SELAMAT DATANG DI X3-PRIMA, MELAYANI SETULUS HATI, MEMBERIKAN YANG TERBAIK

29.5.09

Uji Karbohidrat

Karbohidrat
I.Prinsip dan Tujuan
1.1Prinsip
a.Teori yang mendasari percobaan ini adalah penambahan asam organic pekat,misalnya H2SO4 menyebabkan karbohidrat terhidrolisis menjadi monosakarida. Selanjutnya monosakarida jenis pentose akan mengalami dehidrasi dengan asam tersebut menjadi furfural, sementara golongan heksisosa menjadi hidroksi-multifulfural
b.Reduksi Cu2+ menjadi Cu+ oleh karbohidrat yang mempunyai gugus aldehid atau keton bebas
2.1Tujuan
a.Menganalisis struktur dan konfigurasi molekul karbohidrat serta sifat optic yang berkaitan dengan struktur tersebut
b.Menjelaskan rumus serta terdapatnya beberapa monosakarida, oligosakarida dan polisakarida
c.Menerangkan beberapa sifat kimia karbohidrat
d.Menentukan golongan-golongan karbohidrat

II.Tinjauan Pustaka
Karbohidrat adalah polihidroksidehida dan keton polihidroksil atau turunannya. Selain itu juga dsususun oleh dua sampai delapan monosakarida yang dirujuk sebagai oligosakarida. Karbohidrat mempunyai rumus umum berupa CnH2nOn atau mendekati Cn(H2O)n yaitu karbon yang mengalami hidratasi.
Di alam, karbohidrat merupakan hasil sintesa CO2 dan H2O dengan pertolongan sinar marahari dan hijau daun (klorofil). Hasil fotosintesis ini kemudian mengalami polimerisasi menjadi pati dan senyawa –senyawa bermolekul besar lain yang menjadi cadangan makanan pada tanaman. Organisme yang dapat mensintesa makanan pada tanaman.
Penggolongan Karbohidrat
Secara alami, ada tiga bentuk karbohidrat yang penting yaitu :
1Monosakarida
2Oligosakarida
3Polisakarida
Monosakarida
Monosakarida adalah karbohidrat yang sederhana, dalam arti molekulnya hanya terdiri atas beberapa atom karbon saja dan tidak dapat diuraikan dengan cara hidrolisis dalam kondisi lunak menkjadi karbohidrat lain. Monosakarida yang paling sederhana ialah gliseraldehida dan dihidroksiaseton
Macam-macam contoh monosakarida adalah :
1.Glukosa
Glukosa adalah suatu aldoheksosa dan erring disebut dekstrosa karena mempunyai sifat dapat memutar cahaya terpolarisasi kea rah kanan. Di alam glukosa terdapat pada buah-buahan dan madu lebah.


















2.Fruktosa
Fruktosa adalah suatu ketohektosa yang mempunyai sifat memutar cahaya terpolarisasi ke kiri dan karenya disebut levulosa. Fruktisa mempunyai rasa manis lebih dari gluosa, juga lebih manis dari pada gula tebu atau sukrosa





3.Galaktosa
Galaktosa jarang terdapat bebas di alam, biasanya berikatan dengan glukosa dalam bentuk laktosa, yaitu gula yang terdapat dalam susu. Galaktosa mempunyai rasa kurang manis daripada glukosa dan kurang larut dalam air









4.Pentosa
Beberapa pentose yang penting adalah arabinosa, xilosa, ribose dan 2-deoksiribosa. Keempat pentose ini terdapat dalam keadaan bebas di alam. Arabinosa diperoleh dari gom arab dengan jalan hidrolisis, sedangkan xilosa diperoleh dari proses hidrolisis terhadap jerami atau kayu.


Oligosakarida
Senyawa yang termasuk oligosakarida mempunyai molekul yang terdiri atas beberapa molekul monosakarida. Dua molekul monosakarida yang berikatan satu dengan yang lain, membentuk satu molekul disakarida.
Contoh Oligosakarida yaitu :
1.Sukrosa
Sukrosa berasal dari tebu,bit dan tumbuhan, misalnya dalam buah nanasa dan dalam wortel



2.Laktosa
Hidrolisis laktosa menghasilkan D-galaktosa dan D-glukosa,karena laktosa adalah suatu disakarida. Ikatan galaktosa dan glukosa terjadi antara atom karbon nomor 1 pada galaktosa dan atom karbon nomor 4 pada glukosa. Oleh karenanya molekul laktosa masih mempunyai gugus -OH gkikosidik, dengan demikian laktosa mempunyai sifat mereduksi dan mutarotasi

3.Maltose
Maltose adalah suatu disakarida yang terbentuk dari dua molekul glukosa. Maltose mudah larut dalam air dan mempunyai rasa lebih manias daripada laktosa, tetapi kurang manis daripada sukrosa






4.Rafinosa
Rafinosa adalah suatu trisakarida yang penting, terdiri atas tiga molekul monosakarida yang berikatan, yaitu galaktosa-glukosa-fruktosa. Atom karbon 1 pada galaktosa berikatan dengan atom karbon 6 pada glukosa, selanjutnya atom karbon 1 pada glukosa berikatan dengan atom karbon 2 pada fruktosa. Apabila dihidrolisis sempurba, rafinosa akan menghasilkan galaktosa, glukosa dan fruktosa





5.Stakiosa
Stakiosa adalah suatu tetrasakarida stakiosa tidak mempunyai sifat mereduksi.
Galaktosa-galaktosa-glukosa-fruktosa 
(stakiosa) galaktosa-galaktosa-glukosa+fruktosa
(manotriosa)

Polisakarida
Polisakarida mempunyai molekul besar dan lebih kompleks daripada mono dan oligosakarida. Molekul polisakarida terdiri atas banyak molekul monosakarida. Polisakarida yang terdiri atas satu macam monosakarida saja disebut homopolisakarida, sedangkan yang mengandung senyawa lain disebut heteropolisakarida. Umumnya polisakarida berupa senyawa berwarna putih dan tidak berbentuk Kristal, tidak mempunyai rasa manis dan tidak mempunyai sifat mereduksi, polisakarida yang dapat larut dalam air akan membentuk larutan koloid. Beberapa polisakarida yang penting di antaranya adalah
1.Amilum
2.Glikogen
3.Dekstrin
4.Selulosa

III.Prosedur Percobaan
1.Uji Molisch
a.Masukkan 1 ml larutan karbohidrat kedalam tabung reaksi yang masih kering dan bersih
b.Tambahkan 3 tetes pereaksi Molisch,kocok
c.Tambahkan 1 ml H2SO4 pekat, dimiringkan
d.Perhatikan terbentuknya cincin berwarna ungu pada batas antara kedua lapisan yang menandakan reaksi positif karbohidrat
e.Lakukan percobaan masing-masing untuk larutan 1 M glukosa, sukrosa, maltose dan arabinosa
f.Catat hasil dan buatlah kesimpulan


2. Uji Benedict
a.Masukkan 3 tetes larutan karbohidrat dan 2 ml reagen benedict ke dalam tabung reaksi yang berbeda, kocok.
b.Panaskan di atas penangas air selama 5 menit lalu dinginkan
c.Pembentukan endapan hijau, kuning atau merah menunjukkan reaksi positif
d.Lakukan percobaan serupa pda larutan pati, glukos, galaktosa, sukrosa dan fruktosa
3. Uji barfoed
a.Masukkan 1 ml larutan 0,1 M glukosa yang berisi 1 ml pereaksi barfoed ke dalam tabung reaksi, kocok.
b.Panaskan di atas air mendidih selama 3 menit
c.Dinginkan selama 2 menit pada air mengalir
d.Perhatikan warna atau endapan yang terbentuk, reaksi positif ditandai dengan terbentuknya endapan merah bata
e.Lakukan percobaan serupa pada larutan sukrosa, glukosa, fruktosa dan laktosa
f.Bila tidak terjadi reduksi selama 5menit, lakukan pemanasan selama 15 menit sampai terlihat adanya reduksi.
4. Uji Seliwanof
a.Masukkan 2 ml pereaksi seliwanof, tambahkan 5 tetes larutan uji dan tambahkan ke dalam tabung reaksi
b.Didihkan di atas api kecil selama 30 detik atau dalam penangas air selam 1 menit
c.Terjadinya perubahan warna merah dan endapan menunjukkan reaksi positif untuk ketosa, bila endapan dilarutkan dalam alcohol maka akan terjadi larutan berwarna merah
d.Lakukan percobaan pda sampel fruktosa, glukosa dan sukrosa.

5.Hidrolisis Sukrosa
a.Masukkan ke dalam tabung reaksi 5 ml larutan sukrosa 0,1 M kemudian tambahkan 1 ml HCl 10%
b.Campurlah dengan baik, lalu panaskan dalam penangas air mendidih selama 15 menit
c.Setelah dingin netralkan larutan dengan NaOH 2% dan uji dengan kertas lakmus
d.Selanjutnya lakukan uji Benedict, Seliwanof dan Barfoed.

6.Tes Pati dengan Iodium
a.Masukkan ke dalam 3 tabung reaksi masing-masing 3 ml larutan pati 1 %
b.Tambahkan 2 tetes air ke dalam tabung pertam, tambahkan 2 tetes HCl 6 N ke dalam tabung ke dua, tambahkan 2 tetes larutan NaOH 6 N ke dalam tabung ke tiga.
c.Ke dalam masing-masing tabung tambahkan 1 tetes 0,01 M larutan iodium.
d.Amati perubahan 3 warna yang ada dalam tabung reaksi tadi
e.Panaskan tabung yang berwarna biru, dinginkan perlahan-lahan, lalu amati perubahan warna yang terjadi

IV.Alat dan Bahan
1.Uji Molisch
Alat :
1.Tabung Reaksi
2.Pipet
3.Gelas Ukur 1000 ml
4.Gelas Ukur 100 ml
Bahan :
1.10 gr α-naftol
2.95 % etil alcohol
3.Sukrosa 0,1 M
4.Glukosa 0,1 M
5.Arabinosa 0,1 M
6.Maltosa 0,1 M

2.Uji Benedict
Alat :
1.Tabung Reaksi
2.Pipet
3.Gelas Ukur 1000 ml
4.Gelas Ukur 100 ml
Bahan :
1.Natrium Sitrat
2.Na2CO3 Anhidrat
3.CuSO4
4.Galaktosa 0,1 M
5.Fruktosa 0,1 M

3.UJI Barfoed
Alat :
1.Tabung Reaksi
2.Pipet
3.Gelas Ukur 1000 ml
4.Gelas Ukur 100 ml
Bahan :
1.Kristal tembaga asetat
2.Asam laktat
3.Laktosa

4.Uji Seliwanof
Alat :
1.Tabung Reaksi
2.Pipet
3.Gelas Ukur 1000 ml
4.Gelas Ukur 100 ml

Bahan :
1.Resorcinol
2.HCl encer
5.Hidrolisis Sukrosa
Alat :
1.Tabung Reaksi
2.Pipet
3.Gelas Ukur 1000 ml
4.Gelas Ukur 100 ml
Bahan :
1.HCl Pekat
2.Sukrosa
6.Tes Pati dengan Iodium
Alat :
1.Tabung Reaksi
2.Pipet
3.Gelas Ukur 1000 ml
4.Gelas Ukur 100 ml
Bahan :
1.HCl Pekat
2.NaOH Padat
3.1% Pati

V.Pembahasan
Dalam Praktikum I, diperoleh hasil sebagaimana tertera ditabel I
Tabel I
No
Zat Uji
Hasil Uji Molisch
Karbohidrat (+/-)
1.
Glukosa
Terbentuk cincin berwarna ungu
+
2.
Sukrosa
Terbentuk cincin berwarna ungu
+
3.
Arabinosa
Terbentuk cincin berwarna ungu
+

Pada uji molisch, semua zat uji adalah termasuk karbohidrat, hal tersebut dapat dilihat pada terbentuknya cincin berwarna ungu. Reaksi yang berlangsung adalah sebagai berikut :














Rumus dari cincin ungu yang terbentuk adalah sebagai berikut :







Pada uji Benedict, indicator terkandungnya Gula reduksi adalah dengan terbentuknya endapan berwarna merah bata, hal tersebut dikarenakan terbentuknya hasil berupa Cu2O.
Hasil uji pada uji Benedict adalah sebagaimana tertera di tabel 2.
Tabel 2
No.
Zat Uji
Hasil Uji Benedict
Gula Reduksi (+/-)
1.
Pati 1%
Terbentuk warna hijau dan tidak terbentuk endapan
-
2.
Sukrosa 1%
Terbentuk warna biru dan tidak terbentuk endapan
-
VI.
Galaktosa 1%
Terbentuk endapan merah bata
+
VII.
Fruktosa 1%
Terbentuk endapan merah bata
+
VIII.
Glukosa 1%
Terbentuk endapan merah bata
+

Berikut reaksi yang berlangsung :



Hasil uji pada uji Barfoed adalah sebagaimana tertera di tabel 3.
Tabel 3
No.
Zat Uji
Hasil Uji Barfoed
Monosakarida(+/-)
1.
Sukrosa 1%
Tidak terbentuk endapan
-
2.
Laktosa 1%
Tidak terbentuk endapan
-
3.
Fruktosa 1%
Terbentuk endapan merah bata
+
4.
Glukosa 1%
Terbentuk endapan merah bata
+

Pada uji seliwanoff, ketosa terdeteksi pada zat uji fruktosa dengan terbentuknya warna jingga, yaitu karena terbentuknya resorsinol.
Hasil uji pada uji seliwanoff adalah sebagaimana tertera di tabel.
No.
Zat Uji
Hasil Uji Barfoed
Monosakarida(+/-)
1.
Sukrosa 1%
Kuning jingga
-
2.
Fruktosa 1%
Merah jingga
+
3.
Glukosa 1%
Bening
-
4.
1%
Terbentuk endapan merah bata
+

Berikut reaksinya :




Pada uji hidrolisis sukrosa, hidrolisis sempurna apabila menjadi senyawa yang lebih sederhana yang terdeteksi pada perubahan warna. Hal ini terlihat padas perubahan warna setiap tiga menit disertai perbedaan hash hidrolisis pula. Larutan hasil hidrolisis sebelum dilakukan uji Benedict untuk menentukan hasil akhir harus dinetralkan terlebih dahulu, karena semula masih dalam suasana asam.
Pada uji Hidrolisis sukrosa ini dilakukan uji Benedict, Seliwanoff, dan Barfoed supaya dapat mengidentifikasi monosakarida-monosakarida yang terbentuk (glukosa dan fruktosa.
Sementara itu, yang dimaksud dengan gula inverse adalah gula yang dapat memutar bidang polarisasi, karena memiliki gugus aldehida dan keton bebas.
Tabel 5
Uji
Hasil uji
Benedict
Terbentuk Endapan merah bata
Seliwanoff
Terbentuk Merah jingga
Barfoed
Terbentuk endapan merah bata

Pada Uji iodium, pada masing-masing zat uji memiliki indikasi yang berbeda-beda. Dari sepuluh zat uji, amilum, glikogen, dan deskstrin positif polisakarida.
Untuk uji iodium, didapat hasil sebagaimana tertera di tabel 2.
Tabel
Zat Uji
Air
HCl
NaOH
Pati 1%
Cincin biru
Cincin biru
Cincin biru
Pati + I2 panaskan
Putih keruh
jernih
Lar putih


IX.Kesimpulan
1.Amilum, sukrosa, laktosa, galaktosa, fruktosa, glukosa dan arabinosa masing-masing dalam larutan 1%. Terbukti positif karbohidrat
2.Pada laktosa, Galaktosa, Fruktosa, Glukosa, dan Arabinosa terdapat gula inversi yaitu dengan terbentuknya endapan merah bata.
3.Pada Sukrosa dan Laktosa, adalah monosakarida. Sedangkan, Galaktosa, Fruktosa, Glukosa, dan Arabinosa adalah disakarida
4.Pada zat Uji Arabinosa, terdapat pentosa dari uji Barfoed
5.Pada Uji Seliwanof, Ketosa terdapat pada fruktosa
6.Hasil hidrolisis sukrosa adalah monosakarida-monsakarida (glukosa dan freuktosa) yang terdeteksi pada uji Benedict, Seliwanoff, dan Barfoed

X.Daftar Pustaka
Feseenden dan Fessenden. 1997. Dasar-Dasar Kimia Organik. Binarupa Aksara. Jakarta
Jalip, IS. 2008. Praktikum Kimia Organik, Edisi kesatu. Laboratorium Kimia Universitas Nasional. Jakarta

Lipid
I.Prinsip dan Tujuan
1.2Prinsip
a.Berdasarkan kelarutan dari suatu senyawa like disolven like yaitu senyawa yang bersifat polar akan larut dalam pelarut polar, sedangkan senyawa non polar akan larut dalam pelarut non polar
b.Berdasarkan reaksi antara asam lemak (karboksilat) dan gliserol (alcohol) dengan basa maka akan terjadi penyabunan
c.Berdasarkan dehidratasi gliserol oleh KHSO4 anhidrat membentuk senyawa aldehid tidak jenuh atau akrolein yang mempunyai bau khas
2.2Tujuan
a.Menguraikan struktur dan sifat-sifat fisika serta kimia asam lemak dan lemak
b.Menerangkan struktur dan sifat fosfolipiod, sfingolpid dan terpen
c.Menjelaskan struktur, tata nama dan sifat-sifat senyawa yang termasuk golongan steroid
d.Untuk mengetahui derajat kelarutan lemak dalam pelarut air, alcohol, alcohol panas dan chloroform
e.Untuk menuraikan asam lemak menjadi asam lemak

II.Tinjauan Pustaka
Lipid adalah salah satu kelompok senyawa organik yang terdapat dalam tumbuhan, hewan atau manusia dan yang sangat berguna bagi kehidupan manusia. Senyawa yang termasuk lipid mempuyai rumus sruktur yang serupa atau mirip,sifat kimia dan fungsi biologisnya berbeda-beda, tapi walau demikian para ahli mengelompokan lemak dan senyawa organic dalam satu kelompok yaitu lipid.
Lipid dapat diperoleh dari hewan atau tumbuhan denagn cara ekstraksi menggunakan alcohol panas, eter atau pelarut lemak. Macam-mcam senyawa serta kuantitasnya yang diperoleh melalui ekstraksi itu sangat tergantung pada bahan alam sumber lipid yang digunakan.
Senyawa-senyawa yang termasuk lipid ini dapat dibagi dalam beberapa golonga. Ada beberapa cara penggolongan yang dikenal, Bloor embagi lipid dalam tiga golongan besar yaitu :
1Lipid sederhana, yaitu ester asam lemak dengan berbagai alcohol, contohnya lemak atau gliserida dan lilin
2Lipid gabungan yaitu ester asam lemak yang mempunyai gugus tambahan, contohnya fosfolipid, serebroida
3Derivate lipid, yaitu senyawa yang dihasilkan oleh proses hidrolisis lipid,contohnya asam lemak, gliserol dan sterol
Golongan lipid berdasarkan kemiripan struktur kimianya yaitu :
1Asam lemak
2Lemak
3Lilin
4Fosfolipid
5Sfingolipid
6Terpen
7Steroid
8Lipid kompleks
Salah satu kelompok senyawa organik yang terdapat dalam tum­buhan, hewan atau manusia dan yang sangat berguna bagi kehidup­an manusia ialah lipid. Untuk memberikan definisi yang jelas ten­tang lipid sangat sukar, sebab senyawa yang termasuk lipid tidak mempunyai rumus struktur yang serupa atau mirip. Sifat kimia dan fungsi biologinya juga berbeda-beda. Walaupun demikian para ahli biokimia bersepakat bahwa lemak dan senyawa organik yang mempunyai sifat fisika seperti lemak, dimasukkan dalam sate kelompok yang disebut lipid. Adapun sifat fisika yang dimaksud ialah: (1) tidak larut dalam air, tetapi larut dalam satu atau lebih dari satu pelarut organik misalnya eter, aseton, kloroform, benzena yang sering juga disebut “pelarut lemak”; (2) ada hubungan dengan asam-asam lemak atau esternya; (3) mempunyai kemungkinan digunakan oleh makhluk hidup. Kesepakatan ini telah disetujui oleh Kongres Internasional Kimia Murni dan Terapan (International Congress of Pure and Applied Chemistry).
Jadi berdasarkan pada sifat fisika tadi, lipid dapat diperoleh dari hewan atau tumbuhan dengan cara ekstraksi menggunakan alkohol panas, eter atau pelarut lemak yang lain. Macam senyawa-senyawa serta kuantitasnya yang diper­oleh melalui ekstraksi itu sangat tergantung pada bahan alam sumber lipid yang digunakan. Jaringan bawah kulit di sekitar perut, jaringan lemak sekitar ginjal mengandung banyak lipid terutama lemak kira-kira sebesar 90%, dalam jaringan otak atau dalam telur terdapat lipid kira-kira sebesar 7,5 sampai 30%.


Penggolongan
Senyawa-senyawa yang termasuk lipid ini dapat dibagi dalam beberapa golongan. Ada beberapa cara penggolongan yang dikenal. Bloor membagi lipid dalam tiga golongan besar yakni (1) lipid sederhana, yaitu ester asam lemak dengan berbagai alkohol, con­tohnya lemak atau gliserida dan lilin (waxes) ; (2) lipid gabungan yaitu ester asam lemak yang mempunyai gugus tambahan, contoh­nya fosfolipid, serebrosida; (3) derivat lipid, yaitu senyawa yang dihasilkan oleh proses hidrolisis lipid, contohnya asam lemak, gliserol, dan sterol. Di samping itu berdasarkan sifat kimia yang penting, lipid dapat dibagi dalam dua golongan yang besar, yakni lipid yang dapat disabunkan, yakni dapat dihidrolisis dengan basa, contohnya lemak, dan lipid yang tidak dapat disabunkan, contohnya steroid.
Dalam bab ini lipid dibagi dalam beberapa golongan berdasarkan kemiripan struktur kimianya, yaitu: (1) asam lemak: (2) lemak: (3) lilin; (4) fosfolipid; (5) sfingolipid; (6) terpen; (7) steroid; (8) lipid kompleks. Dalam uraian berikut akan dibahas masing-masing golongan terse­but di atas.

III.Prosedur Percobaan
3.1Uji Kelarutan
1.Sediakan 4 tabung reaksi dan tambahlan ke dalamnya :
Tabung 1 : tambahkan 2 ml air
Tabung 2 : tambahkan 2 ml alcohol dingin
Tabung 3 : tambahkan 2 ml alcohol panas
Tabung 4 : tambahkan 2 ml kloroform
Kemudian masukkan ke dalam tiap tabung 0,2 ml minyak goreng.
Kocok hati-hati.
2.Ambil 2-3 tetes dari masing-masing tabung di atas dan teteskan pada kertas saring, noda yang tertinggal pada ketas saring dikeringkan. Adanya noda yang tertinggal pada kertas saring menunjukkan lemak/lipd yang larut dalam pelarut
3.2Hidrolisa Mentega
1.Masukkan 5 gram mentega ke dalam beacker glass kecil lalu tambahkan 35 ml larutan NaOH alkoholis (20% NaOH dalam 40% etil alcohol), tutup dengan kaca arloji dan panaskan di atas air mendidih sampai penyabunan sempurna. Kesempurnaan penyabun an, kemudian masukkan ke dalam tabung reaksi yang berisi air. Bila penyabunan telah sempurna akan diperoleh larutan jernih tanpa tetes minyak pada permukaan.
2.Setelah penyabuan sempurna lalu ditambahkan 10 ml air dan pindahkan ke dalam beacker glass 250 ml. panaskan diatas penangas air mendidih sampai semua alcohol keluat menguap(tidak tercium bau alcohol).
3.Ambil 1 ml larutan sabun pada tahap 2, masukkan ke dalam tabung reaksi, lalu tambahkan 1 ml air dan NaCl padatan hingga jenuh. Apayang terjadi dan jelaskan peristiwa ini.
4.Ambil 1 ml larutan sabun pada tahap 2, masukkan ke dalam tabung reaksi, kocock dan perhatikan pembentukkan busa. Lalu tambahkan1 ml air dan 0,5 ml 0,1 N CaCl2. Perhatikan apakah terjadi endapan ? Jelaskan!
5.Ambil 5 ml larutan sabun pada tahap 2. Tambahkan 2 N H2SO4 (periksa dengan lakmus) hingga asam. Perhatikan pembentukkan bau asam butirat dan asam lemak lainnya yang mudah menguap.

3.3Uji Akrolein
1.Sediakan 3 tabung reaksi yang bersih dan kering, lalu ke dalam masing-masing tabung masukkan 10 tetes olive oil, gliserol atau asam palmitat.
2.Ke dalam masing-masing tabung tambahkan sejumlah volume yang sama KHSO4, lalu dipanaskan pelan-pelan langsung di atas api. Perhatikan bau akrolein yang menusuk hidung.

3.4Uji Lieberman-Burchard untuk Kolesterol
1.Sedikit kolesterol larutkan dalam kloroform sampai larut seluruhnya
2.Tambahkan 10 tetes asam asetat anhidrid dan 2 tetes asam sulfat pekat, kocok perlahan-lehan dan biarkan beberapa menit. Perhatikan perubahan warna

IV.Alat dan Bahan
a)Uji Kelarutan
Alat :
1.Tabung reaksi
2.Penangas air
3.Kassa
4.Bunzen
5.Kertas saring
Bahan :
1.Minyak kelapa
2.Kloroform
3.Alcohol
4.Air
b)Hidrolisa mentega
Alat :
1.Beacker glass
2.Kaca arloji
3.Penangas air
4.Kertas lakmus
Bahan :
1.NaOH
2.Etil alcohol
3.CaCl2
4.H2SO4
c)Uji Akrolein
Alat :
1.Tabung reaksi
2.Pemanas Bunsen
Bahan :
1.Gliserol
2.Olive oil
3.Asam palmitat
4.KHSO4
d)Uji Lieberman-Burchard untuk kolesterol
Alat :
1.Beacker glass
2.Tabung reaksi
Bahan :
1.Kolesterol
2.Asam asetat anhidrid
3.H2SO4

V.Pembahasan
a.Tabel Hasil Uji Kelarutan Lipida (sampel minyak goreng)
Bahan
Tabung 1
Tabung 2
Tabung 3
Tabung 4
Air
2 mL
--
--
--
Alkohol dingin
--
2 mL
--
--
Alkohol panas
--
--
2 mL
--
Kloroform
--
--
--
2 mL
Minyak goreng
0,2 mL
0,2 mL
2 mL
0,2 mL
Hasil
Tidak larut
Terbentuk emulsi
Larut
Larut
Lipida larut dalam kloroform karena merupakan pelarut organic. Sedangkan pada alcohol 96% terbentuk emulsi dan larutan tampak sedikit larut. Pada aquadestilata larut dan terbentuk emulsi.

b.Hasil hidrolisa mentega
No
Hasil
1.

2.
3.
4.
5.
a. Sample + NaOH, dipanaskan  penyabunan
b. 1 tetes larutan + 1 ml air  jernih
lar sabun + 10 ml air, panaskan  tidak tercium bau alcohol
1 ml lar sabun + 1 ml air + 0,5 ml CaCl2  endapan putih
1 ml lar sabun + 1 ml air + NaCl padatan  endapan putih
5 ml lar sabun + H2SO4 hingga asam (lakmus biru menjadi merah, bau asam khas)

c.Hasil Uji akrolein
Pereaksi
Olive oil
Gliserol
KHSO4
Bau menusuk
Tidak menimbulkan bau

d.Hasil uji Lieberman – Burchard
Kolestrol  kuning
Kolestrol + kloroform  kuning
Kolestrol + Kloroform + anhidrid  ungu
Kolestrol + kloroform + anhidrid +H2SO4  hitam

VI.Kesimpulan
1.Pada lipida yang terkadung di minyak kelapa dapat membentuk noda semi transparan pada kertas.
2.Lipida last pada ester dan kloroform. Sedangkan, pada akuadestilata, dan alkohol tidak larut. Pada alkohol terbentuk emulsi.
3.Lipida tidak larut pada akuadestilata, larutan sabun, larutan protein, dan terbentuk emulsi hanya pada larutan sabun dan larutan empedu.

VII.Daftar Pustaka
Jalip, LS. 2008. Penuntun Praktikum Kimia Organik. Laboratorium Kimia Fakultas Biologi
Universitas Nasional. Jakarta.
Robinson, Trevor. 1995. Kandungan Organik Tumbuhan Tinggi. Penerbit ITB. Bandung

Protein
I.Prinsip dan Tujuan
I.1 Prinsip
a.Berdasarkan reaksi antara protein asam amino fenolik dengan larutan merkuri dalam asam nitrat akan terjadi endapan putih dan dapat berubah merah jika dipanaskan
b.Berdasarkan reaksi antara asam amino dengan ninhidrin disertai dengan pembebasan Co2 + ammonia menghasilkan senyawa yang berwarna biru
c.Berdasarkan reaksi pembentukan kompleks Cu2+ dengan gugus CO-NH (reaksi biuret) dan rantai peptide dalam suasana basa membentuk warna ungu /violet
I.2 Tujuan
a.Menentukan protein dari golongan asam asam amino fenolik seperti tirosin
b.Untuk mengetahui adanya asam amino bebas dari pembentukan senyawa aldehid disertai dengan pembebasan CO2 + NH3
c.Untuk menentukan dua atau lebih ikatan peptide pada protein

II.Tinjauan Pustaka
Protein berasal dari protos atau proteos yang berarti pertama atau utama. Protein merupakan komponen penting sel hewan dan manusia. Oleh karena sel itu merupakan pembentuk tubuh, maka potein yang terdapat dalam makanan berfungsi sebagai zat utama dalam pembentukan dan pertumbuhan
Kita memperoleh protein dari makanan yang berasal dari hewan atau tumbuhan. Protein yang berasal dari hewan disebut protein hewani, sedangkan yang berasal dari tumbuhan disebut potein nabati. Tumbuhan membentuk protein dari CO2, H2O dan senyawa nitrogen. Protein digunakan sebagai sumber pembentukan sel-sel tubuh dan sebagai sumber energy apabila tubuh kita kekurangan karbohidrat dan lemak. Komposisi rata-rata unsure kimia yang terdapat dalam protein yaitu Karbon 50%, hodrogen 7%, oksigen 23%, nitrogen 16%
Kata protein berasal dari protos atau proteos yang berarti pertama atau utama. Protein merupakan komponen penting atau komponen utama sel hewan atau manusia. Oleh karena sel itu merupakan pembentuk tubuh kita, maka protein yang terdapat dalam makanan berfungsi sebagai zat utama dalam pembentukan dan pertumbuhan tubuh.
Dalam kehidupan protein memegang peranan yang penting pula. Proses kimia dalam tubuh dapat berlangsung dengan baik karena adanya enzim, suatu protein yang berfungsi sebagai biokatalis. Di samping itu hemoglobin dalam butir-butir darah merah atau eritrosit yang berfungsi sebagai pengangkut oksigen dari paru-paru ke selu­ruh bagian tubuh, adalah salah satu jenis protein. Demikian pula zat­-zat yang berperan untuk melawan bakteri penyakit atau yang disebut antigen, juga suatu protein. Peranan protein dalam tubuh akan di­bahas dalam bab-bab yang berhubungan dengan hal tersebut.
Kita memperoleh protein dari makanan yang berasal dari hewan atau tumbuhan. Protein yang berasal dari hewan disebut protein hewani, sedangkan yang berasal dari tumbuhan disebut protein nabati. Beberapa makanan sumber protein ialah daging. telur. susu, ikan, beras, kacang, kedelai, gandum, jagung, dan buah-buahan. Beberapa bahan makanan yang mengandung protein serta kadar proteinnya dapat dilihat pada Tabel 4-1.
Tumbuhan membentuk protein dari CO2H2O dan senyawa nitrogen. Hewan yang makan tumbuhan mengubah protein nabati menjadi protein hewani. Di samping digunakan untuk pembentukan.
Tabel 4-1. Bahan makanan Sumber Protein
Nama Bahan Makanan
Kadar Protein (%)
Daging ayam
18,2
Daging sapi
18,8
Telur ayam
12,8
Susu sapi segar
3,2
Keju
22,8
Bandeng
20,0
Udang segar
21,0
Kerang
8,0
Beras tumbuk merah
7,9
Beras giling
6,8
Kacang hijau
22,2
Kedelai basah
30,2
Tepung terigu
7,9
Jagung kuning (butir)
8,9
Pisang ambon
Durian
1,2
2,5

Sumber: Daftar komposisi Bahan Makanan. Penerbit Bhratara. Jakarta.1981

Sel-sel tubuh, protein juga dapat digunakan sebagai sumber energi apabila tubuh kita kekurangan karbohidrat dan lemak. Komposisi rata-rata unsur kimia yang terdapat dalam protein ialah sebagai berikut: Karbon 50%, hidrogen 7%, oksigen 23%, nitrogen 16%, belerang 0-3%, dan fosfor 0-3%. Dengan berpedoman pada kadar nitrogen sebesar 16%, dapat dilakukan penentuan kandungan protein dalam suatu bahan makanan. Unsur nitrogen ditentukan secara kuantitatif. misalnva dengan cara Kjeldahl. yaitu dengan cara destruksi dengan asam pekat. Berat protein yang ditentukan ialah 6,75 kali berat unsur nitrogen.
Protein mempunyai molekul besar dengan bobot molekul berva­riasi antara 5000 sampai jutaan. Dengan cara hidrolisis oleh asam atau oleh enzim, protein akan menghasilkan asatn-asam amino. Ada 20 jenis asam amino yang terdapat dalam molekul protein. Asam-­asam amino ini terikat satu dengan lain oleh ikatan peptida. Protein mudah dipengaruhi oleh suhu tinggi, pH dan pelarut organik.

Asam-asam Amino
Asam amino ialah asam karboksilat yang mempunyai gugus amino. Asam amino yang terdapat sebagai komponen protein mempunyai gugus -NH2 pada atom karbon a dari posisi gugus -COOH.
Rumus umum untuk asam amino ialah

R-CH-COOH

NH2

Struktur
Dari rumus umum tersebut dapat dilihat bahwa atom karbon a ialah atom karbon asimetrik, kecuali bila R ialah atom H. Oleh karena itu asam amino juga mempunyai sifat memutar bidang cahaya terpolarisasi atau aktivitas optik. Rumus molekul dapat digambarkan dengan model bola dan batang atau dengan rumus proyeksi Fischer. Oleh karena atom karbon itu asimetrik, maka molekul asam amino mempunyai dua konfigurasi D dan L. Hal ini dapat dibandingkan dengan konfigurasi molekul monosakarida.














Molekul asam amino dikatakan mempunyai konfigurasi L, apabila gugus -NH2 terdapat di sebelah kiri atom karbon a. Bila posisi gugus -NH, di sebelah kanan, motekul asam amino itu mempunyai konfigurasi D. Hal ini seperti konfigurasi D-gliseraldehida yang mempunyai gugus -OH di sebelah kanan atom karbon asimetrik. Dalam hal ini gugus -COOH pada molekui asam amino ditempatkan di sebelah atas seperti posisi gugus -CHO pada molekul gliseraldehida. Asam-asam amino yang terdapat pada protein umumnya mempunyai konfigurasi L. Asam amino yang mempunyai konfigurasi D dapat diperoleh dari organisme mikro, misalnya D­alam glutamat dari bacillus anthracis, D-alanin terdapat pula dalam dinding sel- bakteri. D-asam amino dapat pula diperoleh sebagai hasil hidrolisis antibiotik gramisidin atau basitrasin. Konfigurasi asam amino tidak ada hubungannya dengan arah putaran cahaya terpolarisasi.

Sifat-sifat Asam Amino
Pada umumnya asam amino larut dalam air dan tidak larut dalam pelarut organik non polar seperti eter, aseton dan kloroform. Sifat asam amino ini berbeda dengan asam karboksilat maupun dengan sifat amina. Asam karboksilat alifatik maupun aromatik yang terdiri atas beberapa atom karbon umumnya kurang larut dalam air. tetapi larut dalam pelarut organik. Demikian pula amina pada umumnya tidak larut dalam air, tetapi larut datam pelarut organic.
Perbedaan sifat antara asam amino dengan asam karboksilat dan amina terlihat pula pada titik lebumya. Asam amino mempunyai titik lebur yang lebih tinggi bila dibandingkan dengan asam karboksilat atau amina. Kedua sifat fisika ini menunjukkan bahwa asam amino cenderung mempunyai struktur yang bermuatan dan mempunyai polaritas tinggi dan bukan sekedar senyawa yang mempunyai gugus -COOH dan gugus -NH2 Hal ini tampak pula pada sifat asam amino sebagai elektrolit.
Apabila asam amino larut dalam air, gugus karboksilat akan melepaskan ion H+, sedangkan gugus amina akan menerima ion H+ sebagaimana dituliskan di bawah ini.




Oleh adanya kedua gugus tersebut asam amino dalam larutan dapat membentuk ion yang bermuatan positif dan juga bermuatan




Negatif (zwitterion) atau ion amfoter. Keadaan ion ini sangat tergan­tung pada pH larutan. Apabila larutan asam amino dalam air ditambah dengan basa, maka asam amino akan terdapat dalan: ben­tuk (I) karena konsentrasi ion OH- yang tinggi mampu mengikat ion-ion H+ yang terdapat pada gugus -NH3+.





Sebaliknya apabila ditambahkan asam ke dalam larutan asam amino, maka konsentrasi ion H+ yang tinggi mampu berikatan dengan ion -COO-, sehingga terbentuk gugus -COOH. Dengan demikian asam amino terdapat dalam bentuk (II).
Dalam suatu sistem elektroforesis yang mempunyai elektroda positif dan negatif, asam amino akan bergerak menuju elektroda yang berlawanan dengan muatan ion asam amino yang terdapat dalam larutan. Oleh karena muatan ion itu tergantung pada pH larutan, maka pH larutan dapat diatur sedemikian rupa, sehingga ion asam amino tidak bergerak ke arah elektroda positif maupun negatif dalam sistem elektroforesis. pH yang demikian ini disebut titik isolistrik. Dari Tabel 4-2 di bawah ini terlihat bahwa titik isolistrik beberapa asam amino berbeda-beda besarnva.

Tabel 4-2. Titik Isolistrik Asam Amino
Asam Amino
Titik Isolistrik
Algnin
6,00
Arginin
10,76
Asam aspartat
2,77
Asam glutamat
3.22
Glisin
5.97
Histidin
7,59
Leusin
5,98
Lisin
9,74
Fenilalanin
5,48
Prolin
6,30
Serin
5,68
Triptofan
5,89
Tirosin
5,66
Valin
5,96
Sumber : Onen, J.M. & O.W. Neuhaus, Biochemistry, edisi ke-8.
Pada titik isolistrik terdapat keseimbangan antara bentuk-bentuk asam -amino sebagai ion amfoter, anion dan kation. Tetapi sebagian besar molekul asam amino terdapat dalam bentuk ion amfoter dan hanya sedikit sekali yang terdapat dalam bentuk kation dan anion dalam jumlah yang sama.

III.Prosedur Percobaan
3.1 Uji Millon
1.Taruh sedikit serbuk albumin di atas keeping tetes, tambahkan beberapa tetes reagen millon, aduk baik-baik. Biarkan beberapa lam dan perhatikan warna merah yang terjadi. Ulangi percobaan ini dengan serbuk kasein dan gelatin
2.ke dalam 2 ml larutan 2% albumin dalam tabung reaksi baik hingga terbentuk endapan putih. Panaskan hati-hati hingga mulai timbul warna merah yang berarti reaksi miloon positif. Ulangi percobaan ini untuk larutan kasein dan gelatin
3.ke dalam 2 ml larutan 2% fenol tambahkan beberapa tetes pereaksi Millon kemudian panaskan hati-hati dan amati hasilnya.

3.2Uji Ninhidrin
1.Ke dalam 0,1 ml larutan 2% albumin tambahkan 1 ml 0,1 N larutan buffer asam asetat PH 5 dan kemudian tambahkan 20 tetes larutan ninhidrin dalam aseton
2.Panaskan campuran tersebut diatas dalam penangas air mendidih selama beberapa menit, perhatikan warna yang terjadi.

3.3UJI Biuret
1.Ke dalam tabung reaksi tambahkan 1 ml 2% albumi dan 1 ml CuSO4 sampai terbentuk warna ungu.
2.Ke dalam tabung reaksi masukkan urea sedikit dan panaskan hingga melebur. Dinginkan dan perhatikan baunya. Larutkan urea yang telah dingin tersebut di atas dengan air, kemudian lakukan reaksi biuret seperti cara (1).

3.4 Titik Isoelektrik Protein
1.Ke dalam 5 tabung reaksi masing-masing tambahkan 5 ml larutan 0,5% kasein. Selanjutnya pada kelima tabung tersebut tambahkan masing-masing buffer asetat pH 6.0,5.3,5.0,4.1, dan 3.8.
2.Kocok campuran baik-baik serta catat derajat kekeruhan setelah 0 menit, 10 menit, dan 30 menit.
3.Setelah 30menit kelima tabung diatas dipanaskan dalam penagas air mendidih selam 30 menit. Pembentukkan endapan/kekeruhan paling cepat terjadi dekat titik isoelektrik larutan protein. Pehatikan apa yang terjadi dan catat

IV.Alat dan Bahan
a.Uji Millon
Alat :
1.Tabung reaksi
2.Batang pengaduk
3.Gelas ukur
Bahan :
1.Merkuri
2.Asam nitrat pekat
3.Albumin
4.Fenol
b.Uji Ninhidrin
Alat :
1.Tabung reaksi
2.Batang pengaduk
3.Gelas ukur
c.Uji Biuret
Bahan :
1.Asam asetat
2.Natrium asetat
3.Ninhidrin
4.2 % Albumin
d.Titik Isoelektrik Protein
Alat :
1.Tabung reaksi
2.Batang pengaduk
3.Gelas ukur
Bahan :
1.Buffer Asetat pH 6
2.Buffer Asetat pH 6
3.Buffer Asetat pH 6
4.Buffer Asetat pH 6
5.Buffer Asetat pH 6
6.0,5 % Kasein

V.Pembahasan
A.Uji Millon
No
Zat Uji
Pereaksi Millon
1
- Albumin Padatan
- Kasein padatan
- Gelatin padatan
- Endapan warna merah bata
- Lautan kental (tercampur)
- Larutan tidak tercampur berwarna kuning
2
- Albumin padatan
- Kasein padatan
- Gelatin padatan
- Endapan putih, setelah dipanaskan  lar merah
- Endapan putih, setelah dipanaskan  endapan putih tipis
- Merah, setelah dipanaskan  endapan merah, larutan keruh
3
- Padatan
- Putih jernih, setelah dipanaskan  endapan merah, lar putih keruh

B.Uji Ninhidrin
No.
Zat Uji
Hasil Uji Ninhidrin
Asam Amino bebas (+/-)
1
Albumin 2%
Berwarna Ungu
+

Asam amino bebas adalah asam amino dimana gugus aminonya tidak terikat. Pada praktikum diatas, albumin, gelatin, dan fenilanalina membentuk warna ungu karena dapat bereaksi dengan Ninhidrin. Hal ini menandakan ketiga zat uji tersebut mempunyai gugus asam amino bebas.
Sebaliknya, pada kasein dan pepton tidak diperoleh indikasi terbentuk atau adanya asam amino bebas. karena reaksi dengan ninhidrin tidak berwarna sampai membentuk wama merah muda. Semakin banyak ninhidrin pada zat uji yang dapat bereaksi, semakin pekat warnanya. Hal ini juga mendasari bahwa uji Ninhidrin dapat digunakan untuk menentukan asam amino secara kuantitatif.

C.Uji Penentuan Titik Isoelektrik Protein
No Tabung
pH
Pengamatan Endapan, sedikit atau banyak
1
3,8
0; Endapan Banyak
10; Endapan Banyak
30; Endapan Banyak
2
4,7
0; Endapan Sedikit
10; Endapan Sedikit
30; Endapan Sedikit
3
5,0
0; Tidak ada
10; Tidak ada
30; Tidak ada
4
5,9
0; Tidak ada
10; Tidak ada
30; Tidak ada
Setelah dipanaskan, hasilnya sama dengan hasil semula

Pada praktikum di atas, semaikn kecil pH buffer asetatnya, semakin banyak endapannya. Karena pH yang kecil dan banyak membentuk endapan berarti selisih muatan listriknya antara yang positif dan negatif sama. Sehingga, tidak dapat bergerak dan membantuk endapan atau warna keruh. Jadi, pada pH 3,8 dan 4.7 sebagai dua pH terkecil dapat membentuk endapan, karena terbentuk muatan negatif dan positif yang sama.




VI.Kesimpulan
a.Albumin, Gelatin, Kasein positif Polipetida. Sedangkan, Glisin negatif.
b.Pada Albumin, Geltain, terdapat asam amino bebas. Sedangkan Kasein tidak.
c.Pada Albumin inti asam aminonya berupa benzena. Sedangkan Gelatin dan Kasein tidak.
d.Protein (Albumin dan Gelatin) larut pada aquadestilata. HCl 10 %, dan alkohol 96%. Dan tidak larut pada NaOH 40 % dan kloroform.
e.Semakin kecil pH Buffer asetat pada uji Isoelektrik, semakin banyak endapan yang terbentuk.

VII.Daftar Pustaka
Jalip, LS. 2008. Penuntun Praktikum Kimia Organik. Laboratorium Kimia Fakultas Biologi
Universitas Nasional. Jakarta.
Robinson, Trevor. 1995. Kandungan Organik Tumbuhan Tinggi. Penerbit ITB. Bandung