Selamat Datang di X3-PRIMA, Melayani Setulus Hati, Memberikan yang terbaik

9.5.09

Pendidikan

BAB I
PENDAHULUAN


1.1 Latar Belakang Penelitian

Di era globalisasi sekarang ini perkembangan pendidikan belum mampu menampung aspirasi dan tuntutan masyarakat secara keseluruhan sehingga menimbulkan fenomena rendahnya profesionalisme guru. Perubahan sistem pendidikan mengharuskan guru mampu meningkatkan kemampuan/kompetensi sesuai dengan perkembangan di lapangan dengan tetap memperhatikan kapasitas kelembagaan.

Bersamaan dengan tuntutan perkembangan jaman pada dewasa ini, peran institusi pendidikan sebagai salah satu sarana dalam mewujudkan tujuan di atas semakin mengemuka. Besarnya tuntutan kebutuhan, baik kuantitas maupun kualitas, terhadap sumberdaya manusia telah mendorong berbagai pihak untuk ikut andil secara aktif di bidang pendidikan, termasuk di dalamnya pendidikan menengah. Kondisi ini pada akhirnya telah mendorong timbulnya kesejajaran peran antara pernerintah dan pihak swasta dalam mengelola sistem pendidikan, hares melakukannya secara bersama-sama.

Undang-Undang nomor 2 tahun 1989 yang direvisi menjadi Undang­Undang nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, adalah pedornan penyelenggaraan pendidikan, baik yang diselenggarakan oleh pernerintah maupun oleh masyarakat atau swasta. Sekolah sebagai organisasi publik yang bertujuan memberikan pelayanan dan pemenuhan kebutuhan masyarakat dalarn bidang pendidikan, selain mernerlukan sarana prasarana


pendukung yang memadai, seperti pegawai yang melaksanakan tujuan organisasi, sekolah sebagai salah satu sumberdaya organisasi sangatlah penting.

Sebagai bagian dari sistem pendidikan nasional, Sekolah Menengah Atas merupakan institusi yang peranannya melayani kebutuhan masyarakat dalam bidang pendidikan tingkat menengah atas. Dapertemen Pendidikan Nasional dalam hal ini Menteri Pendidikan Nasional telah mengeluarkan kebijakan tentang Petunjuk Pelaksanaan (JUKLAK) nomor : 0489/U/1992 tentang Sekolah Menengah Atas, dengan tujuan untuk :

1. Meningkatkan pengetahuan siswa untuk melanjutkan pendidikan pada jenjang yang lebih tinggi clan untuk mengembangkan diri sejalan dengan pengembangan ilmu pengetahuan, teknologi, clan kesenian.

2. Meningkatkan kemampuan siswa sebagai anggota masyarakat dalam mengadakan hubungan timbal balik dengan lingkungan sosial, budaya clan alam sekitar.

Keberhasilan pendidikan ditentukan oleh kualitas clan kinerja gurunya. dengan didukung sumber daya yang lain terutama motivasi dari pimpinan yang akan menjadi pendorong tercapainya tujuan organisasi yang efektif dan optimal.

Manusia sebagai mahluk sosial tidak dapat hidup sendiri, saling tergantung clan membutuhkan serta belajar dari pengalaman masing-masing agar tercipta kemampuan diri melalui daya kompetensi. Kompetensi dimaksud kemampuan yang ada pada diri seseorang untuk memenuhi harapan yang diinginkan bagi terciptanya persaingan sehat setiap orang dalam kehidupan berorganisasi, sehingga terciptanya prestasi dari keterampilannya.


Berdasarkan pengamatan sementara peneliti pada Sekolah Menengah Atas Pasundan se Kota Bandung, permasalahan yang berkaitan dengan kompetensi guru sebagai salah satu yang menentukan keberhasilan organisasi dalam mencapai tujuannya belum optimal. Indikasi-indikasi permasalahan yang ditemukan terkait dengan masih rendahnya kompetensi guru yang dimunculkan sebagai berikut : 1. Rencana kerja pengajaran belum sepenuhnya dilaksanakan oleh para guru,

dalam penyusunan program sekolah. Contoh : 35 % guru dalam penyusunan

satuan pelajaran tidak memperhatikan program kerja semester, program kerja

bulanan dan program kerja mingguan.

2. Prosedur mengajar belum sepenuhnya dijalankan sehingga proses belajar mengajar dan keberhasilan siswa kurang optimal. Contoh : 65 % siswa tidak memahami pelajaran yang disampaikan oleh guru, karena guru tidak berupaya memahami psikologis anak didik.

3. Hubungan antar pribadi, antara guru clan siswa belum didasarkan pada peran dan fungsinya masing-masing, sehingga para siswa kurang dapat mengikuti pelajaran yang disampaikan oleh guru. Contoh : 35 % guru masih mengedepankan hubungan formal dibanding hubungan informal sehingga siswa memilih keluar kelas atau tidak masuk sekolah karena tidak menyenangi pelajaran yang disampaikan oleh guru tertentu.

Atas dasar indikator-indikator permasalan tersebut di atas, diduga

kurangnya motivasi dari kepala sekolah sebagai penyebab rendahnya kompetensi

guru Sekolah Menengah Atas Pasundan se Kota Bandung yang meliputi hal-hal

sebagai berikut :


1. Kepala sekolah kurang berani dalam pengambilan resiko dari bawahannya, mengakibatkan guru kurang memiliki keberanian untuk berinovasi dalam meningkatkan prestasi kerjanya. Contoh : tidak diberikannya rekomendasi kepada guru yang melakukan inovasi dalam memberikan pelajaran.

2. Kepala sekolah kurang dalam memberikan dorongan semangat kerja pada bawahannya, mengakibatkan guru kurang memiliki rasa tanggung jawab yang penuh terhadap pekerjaannya. Contoh : sekolah memberikan tugas kepada guru tidak tepat/sesuai dengan kemampuannya.

3. Kepala sekolah kurang memperhatikan hasil pekerjaan dari bawahannya, mengakibatkan pelaksanaan kerja guru lebih cenderung pada pendekatan proses bukan pada hasil/prestasi kerja. Contoh : sekolah tidak memberikan penilaian terhadap tugas apa yang telah dilaksanakan oleh guru.

4. Kepala sekolah kurang memperhatikan kebutuhan dari para guru sehingga guru kurang semangat dalam bekerja. Contoh : sekolah belum mampu menyesuaikan pendapatan guru setiap bulannya.

5. Kepala sekolah kurang menghargai prestasi dari para guru sehingga para guru

enggan untuk berkecimpung dalam kegiatan. Contoh : sekolah hanya

menugaskan kepada guru yang loyal kepada kepala sekolah saja.

Berdasarkan uraian di atas, dapatlah dipahami bahwa motivasi merupakan faktor yang perlu mendapat perhatian dalam rangka meningkatkan kompetensi guru Sekolah Menengah Atas Pasundan se Kota Bandung. Oleh karena itu, peneliti merasa tertarik untuk mencoba melakukan penelitian yang lebih mendalarn dengan judul : Pengaruh Motivasi terhadap Kompetensi Guru di Sekolah Menengah Atas Pasundan se Kota Bandung.


1.2 Identifikasi masalah

Berdasarkan uraian di atas, Pernyataan masalah (problem statement) dalam penelitian ini adalah Kompetensi Guru di Sekolah Menengah Atas Pasundan se Kota Bandung masih rendah. Rendahnya kompetensi guru Sekolah Menengah Atas Pasundan se Kota Bandung diduga disebabkan kepala sekolah belum mampu memberikan motivasi kepada para gurunya, maka perumusan penelitian dapat diidentifikasikan masalah sebagai berikut :

1. Berapa besar Pengaruh Motivasi secara simultan terhadap Kompetensi Guru Sekolah Menengah Atas Pasundan se Kota Bandung ?

2. Berapa besar Pengaruh Motivasi secara parsial terhadap Kompetensi Guru Sekolah Menengah Atas Pasundan se Kota Bandung ?


1.3 Maksud dan Tujuan penelitian

1.3.1 Maksud Penelitian

Maksud penelitian ialah untuk melengkapi dan memperoleh data-data valid dan reliabel, dalam upaya mengetahui seberapa besar pengaruh dari Motivasi terhadap peningkatan Kompetensi Guru Sekolah Menengah Atas Pasundan se Kota Bandung dan hambatan-hambatan yang dihadapi dalam pemberian motivasi serta apa upaya-upaya yang dilakukan untuk menghadapi hal-hal tersebut sebagaimana disebutkan dalam teoti-teori yang dikemukakan oleh para ahli sebagai referensi dalam penulisan skripsi.


1.3.2 Tujuan Penelitian

Adapun tujuan penelitian yang dilakukan adalah :

1. Untuk mengembangkan konsep mengenai Pengaruh Motivasi terhadap Kompetensi Guru Sekolah Menengah Atas Pasundan se Kota Bandung.

2. Untuk menerapkan konsep pengaruh Motivasi secara teoritis dalam memecahkan masalah Kompetensi Guru di Sekolah Menengah Atas Pasundan se Kota Bandung.


1.4 Kegunaan penelitian

Peneliti mengharapkan hasil penelitian ini memperoleh beberapa hasil

manfaat dan kegunaan baik segi teoritis maupun praktis.

1. Secara teoritis diharapkan mahasiswa dapat mengembangkan khasanah keilmuan, khususnya Ilmu Administrasi Negara yang berkaitan dengan Pengaruh Motivasi terhadap Kompetensi Guru Sekolah Menengah Atas Pasundan se Kota Bandung.

2. Kegunaan praktis, diharapkan dapat bermanfaat dan menjadi sumbangsih bagi pengembangan Kompetensi Guru di Sekolah Menengah Atas Pasundan se Kota Bandung, terutama yang menyangkut masalah Motivasi dan Kompetensi Guru


1.5 Kerangka Pemikiran

Kerangka pemikiran adalah titik tolak suatu landasan untuk membahas dan memecahkan masalah yang ada didalamnya. Landasan teori yang dijadikan acuan pada penelitian ini seperti pendapat yang dikemukakan Atmadilaga dalam Sutisnawidjaja (1999:20) menyatakan bahwa :


Yang dimaksud dengan kerangka pemikiran ialah justifikasi landasan ilmiah yang didukung oleh kemampuan peneliti dalam meramu dan menganalisis teori yang berlaku serta informasi penunjang dari berbagai sumber, dalam rangka menyusun pemikiran baru sebagaimana tercermin dalam hipotesis yang diajukan.


Motivasi merupakan kegiatan yang mengakibatkan, menyalurkan, dan memelihara perilaku manusia. Motivasi sangat diperlukan dan dilaksanakan oleh pimpinan, karena motivasi merupakan pendorong untuk lebih meningkatkan kompetensi guru dalam melaksanakan proses belajar mengajar agar dapat tercapai tujuan yang telah ditetapkan. Sistem imbalan yang layak dapat mengubah perilaku dan motivasi. Oleh karenanya sistem imbalan yang efektif harus cukup adil dan (ayak bagi tingkat kebutuhan individu.


Vance dalam Danim (2004:15) mengemukakan bahwa : pada hakikatnya motivasi adalah perasaan untuk keinginan seseorang yang berada dan bekerja pada kondisi tertentu untuk melaksanakan tindakan-tindakan yang menguntungkan dilihat dari perspektif pribadi dan terutama organisasi. " Kekuatan kompleks yang membuat seseorang berkeinginan memulai dan menjaga kondisi kerja dalam organisasi". Dubin dalam Danim (2004:15). Uraian di atas memberikan pengertian bahwa motivasi merupakan sebuah kekuatan yang muncul dalam diri individu untuk mencapai tujuan dan keuntungan tertentu di lingkungan dunia kerja atau di pelataran kehidupan pada umumnya. Robbins terjemahan Udaya (1996:223) menyatakan bahwa : " teori harapan keadilan maupun penguatan mengakui bahwa uang merupakan motivasi yang mempengaruhi terhadap perilaku pegawai ". Uang selain memiliki nilai ekonomis sebagai alat tukar yang dapat memenuhi kebutuhan pokok, juga memiliki nilai yang menunjukkan status seseorang dilingkungannya, melalui sistern imbalan


intrinsik. Imbalan intrinsik merupakan imbalan non finansial sebagai bagian dari pekerjaan itu sendiri (the work it self). Berbagai literatur menunjukkan bahwa imbalan intrinsik dipandang cenderung lebih memotivasi pegawai dalam melakukan aktivitas kerja. Gibson et.al dalam Wahid (1994:176-177) mengidentifikasikan imbalan intrinsik di atas :


1. Task Completion (penyelesaian tugas) : yakni kesempatan untuk menerima dan menyelesaikan pekerjaan.

2. Achievement (pencapaian prestasi): adanya tujuan yang menantang (Challenging goal) akan menimbulkan prestasi individu yang tinggi.

3. Autonomy (otonomi) : pemberian kebebasan pada pegawai untuk melaku::an yang terbaik dalam melaksanakan tugas tanpa diawasi secara ketat pada situasi-situasi tertentu.

4. Personal grouwth (pertumbuhan pribadi) : pemberian kesempatan untuk pengembangan keahlian yang memungkinkan pegawai memaksimalkan potensi.


Herzberg et.al, dalam Hani Handoko.(2003:259) mengatakan bahwa " faktor-faktor yang mempengaruhi kerja seseorang dalam organisasi. 1. faktor penyebab kepuasan kerja (job satisfaction) mempunyai pengaruh pendorong bagi prestasi dan semangat kerja yang disebut "Motivators" dan faktor-faktor penyebab ketidakpuasan kerja (job dissatisfaction) mempunyai pengaruh negatif. Faktor penyebab Ketidakpuasan (yang disebut faktor "hygiene factors") Dua faktor yang berbeda teori ini disebut Two-Factory Theory (teori dua faktor) termasuk gaji, kondisi kerja, dan kebijakan perusahaan termasuk prestasi, pengakuan, tanggung jawab dan kemajuan semuanya berkaitan dengan isi pekerjaan dan imbalan prestasi kerja.


Perilaku individu atau kelompok kerja dalam sebuah organisasi sangat memberi warna terhadap gaya kerja organisasi secara keseluruhan. Kepala sekolah adalah seorang administrator hendaknya mampu memberikan motivasi


dan mengkoordinasikan perilaku tugas-tugas guru agar mereka dapat bekerja sesuai dengan tujuan-tujuan sekolah, khususnya penyelenggaraan pendidikan dan pembelajaran bagi anak didik.


Berdasarkan pada pendapat Herzberg et.al, dalam Hani Handoko.(2003:259) tersebut, peneliti beranggapan bahwa dimensi-dimensi motivasi ini akan membantu merubah pola pikir kepala sekolah khususnya Sekolah Pasundan dalam memotivasi para gurunya dalam meningkatkan kompetensi sehingga pendapat ini dijadikan variabel bebas pada penelitian ini.


Berkaitan dengan kompetensi adalah elemen yang membentuk pelayanan yang unsur utamanya adalah individu-individu sebagaimana yang dikemukakan oleh George dalam Prihadi (2004:62) ditenggarai sebagai kompetensi, meniru asal kata bahasa latin" copetentia " yang berarti kesesuaian. Dreher dalam Prihadi (2004:27) selanjutnya menyatakan bahwa :


Kata-kata kompetensi kini mulai sering dipergunakan untuk merefleksikan kemampuan seseorang pada bidang-bidang tertentu seperti komunikasi verbal, keterampilan presentasi, pengetahuan teknis, pengendalian stress, kemampuan perencanaan clan kemampuan serta keterampilan pengambilan keputusan.


Pendidikan merupakan syarat mutlak bagi terciptanya sumberdaya yang kompeten di bidangnya, hal ini dimungkinkan karena dengan semakin bertambahnya pengetahuan clan keterampilan serta wawasan yang diperoleh terutama dalam pendidikan formal, maka semakin meningkat produktivitas seseorang dalam bekerja. Guy dan Cole dalam Hamalik (1992:32) mengemukakan bahwa :


Melalui pendidikan ini memungkinkan seseorang mengembangkan keterampilan berfikir atau daya nalar yang dapat mengasimilasikan informasi baru dengan lebih mudah ke dalam pengetahuan yang telah


dimilikinya, clan hal ini memudahkan untuk belajar sekaligus mengajar.


Dan selanjutnya Hamalik (1992:35) mengatakan bahwa : Pendidikan di sekolah juga mengembangkan kemampuan individu dalam menjabarkan clan membuat inferensi dari ranah-ranah pengetahuan yang belum dikenal. Keterampilan kognitif yang merupakan hasil belajar bersifat logis ditempatkan dalam keterampilan pemecahan masalah yang dituntut dari pengalaman­pengalaman sosial yang tidak selalu tunduk kepada aturan-aturan hukum. Pendidikan formal maupun non formal adalah suatu kebutuhan untuk mengembangkan kernampuan dari tenaga edukatif sesuai dengan kapasitasnya sebagi guru dengan kewajibannya mentransformasikan ilmu, pengetahuan clan budaya kepada siswa.


Berkaitan dengan tugas guru dalam proses belajar mengaiar, maka kompetensi guru dapat dilihat dari kualitas dan kuantitasnya dalam memberikan pembelajaran, yang tercermin lewat penguasaan sepuluh kompetensi yang merupakan kualifikasi guru untuk dipenuhi dalam proses belajar mengajar.


Sanusi (1992:37) mengelompokkan dimensi kompetensi guru ke dalam 3 (tiga) kelompok, yang meliputi :


1. Rencana Pengajaran

2. Prosedur Mengajar

3. Hubungan antar pribadi


Sanusi (1992:38) selanjutnya menguraikan dimensi-dimensi ke 3 (tiga) hal tersebut sebagai berikut :


1. Rencana Pengajaran, dapat terwujud melalui kalender pendidikan, program kerja tahunan, program kerja semester, program kerja bulanan, program kerja rningguan, jadwal pelajaran serta satuan pelajaran seperti : a. Perencanaan

pengorganisasian bahan pelajaran. b. Pengelolaan kegiatan belajar mengajar. c. Pengelolaan kelas. d. Penggunaan Media clan sumber pengajaran clan. e. Penilaian prestasi.

2. Prosedur mengajar yang dimaksud adalah berkaitan dengan kegiatan mengajar guru. Kegiatan mengajar guru diartikan segenap aktivitas kompleks yang dilakukan oleh seorang guru dalam mengorganisir atau mengatur lingkungan kelas dengan sebaik-baiknya serta menghubungkannya dengan siswa sehingga terjadi interaksi belajar mengajar. Proses clan keberhasilan belajar siswa sangat ditentukan oleh peran yang dibawakan oleh guru, selama interaksi belajar mengajar berlangsung. Guru menentukan apakah proses belajar mengajar itu berpusat pada guru dengan mengutamakan penggunaan metode penemuan. Oleh karena itu keberhasilan belajar siswa sebagai salah satu indikator efektivitas mengajar dipengaruhi oleh perilaku mengajar guru dalam mewujudkan secara nyata peranan itu.

3. Hubungan antar pribadi merupakan aktivitas belajar mengajar jika ditinjau dari prosesnya merupakan proses komunikasi antara guru clan siswa. Guru sebagai fasilitator dalam poses komunikasi berfungsi sebagai komunikator. Komunikasi yang dibangun oleh guru terhadap siswa tercermin dengan upayanya membantu mengembangkan sikap positif, luwes, terbuka terhadap orang lain, kegairahan clan kesungguhan dalam belajar dan terjadinya interaksi pribadi antar siswa di dalam kelas. Proses komunikasi yang terjadi di sini berkaitan dengan kornunikasi intruksional yang merupakan inti dari kegiatan proses belajar mengajar.


Berpedoman pada pendapat Sanusi tersebut, peneliti beranggapan bahwa dimensi-dimensi kompetensi guru ini akan membantu pengelolaan Sekolah Pasundan dalam meningkatkan kemampuan dasar dari para gurunya, sehingga pendapat ini dijadikan variabel terikat pada penelitian ini.


Berddsarkan teori tersebut peneliti mencoba untuk mendeskripsikan tentang pengaruh motivasi terhadap kompetensi guru Sekolah Menengah Atas Pasundan se Kota Bandung, karena konsep motivasi merupakan salah satu faktor yang dapat meningkatkan kompetensi guru dalam melaksanakan proses belajar mengajar agar dapat tercapai / mewujudkan tujuan yang telah ditetapkan.


Dari uraian tersebut di atas, dapat digambarkan pengaruh motivasi terhadap kompetensi guru dalam paradigma pemikiran sebagai berikut :


Motivasi Herzberg, Et.al Kompetensi Guru

Hani Handoko(2003:259) Sanusi (1992:37)


(X) - (Y)

1. Kepuasan Kerja (job 1. Rencana pengajaran

satisfaction) - 2. Prosedur mengajar

2. Ketidakpuasan kerja (job 3. Hubungan antar pribadi


dissatisfaction)


Gambar 1. 1

Paradigma Pemikiran mengenai Motivasi terhadap Kompetensi guru

1.6 Hipotesis


Berdasarkan kerangka pemikiran di atas, hipotesis yang diajukan penulis dalarn penelitian ini adalah : Jika Motivasi dilaksanakan maka diharapkan Kompetensi Guru Sekolah Menengah Atas Pasundan se Kota Bandung dapat meningkat.


Hipotesis tersebut selanjutnya dijabarkan kedalam sub-sub hipotesis, yaitu: 1. Jika faktor kepuasan kerja dilaksanakan maka kompetensi guru Sekolah

Menengah Atas Pasundan se Kota Bandung meningkat.

?. Jika faktor ketidakpuasan kerja diperhatikan maka kompetensi guru Sekolah

Menengah Atas Pasundan se Kota Bandung meningkat.


1.7 Lokasi dan Jadwal Penelitian

1.7.1 Lokasi Penelitian

Lokasi penelitian dilakukan di Sekolah Menengah Atas Pasundan se Kota Bandung.


1.7.2. Jadwal Penelitian

Adapun jadwal penelitian dilaksanakan selama 8 (delapan) bulan dengan rinciannya seperti tertera pada diagram di bawah ini :


BAB II


TINJAUAN PUSTAKA

Administrasi negara merupakan wujud dari kebutuhan suatu masyarakat dalam suatu bangsa. Kebutuhan-kebutuhan suatu kelompok tidak seluruhnya dapat dipenuhi oleh setiap individu atau kelompok itu sendiri melainkan memerlukan keterlibatan atau intervensi kelompok tertentu yang dibentuk oleh kelompok tertentu. Kelompok tertentu inilah yang dinamakan sebagai administrasi negara. Pfifner dan Presthus dalam Syafii (1999:24) mengemukakan bahwa :


Public administration involves the implementation of public policy which has been determine by refresentative political bodies. ... public administration may be defined as the coordination of individual and group efforts to carry out public policy. It is mainly accepted with the daily work of goverments. In sum, public administration is a process concerned with carrying out public policies, encompassing innumerable skills and techniques large numbers of people.


Berdasarkan definisi tersebut tampak bahwa administrasi negara melibatkan implementasi kebijakan publik yang telah ditentukan oleh badan­badan politik. Administrasi negara merupakan koordinasi individu dan usaha kelompok untuk menyelesaikan kebijakan publik dan merupakan pekerjaan pemerintahan sehari-hari. Dalam pelaksanaannya, administrasi negara merupakan suatu proses penyelesaian kebijakan publik yang meliputi teknik dan keterampilan dari orang-orang. Hal ini berarti bahwa berbagai persoalan dalam masyarakat memerlukan penanganan dari administrasi negara melalui proses implementasi kebijakan publik.


2.1 Motivasi

Motivasi adalah merupakan kekuatan yang mendorong seseorang karyawan yang menimbulkan dan mengarahkan perilaku. Gibson, et.al (1996:185). Motivasi merupakan konsep yang kita gunakan untuk menggambarkan dorongan-dorongan yang timbul pada atau di dalam seorang individu yang menggerakkan dan mengarahkan perilaku, dan menjelaskan perbedaan-perbedaan dalam intensitas perilaku, juga untuk menunjukkan arah tindakan. Teori motivasi terbagi atas dua kategori : teori kepuasan dan teori proses. 1. Teori kepuasan adalah teori yang memfokuskan pada faktor-faktor dalarn diri seseorang yang mendorong, mengarahkan, mempertahankan, dan menghentikan perilaku. 2. Teori proses adalah teori yang menerangkan analisis bagairnana perilaku didorong, diarahkan, dipertahankan, dan dihentikan. Gibson, et al (1996:185-188). Jelas dari uraian di atas motivasi merupakan pendorong untuk meningkatkan prestasi kerja yang berkaitan dengan kompetensi guru, Bigge dalarn Hamalik (2003:65) berpendapat bahwa " That one's ability in communicating knowledge depend's largely upon's mastery of the knowledge to be communicated, if teacher is not master of his subject he (she) should take step's necessary to ensure their mastery". Penting bagi seseorang menguasai pengetahuan dan bagaimana pengetahuan itu selayaknya dikomunikasikan pada orang lain. Berkaitan dengan tugas guru dalam proses belajar mengajar, maka kompetensi guru dapat dilihat dari kualitas dan kuantitasnya dalam memberikan pembelajaran, yang tercermin lewat penguasaan sepuluh kompetensi guru yang merupakan kualifikasi guru untuk dipenuhi dalam proses belajar mengajar.


Seiring dengan perkembangan ilmu manajemen pengertian motivasi banyak mengalami perubahan. Malayu SP, Hasibuan (1995:159) mendefinisikan motivasi sebagai berikut : Motivasi adalah suatu perangsang keinginan dan daya penggerak kemauan bekerja seseorang. Sedangkan Ermaya (1997:119) mengatakan : Motif adalah suatu dorongan yang ada di dalam diri seseorang untuk berbuat sesuatu, baik berupa gerakan, maupun ucapan. Koontz, et.al. (1984:493) mengatakan bahwa :


Hal yang dapat diupayakan melalui program-program penataulangan pekerjaan yang umumnya dikenal dengan " pemerkayaan pekerjaan" atau Job enrichment sehingga menghasilkan variasi-variasi pekerjaan untuk menghilangkan rutinitas. Disamping itu, pemerkayaan pekerjaan memungkinkan untuk :

1. Pemberian kesempatan pada pegawai untuk memutuskan berbagai

hal seperti metode, urutan, kecepatan dan pengambilan keputusan

tentang ditolak atau diterimanya bahan-bahan;

2. Dorongan untuk berpartisipasi dan interaksi antar pegawai;

3. Pembangkitan perasaan bertanggungjawab pribadi pada pegawai

atas tugas-tugas yang dilaksanakan;

4. Mengambil langkah-langkah untuk memastikan bahwa pegawai

mengetahui kontribusi mereka dalam suatu produk yang

dihasilkan dan kesejahteraan perusahaan;

5. Memberikan umpan balik pada pegawai tentang prestasi kerja

mereka dan;

6. Melibatkan pegawai dalam analisis dan perubahan-perubahan aspek fisik lingkungan kerja.


Dalam rangka meningkatkan kompetensi guru tidak terlepas dari adanya pengaruh dari pada motivasi. Untuk itu pemahaman mengenai motivasi (Motivating) dijelaskan oleh Moekijat (1978:356) sebagai berikut :


" Pemberian motif adalah: pekerjaan yang dilakukan oleh seorang manager (pimpinan) dalam memberikan inspirasi, semangat, dan dorongan kepada orang-orang lain untuk melakukan tindakan. I . Motivasi adalah setiap perasaan atau keinginan yang sangat

mempengaruhi kemauan orang, sehingga individu didorong

untuk bertindak

2. Motivasi adalah pengaruh, kekuatan yang menimbulkan kelakuan.


3. Motivasi adalah proses dalam menentukan gerakan atau tingkah laku individu kepada tujuan-tujuan.


Pendapat di atas memberikan pemahaman bahwa motivasi merupakan upaya seorang pimpinan dalam memberikan dorongan kepada bawahannya melalui dorongan untuk melakukan sesuatu dan memberikan inspirasi serta sernangat dalam upaya pencapaian tujuan organisasi. Herzberg dalam manulang (1988:25) mengemukakan faktor-faktor yang berperan memotivator terhadap pegawai yakni mampu memuaskan dan mendorong orang untuk bekerja terdiri dari :


1. Achievement (keberhasilan pelaksanaan). 2. Recognation (pengakuan)


3. The Work it Self (pekerjaan itu sendiri).


4. Rensponsibilities (tanggung jawab).


5. Adveucecement (pengembangan/pelatihan).


Motivasi berdasarkan berbagai pemahaman para pakar, yaitu dapat


diketahui sebagai teori kebutuhan. Terkait dengan teori kebutuhan tersebut, Mc


Clelland dalam Siagian (1995:167) memberikan batasan mengenai motivasi


dengan memfokuskan kepada :


1. Kebutuhan akan prestasi (need for achievement) : dorongan untuk lebih unggul, lebih sukses, menyukai tantangan.

2. Kebutuhan akan kekuasaan (need for fower), untuk menang, berkompetensi dan harga diri (prestasi).

3. Kebutuhan akan berafiliasi (need for affiliation), meliputi : persahabatan, kerjasama (Kooperati~ dan adanya hubungan timbal balik.


Teori kebutuhan sebagaimana diungkapkan di atas, menuntut para pimpinan dalam memberikan motivasi kepada bawahannya untuk memperhatikan dorongan apa yang diperlukan bawahannya sehingga bawahan mampu melakukan


suatu pekerjaan yang dapat meningkatkan daya saingnya, harga dirinya serta mampu menciptakan hubungan timbal balik dengan organisasi.


Robbins (1996:198) membahas mengenai konsep motivasi clan membagi teori motivasi menjadi tiga yaitu :


1. Teori motivasi berdasarkan hirarki kebutuhan. 2. Teori motivasi X & Y


3. Teori motivasi Higiene



Dengan penjelasan sebagai berikut : Teori kebutuhan selain dijelaskan oleh Me Clelland juga dijelaskan Maslow, dengan berdasarkan pada kebutuhan menurut manusia. Hipotesan berjenjang mengenai teori kebutuhan tersebut, yaitu sebagi berikut :


1. Faali (fisiologi) antara lain rasa lapar, haus butuh perlindungan (pakaian), seks clan kebutuhan ragawi lainnya.

2. Keamanan antara lain keselamatan dan perlindungan terhadap kerugian fisik.

3. Sosial, mencakup kasih sayang, rasa dimiliki, diterima clan persahabatan.

4. Penghargaan, mencakup rasa harga diri, otonomi, status, pengakuan dan perhatian.

5. Aktuslisasi diri, dorongan untuk menjadi apa yang ia mampu, pertumbuhan potensi clan pemenuhan diri.

2.2 Kompetensi


Dalam organisasi pelayanan jasa, di mana kualitas pelayanan akan terlihat berkualitas apabila didukung oleh kualitas sumberdaya manusia. Dari elemen yang membentuk kualitas pelayanan, beberapa ahli menenggarai unsur utama, yang bermuara kepada individu-individu yang ada di dalam organisasi penghasil pclayanan itu sendiri; yang oleh Goerge (1995:62) ditenggarai sebagai


"kompetensi", meniru dari asal katanya dalam bahasa latin "copetentia" yang berarti kesesuaian. Kata kompetensi kini mulai sering dipergunakan untuk merefleksikan kemampuan seseorang pada bidang-bidang tertentu, seperti komunikasi verbal, keterampilan presentasi, pengetahuan teknis, pengendalian stress, kemampuan perencanaan dan kemampuan keterampilan pengambilan keputusan. Dreher (2001:27).


Guna mengetahui kajian, amatan empiris serta studi literatur tentang kompetensi dari para peneliti terdahulu, berikut disampaikan berbagai definisi I:ompetensi menurut para ahli, sebagaimana tertuang dalam tabel 2.2.1 berikut ini.


Tabe12.2.1

Beberapa Definisi Kompetensi menurut para AM.

i

No Kompetensi Merupakan : Pendapat

I Keterampilan dan/atau karakteristik dari pribadi Albanese (1988)

seseorang yang mampu mendukung penciptaan dalam Hayes

keunggulan bersaing perusahaan. (2000:96)

; 2 Kapabilitas seseorang untuk menggunakan Allan Trayes dalam keterampilan-keterampilan yang dimiliki, guna Murley (1997:2 1) menghasilkan kinerja pelayanan terbaik.

3 Penjabaran dari pengetahuan, keterampilan, sikap Ashton (1996b:19) clan kemampuan dari seseorang pegawai untuk mencapai kinerja yang paling efektif.

Sesuatu yang berkaitan dengan nilai, standar, Bergenhenegouwen pandangan hidup dan kehidupan serta mengait pula (1997:57) kepada diri sendiri serta orang-orang lain di

-

sekitarnya.

I 5 Sesuatu yang sangat erat berkaitan dan berpotensi Boulter (1999:21)

! pada pembentukan performansi seseorang

dibandingkan dengan kepandaian atau bakat yang

dimiliki oleh orang tersebut.

, Sesuatu yang mendasari karakteristik seseorang yang Boyatzis (1982)

terdiri atas motif, bakat, keterampilan serta aspek- dalam Gilmore

aspek yang berkaitan dengan peran sosial, atau ilmu (1996:42)

pengetahuan yang dimiliki seseorang.

C Karakteristik utama dari seseorang atau individu Boyatzis (1982)

yang behubungan dengan efektivitas atau keahlian dalam Horton

! didalam melaksanakan pekerjaan. (2000:308)

Pengetahuan atau keahlian (know how) untuk Clark (1997a:297) ' _ melakukan suatu pekerjaan secara efektif.

9 Cerminan dari keterampilan clan pengetahuan Davis (1999:299)

, seseorang, khususnya yang berkaitan dengan kemampuan dan keterampilan yang banyak dibutuhkan oleh dunia usaha melalui penurunan biaya serta memberikan pelayanan yang lebih baik

I kepada pelanggan dengan biaya yang lebih rendah/more for less.

I 10 Kemampuan seorang pegawai untuk mencapai Dingle (1995:34)

i kinerja tertentu dari suatu pekerjaan yang menjadi tanggungjawabnya. Di mana harus pula terpenuhi unsur-unsur efektif dan efisien.

I 1 1 Suatu kumpulan keterampilan-keterampilan yang Doyle (1998:25) unik dan khas, yang mampu mendukung keunggulan

, bersaing suatu perusahaan.

12 Konsep yang mirip bahkan sama dengan konsep Gale & Pol (1975)

, kecerdasan, karena karakteristik dari keduanya dalam Birdir menunjukkan kesamaan, yaitu terbentuk dari elemen- (2000:205) elemen penting yang sangat kompleks dan saling

I~ terkait.

i 13 Kemampuan untuk menggunakan ilmu pengetahuan Gilmore (1996:42) dan keterampilan secara efektif dalam mencapai kinerja terbaik dalam suatu tugas tertentu.

I 14 Tingkat keterampilan dan pengetahuan yang dimiliki Zethami (1990:21) oleh seseorang pegawai untuk mampu mencapai kinerja pelayanan tertentu dan menghasilkan pelayanan terbaik.

'j 15 Karakteristik seseorang yang melandasi seseorang Klemp (1980)

dengan performansi pekerjaan yang sangat baik dalam Conway

j (1994:8)



Gambaran secara singkat kompetensi sebagaimana terlihat di dalam tabel 2.1 tersebut akan sangat bermanfaat, untuk kepentingan penulisan skripsi ini dalam melakukan pendekatan terhadap aspek-aspek kritis yang akan dijadikan sebagai acuan dalam mengungkap peran penting kompetensi personil sebagai salah satu variabel dalam pembentukan kinerja.


Harst (1999:368) menemukan 15 unsur dalam kompetensi para pegawai,


yaitu :


1. Orientasi pencapaian prestasi

2. Pernikiran analitis

3. Memiliki kemampuan dalam berhadapan dengan kondisi serba tidak pasti


4. Pengambilan keputusan 5. Kepemimpinan

6. Kerja jejaring

7. Komunikasi lisan

8. Dorongan pribadi dan inisiatif

10. Perencanaan dan pengorganisasian

11. Kepedulian terhadap hal-hal yang bersifat politik

12. Kesadaran terhadap diri sendiri dan pengembangan diri 13. Kerja kelompok

14. Tingkatan pengetahuan dan keterampilan yang dimiliki 15. Komunikasi tertulis


Gronroos et.al. (1995:5 5a) menunjukkan bahwa :


Setidaknya terdapat 6 kriteria yang dipergunakan untuk mengukur tingkatan kualitas atas suatu peiayanan, masing-masing, yaitu :


1. Profesionalisme dan keterampilan pegawai 2. Sikap dan perilaku

3. Aksesabilitas dan kelenturan 4. Kehandalan dan kepercayaan 5. Pemulihan atau recovery 6. Reputasi dan kredibilitas


Mc Lean,et.al. (1996:24) berhasil menemukan 4 dimensi kompetensi pribadi, yang selanjutnya peneliti menganggap sesuai dengan masalah yang sedang diteliti, yaitu :


1. Perencanaan secara optimal menyangkut kebutuhan untuk berprestasi dan penyusunan skala prioritas.

2. Melakukan pengelolaan tim kerja

3. Melakukan pengelolaan diri sendiri

4. Menggunakan kemampuan intelektual yang ada untuk melakukan pengambilan keputusan.


Kemampuan merupakan gabungan dari pengetahuan dan keterampilan ~,ang dapat diperoleh melalui pendidikan. Pendidikan merupakan syarat mutlak bagi terciptanya sumberdaya yang kompeten di bidangnya. Asumsi yang mendasarinya adalah makin tinggi tingkat pendidikan seseorang makin produktif


dalam bekerja. Hal ini dimungkinkan karena semakin bertambahnya wawasan dan keterampilan yang diperoleh, terutama dalam pendidikan formal.


Sebagaimana dikemukakan D.A. Tisna Amidjaja, (1980:39) merinci kemampuan guru itu menjadi sepuluh kompetensi dasar diantaranya :


1. Landasan Profesional keguruan.

2. Penguasaan bahan ajar

3. Pengelolaan Program pengajaran 4. Pengelolaan proses pembelajaran 5. Pengelolaan kelas 6. Pemanfaatan media mengajar 7. Penggunaan prosedur penilaian 8. Layanan bimbingan siswa 9. Administrasi kelas/pengajaran

10. Penelitian/penelitian tindakan kelas


Beberapa ahli dari Universitas Georgia mengemukakan rincian kompetensi/kemampuan guru untuk menyusun program pendidikan guru, yang dibagi menjadi empat kelompok kemampuan, yaitu :


A. Kemampuan merencanakan pengajaran clan bahan pelajaran :

1) Merencanakan pengajaran untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan 2) Mengorganisasikan pengajaran dengan memperhatikan perbedaan

individual siswa.

3) Memperoleh clan mempergunakan informasi tentang kebutuhan dan kemajuan setiap siswa.

4) Memberikan rujukan bagi siswa yang memiliki masalah khusus kepada

petugas atau lembaga yang berwenang.

5) Memperoleh clan menggunakan informasi tentang efektivitas pengajaran

untuk bahan revisi, apabila diperlukan.

B. Kemampuan yang berkenanaan dengan prosedur mengajar :

1) Menggunakan metode teknik, clan media intruksional untuk mencapai

tujuan yang telah ditetapkan.

2) Komunikasi dengan siswa.

3) Menerapkan berbagai metode belajar secara tepat.

4) Membimbing dan mendorong keterlibatan siswa dalam pengajaran. 5) Menguasai bahan pelajaran yang diajarkan. 6) Mengatur waktu, ruang, bahan clan perlengkapan pengajaran. C. Keterampilan antar pribadi :

1) Memperlihatkan kegairahan dalam kegiatan pembelajaran siswa. 2) Membantu siswa mengembangkan konsep diri yang positif. 3) Mengelola interaksi kelas.

D. Standar Profesional :

1) Menerima tanggungjawab profesional. 2) Mengembangkan diri secara profesional.


Shulman (1980:23) merinci kompetensi guru menjadi :


1. Penguasaan cara pikir disiplin ilmu.

2. Penguasaan cara pikir pedagogis.

3. Memahami bagaimana anak pelajar.

4. Menguasai cara belajar dalam rangka memfasilitasi belajar.


US National Board for Profesional Teaching Standards (1996) mengelompokan kompetensi guru menjadi :


1. Komitmen terhadap siswa beserta pembelajarannya.

2. Pengetahuan tentang bahan ajar dan cara mengajarkannya.

3. Tanggung jawab untuk pengelolaannya dan memonitoring pembelajaran

siswa.

4. Komitmen terhadap pemikiran sistimatik tentang praktek kependidikan dan kemampuan belajar dari pengalaman. 5. Keanggotaan dalam komunitas pembelajaran.


Departement of Education of the United Kingdom (1992) mengurai kompetensi guru menjadi :


1. Pengetahuan mengenai mata pelajaran.

2. Penerapan mata pelajaran. 3. Pengelolaan kelas.

4. Penilaian dan pencatatan kemajuan siswa.

5. Pengembangan Profesional secara berkelanjutan.


Teacher Trainning Agency, England and Wales (1996:225) mengemukakan tiga komponen kompetensi guru, yaitu :


I. Pengetahuan dan pemahaman tentang mata pelajaran

2. Perencanaan, pengajaran, dan pengelolaan kelas.

3. Monitoring. penilaian, pencatatan, pelaporan akuntabilitas kemajuan

siswa


Scottish Office of Education (1993:412) mengemukakan lima kelompok kompetensi guru yaitu :


1. Kompetensi yang berkaitan dengan mata pelajaran dan isi pelajaran

2. Kompetensi yang menyangkut kegiatan kelas, termasuk komunikasi,

metodologi, pengelolaan kelas, dan penilaian. 3. ICompetensi yang menyangkut sekolah. 4, i~ompetensi yang menyangkut Profesional. 5. Sikap-sikap dan komitmen.


Anstralian Teaching Cuoncil (1996:175) mengemukakan empat kompetensi dasar guru yaitu :


1. Nilai dan sikap.

2. :'endekatan-pendekatan tentang isi pembelajaran. 3. Metode-metode mengajar. 4. ;,Jengeksplisitkan praktek pengajaran.


h.a:a halaman selanjutnya (178) kompetensi guru dikatakan :


I . Menggunakan dan mengembangkan pengetahuan profesional dan nilai-nilai.

2. Berkomunikasi, berinteraksi dan bekerja dengan siswa dan pihak lain. 3. Perencanaan dan pengelolaan proses belajar-mengajar,

4. Merefleksikan, mengevaluasi, dan merencanakan perbaikan yang

berkelanjutan.


ional Institution of Educational Science, Vietnam (2000:98) mengen:u::akan lima kompetensi dasar guru :


1. i3engetahuan tentang bahan ajar.

2. .'emahaman konteks pembelajaran anak. 3. :~eterampilan umum dalam pedagogi. 4. =:urikulum dan metode pengajaran.

~. -aika dan profesionalisme inovasi, inisiatif dan kepemimpinan.

2.3. Hut„.:ogan antar konsep


P::..:ivasi merupakan unsur manajemen yang penting, karena motivasi merupal:~.;; upaya seorang pimpinan dalam mendorong bawahannya untuk tercapaima tujuan organisasi sesuai dengan yang diharapkan dan telah disepakati bersama. dotivasi di maksud adalah, perpaduan antara kekuatan atau faktor internal u:.ri dalam diri individu dengan faktor luar dari individu seperti kebijakan

organisasi, keadaan bekerja, penghargaan, pengembangan clan tanggung jawab sebagai faktor-faktor yang memotivasi ke arah pencapaian tujuan organisasi.

Dale terjemahan Bern Hidayat (2003:38) mengatakan bahwa " Kompetensi sebagai kemampuan untuk menjalankan aktivitas dalam pekerjaan atau fungsi sesuai dengan standar kerja yang diharapkan. Definisi ini merupakan konsep yang luas yang mencakup pengertian kemampuan untuk mentransfer keterampilan dan pengetahuan ke situasi baru dalam lingkup pekerjaan. Berkaitan dengan tugas guru dalam proses belajar mengajar, maka kompetensi guru dapat di lihat dari kualitas clan kuantitasnya dalam memberikan pembelajaran, yang tercermin lewat penguasaan kompetensi guru yang merupakan kualifikasi guru untuk dipenuhi dalam proses belajar mengajar. Dalam hal ini kedua konsep saling mempengaruhi dalam konteks saling melengkapi. Konsep mengenai motivasi yang telah dipaparkan pada sebelumnya sejalan dengan salah satu faktor pengukuran mengenai pengelompokan kompetensi guru.

Motivasi yang merupakan upaya seorang pimpinan dalam membantu mengidentifikasi masalah-masalah dalam organisasi melalui dorongan yang dilakukan, melalui pemotivasian seorang pimpinan kepada bawahannya, diupayakan rencana kerja dapat diwujudkan sesuai dengan rencana. Seorang manajer akan menyadari adanya suatu masalah bila terjadi penyimpangan yang berhubungan dengan kompetensi guru dan menjadi tugas kepala sekolah yang bersangkutan untuk meminimalisasi penyimpangan dengan menentukan relevansi masing-masing penyimpangan tersebut melalui penyampaian komunikasi yang efektif sehingga kompetensi yang diharapkan akan meningkat.


Di antara beberapa faktor yang mempengaruhi kompetensi guru di luar motivasi dalam organisasi adalah kepemimpinan. Pimpinan dalam kaitannya dengan motivasi memiliki peranan yang sangat penting, selain memberikan motivasi dan implementasi kebijakan yang terkait dengan maslah pelaksanaan pekerjaan secara operasional. Gibson dalam Nunuk Adiarni (1997:31-34) dalam l:aitan tersebut menyatakan bahwa :


Pernimpin menjadi efektif karena pengaruh motivasi mereka yang positif, kemampuan untuk melaksanakan dan kepuasan pengikutnya serta bagaimana pemimpin mempengaruhi persepsi pengikutnya pada tujuan kerja, tujuan pengembangan diri dan jalan untuk mencapai tujuan. Tingkah laku pemimpin yang bersifat motivasional sejauh mana memberikan kepuasan dari kebutuhan bawahan yang kontingen pada prestasi efektif dan melengkapi lingkungan bawahan dengan memberikan bimbingan, kejelasan arah dan penghargaan yang dibutuhkan untuk prestasi efektif.


DAFTAR ISI


LEMBAR PENGESAHAN i

KATA PENGANTAR ii

DAFTAR ISI vi

-'BABIPENDAHULUAN

1. 1 Latar Belakang Penelitian 1

1.2 Identifikasi Masalah 5

1.3 Maksud dan Tujuan Penelitian 1.4 Kegunaan Penelitian 6

1.5 Kerangka Pemikiran 6

1.6 Hipotesis 12

1.7 Lokasi dan Jadwal Penelitian 13

-BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Motivasi 16

2.2 Kompetensi 19

2.3 Hubungan Antar Konsep 25

~ BAB III OBJEK DAN METODE PENELITIAN

3.1 Objek Penelitian 28

3.2 Metodologi Penelitian 33

~- BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1 Deskripsi Hasil Penelitian dari Tanggapan Responden

Mengenai Variabel Motivasi 42


4.2 Deskripsi Hasil Penelitian dan Tanggapan Responden

Mengenai Variabel Kompetensi Guru 49

4.3 Pengaruh secara Simultan Variabel Motivasi terhadap

Kompetensi Guru Sekolah Menengah Atas Pasundan

Se Kota Bandung 64

,/ BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan 65

5.2 Saran 66

DAFTAR PUSTAKA 69 LAMPIRAN-LAMPIRAN