Selamat Datang di X3-PRIMA, Melayani Setulus Hati, Memberikan yang terbaik

31.5.09

merangkai bahasa

Menulis: Bermain Bahasa dari Kata Menuju Wacana


Pendahuluan
Anybody -can make history; only a great man can write it
(Oscar Wilde)
Apa yang kita tulis akan terukir abadi sepanjang masa. Apa yang kita ucapkan akan sirna bersama pusaran waktu. Jika harus memilih di antara keduanya, Anda tentunya akan memilih sering menulis daripada berucap.
Saya memilih sering menulis tidak hanya karena tulisan akan terukir abadi sepanjang masa, tapi juga karena alasan lain. Dengan menulis, kita bisa memperkaya khasanah keilmuan sekaligus membagi ilmu pengetahuan kepada publik pembaca. Dengan menulis pula, kita akan mudah mendapatkan pengakuan intelektual dalam segala konteks sehingga menambah kepuasan intelektual dan motivasi edukasi, selain mendapatkan keuntungan finansial dengan cara yang halal, wajar, dan mendidik. Membangun tradisi menulis juga bermanfaat untuk mengantisipasi bahaya ‘anomali’ sebagai efek tradisi lisan atau perjuangan melawan lupa. Karena alasan-alasan itulah, saya sering beretoris, “Aku menulis, maka aku ada!”
Agar benar-benar dianggap ada, Anda harus menulis tidak hanya menarik dan komunikatif, tapi juga benar. Parameter kebenaran menulis adalah pemakaian struktur bahasa yang tepat sesuai EYD dan konteks. Karena itulah, Anda perlu memahami
segmentasi pemikiran dan kultural pembaca. Jika segmentasi pembaca tulisan Anda adalah kalangan remaja masa kini, bahasa yang digunakan adalah bahasa mereka masa sekarang, bukan bahasa luar kalangan mereka masa lalu. Intinya, bahasa tulisan Anda harus punya semangat kekinian dan kedisinian. Tuntutan itu harus menjadi pegangan Anda agar setiap pesan yang ditulis bisa sampai pada pembaca yang dibidiknya.

Dari Kata ke Wacana
Menulis adalah bermain bahasa dengan melewati empat arena yaitu kata, kalimat, paragraf, dan wacana. Layaknya anak-anak bermain mobil-mobilan atau kucing-kucingan dengan penuh keriangan tanpa beban, Anda harus melepaskan berbagai beban ketika mulai memasuki aktivitas menulis, termasuk mengolah bahan-bahan tulisan berkategori serius. Proses menulis harus dipandang sebagai proses yang menyenangkan sehingga Anda tidak takut menggoreskan kata pertama hingga kata selanjutnya untuk tulisan Anda.
Selanjutnya, bersiap-siaplah untuk bersenang-senang dikritik pakar bahasa karena dosa-dosa tulisan Anda. Kalau tidak siap dikritik orang lain, termuilah sendiri dosa-dosa tulisan Anda dengan membaca ulang dan merevisinya sesuai kaidah-kaidah bahasa. Tahap ini bukanlah sesuatu yang luar biasa karena semua orang pada dasarnya tak luput dari kesalahan, termasuk kesalahan berbahasa seperti tanda baca dan ejaan. Kesalahan tersebut setahap demi setahap harus dibuang ke keranjang sampah karena mengganggu pembaca dan memberi kesan bahwa si penulis jorok, ceroboh, pemalas, dan tak terdidik.
Jadi, sambil terus menulis, asahkah terus kepekaan bahasa Anda dengan terus membaca. Kepekaan tersebut akan mambawa Anda tidak hanya terampil menemukan dosa-dosa bahasa, tapi sekaligus terampil menulis! Tengoklah, ada ada kata yang terasa pas untuk menggambarkan sesuatu, ada kalimat yang sedap kedengarannya, dan ada tulisan yang enak dibaca. Namun, ada juga kata yang kurang pas menggambarkan sesuatu, ada kalimat yang kuran sedap kedengarannya, dan ada tulisan yang janggal dibaca. Ada tulisan yang isinya persis seperti apa yang tertulis, namun ada pula yang mempunyai arti ganda di balik kata-kata, kalimat dan tulisan.

Bermain Diksi
Sebuah kata dikatakan baik jika tepat arti dan tepat tempatnya, seksama dalam pengungkapan, lazim, dan sesuai dengan kaidah ejaan. Karena itu, setiap penulis harus memperhatikan diksi (pilihan kata).


Berikut ini beberapa contoh pemakaian kata.
1) Kata masing-masing dan tiap-tiap
Tiap-tiap kelas terdiri dari lima puluh orang.
Berbagai gedung bertingkat di Bandung memiliki gaya arsitektur masing-masing.
Masing-masing mengemukakan gagasannya.
Para bupati yang hadir di Gedung Sate masing-masing dikawal tentara.
Kata tiap-tiap harus diikuti oleh kata benda, sedangkan kata masing-masing tidak boleh diikuti oleh kata benda.
2) Kata dan lain-lain
Di dalam tas besar itu kita dapat menemukan barang-barang seperti buku, majalah, mistar, pensil, dan lain-lain. (salah)
Di dalam tas besar itu kita dapat menemukan buku, majalah, mistar, pensil, dan lain-lain, (benar)
Di dalam tas besar itu kita dapat menemukan barang-barang seperti buku, majalah, mistar, dan pensil. (benar)
Kata dan lain-lain sama kedudukannya dengan seperti, antara lain, misalnya.
3)Kata pukul dan jam
Seminar tentang ekonomi politik internasional yang diselenggarakan Himpunan Mahasiswa Hubungan Internasional Universitas Pasundan berlangsung selama 4 jam yaitu dari jam 08.00 s.d. 12.00 WIB. (salah)
Seminar tentang ekonomi politik internasional yang diselenggarakan Himpunan Mahasiswa Hubungan Internasional Universitas Pasundan berlangsung selama 4 jam yaitu dari pukul 08.00 s.d. 12.00 WIB. (salah)
Kata pukul menunjukkan waktu, sedangkan kata jam menunjukkan jangka waktu.
4)Kata sesuatu dan suatu
Iwan Gunawan mencari sesuatu.
Pada suatu waktu Iwan Gunawan masuk kelas dengan wajah cemberut.
Kata sesuatu tidak diikuti oleh kata benda, sedangkan kata suatu harus diikuti oleh kata benda.
5)Kata dari dan daripada
Ia menerima perintah tersebut langsung daripada atasannya. (salah)
Ia menerima perintah tersebut langsung dari atasannya. (benar)
Universitas Pasundan lebih terkenal dari Universitas Garut. (salah)
Universitas Pasundan lebih terkenal daripada Universitas Garut. (benar)
Kata dari dipakai untuk menunjukkan asal sesuatu, baik bahan maupun arah, sedangkan kata daripada berfungsi untuk membandingkan.
Berikut ini beberapa kesalahan pembentukan dan pemilihan kata
1)Penanggalan Awal ber
Sampai jumpa lagi. (salah)
Sampai berjumpa lagi. (benar)
Pendapat Agum beda dengan pendapat Dany. (salah)
Pendapat Agum berbeda dengan pendapat Dany. (benar)
Kalau Anda tidak keberatan, saya akan segera pulang. (salah)
Kalau Anda tidak berkeberatan, saya akan segera pulang. (benar)
Awal ber- harus dieksplisitkan
2)Peluluhan Bunyi /c/
Bambang sedang menyuci mobil. (salah)
Bambang sedang mencuci mobil. (benar)
Saya sungguh menyintai istri dan anak saya. (salah)
Saya sungguh mencintai istri dan anak saya. (benar)
Bunyi /c/ tidak luluh apabila mendapatkan awal meng-.
3)Penidakluluhan Bunyi /s/, /k/, /p/, dan /t/
Indonesia dikenal sebagai negara pensuplai beras. (salah)
Indonesia dikenal sebagai negara penyuplai beras. (benar)
Korupsi mengkikis legitimasi politik seorang pejabat. (salah)
Korupsi mengikis legitimasi politik seorang pejabat. (benar)
Umat Islam harus mentaati perintah nabi. (salah)
Umat Islam harus menaati perintah nabi. (benar)
Kata dasar yang bunyi awalnya /s/, /k/, /p/, dan /t/ seharusnya luluh jika mendapat awalan meng- atau peng-.
4)Awalan ke- yang Keliru
Anak kecil itu meninggal karena ketabrak. (salah)
Anak kecil itu meninggal karena tertabrak. (benar)
Orang gila itu terus ketawa. (salah)
Orang gila itu terus tertawa. (benar)
5)Pemakaian Akhiran ir-
Dia biasa mengkoordinir sumbangan itu. (salah)
Dia biasa mengkoordinasi sumbangan itu. (benar)
Soekarno-Hatta memproklamirkan Republik ini. (salah)
Soekarno-Hatta memproklamasikan Republik ini. (benar)
Padanan akhiran ir- adalah -asi dan –isasi, kecuali kata dasarnya bukan kata serapan dari bahasa asing seperti jilbabisasi, radiosisasi, atau koranisasi.
6)Padanan yang tidak Serasi
Karena harga BBM naik sehingga banyak pedagang menghentikan usahanya. (salah)
Karena harga BBM naik, banyak pedagang menghentikan usahanya. (benar)
Harga BBM naik sehingga banyak pedagang menghentikan usahanya. (benar)
Jika besok hujan, maka saya tidak akan ke kampus. (salah)
Jika besok hujan, saya tidak akan ke kampus. (benar)
Walaupun anak kampung, tetapi ia sungguh cerdas. (salah)
Walaupun anak kampung, ia sungguh cerdas. (benar)
7)Penggunaan kesimpulan dan pemukiman
Karya ilmiah itu diakhiri kesimpulan. (salah)
Karya ilmiah itu diakhiri simpulan. (benar)
Simpulan menunjukkan hasil.
Dia tinggal di pemukiman itu. (salah)
Dia tinggal di permukiman itu. (benar)
Pemukiman menujukkan proses, sedangkan permukiman menujukkan tempat.
8)Penggunaan Kata yang Hemat
No
Boros
Hemat
1
sejak dari
sejak atau dari
2
agar supaya
agar atau supaya
3
demi untuk
demi atau untuk
4
adalah merupakan
adalah atau merupakan
5
seperti.. dan sebagainya
seperti atau sebagainya
6
misalnya… dan lain-lain
misalnya.. atau dan lain-lain
7
antara lain… dan seterusnya
antara lain atau dan seterusnya
8
tujuan daripada pembangunan
tujuan pembangunan
9
mendeskripsikan tentang hambatan
mendeskripsikan hambatan
10
berbagai faktor-faktor
berbagai factor
11
daftar nama-nama peserta
daftar nama peserta
12
mengadakan penelitian
meneliti
13
dalam rangka untuk mencapai tujuan
untuk mencapai tujuan
14
berikhtiar dan berusaha untuk memberikan pengawasan
berusaha mengawasi
15
mempunyai pendirian
berpendirian
16
melakukan penyiksaan
menyiksa
17
menyatakan persetujuan
menyetujui
18
berdasarkan…, maka
Berdasarkan…, tanpa maka
19
sangat banyak sekali
sangat banyak atau banyak sekali

9)Ungkapan Ideomatik
Gubernur Jawa Barat bertemu Presiden SBY. (salah)
Gubernur Jawa Barat bertemu dengan Presiden SBY. (benar)
Contoh lain:
salah
benar
sehubungan
sehubungan dengan
berhubungan
berhubungan dengan
sesuai
sesuai dengan
terdiri
terdiri dari/atas
terjadi atas
terjadi dari
disebabkan karena
disebabkan oleh
membincarakan tentang
berbicara tentang
tergantung kepada
bergantung pada
baik….. ataupun…..
baik…. maupun……
antara…. dengan ….
antara…. dan ….
tidak …. melainkan
tidak ….. tetapi …..
menemui kesalahan
menemukan kesalahan
menjalankan hukuman
menjalani hukuman

Ungkapan ideomatik adalah konstruksi yang khas pada suatu bahasa yang salah satu unsurnya tidak dapat dihilangkan atau diganti. Ungkapan yang bersifat ideomatik terdiri atas dua atau tiga kata yang dapat memperkuat diksi di dalam tulisan.

Bermain Kalimat
Saya sering menemukan kalimat dalam tulisan mahasiswa dan bahkan wartawan yang tidak jelas subjek dan predikatnya. Hal ini tidak hanya mengganggu pembaca, tapi juga menyebabkan pesan tidak sampai pada pembaca.
Kalimat dalam ragam resmi, baik lisan maupun tertulis, sekurang-kurangnya harus memiliki subjek (S) dan predikat (P). Kalau tidak tidak memiliki unsur S dan P, sebuah pernyataan bukanlah kalimat. Deretan kata yang seperti itu hanya dapat disebut sebagai frasa.
Kalau dilihat dari hal predikat, kalimat-kalimat dalam bahasa Indonesia ada dua macam, yaitu kalimat-kalimat yang berpredikat kata kerja dan kalimat-kalimat yang berpredikat bukan kata kerja. Akan tetapi, dalam pemakaian sehari-hari, kalimat-kalimat yang berpredikat kata kerja lebih banyak jumlahnya daripada kalimat-kalimat yang berpredikat bukan kata kerja.
Berikut ini beberapa contoh kalimat yang bisa ditentukan subjek dan objeknya dengan bertanya menggunakan predikat.
1)Proposal itu dibuat mahasiswa Jurusan Hubungan Internasional
Kata kerja dalam kalimat ini adalah dibuat. Kata dibuat adalah predikat dalam kalimat ini.
Menentukan objek: Apa yang dibuat mahasiswa? Jawabannya proposal (O)
Menentukan subjek: Siapa yang membuat proposal? Jawabannya mahasiswa Jurusan Hubungan Internasional (S)
2)Dalam ruangan itu memerlukan tiga buah kursi dan sebuah meja kecil.
Kata kerja dalam kalimat ini adalah memerlukan. Kata memerlukan adalah predikat dalam kalimat ini.
Menentukan objek: Apa yang diperlukan ruang itu? Jawabannya tiga buah kursi dan sebuah meja kecil. (O)
Menentukan subjek: Siapa/apa yang memerlukan tiga buah kursi dan sebuah meja kecil? Jawabannya ruangan itu. Kata ruangan itu tidak mungkin dapat berstatus sebagai subjek karena di depan kata ruangan itu terdapat kata dalam. Kata dalam menandai kata keterangan tempat. Dengan demikian, pernyataan itu tidak bersubjek dan tidak tergolong kalimat yang benar.
3)Seminar untuk membicarakan isu-isu aktual politik internasional.
Kata kerja membicarakan dalam kalimat ini tidak berstatus sebagai predikat karena di depan kata kerja ini ada partikel untuk. Dengan demikian, pernyataan ini tidak tergolong kalimat yang benar.
4)Pak Dodi yang mendirikan Yayasan Monyet Orba.
Kata kerja mendirikan dalam kalimat ini tidak berstatus sebagai predikat karena di depan kata kerja ini ada partikel yang. Dengan demikian, pernyataan ini tidak tergolong kalimat yang benar.

Berikut ini beberapa contoh kalimat dengan penghilangan kata penghubung
1)Membaca surat itu, saya sangat terkejut.
Kalimat ini tidak memiliki penanda dalam anak kalimatnya sehingga tidak tergolong kalimat yang baik. Penanda yang dapat dipakai ialah setelah sehingga kalimat ini menjadi:
Setelah (saya) membaca surat itu, saya sangat terkejut.
Setelah membaca surat itu, saya sangat terkejut.
2)Menabrak anak kecil hingga tewas, ia terpaksa berurusan dengan polisi.
Kalimat ini tidak memiliki penanda dalam anak kalimatnya sehingga tidak tergolong kalimat yang baik. Penanda yang dapat dipakai ialah karena sehingga kalimat ini menjadi:
Karena (ia) menabrak anak kecil hingga tewas, ia terpaksa berurusan dengan polisi.
Karena menabrak anak kecil hingga tewas, ia terpaksa berurusan dengan polisi.
3)Dipimpin Soeharto, stabilitas politik Indonesia menjadi percontohan negara-negara lain.
Kalimat ini tidak memiliki penanda dalam anak kalimatnya sehingga tidak tergolong kalimat yang baik. Penanda yang dapat dipakai ialah ketika sehingga kalimat ini menjadi:
Ketika dipimpin Soeharto, stabilitas politik Indonesia menjadi percontohan negara-negara lain.

Berikut ini beberapa contoh kalimat yang tidak sepadan sehingga menjadi tidak efektif
1)Bagi semua mahasiswa Universitas Pasundan harus ikut mendukung Persib. (salah)
2)Semua mahasiswa Universitas Pasundan harus ikut mendukung Persib. (benar)
Kejelasan subjek dan predikat dalam suatu kalimat dapat dilakukan dengan menghindarkan pemakaian kata depan di, dalam, bagi, untuk, pada, sebagai, tentang, mengenai, menurut, dan sebagainya di depan subjek.
3)Penyusunan proposal itu saya dibantu oleh mahasisa lain. (salah)
Kalimat ini memiliki subjek ganda yaitu penyusunan proposal itu dan saya. Kalimat ini dapat diperbaiki menjadi:
Dalam penyusunan proposal itu, saya dibantu oleh mahasisa lain.
4)Budi tidak belajar. Sehingga tidak lulus ujian. (salah)
5)Ibunya pergi ke Jakarta. Sedangkan ayahnya pulang kampung. (salah)
Kata penghubung intrakalimat tidak dipakai pada kalimat tunggal.
Perbaikan kalimat kalimat-kalimat ini dapat dilakukan dengan dua cara.
Pertama, ubahlah kalimat itu menjadi kalimat majemuk.
Budi tidak belajar sehingga tidak lulus ujian.
Ibunya pergi ke Jakarta, sedangkan ayahnya pulang kampung.
Kedua, gantilah ungkapan penghubung intrakalimat menjadi ungkapan penghubung antarkalimat.
Budi tidak belajar. Oleh karena itu, Budi tidak lulus ujian.
Ibunya pergi ke Jakarta. Akan tetapi ayahnya pulang kampung.
Berikut ini contoh kalimat yang tidak paralel sehingga menjadi tidak efektif
1)Tahap terakhir penyelesaian pembangunan rumah itu adalah kegiatan pengecatan tembok, memasang penerangan, pengujian sistem pembagian air, dan pengaturan tata ruang. (salah)
2)Tahap terakhir penyelesaian pembangunan rumah itu adalah kegiatan mengecat tembok, memasang penerangan, pengujian sistem pembagian air, dan pengaturan tata ruang. (benar)

Berikut ini contoh kalimat yang tidak hemat sehingga menjadi tidak efektif
1)Karena ia tidak diminta datang ke kantor polisi, ia pergi ke luar negeri. (salah)
2)Karena tidak diminta datang ke kantor polisi, ia pergi ke luar negeri. (benar)
3)Para mahasiswa berdemonstrasi setelah mereka mengetahui kasus korupsi di BI. (salah)
4)Para mahasiswa berdemonstrasi setelah mengetahui kasus korupsi di BI. (benar)
Subjek ia dan mereka dalam anak kalimat dihilangkan.
5)Ia memakai baju warna hitam. (salah)
6)Ia memakai baju hitam. (benar)
Kata superordinat warna pada hiponimi kata merah dihilangkan.
7)Dia hanya membawa dua baju saja. (salah)
8)Dia hanya membawa dua baju. (benar)
9)Dia membawa dua baju saja. (benar)
Kesinoniman dalam satu kalimat dihindarkan.
10)Para tamu-tamu itu datang tepat sesuai dengan waktu undangan. (salah)
11)Para tamu itu datang tepat sesuai dengan waktu undangan. (benar)
Kata-kata berbentuk jamak tidak dijamkkan.
12)Mahasiswa perguruan tinggi terpopuler itu mendapat bantuan dari Dirjen Dikti.
Kalimat ini memiliki makna ganda, yaitu siapa yang terkenal, mahasiswa atau perguruan tinggi.
13)Dia menerima uang sebanyak dua puluh lima ribuan.
Kalimat ini memiliki arti ganda, yaitu berapa jumlah uang, seratus ribu rupiah atau dua puluh lima ribu rupiah.
14)Surat itu saya sudah baca.
15)Saran yang dikemukakannya kami akan pertimbangkan.
Kalimat di atas tidak menunjukkan kepaduan karena aspek terletak antara agen dan verbal. Seharusnya kalimat-kalimat yang berpredikat pasif persona memakai pola aspek + agen + verbal.