasi yaitu proses terbentuknya sabun dengan residu gliserol. Sabun dalam air akan bersifat basa. Sabun ( R COONa atau R COOK ) mempunyai bagian yang bersifat hidrofil (- COO -) dan bagian yang bersifat hidrofob (R – atau alkil). Bagian karboksil menuju air dan menghasilkan buih (kecuali pada air sadah), sedangkan alkil (R -) menjauhi air dan membelah molekul atau kotoran (flok) menjadi partikel yang lebih kecil sehingga air mudah membentuk emulsi atau suatu lapisan film dengan kotoran. Air adalah senyawa polar sedangkan minyak adalah senyawa non polar, jadi keduanya sukar bercampur oleh karena itu emulsinya mudah pecah. Untuk memantapkan suatu emulsi perlu ditambahkan suatu zat emulgator atau zat pemantap, antara lain ;




1. Ca Butirat, Ethanol.
2. Senyawa pembentuk sel liofil,protein, gum, dan gelatin.
3. Garam Fe, BaOH, SO4, Fe(OH)SO4, PbSO4, Fe2O3, Tanah liat, CaCO3, dll.

(smk3ae.wordpress.com /23/05/09)

Asam lemak tidak lain adalah asam alkanoat atau asam karboksilat berderajat tinggi (rantai C lebih dari 6). Karena berguna dalam mengenal ciri-cirinya, asam lemak dibedakan menjadi asam lemak jenuh dan asam lemak tak jenuh. Asam lemak jenuh hanya memiliki ikatan tunggal di antara atom-atom karbon penyusunnya, sementara asam lemak tak jenuh memiliki paling sedikit satu ikatan ganda di antara atom-atom karbon penyusunnya.
(Wikipedia Indonesia /23/05/09)

Asam lemak, bersama-sama dengan gliserol, merupakan penyusun utama minyak nabati atau lemak dan merupakan bahan baku untuk semua lipida pada makhluk hidup. Asam ini mudah dijumpai dalam minyak masak (goreng), margarin, atau lemak hewan dan menentukan nilai gizinya. Secara alami, asam lemak bisa berbentuk bebas (karena lemak yang terhidrolisis) maupun terikat sebagai gliserida.

(Wikipedia Indonesia /23/05/09)

2.2. Sifat Lemak/ Minyak
Asam lemak merupakan asam lemah, dan dalam air terdisosiasi sebagian. Umumnya berfase cair atau padat pada suhu ruang (27° Celsius). Semakin panjang rantai C penyusunnya, semakin mudah membeku dan juga semakin sukar larut.
Asam lemak jenuh bersifat lebih stabil (tidak mudah bereaksi) daripada asam lemak tak jenuh. Ikatan ganda pada asam lemak tak jenuh mudah bereaksi dengan oksigen (mudah teroksidasi). Karena itu, dikenal istilah bilangan oksidasi bagi asam lemak.
Keberadaan ikatan ganda pada asam lemak tak jenuh menjadikannya memiliki dua bentuk: cis dan trans. Semua asam lemak nabati alami hanya memiliki bentuk cis (dilambangkan dengan "Z", singkatan dari bahasa Jerman zusammen). Asam lemak bentuk trans (trans fatty acid, dilambangkan dengan "E", singkatan dari bahasa Jerman entgegen) hanya diproduksi oleh sisa metabolisme hewan atau dibuat secara sintetis. Akibat polarisasi atom H, asam lemak cis memiliki rantai yang melengkung. Asam lemak trans karena atom H-nya berseberangan tidak mengalami efek polarisasi yang kuat dan rantainya tetap relatif lurus.
Ketengikan (Ingg. rancidity) terjadi karena asam lemak pada suhu ruang dirombak akibat hidrolisis atau oksidasi menjadi hidrokarbon, alkanal, atau keton, serta sedikit epoksi dan alkohol (alkanol). Bau yang kurang sedap muncul akibat campuran dari berbagai produk ini.
(Wikipedia Indonesia /23/05/09)

2.3 . Penamaan Asam Lemak
Beberapa aturan penamaan dan simbol telah dibuat untuk menunjukkan karakteristik suatu asam lemak.
Nama sistematik dibuat untuk menunjukkan banyaknya atom C yang menyusunnya (lihat asam alkanoat). Angka di depan nama menunjukkan posisi ikatan ganda setelah atom pada posisi tersebut. Contoh: asam 9-dekanoat, adalah asam dengan 10 atom C dan satu ikatan ganda setelah atom C ke-9 dari pangkal (gugus karboksil). Nama lebih lengkap diberikan dengan memberi tanda delta (Δ) di depan bilangan posisi ikatan ganda. Contoh: asam Δ9-dekanoat.
Simbol C diikuti angka menunjukkan banyaknya atom C yang menyusunnya; angka di belakang titikdua menunjukkan banyaknya ikatan ganda di antara rantai C-nya). Contoh: C18:1, berarti asam lemak berantai C sebanyak 18 dengan satu ikatan ganda.
Lambang omega (ω) menunjukkan posisi ikatan ganda dihitung dari ujung (atom C gugus metil).
2.4. Biosintesis asam lemak
Pada daun hijau tumbuhan, asam lemak diproduksi di kloroplas. Pada bagian lain tumbuhan dan pada sel hewan (dan manusia), asam lemak dibuat di sitosol. Proses esterifikasi (pengikatan menjadi lipida) umumnya terjadi pada sitoplasma, dan minyak (atau lemak) disimpan pada oleosom. Banyak spesies tanaman menyimpan lemak pada bijinya (biasanya pada bagian kotiledon) yang ditransfer dari daun dan organ berkloroplas lain. Beberapa tanaman penghasil lemak terpenting adalah kedelai, kapas, kacang tanah, jarak, raps/kanola, kelapa, kelapa sawit, jagung dan zaitun.
Proses biokimia sintesis asam lemak pada hewan dan tumbuhan relatif sama. Berbeda dengan tumbuhan, yang mampu membuat sendiri kebutuhan asam lemaknya, hewan kadang kala tidak mampu memproduksi atau mencukupi kebutuhan asam lemak tertentu. Asam lemak yang harus dipasok dari luar ini dikenal sebagai asam lemak esensial karena tidak memiliki enzim untuk menghasilkannya.
Biosintesis asam lemak alami merupakan cabang dari daur Calvin, yang memproduksi glukosa dan asetil-KoA. Proses berikut ini terjadi pada daun hijau tumbuh-tumbuhan dan memiliki sejumlah variasi.
Kompleks-enzim asilsintase III (KAS-III) memadukan malonil-ACP (3C) dan asetil-KoA (2C) menjadi butiril-ACP (4C) melalui empat tahap (kondensasi, reduksi, dehidrasi, reduksi) yang masing-masing memiliki enzim tersendiri.
Pemanjangan selanjutnya dilakukan secara bertahap, 2C setiap tahapnya, menggunakan malonil-KoA, oleh KAS-I atau KAS-IV. KAS-I melakukan pemanjangan hingga 16C, sementara KAS-IV hanya mencapai 10C. Mulai dari 8C, di setiap tahap pemanjangan gugus ACP dapat dilepas oleh enzim tioesterase untuk menghasilkan asam lemak jenuh bebas dan ACP. Asam lemak bebas ini kemudian dikeluarkan dari kloroplas untuk diproses lebih lanjut di sitoplasma, yang dapat berupa pembentukan ikatan ganda atau esterifikasi dengan gliserol menjadi trigliserida (minyak atau lemak).
Pemanjangan lebih lanjut hanya terjadi bila terdapat KAS-II di kloroplas, yang memanjangkan palmitil-ACP (16C) menjadi stearil-ACP (18C). Enzim Δ9-desaturase kemudian membentuk ikatan ganda, menghasilkan oleil-ACP. Enzim tioesterase lalu melepas gugus ACP dari oleat. Selanjutnya, oleat keluar dari kloroplas untuk mengalami perpanjangan lebih lanjut.
(Wikipedia Indonesia /23/05/09)

2.5. Fungsi Lemak
Begituh banyak fungsi dari lemak itu sendiri, diantaranya adalah sebagai pembangun sel. Lemak adalah bagian penting dari membran yang membungkus setiap sel di tubuh kita. Tanpa membran sel yang sehat, bagian lain dari sel tidak dapat berfungsi.
Sumber energi. Lemak adalah makanan sumber energi yang paling efisien. Setiap gram lemak menyediakan 9 kalori energi, sedangkan karbohodrat dan protein memberi 4 kalori.
Melindungi organ. Banyak organ vital seperti ginjal, jantung, dan usus dilindungi oleh lemak dengan memberinya bantalan agar terhindar dari luka dan menahan agar tetap pada tempatnya.
Pembangun hormon. Lemak adalah unsur pembangun sebagian senyawa terpenting bagi tubuh, termasuk prostaglandin, senyawa semacam hormon yang mengatur banyak fungsi tubuh. Lemak mengatur produksi hormon seks.

Pembangun otak. Lemak menyediakan komponen penyusun tidak hanya bagi membran sel otak, tapi juga myelin, 'jaket' lemak yang menyelimuti tiap serat syaraf, yang membuatnya mampu menghantar pesan dengan lebih cepat.

2.6. Bilangan Penyabunan
Bilangan penyabunan adalah jumlah mg KOH yang dibutuhkan untuk menyabunkan 1 g lemak. Untuk menetralkan 1 molekul gliserida diperlukan 3 molekul alkali:
R1 C OOCH2 R1COOK HO C H2
│ + │
R1 C OOCH + 3 KOH → R2COOK + HO C H
│ + │
R3COOCH2 R3COOK HOCH2
Pada trigliserida dengan asam lemak yang rantai C-nya pendek, akan didapat bilangan penyabunan yang lebih tinggi daripada asam lemak dengan rantai C panjang. Mentega yang kadar butiratnya tinggi mempunyai bilangan penyabunan yang paling tinggi.

Bilangan Penyabunan

Uji kelarutan lemak/ minyak

Siapkan 3 buah tabung reaksi ;
Masukan alcohol pada tabung ke-1, air pada tabung ke-2, dan NaCo3 pada tabung ke-3 masih masing 20 tetes dengan menggunakan pipet tetes;
Masukan minyak ikan ke dalam setiap tabung reaksi sebanyak 1 tetes menggunakan pipet tetes;
Kocok-kocok selama 1 menit;
(dengan melakukan pengocokan ini uji kelarutan semakin sempurna karena semua senyawa yang terdapat dalam tabung akan saling bereaksi satu sama lain)
Biarkan selama 5 menit;
(dengan mendiamkan selama 5 menit, dimaksudkan untuk mendapatkan hasil akhir apakah terjadi kelarutan atau tidak).
Kemudian bandingkan dari setiap tabung reaksi. Tentukan kelarutannya.















BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil
Menentukan Bilangan Penyabunan
Setelah melakukan beberapa langkah didapat hasil sebagai berikut:
V1 (HCl) = 7.4 ml
V2 (HCl) = 6,4 ml
BM NaOH = 40
N HCl = 0,5
Berat minyak = 1,5 gram

Dengan menggunakan rumus



Didapatkan hasil penghitungan sebagai berikut
(6,4 – 7,4) x 0,5 x 40
1,5
= -13,33

Menentukan Bilangan Asam
Setelah melakukan beberapa langkah didapat hasil sebagai berikut:
V1 (HCl) = 3.9 ml
V2 (HCl) = 1,5 ml
BM NaOH = 40
N etanol = 0,1
Berat minyak = 4 gram

Dengan menggunakan rumus



Didapatkan hasil penghitungan sebagai berikut
(1,5 – 3,9) x 0,1 x 40
4
= -2,4

Uji Kelarutan Minyak dan Lemak

Setelah melakukan beberapa langkah didapat hasil sebagai berikut:
No Tabung Reaksi
Larutan
Hasil Pengamatan
1
Alkohol dan minyak ikan
Larut sebagaian (++) masih terlihat ada pemisahan antara alcohol dengan minyak ikan.
2
Air dan minyak ikan
Tidak sama sekali terjadi kelarut terlihat jelas ada gelembung gelembung minyak ikan.
3
Na2CO3
Terjadi kelarutan yang sempurana (+++) larutan menjadi koloid tidak terlihat ada pemisahan/ gelembung minyak seperti pada tabung ke-1 dan ke- 2.







Pembahasan
Menentukan Bilangan Penyabunan

Setelah melakukan langkah-langkah dalam praktikum ini, antara lain dengan mencampuran minyak ikan sebanyak 4 gram dengan etanol sebanyak 4 tetes di dalam Erlenmeyer kemudian dipanaskan setelah itu dilakukan titrasi dengan menggunakan NaOH didapat nilai titrasi sebagai V1 sebanyak 7.4 ml dan V2nya 6,4 ml. maka dengan mengunakan rumus



Didapatkan hasil penghitungan sebagai berikut
(6,4 – 7,4) x 0,5 x 40
1,5
= -13,33
Berarti bilangan penyabunan atau jumlah mg KOH yang dibutuhkan untuk menyabunkan 1 g lemak bernilai negatif (-13.33) dimana penyabunan itu sendiri didefinisikan (Hart, 2003) reaksi yang terjadi karena adanya proses pendidihan minyak/ lemak dengan senyawa alkil kemudian dilakukan pengasaman larutan yang dihasilkan yang kemudian akan didapa gliserol dan campuran asam lemak.









Menentukan Bilangan Asam

Setelah melakukan beberapa langkah antara lain dengan mencampurkan 4 gram minyak ikan dengan etanol sebanyak 20 tetes di dalam erlenmeyer serta dipanaskan diatas kompor listrik selama lima menit dan setelah dingin dilakukan titrasi dengan hasil 3.9 ml volume HCl yang keluar sebagai V1. Dan dengan cara yang sama tetapi tanpa penambahan minyak ikan didapat hasil titrasi sebagai V2 sebanyak 1,5 ml. setelah didapt V1 dan V2 kemudian dilakukan penghitungan bilangan asam dengan menggunakan rumus



Didapatkan hasil penghitungan sebagai berikut
(1,5 – 3,9) x 0,1 x 40
4
= -2,4
Berarti bilangan asam yang diperoleh dari proses penyabunan pada percobaan dengan menggunakan bahan 4 gram minyak ikan, dan etanol 20 tetes kemudian dilakukan pemanasan dan titrasi dalah bernilai negative yakni (-2,4). Dimana asam lemak itu sendiri adalah asam yang diperoleh dari porses penyabunan lemak/ minyak dengan senyawa alkil.










Uji Kelarutan Minyak dan Lemak

Pada percobaan diatas, semua bahan diuji secara organoleptis yaitu uji yang meliputi panca indera, dalam hal ini adalah penglihatan. Pada uji kelarutan minyak ikan dengan air, saat minyak ikan ditambahkan sebanyak 1 tetes pada aquades (Tb. 2) minyak tidak bisa laruta dalam air karena air adalah senyawa polar, sementara minyak senyawa non polar.

Pada uji kelarutan minyak ikan dengan alkohol, saat minyak ikan ditambahkan sebanyak 1 tetes pada alcohol terjadi kelarutan tetapi tidak sempurna masih terlihat pemisahan antara minyak ikan dengan alkokoh hal ini disebabkan karena alcohol (ROH)/ (CH2OH) “R” adalah gugus alkil masih memiliki kesamaan rumus kimia dengan air (H2O). dimana pada tabung 2 (air dengan minyak) tidak terjadi kelarutan.

Sementara pada uji kelarutan minyak ikan dengan etanol (CH3CH2OH) terjadi kelarutan sempurna dibuktikan dengan terlihatnya larutan yang koloid tidak terilihat ada pemisahan. Hal ini dikarenakan etanol merupakan zat pelarut yang baik. alasan selanjutnya terlihat dari rimus kimiannya terdapat du gugus alkil (etil alcohol) sehingga apa bila terjadi reaksi gugus alkil yangpaling luar lebih mudah untuk lepas sehingga terjadila ikatan kimia.









BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Setelah melakukan peraktikum biokimia dapat disimpulkan bahwa lemak atau minyak ialah suatu ester asam lemak dengan gliserol dan gliserol adalah suatu trihidoksi alcohol.
Dengan menggunakan rumus dibawah ini, kita bisa mengetahui bahwa melakukan penyabunan 1 gram minyak/ lemak dibutuhkan sekian gram KOH yang dibutuhkan.



Kemudian minyak atau lemak tidak bisa laruta dalam air karena air adalah senyawa polar, sementara minyak senyawa non polar, serta minyak/ lemak dapat larut apabila dicampurkan dengan senyawa etanol.
5.2. Saran
Diharapkan untuk pelaksanaan paktikum selanjutnya praktikan lebih mempersiapkan dalam penguasaan konsep raktikum, alat, serta bahan yang diperlukan dalam praktimun.
http://agusnurul.blogspot.com/

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Minyak dan Lemak
Minyak tumbuhan dan hewan semuanya merupakan lipid . Dari sudut pandang kimia , minyak kelompok ini sama saja dengan lemak. Minyak dibedakan dari lemak berdasarkan sifat fisiknya pada suhu ruang: minyak berwujud cair sedangkan lemak berwujud padat. Penyusunnya bermacam-macam, tetapi yang banyak dimanfaatkan hanya yang tersusun dari dua golongan saja yaitu :
1. Gliserida dan atau asam lemak , yang mencakup minyak makanan seperti minyak masak atau minyak sayur serta minyak ikan, bahan baku industri sabun, bahan campuran minyak pelumas. Golongan ini biasanya berwujud padat atau cair pada suhu ruang tetapi tidak mudah menguap.
2. Terpena dan terpenoid , yang dikenal sebagai minyak atsiri , atau minyak eteris, atau minyak esensial dan merupakan bahan dasar wangi-wangian dan minyak gosok. Golongan ini praktis semuanya berasal dari tumbuhan , dan dianggap memiliki khasiat penyembuhan yang disebut aromaterapi. Kelompok minyak ini memiliki aroma yang kuat karena sifatnya yang mudah menguap pada suhu ruang.
Lemak merupakan suatu kelompok senyawa heterogen yang berhubungan dengan asam lemak, berbentuk padat pada suhu kamar, memegang peranan penting dalam struktur dan fungsi sel, tidak larut dalam air, tetapi larut dalam pelarut non polar, seperti kloroform, dan n-heksana.
Lemak dan minyak adalah trigliserida, atau triasilgliserol, kedua istilah ini berarti “triester dari gliserol”. Perbedaan antara lemak dan minyak bersifat berlawanan. Sebagian besar gliserida pada hewan adalah berupa lemak, sedangkan gliserida dalam tumbuhan cenderung berupa minyak. Oleh karena itu biasa terdengar ungkapan lemak hewani dan minyak nabati.
2.1.1 Sifat Fisika dan Kimia Lemak
A. Sifat Fisika Lemak
1. Warna
Zat warna dalam minyak terdiri dari zat warna alami dan hasil degradasi zat warna alami. Zat warna alami misalnya a dan ß karoten, santofil, klorofil, dan antosianin. Zat warna ini menyebabkan minyak berwarna kuning, kuning – kecoklatan, kehijau – hijauan, dan kemerah – merahan (Leonard, 1987).
2. Bau
Lemak atau bahan berlemak seperti lemak sapi, lemak babi, mentega, krim, susu bubuk, mempunyai bau seperti bau ikan yang sudah basi. Bau minyak alami berasal dari hasil urai asam – asam lemak atau komponen lain yang larut dalam minyak, seperti minyak sawit mempunyai bau yang khas karena adanya karoten (Gunstone, et al ., 1988).

3. Kelarutan
Kelarutan suatu zat dalam suatu pelarut ditentukan oleh kepolaran zat dan pelarut tersebut. Minyak dan lemak tidak larut dalam air, sedikit larut dalam alkohol, dan larut sempurna dalam kloroform. Sifat kelarutan minyak dan lemak digunakan untuk memisahkan minyak dari bahan yang mengandung minyak.
Asam lemak rantai pendek dapat larut dalam air. Semakin panjang rantai asam lemak kelarutan dalam air semakin berkurang, asam lemak tidak jenuh lebih mudah larut dalam pelarut organik dibandingkan dengan asam lemak jenuh (Meyer, 1976).
4. Polimorfisme
Minyak dan lemak yang mempunyai rantai atom karbon panjang dapat berbentuk kristal lebih dari satu (Altus & Linden, 1991).
5. Titik didih
Titik didih asam-asam lemak semakin meningkat dengan bertambah panjangnya rantai atom karbon asam-asam lemak tersebut (Kay & Sharom, 1997).
6. Indeks bias
Indeks bias adalah penyimpangan cahaya yang melewati suatu medium. Besaran indeks bias dapat digunakan untuk pengenalan zat kimia serta pengujian kemurnian suatu minyak. Indeks bias minyak atau lemak akan meningkat jika rantai atom karbonnya semakin panjang. Indeks bias juga bertambah besar dengan kenaikan berat molekul (Gunstone, et al. , 1988).
B. Sifat Kimia Lemak
Reaksi yang dapat dialami lemak dan minyak, meliputi hidrolisis, oksidasi, dan esterifikasi.
1. Hidrolisis.
Hidrolisis merupakan salah satu reaksi yang penting pada lemak, dalam reaksi ini, lemak diubah menjadi asam lemak bebas dan gliserol. Lemak dapat dihidrolisis dengan pemanasan mengunakan katalis asam, basa, atau enzim lipase. Secara umum reaksinya terdapat pada Gambar 2.1.
+ 3HOH +
air
trigliserida gliserol asam lemak bebas
Gambar 2.1 Reaksi hidrolisis lemak
Hidrolisis lemak dengan menggunakan katalis basa menghasilkan gliserol dan garam asam lemak yang dikenal sebagai reaksi penyabunan. Secara umum reaksinya tedapat pada Gambar 2.2.
+ 3KOH +
basa
trigliserida gliserol garam asam lemak bebas
Gambar 2.2 Reaksi hidrolisis lemak dengan katalis basa.
Lemak yang dihidrolisis dengan asam akan menghasilkan asam lemak bebas dan gliserol.Secara umum reaksinya tedapat pada Gambar 2.3.
+ 3H +
Asam
trigliserida gliserol asam lemak bebas
Gambar 2.3 Reaksi hidrolisis lemak dengan katalis asam
Hidrolisis lemak dengan menggunakan enzim lipase menghasilkan asam lemak bebas dan gliserol. Enzim ini dapat diperoleh dari Candida cylindriaceae, Carynebacterium acnes dan Staphylococcus aureus. Secara umum reaksinya tedapat pada Gambar 2.4.
lipase +
enzim
trigliserida gliserol asam lemak bebas
Gambar 2.4 Reaksi hidrolisis lemak dengan katalis enzim lipase.
2. Oksidasi.
Proses oksidasi berlangsung bila minyak berkontak dengan udara. Oksidasi biasanya dimulai dengan pembentukan peroksida dan hidrogen peroksida dikenal dengan bilangan peroksida.
3. Esterifikasi.
Esterifikasi merupakan reaksi antara asam lemak dengan alkohol. Dalam penentuan asam-asam lemak dengan kromotogafi gas dan kromatografi gas-spektrometri massa, asam lemak tersebut dianalisis dalam bentuk ester, misalnya ester-ester metil atau etil, pembuatan ester tersebut dapat dilakukan dengan pereaksi metanol atau etanol dengan katalis asam sulfat pekat (Klare, 1976).
2.1.2. Asam Lemak
Asam karboksilat yang diperoleh dari hidrolisis suatu lemak atau minyak disebut asam lemak, umumnya mempunyai rantai hidrokarbon panjang dan tak bercabang. Lemak dan minyak sering kali diberi nama sebagai derivat asam-asam lemak ini. Misalnya tristearat dan gliserol diberi nama tristearin, dan tripalmitat dan gliserol disebut tripalmitin. Kebanyakan lemak dan minyak yang terdapat di alam merupakan trigliserida campuran, artinya, ketiga asam lemak dari gliserida itu tidak sama (Fessenden & Fesenden, 1999).
Berdasarkan struktur kimianya, asam lemak dapat dibedakan menjadi asam lemak jenuh (saturated fatty acids=SFAs) yaitu asam lemak yang tidak memiliki ikatan rangkap. Sedangkan asam lemak yang memiliki ikatan rangkap disebut sebagai asam lemak tidak jenuh (unsaturated fatty acids) .
Asam lemak bersama-sama dengan gliserol merupakan penyusun utama minyak nabati atau lemak dan merupakan bahan baku untuk semua lipida pada makhluk hidup. Asam ini mudah dijumpai dalam minyak goreng, margarin, atau lemak hewan dan menentukan nilai gizinya. Secara alami, asam lemak bisa berbentuk bebas (karena lemak yang terhidrolisis) maupun terikat sebagai gliserida . Asam lemak merupakan asam lemah , dan dalam air terdisosiasi sebagian. Umumnya berfase cair atau padat pada suhu ruang (27° Celsius). Semakin panjang rantai C penyusunnya, semakin mudah membeku dan juga semakin sukar larut ( Doddy Sudarmanto, 2007 ).
A. Asam Lemak Jenuh
Asam lemak jenuh (saturated fatty acids=SFAs) yaitu asam lemak yang tidak memiliki ikatan rangkap Asam lemak jenuh yang mempunyai ikatan antar atom karbonnya tunggal, misalnya asam palmitat, asam stearat, dan asam miristat dan lain-lain. Dari beberapa contoh asam lemak jenuh, asam lemak jenuh hanya dibedakan berdasarkan jumlah atom karbonnya.
Asam lemak jenuh bersifat lebih stabil atau tidak mudah bereaksi, daripada asam lemak tak jenuh. Ikatan ganda pada asam lemak tak jenuh mudah bereaksi dengan oksigen (mudah teroksidasi). Karena itu, dikenal istilah bilangan oksidasi bagi asam lemak.
Tabel 2.1 : Bahan makanan penghasil asam lemak jenuh.
Bahan makanan
Jumlah asam lemak jenuh (gram)
Minyak kelapa
80,2
Mentega
44,1
Minyak biji kapas
32,7
Kelapa tua
29,4
Lemak babi
28,4
Minyak wijen
26,4
Margarine
21,0
Keju
11,3


Tabel 2.2 : Contoh Asam Lemak Jenuh.
Nama Sistematik
Nama Trivial
Singkatan
Asam etanoat
Asam asetat
C2:0
Asam butanoat
Asam butirat
C4:0
Asam heksanoat
Asam kaproat
C6:0
Asam oktanoat
Asam kaprilat
C8:0
Asam dekanoat
Asam kaprat
C10:0
Asam dodekanoat
Asam laurat
C12:0
Asam tetradekanoat
Asam miristat
C14:0
Asam heksadekanoat
Asam palmitat
C16:0
Asam oktadekanoat
Asam stearat
C18:0
Asam eikosanoat
Asam arakidat
C20:0
Asam dokosanoat
Asam behenat
C22:0
Asam tetrakosanoat
Asam Lignoserat
C 24:0


B. Asam Lemak Tak Jenuh
Asam lemak yang memiliki ikatan rangkap disebut sebagai asam lemak tidak jenuh (unsaturated fatty acids) , asam lemak tak jenuh ini masih dibedakan lagi menjadi dua kelompok besar yaitu Monounsaturated fatty acids (MUFAs) , dimana ikatan ikatan rangkapnya hanya satu, dan Polyunsaturated fatty acids (PUFAs) dimana ikatan rangkapnya lebih dari satu.
Keberadaan ikatan ganda pada asam lemak tak jenuh menjadikannya memiliki dua bentuk: cis dan trans . Semua asam lemak nabati alami hanya memiliki bentuk cis (dilambangkan dengan "Z", singkatan dari bahasa Jerman zusammen ). Asam lemak bentuk trans ( trans fatty acid , dilambangkan dengan "E", singkatan dari bahasa Jerman entgegen ) hanya diproduksi oleh sisa metabolisme hewan atau dibuat secara sintetis. Akibat polarisasi atom H, asam lemak cis memiliki rantai yang melengkung. Asam lemak trans karena atom H-nya berseberangan tidak mengalami efek polarisasi yang kuat dan rantainya tetap relatif lurus.
Tabel 2.3 : Bahan Makanan Penghasil Asam Lemak Tak Jenuh.
Bahan makanan
Jumlah asam lemak tak jenuh (gram)
Minyak biji bunga matahari
84,6
Minyak ( jagung, kacang kedele )
80,0
Minyak zaitun
75,7
Minyak (kacang tanah, wijen)
70,0
Minyak biji kapas
62,0
Lemak babi
60,0
Margarine
53,3
Kacang tanah
30,3
Mentega
25,4





Tabel 2.4 : Contoh Asam Lemak Tak Jenuh
Nama Sistematik
Nama Trivial
Singkatan
Asam lemak tak jenuh tunggal
Asam 9-heksadekenoat
Asam palmitoleinat
C16:1(n-7)
Asam 6-oktadekenoat
Asam petroselat
C18:1(n-12)
Asam 9-oktadekenoat
Asam oleat
C18:1(n-9)
Asam 13-dokosenoat
Asam erukat
C22:1(n-9)
Asam 15-tetrakosenoat
Asam nervonat
C24:1(n-9)
Asam lemak tak jenuh ganda
Asam 9,12-oktadekadienoat
Asam linoleat
C18:2(n-6)
Asam 6,9,12-oktadekatrienoat
Asam ?-linolenat
C18:3(n-6)
Asam 9,12,15-oktadekatrienoat
Asam a-linolenat
C18:3(n-3)
Asam 5,8,11,14-eikosatetraenoat
Asam arakidonat
C20:4(n-6)
Asam 5,8,11,14,17-eikosapentaenoat
EPA
C20:5(n-3)
Asam 4,7,10,13,16,19-dokosaheksaenoat
DHA
C22:6(n-3)

2.2 Kegunaan Minyak dan Lemak
2.2.1 Kegunaan Minyak dan Lemak pada kesehatan
Fungsi lemak dalam tubuh dikenal sebagai : (1). bahan bakar metabolisme seluler (2) merupakan bagian pokok dari membran sel dan (3) sebagai mediator atau second massenger aktivitas biologis antar sel (4) sebagai isolasi dalam menjaga keseimbangan temperatur tubuh dan melindungi organ-organ tubuh (5) pelarut vitamin A, D, E, dan K agar dapat diserap tubuh ( Doddy Sudarmanto, 2007 ).
Karotenoid non pro-vitamin A maupun Karotenoid pro-vitamin A yang terkandung dalam minyak nabati, berfungsi sebagai antioksidan, yang berperan dalam mencegah timbulnya penyakit kanker, mencegah proses penuaan terlalu dini, dan mengurangi terjadinya penyakit degeneratif lainnya.
Beberapa penelitian pada binatang coba maupun pada manusia menunjukkan bahwa asam lemak esensial (Omega-3 dan Omega-6) mempunyai pengaruh dalam menurunkan mortalitas penyakit jantung koroner. Pengaruh ini melalui penghambatan aterosklerosis. Asam lemak Omega-6 mempunyai efek anti aterogenik yaitu mencegah pembentukan plak yang dapat menyumbat pada pembuluh darah koroner. Sedangkan asam lemak Omega-3 selain mempunyai efek yang dimiliki seperti asam lemak Omega -6, juga mempunyai pengaruh anti trombogenik , yaitu mencegah pembentukan keping-keping darah yang dapat menyumbat aliran darah dengan menurunkan kadar fibrinogen (protein dalam plasma darah yang berperan dalam pembekuan darah), menghindarkan kerusakan sel akibat radikal bebas, menaikkan kadar kolesterol “baik” HDL untuk menyapu kolesterol “buruk” LDL agar tak menumpuk di arteri ( Doddy Sudarmanto, 2007 ).
2.2.2 Kegunaan Minyak dan Lemak pada makanan
Bahan pengemulsi mempunyai peranan yang sangat penting baik dalam industri pengolahan pangan maupun industri non pangan. Di dalam industri pangan, bahan pengemulsi digunakan untuk berbagai tujuan, seperti meningkatkan kestabilan dan kesamaan mutu produk-produk emulsi. Selain itu juga minyak dan lemak digunakan sebagai penambah cita rasa pada makanan.
Produk-produk yang menggunakan bahan pengemulsi yang dapat kita jumpai sehari-hari adalah es krim, mentega, margarin, keju, krem, sosis, saladresing dan mayonaise.

2.3 Minyak Nabati dan Hewani
2.3.1 Perbedaan mendasar minyak nabati dan hewani
Perbedaan mendasar dari pada lemak hewani dan lemak nabati adalah: 1) lemak hewani mengandung kolesterol, sedangkan lemak nabati mengandung fitosterol, 2) kadar lemak jenuh dalam lemak hewani lebih kecil dari pada lemak nabati.
Fitosterol adalah steroida (sterol) yang terdapat di dalam tanaman dan mempunyai struktur yang mirip dengan kolesterol. Tetapi, fitosterol mengandung gugus etil (-CH2-CH3) pada rantai cabang. Sebagaimana pentingnya fungsi kolesterol di dalam membran sel tubuh manusia dan hewan, maka demikian juga fitosterol di dalam tanaman. Di dalam hewan, kolesterol adalah sterol yang paling dominan. Tetapi, pada kedua kelompok sterol ini terdapat sifat yang berlawanan, yakni konsumsi kolesterol yang ada di dalam makanan akan meningkatkan kadar kolesterol darah sedangkan fitosterol justru sebaliknya (Silalahi, 2002).

2.3.2 Minyak Nabati
Minyak nabati ialah sejenis minyak yang terbuat dari te tumbuhan . Digunakan dalam makanan dan untuk memasak . Beberapa jenis minyak nabati yang biasa digunakan ialah minyak kelapa sawit , jagung, zaitun, kedelai, dan bunga matahari.


A. Minyak Zaitun
Minyak diperoleh dari buah zaitun melalui proses mekanik dan fisik lainnya tanpa mengalami deterosiasi. Secara umum proses pengolahannya terdiri atas pencucian, sentrifugasi, dan filtrasi.
Berdasarkan jenisnya, minyak zaitun dibagi dua, yaitu minyak zaitun sulingan dan minyak zaitun murni. Dalam praktiknya, minyak zaitun murni sering ditambahkan dalam minyak zaitun sulingan dengan tujuan untuk memperbaiki rasa, warna. Minyak zaitun atau olive oil ada beberapa jenis seperti light olive oil , virgin olive oil hingga extra virgin olive oil . Jenis ini dibedakan sesuai tingkat kemurniannya.
Minyak zaitun mengandung triasilgliserol yang sebagian besar di antaranya berupa asam lemak tidak jenuh tunggal jenis oleat. Kandungan asam oleat tersebut dapat mencapai 55-83 persen dari total asam lemak dalam minyak zaitun. Karena asam oleat merupakan asam lemak tidak jenuh tunggal, risiko terkenanya oksidasi lebih rendah dibandingkan dengan asam linoleat dan linolenat yang termasuk ke dalam kelompok asam lemak tidak jenuh ganda ( Dadan Rohdiana, 2004).





Tabel 2.5 : Komposisi Asam Lemak Minyak Zaitun
Komposisi asam lemak Minyak Zaitun
Asam lemak jenuh
Asam palmitat : 7.5–20.0 %
Asam stearat : 0.5–5.0 %
Asam arakidat : < 0.8 %
Asam behenat : < 0.3 %
Asam miristat : < 0.1 %
Asam lignoserat : < 1.0
Asam lemak tak jenuh tunggal
Asam oleat : 55.0 - 83.0%
Asam palmitoleinat : 0.3 - 3.5 %
Asam lemak tak jenuh ganda
Asam linoleat : 3.5–21.0 %
Asam linolenat : < 1.5 %

B. Minyak Sawit
Minyak sawit dalam kehidupan sehari-hari lebih banyak berfungsi sebagai media penghantar panas, menambah citarasa makanan, memperbaiki tekstur makanan dan sumber energi untuk kebutuhan tubuh dan sangat populer saat ini.
Minyak sawit mengandung komponen aktif yang sangat berguna bagi kesehatan dari bayi sampai orang dewasa. Secara alami minyak sawit merupakan sumber asam lemak tidak jenuh tunggal (MUFA = Mono Unsaturated Fatty Acid ) dan asam lemak tidak jenuh ganda (PUFA = Poly Unsaturated Fatty Acid ).
Minyak sawit mengandung sedikit asam lemak jenuh seperti asam miristik dan asam laurik, tetapi mengandung banyak sekali asam lemak tidak jenuh tunggal, yaitu asam oleat, asam lemak tidak jenuh ganda seperti asam lemak linoleat, asam lemak linolenat.

Tabel 2.6 : Komposisi Asam Lemak Minyak Sawit
Asam lemak Jumlah (%)
Asam lemak jenuh
Asam palmitat : 8.4%
Asam stearat : 2.5%
Asam miristat : 16.2%
Asam laurat : 48.2%
Asam kaprat : 3.4%
Asam kaprilat : 3.3%
Asam lemak tak jenuh tunggal
Asam oleat : 15.3%
Asam lemak tak jenuh ganda
Asam linoleat : 2.3%


C. Minyak Jagung
Minyak jagung merupakan minyak yang memiliki komposisi asam lemak tak jenuh yang sangat tinggi. Minyak jagung diperoleh dari embrio Zea mays. Dalam produk farmasi minyak jagung digunakan untuk sediaan injeksi. Selain itu juga digunakan sebagai suplemen makanan berkalori tinggi.
Tabel 2.7 : Komposisi Asam Lemak Minyak Jagung
Asam lemak Jumlah (%)
Asam lemak jenuh
Asam palmitat : 8.6 % - 16.5 %
Asam stearat : < 3.3 %
Asam arakidat : < 0.8 %
Asam behenat : < 0.5 %
Asam lemak tak jenuh tunggal
Asam oleat : 20.0 % - 42.2 %
Asam eikosenoat : < 0.5 %
Asam lemak tak jenuh ganda
Asam linoleat : 39.4 % - 65.6 %
Asam linolenat : 0.5 % - 1.5 %






D. Minyak Bunga Matahari
Tabel 2.8 : Komposisi Asam Lemak Minyak Bunga Matahari
Asam lemak Jumlah (%)
Asam lemak jenuh
Asam palmitat : 4.0 % - 9.0 %
Asam stearat : 1.0 % - 7.0 %
Asam lemak tak jenuh tunggal
Asam oleat : 14.0 % - 40.0 %
Asam lemak tak jenuh ganda
Asam linoleat : 48.0 % - 74.0 %

2.3.3. Lemak Hewani
A. Lemak Babi
Tabel 2.9 : Komposisi Asam Lemak Lemak Babi
Asam lemak Jumlah (%)
Asam lemak jenuh (38–43 %)
Asam palmitat : 25–28 %
Asam stearat : 12–14 %
Asam miristat : 1 %
Asam lemak tak jenuh tunggal (47–50%)
Asam oleat : 44–47 %
Asam palmitoleinat : 3 %
Asam lemak tak jenuh ganda
Asam linoleat : 6–10 %

B. Lemak Kambing
Lemak kambing biasa digunakan dalam produk makanan dan masakan. Lemak kambing dalam masakan digunakan sebagai penyedap rasa dalam kaldu.
Tabel 2.10 : Komposisi Asam Lemak Lemak Kambing.
Asam lemak Jumlah (%)
Asam lemak jenuh
38–43 %
Asam lemak tak jenuh tunggal
47–50%
Asam lemak tak jenuh ganda
5%-11%

C. Lemak Sapi
Seperti halnya lemak kambing, lemak sapi juga biasa digunakan dalam produk makanan dan masakan seperti penyedap rasa dalam kaldu.
Tabel 2.11. : Komposisi Asam Lemak Lemak Sapi.
Asam lemak Jumlah (%)
Asam lemak jenuh
Asam palmitat : 26 %
Asam stearat : 14 %
Asam miristat : 3 %
Asam lemak tak jenuh tunggal
Asam oleat : 47 %
Asam palmitoleinat : 3 %
Asam lemak tak jenuh ganda
Asam linoleat : 3 %
Asam linolenat : 1 %


D. Lemak Ayam
Kaldu ayam yang biasa digunakan dalam memasak adalah lemak ayam yang digunakan sebagai penyedap rasa.
Tabel 2.12. : Komposisi Asam Lemak Ayam.
Asam lemak Jumlah (%)
Asam lemak jenuh
30 %
Asam lemak tak jenuh tunggal
45 %
Asam lemak tak jenuh ganda
21 %






2.4. Metode Analisis Asam Lemak
Analisis cara sederhana adalah penentuan bilangan iodium atau bilangan asam. Bilangan iodium merupakan parameter untuk menentukan jumlah asam lemak tidak jenuh. Bilangan asam untuk menentukan jumlah asam lemak dalam sampel, dengan ini jenis komponen asam lemak tidak jenuh yang merupakan kandungan lemak tidak diketahui, hasil penentuan hanya untuk keseluruhan asam lemak.
Beberapa penelitian secara instrumental telah dilakukan untuk mendeteksi kehadiran lemak hewani dan nabati dalam bahan makanan . Differential Scanning Calorimetry (DSC) dilaporkan pernah digunakan untuk mendeteksi lemak hewani didalam produk ghee dan mentega. Hal ini dimungkinkan lantaran lemak hewani mengandung asam lemak jenuh ganda pada posisi- 2 triacylglycerols (TAGs), sehingga kehadiran komponen lemak tersebut bisa dideteksi lewat analisa posisi-2 TAGs.
Dalam beberapa kasus lain, analisa methyl esters dengan menggunakan gas liquid chromatography (GLC) memberikan data identifikasi bercampurnya minyak nabati ( vegetable oil ) dengan lemak hewani berdasarkan pengukuran asam lemak C17:0 dan C 17:1.
2.5. Fourier Transform Infrared Spectroscopy (FTIR)
FTIR adalah singkatan dari Fourier Transform Infrared , merupakan metode pilihan dari spektroskopi infra merah. FTIR merupakan spektrofotometer IR yang mutakhir saat ini. FTIR mampu mengatasi kelemahan kelemahan pada spektrofotometer IR dispersive.
Gambar 2.5 FTIR
Keunggulan dari FTIR dibandingkan dengan spektrofotometri inframerah dispersive, diantaranya adalah :
1. Semua frekuensi dari spektrum akan berkumpul secara simultan dengan waktu yang sangat cepat (dalam periode detik) sehingga waktu analisisnya lebih cepat.
2. Jumlah energi yang mencapai detektor jauh lebih besar karena tidak dibatasi oleh lebar celah (slit) seperti pada spektrofotometri inframerah dispersive, melainkan tergantung pada ukuran cermin yang berada pada alat interferometer, sehingga mempunyai kepekaan pengukuran yang sangat tinggi.
3. Mengingat spektrum yang dihasilkan sudah dalam bentuk digital, sehingga dapat dengan mudah komputer melakukan proses-proses pengolahan, seperti pengurangan, penambahan, pembentukan spektrum turunan, pembandingan spektrum, dan lain-lain. Hal ini sangat bermanfaat, baik untuk analisis kuantitatif ataupun kualitatif.
4. Pemilihan FTIR didasarkan atas kemampuan analisisnya yang sangat cepat dan mempunyai kepekaan tinggi sehingga dapat memantau seluruh daerah spektrum inframerah dari setiap puncak yang terelusi dengan kepekaan yang tinggi.
Dasar pemikiran FT-IR adalah deret persamaan gelombang yang dirumuskan aleh Jean Babtiste Fourier (1768-1830) seorang ahli matematika Perancis, Fourier mengemukakan deret persamaan gelombang elektronik sebagai :
+ Cos t + Sin t + Cos 2 t + Sin 2 t
• a dan b merupakan suatu bilangan
• t adalah waktu
• adalah frekuensi sudut (radian/detik)
Dari deret Fourier tersebut tampak bahwa intensitas gelombang dapat digambarkan ranah waktu ( time domain ) atau ranah frekuensi ( frequency domain ). Perubahan gambaran intensitas gelombang radiasi elektromagnetik dari ranah waktu ke ranah frekuensi atau sebaliknya disebut Fourier Transform .
Pada dasarnya prinsip kerja dari FTIR sama dengan spektrofotometri inframerah dispersive, yang membedakannya adalah rancangan sistem optiknya saja. Dimana dalam FTIR menggunakan interferometer sebagai komponen pemisah panjang gelombang sedangkan pada spektrofometri inframerah dispersive menggunakan gratting monokromator. Detektor pada FTIR terbuat dari bahan tertentu (seperti, pyroelectric lithium tantalat (LiTaO 3 )) yang mampu menerima sinyal dengan sangat cepat, dimana tidak dapat digunakan seperti pada detektor spektrofotometri inframerah dispersive yang mempunyai tanggapan lambat. Hasil dari FTIR lebih sensitif, selektif, dan hasilnya berupa suatu data digital. Perkembangan sistem optik spektrofotometer IR yang mutakhir adalah Fourier Transform – IR (FT-IR) .
Selanjutnya pada sistem optik peralatan instrumen fisiko-kimia FT-IR dipakai dasar ranah waktu yang non dispersif. Bandingkan dengan Hadamard Transform yang dispersif. Sebagai contoh aplikasi pemakaian gelombang radiasi elektromagnetik yang berdasar ranah waktu adalah interferometer yang dikemukakan oleh Albert Abraham Michelson (1891) seorang ahli fisika berkebangsaan Yahudi di Jerman (Suharman, 1995).
Diagram Optik interferometer Michelson tampak pada gambar dibawah ini :

Gambar 2.6 : Interferometer Michelson. ( Nicolet Instrument Corporation)

Pada sistem optik tersebut dilengkapi dengan cermin yang bergerak tegak lurus dan cermin yang diam. Dengan demikian radiasi IR akan menimbulkan perbedaan jarak yang ditempuh menuju cermin yang bergerak dan cermin yang diam. Perbedaan jarak tempuh radiasi tersebut adalah 2 (M-F) yang selanjutnya disebut sebagai retardasi ( ). Relasi antara intensitas radiasi IR yang keluar dari detektor (P) terhadap retardasi ( ). Disebut sebagai interferogram. Sistem optik dari spektrofotometer IR yang didasarkan atas bekerjanya interferometer disebut sebagai sistem optik Fourier Transform Infrared (FTIR).
Pada sistem optik FTIR dipakai radiasi LASER ( Light Amplification by Stimulated Emission of Radiation ) yang berguna sebagai radiasi yang diinterferensikan dengan radiasi IR agar sinyal radiasi IR diterima oleh detektor secara utuh dan lebih baik. Berbicara mengenai masalah detektor sebenarnya yang dipakai sebagai detektor didalam FTIR adalah TGS ( Tri Glycine Sulfat ) atau MCT ( Mercury Cadmium Telluride ). MCT lebih banyak dipakai dibandingkan TGS sebab memberikan tanggapan yang lebih baik pada frekuensi modulasi tinggi, lebih sensitif, lebih cepat dan tidak dipengaruhi temperatur. MCT yang terpenting bersifat sangat selektif terhadap energi vibrasi yang diterima dari radiasi IR.