Selamat Datang di X3-PRIMA, Melayani Setulus Hati, Memberikan yang terbaik

9.5.09

Patofarmakologi dan Toksikologi



Pengungkapan masalah penggunaan dan toksisitas obat pada kondisi patologi selektif :

  1. Pada Anomali Genetik

    • Pada patologi system biotrars formasi obat

    • P Patologi system ekstresi

    • A Patologi batu ginjal

    • B Keadaan gizi buruk atau mal gizi

    • A Kondisi gangguan sal. nafas : asma dan infeksi


  1. Kondisi lain

    • Gangguan darah : anemia, leukemia, koagulasi yang menginduksi dan m’inhibisi

    • Pada patologi system kardiosvaskular

    • Kehamilan, menyusui

    • Pediatri

    • Goriatri

    • Gangguan hormonal (Hormon endokrin, paratiroid, tirok, adreal, pancreas, hormone kelamin.



Overview

Anomali Genetik

Terkait pada kemampuan tubuh membentuk hormone/enzim

Enzim sangat bervariasi Pada Sal. cerna

Mikrosomal hati

Kelebihan enzim tidak selalu baik, tapi bila enzim b Fungsi tubuh ber


  • Pada kekurangan enzim α – flavulinat à pytet porpurio

  • Xantin oksidasi naik à terbentuk Xantin dan asam urat


Biotransformasi dan hati

Metabolisme di hati

Hati mempunyai fungsi tertentu fatal bagi seluruh tubuh


System ekresi

Paling besar yang berperan adalah ginjal, feses


Batu ginjal

Dapat terbentuk :

- Ca Oxalat

- As. Urat

- Lesin, lisin, batu-batu yang dapat mengendap

- zat-zat yang larut diginjal yang melapisi batu



Kelainan gizi

Mempunyai tanda-tanda khusus seperti marasmus, penanganan dengan nutrisi parental


Gangguan nafas

Pada kondisi asma dapat terjadi serangan disebabkan oleh penggunaan obat/kondisi-kondisi patofisiologi morphin pada asma à tidak bisa bernafas


Infeksi

Untuk pernafasan : enemonia, pnemonifis, TBC, Bronchopnemonia, ISPA, ISPB.

Pada kondisi infeksi tidak boleh digunakan obat-obat imunodoprese karena dapat menurunkan kekebalan tubuh yang disebabkan oleh virus/bakteri.

  • Es obat à Anemia aplastik

- anemia megaloblostik : defisiensi asam folat, vit B12

- Permisiosa : B12

- Thalasemia : Anomia karena selain genetic

- Sel Sabit : Habisnya karena kelainan genetic

- Leukimia

  • Limfatik

  • Myeolitik (sumsum tulang)


Koagulopati : gangguan pada pembekuan darah.

  • Ada 7 cara pembekuan darah à Hertindal

Anomali Genetik

  • Faktor Genetik

Dapat berpengaruh pada modifikasi, nasib obat dalam tubuh sehingga kadar dalam darah dan pola metabolism tubuh berubah

  • Setia individu dapat memberikan reaksi yang berbeda terhadap obat

  • Perbedaan Farmakodinamika dan Farmakokinetika tergantung kepada gen (defisiensi enzim, hiperproduksi, enzim, atau modifikasi/polimorfisme) enzim dapat membentuk bermacam-macam enzim à dapat terjadi resisten à disebut juga idiosinkrasi.

  • Idiosinkrasi : obat memberikan efek yang berbeda terhadap orang/pasien.


Anomali genetic yang sudah jelas dikenal

  • Defisiensi glukosa 6 fosfat dehidrogenase enzim yang berperan pada metabolisme glukosa/karbohidrat, pada metabolisme. Pembentukan energi à ATP. NADH berperan pada membrane eritrosit yang berhubungan dengan Glutation.

  • Untuk metabolism KH à ES Anemia hemolifik jika enzim g dan Fd kurang didalam tubuh. Yang berkaitan dengan usia eritrosit


Gangguan glukoronal tranferase

Dalam tubuh disempurnakan pada usia 2 bulan, pada bayi yang kekurangan enzim ini à terjadi gangguan pada saat menerima obat-obat tertentu.


Defisiensi methomoglobin reduktase

Seseorang yang kekurangan enzim ini dapat mengalami keracunan karena kekurangan oksigen à susah bernafas à susah bernafas à kematian.


Akatalosemia : (defisiensi : Katalase enzim)

Enzim yang berguna untuk mencegah oksidasi sehingga dapat terjadi oksidasi berlebihan dari radikal bebas pada seorang yang tidak mempunyai/kekurangan enzim ini.

Dapat berlanjut menjadi mothemoglobin à kanker



Produksi berlebih asam aminolevulinat

Dapat terjadi porporia (Suatu penyakit kulit) yang terjadi sebagai akibat penimbunan porfirin


Asetilose tinggi/rendah

Asetilose tinggi à obat cepat terurai à kadar dalam darah indeks terapi tidak tercapai.


Polimorfisme Sitokrom P-450 (dapat bervariasi à 1000)

Mempunyai banyak isoenzim seperti CYP, dll. Sehingga banyak obat yang dapat dipengaruhi.


Polimorfisme kolinasterase dalam plasma

Jika kolinasterase berubah à asetikolin tidak dimetabolisme (efek terhadap tubuh)

Seseorang yang membentuk sedikolinosterase, sehingga asetilkolin tidak terurai.


Rakhitis yang resisten terhadap vitamin D

Orang yang tidak dapat membentuk Vitamin D dengan berjemur atau orang yang tidak dapat menerima vitamin D dari luar, biasanya rakhitis enzim nya tidak sempurna.

  • Gejala kaki O dan X


Modifikasi enzim dekarboksilose

Defisiensi Glukosa G. Fosfat dehidrogenase (G.GPD)

  • Hb + Zat Pengoksidasi à H2O2

  • H2O2 + 2 GSH 2GSH + GSSG


Glutation SH GSH (Glutationj tereduksi)

  • GSSG + NADPH 2 GSH + NADP

Tidak stabil

Bila dimembran eritrosit à Pecah

  • G-GP + NADP à G-GPD, GPG + NADPH

6 Fospo glukosa

  • Siklusnya !

H2O2 2O

Glutation peroksidase

GSH GSSG


Glutation tereduksi Glutation teroksidasi

G. Reduktase


NADP NADPH

Glukosa

Glukosa GP GGPD G. Fosfat glukonos

NADP

NADH

Fruktosa 6 Fosfat à à à Ribulosa



  • Bila G. 6 PD kurang à NADP banyak à ESSG tidak direduksi (menekan Rx GSSG menjadi GSH)

  • GSH diperlukan untuk menstabilkan membran, kekurangan GSH, eritrosit lisis <>

  • Usia eritrosit 120 hari (normal)

  • Pada defisiensi GGPD usia ertitrosit pendek








Regulasi Pecahnya Sel Darah Merah (Normal)

  • Pada eritrosit muda, konsentrasi G. 6 PD normal, dengan peningkatan usia eritrosit, enzim G.6 PD cepat turun T J nya dari sel normal (bukan defisiensi) dan cepat hilang dari sel darah merah.

  • Bila kemudian mendapatkan obat yang ES nya terhadap darah terutama nomolisis maka, terjadi ES Anemia hemolitik. Misalnya : Sulfonamida yang dapat menimbulkan hemolisis.


Bila defisiensi G. 6 PD

  • Anemia hemolitik meningkat à fatal

  • Obat yang ES nya hemolisis akan menonjol pada orang defisiensi G. 6PD, yaitu :

    • Anti Malaria

    • Ferosetin : para pemotidin yang dapat menyebabkan methomoglobin

    • Fenotiazin

    • CAptopril

    • Sulfon (Dapson)

    • Glafenin à analgetika

    • Aspirin

    • Vitamin K, analog Vitamin K

    • PAS

    • Sulfonamida

    • Penisilin dosis tinggi

    • Rifampisin

    • Naproken

  • Metildopa

  • Asam naliditesat (gol. Kuinolon), dll


ES Anemia nemolitik Paling Parah

    • Pada orang Negro (Afrika)

    • Penduduk Laut Tengah (Yunani, Sardinia)

    • Orang India 10%

  • Defisiensi G. 6PD : ada gen ikatan X resesif

  • Frekuensi : 10% pada Negro pria 1% pada Negro wanita


  • Anemia hemolitik dapat juga terjadi karena defisiensi :

  1. Adenin trifosfat

  2. Adenilat kinase

  3. Aldolase A

  4. Difosfogliserat mutase

  5. α-glutamyl sistein sintetase

  6. G. 6PD

  7. Glutation peroksidase

  8. Glutation Sintetase

  9. Heksokinase

  10. Heksosefosfat Isomerose

  11. Fosfogliserat kinase

  12. Pirimidin S’ nukleotida


  • Piruvat Kinase

    • Triose Fosfat Isomerose

    • Gangguan glukoroniltranferase

    • Hiperbilirubinemia non hemolitik


Definisi Glukosonil Transferase

  • Eliminasi metabolime obat (glukoronidase (Rx dengan as. Glukonronat oleh enzim)) bilirubin darah naik, kernik terus (sampainya bilirubin ke otak terutama pada bayi à bayi kuning, kematian).

  • Obat-obat yang dimetabolisme glukoronil transferase

    • PCT

    • Kiloramfenikol

    • Sulfonamida


  1. Kloramfenikol





Efek Toxic Kloramfenikol

  • Paramyelopathi/anemia aplastik

  • Gangguan pematangan sel darah merah (ertropoisis) à Reversibel

  • Gray syndrom pada bayi juga dapat terjadi pada dewasa

  • Rx. Hexheimer à jariseh pada Tifus

Bila Kadar kloramfenikol (pada orang yang defisiensi glukoronil transferase) terlalu tinggi pada darah, sehingga sel samonola pecah à keluar endotoksin à Shock anafilotati

  • Hambatan sintesis protein mikrosomal à inhibisi enzim (kloramfenikol menginhibisi enzim spesifik) pada pemakaian yang terus menerus.


  1. Sulfonamida






  • Asam glukoronat terkonjugasi pada sgs NH (amin aromatis)

  • Efek antibakteri hilang

  • Tanpa glukuronidase à efek toksisitas naik

Kontra Indikasi

  • Pada Insufisiensi glukuronil transferase

  • Bayi <>

  • Wanita Hamil dan Menyusui


  1. Fenasetin/Paracetamol








KI - Defisiensi glukoronil transferase

    • Bayi 2 bulan


Keracunan akut Ferasetin

Gelisah, methemoglobinemia, lemah, delirium, kejang, lumpuh pernafasan, koma.


Keracunan Kronis :

Anemia hemolitik, keracunan ginjal.


Asetilase

Variasi individu, factor genetika produk enzim lebih banyak, maka aktivitas naik, atau jumlah enzim tetap tetapi struktur berbeda (sehingga terjadi peningkatan aktivitas)

Asetilator lambat

Eskimo 5%

Jepang 10%

Korea 11%

Ainu 13%

Thailand 33%

Filipina 32%

Indonesia (Jawa) 33%

Burma 37%

Malaysia 42%

Cina 22%

Negro 50%


Kecepatan asetilase meningkatkan pada DM (mungkin kenaikan) enzim akibat kelainan metabolisme glukosa meningkat à enzim asetilase terpicu. Efek obat tertentu cepat hilang.


Penurunan Asetilase à Pada mal nutrisi primer atau sekunder

  • Penentuan kelompok Asetilator

  • Menggunakan obat yang diasefilasi

  • Penentuan kinetic

  • Penentuan T ½

  • Rasio metabolik senyawa asetil


Toksisitas juga dapat terjadi pada :

  • Protein plasma

  • Enzim pemotabolisme


Obat-obatan yang di asetilasi

  • INH à asetilasi 75%, T ½ berbeda pada asetilator cepat dan lambat Dosis terlalu tinggi, bisa muncul gangguan ssp dan perifer

  • DOS (dapson)

  • Hidralazid

  • PABA

  • PAS

  • Sulfonamida

  • Pusing

  • Sakit kepala

  • Hiperrefleksia

  • Neuritis

  • Gangguan saluran cerna

  • Alergi

  • Leukopenia

  • Kerusakan hati (jarang)


Sulfonamida 0-60%

Sufakarbamid 15%

Sulfasomidin 10-35%

Sulfamoksol 45-60%

Sulfametoksazol 0-30%

Sulfametoksidiazin 15-30%

Sulfadimotoksin 10-25%


ES : Krietal uria menonjol pada asetilator cepat (asetil sulfonamide à mengendap)


PAS : Asetilasi : 75-85%

Metabolitnya : asetil PAS; glisin PAS


Asetilator lambat : efek samping naik, toksisitas sebanding pada bayi <>

ES : - Gangguan saluran cerna

  • Alergi

  • Kadar protombin turun

  • Hambatan kerja kelenjar tiroid

  • Gangguan darah

  • Toksisitas fenitoin naik pada asetilator lambat


Defisiensi Katalase (akatalasemia)

Sering terjadi pada orang jepang, sehingga H2O2 tidak digunakan pada cabut gigi. Karena katalase menguraikan H2O2. Penggunaan H2O2 pada orang dengan akatalasemia akan terjadi porodontosis yang parah (bengkak), nyeri gusi, mothomoglobin. H2O2 terbentuk dari oksidasi sel dalam tubuh.

Efek H2O2 : Gangguan intestine, Iritasi, tukak kolon/tukak peptik.


Defisiensi Mothomoglobin Reduktase

MetHb normal 1-3% secara normal direduksi

Defisiensi metHb reduktase menyebabkan kadarnya MetHb dalam darah naik 20-50x


Gejala Met Hb

  • Sianosis

  • Sakit kepala

  • Pusing

  • Lesu

  • Jantung berdebar

  • Sulit bernafas

  • Suhu tubuh menurun (hipotemi)

  • Kematian



Penyebab :

  • Obat (Ferosetin)

  • Naftalen (pada mainan anak-anak)

  • Nitrit (pada biscuit yang beracun), dll.


Terapi : reduktor I.V (birutoloidin, asam askorbat glutation, metilen blue à I.V infus)


Polimorfisme Kolinesterase dalam plasma

Kolinesterase cacat aktivitas berkurang menjadi 20-30%

Kolinosterase normal à penguraian suksametonium lambat à Relaxi otot (lumpuh pernafasan)

  • Kasus : setelah penyuntikan suksametonium klorida (muscle relaxan depolarisasi), 3-4% pasien mengalami relaksasi otot-otot lumpuh pernafasan tidak terjadi pada dibukain, dapat diatasi dengan adrenalin atau kolinergik (neostigenin)

Dibukain hanya diuraikan oleh pseudoesterase.

  • Pada kerusakan hati : esterase meningkat

SGOT SGPT terbentuk banyak


Produksi berlebihan asam amino Ievulinat sintetase

Enzim mopati α –ALA- sintetase (berlebih) menyebabkan porfiria dominan. Produksi porfirin dan perkusor porfirin naik.

Obat dengan ES porfiria (yang menginduksi α –ALA- sintetase)


Obat-obatan yang menginduksi α –ALA- sintetase :

  • Barbiturat

  • Alil barbiturate

  • Fenobarbital

  • Fenilbutazon

  • Sulfonamida

  • Estrogen

  • Preigonondiol

  • Pregnanolol

  • Sulfon

  • Eriseovulfin

  • Kloroquin

  • Sodormid


Obat-obatan tersebut juga dapat digunakan pada defisiensi α –ALA- sintetase tapi KI pada keadaan porfirin


Penginduksi α –ALA- sintetase selain obat

  • Heksaklorobenzen (Fungisida pada sayuran)

  • Kelaparan (glukosa merupakan repressor aktivitas α –ALA- sintetase hepatic) α –ALA- sintetase naik


Haem à mioglobin, katalase, peroksidase dan sitokrom

Gugus prostetik Salah satu prekusor haem à protoporfirin

dari Hemoglobin

(Hb)


2 α – ketoglutarat + glisin à pirol

4 pirol à protoporfirin III

protoporfirin III + Fe à haem

4 haem + globin à hemoglobin











Uro (uroporfirin) I, III, copro (coproporfirin) I, III terdeteksi dijaringan












Patofarmakologi dan Toksikologi”

Klasifikasi Porfiria

  1. Porfiria eritropoetik (kongenital eritropoetik)

  2. Porfiria hepatik (genetik) à oleh obat-obatan yang menginduksi enzim griseovulfin ditemukan pertama di Swedia dan Afrika Selatan.

  1. Diperoleh secara genetik

  • Acute intermittent porfiria (Swedia)

  • Porfiria variegata (Afrika Selatan)

  • Coporfiria herediter

  • Porforia cutaneatarda

  1. Akibat toxin, alkoholisme, Industri neksaklrobenzen



Acute Intermittent Porforia (Porforia hepatik secara genetik)

Terjadi pada dewasa muda

Gejala :

  • Kolik abdominal

  • Paresis (lemah otot)

  • Paralisis

  • Gangguan Fisik



Porfiria Cutaneatarda (genetik)

Terjadi pada dewasa

Gejala :

  • Fotosensitif

  • Pigmentasi Kulit

  • Disfungsi hati

Porforia kongenital (porforia eritropoetik, P. Fotosensitif) terjadi pada bayi baru lahir

  • Dermatitis (eksim, kena sinar matahari à melepuh)

  • Terbentuk vesikel

  • Bagian gusi merah (seperti berdarah)





Gangguan biokimia

Met. pirol

Peningkatan

Gejala Klinis

Aktivitas α – ALA sintetose naik

α – ALA PBG

  • Acute Intermittent porforia

  • Porforia Variegata

Coporforia herediter

Aktivitas Uragen II

Co Sintetase naik

Pembentukan

URO I

  • Eritropoetik porforia kongenital

Produksi proto III naik

Akumulasi Proto III

Protoporforia (adanya prototein dalam eritrosit)





Polimorfisme Sitokrom P-450

Polimorfisme merubah aktivitas oksidasi pada kelompok oksidator cepat

  • 90% penduduk eropah merupakan oksidator cepat untuk spartein deprisokuin, nortritilin, pemblok α – adrenoreseptor (propanolol, metoprolol)

  • Luar Eropah oksidator lamat à kadar plasma meninggi à toksisitas naik.



Keracunan anti depresan trisiklik (TCA) : gejala kardiovaskular berat

Tahhikardia, gangguan ritmus jantung, hipertermia, dilirium, kejang, pada korus berat jantung dan pernafasan berhenti.

Keracunan blokor β adrenoreseptor

Tak spesifik :

  • Gangguan saluran cerna (mual, muntah, diare)

  • Gangguan SSP (lelah, sakit kepala, linglung)

  • Alergi

Spesifik :

  • Kontraksi jantung lemah, bradikardia

  • Hipoglisemia spontan, ketosidosis pada penderita DM

  • Gangguan ventilasi saluran pernafasan

99n β2 adrenoreseptor pada DM à Hipo dan Hiperglisemic

Adrenalin yang diblok à tidak terjadi perubahan glukogen à glukosa à Hipoglisemia

β2 à Insulin diblok à hiperglisemia

Resistensi Vitamin D

Tidak dapat menggunakan Vit D à Rakhitis

  • Penanganan dengan Vit D dosis tinggi secara 1.V



Modifikasi enzim dekarboksilase

Keju (tirosin) dekarboksilase tiramin (suatu amin biogenik)

Bila aktivitas dekarboksilase tinggi, tiramin tinggi à HT

  • Alpukat à sudah langsung mengandung tiramin



Patologis Sistem Biotransformasi

Etiologi :

  • Geneik (defisiensi enzim, hiperaktif enzim)

  • Insufisiensi hati

  • Variasi flora usus

  • Kerusakan hati (zat hepatotoksik, virus)

  • Induksi enzim

  • Inhibisi enzim



  • Zat hepatotoksik :

  • PCT, Tetrasiklin, griueovulfin, alkohol

  • Induktor enzim

Langsung merusak sel-sel hati

Mengendapkan zat/mengikat

Makromolekul dihati (spt : PCT)

  • Vitamin E à ditimbun dihati



Insufisiensi Hati

Fungsi Hati menurun, kemampuan metabolisme turun, gangguan sintesis (protein, lipoprotein, vitamin) katabolisme dan sekresi hati (organ empedu).



Gangguan Fungsi hati :

Akut

Kronis

  • Ringan

  • Berat

  • Koma hepatikum

Jika kerusakan hati yang disebabkan oleh virus : selama virus tidak mengikat gn dihati seperti hepatitis A

  • Jika hepatitis (penularan dengan jarum suntik) à sirosis Hati, karena hati menjadi tak berfungsi

Sel hati dapat bergenerasi

Sel saraf induk à tidak dapat bergenarasi à oleh karena itu penyakit-penyakit syaraf sulit diobati.

Jika dendrit dan Sensor pada syaraf à dapat recorvery



Gangguan metabolisme

  • Gangguan energi ; met (penurunan konsentrasi ATP, penurunan perbandingan NAD/NADH)

  • Gangguan Met KH (penurunan kandungan glikogen, hiperglusemia, hipoglisemia, tidak mampu menggunakan laktak)

  • Gangguan Met. Lipid (reduksi sintesis lipoprotein, tidak mampu menggunakan asam lemak sehingga hiperlipidemia, tidak mengestrifikasi kolestrol)

  • Gangguan Met dan Sintesis protein

  • Gangguan met. Bilirubin

  • Gangguan struktur sel hati

KI : zat hepatotoxic, Induktor dan Inhibitor enzim.



Semua obat TB à hepatotoxic

Streptomicyn adalah obat TB gol aminoglikosida yang tidak berefek langsung pada hati tapi dapat merusak ginjal.



Komahepatikum dan perlemakan hati

Komahepatikum : Gangguan kesadaran denngan perubahan fisik, gangguan motorik dan patologi pada ensefalogram

Pelemakan hati : ditunjukkan dengan akumulasi lemak terutama trigliserida sampai 29% dari berat hati.

Akibat penimbunan lemak dihati terjadi gangguan sintesis VLDL, apolipoprotein, Fosfolipid, kolestrol dan TB dalam hati.



Fibrosis hati dan Sirosis hati

Fibrosis hati : perbanyakan jaringan ikat pada hati

Sirosis hati : Gangguan hati dengan fibrosis dan neksosis sel hati (kerusakan jaringan yang struktur pembuluh)

Akibat sinosis

  • Kemampuan sintesis turun

  • Aktivitas kolinesterase turun

  • Albumin serum turun

  • Faktor pembekuan darah turun

  • Penurunan fungsi konyugasi dan detoksifikasi

  • Bilirubin dan amoniak serum naik.



Penginduksi Fibrosis dan sirosis hati

Zat-zat warna yang ilegal, pengawet, micotoxin (aflatoxin)



Klasifikasi sirosis berdasarkan faktor penyebab :

  • Sirosis etilasetat, alkohol 40-50%

  • Sirosis post progenetik 20-30%

  • Sirosis Kriprogenetik (penyeba tidak jelas) 2-30%

  • Sirosis idiopati (pada wanita monopause)

  • Sirosis aktif (pada usia muda)

Penyebab gangguan hati

  • Intoksikasi alkohol, CHCl3, Toxin toloidin α amanitin, fosfor

  • Infeksi virus, spirokhet, protozoa, bakteri

  • Zat hepatotoxic, induktor-inhibitor enzim

  • Kekurangan oksigen, vitamin atau nutrisi lain



















Kegagalan pengobatan akibat induksi enzim

Obat KB cepat terurai oleh pemakaian

  • Barbiturat

  • Dioksoperidine ureida (sedatif)

  • Klorpromazin (transkuilansia)

  • Impramin (anti depresan)

  • Meprobamat (anti deprosan)

Parameter kerusakan hati

  • Urin : bilirubin naik

  • Serum : - alkalifosfatase naik

  • Bilirubin naik à urin kuning tua

  • Glukosa darah turun

  • Brom sulfalein (BSF) naik

  • Flokulasisefalih naik

  • Kolestrol turun

  • Uji kekeruhan tirrol naik

  • SGOT, SEPT. naik à ptama lepas pada kerusakan




Obat-obat Hepatotoxic

  • Allopurinol

  • Amfoterisin B (mengikat sterol)

  • Kloramfenikol (inhibitor enzim)

  • Klordiazepoksid (induktor enzim)

  • Klorpromazin (induktor enzim)

  • Siklofosfamid

  • Sikloserin

  • Difenilhidantoin

  • Eritromisinestilat (inhibitor enzim)

  • Haloperidol

  • Imipramin

  • Indometasin

  • Tolbutamid

  • Metotrexat

  • Metildopa

  • Metiltiourasil

  • Oleandomisin

  • Oksasilin

  • Oksazepam

  • Pertenazin

  • Fenofiazin

  • Proka Inamid

  • Propil tiourasil

  • Sulfonamida

  • Tetrasiklin




Zat-zat yang menginduksi penyakit hati

Obat

Cholestatis Jaundice

Hemolitic

Jaundice

Hepatoselular

Jaundice

Mixed

Jaundice

PCT



X


Asetanilid


X

X


Atetinomisin





Kloramfenikol

X




Diazepam

X




INH



X

X

Metotrexat

X




Noretandrolan

X




Norefindron

X




Fenasetin



X


Fenoorbital




X

Sulfonamida




X

Testraseitilin



X


Tolbutamid

X




Uretan



X


Stetomisin



X


Fenilbutazon




X







Patofarmakologi sistem Ekskresi

Fungsi ginjal

  • Ekskresi produk buangan dan racun

  • Mengontrol TJ dan volume darah dengan cara ekskresi air dan senyawa terlarut (spt : asam urat)

  • Mengatur pH darah

  • Sekresi hormon (renin (RAA), erythropoetin, 1, 2, 5 dihidixyuitamin D3)

  • Menyimpan nutrient tertentu dengan mencegah ekskresi berlebihan (spt : Vitamin E, TG)



Proses diginjal

  • Filtrasi : elomerulus

  • Reabsorpsi : Tubular

  • Sekresi : Tubular



Kompetisi sekresi ditubulus : protenesid dan penisilin



Gangguan Ginjal Akut

Definisi : penurunan fungsi ginjal mendadak dalam beberapa jam sampai dengan beberapa hari yang menyebabkan gagal ginjal untuk mengekresikan sisa metabolisme nitrogen dengan dan tanpa disertai terjadinya gangguan kesehatan?

Definisi Bates dkk : Gangguan Ginjal Akut kenaikan keratinin, serum >50% atau sampai 3 mg/dl. Gangguan ginjal berat, kenaikan kreatinin 100% atau sekurang-kurangnya 3 mg/dl

Di USA : Angka kejadian diluar RS 100 kasus/1 juta penduduk angka kejadian di RS

0,5-1%





Gagal Ginjal Akut (Acute Renol Failure)

Gagal Ginjal akut adalah penurunan fungsi ginjal secara tiba-tiba yang dikarakterisasi oleh :

  • Ketidakmampuan ginjal untuk mengekresikan produk metabolit (senyawa nitrogen yang tidak berguna dan air)

  • Ketidakmampuan dalam memelihara keseimbangan asam-basa

  • Menurunkan kecepatan filtrasi glomerulus (GFR) dan bersifat reversibel.

  • Asidosis dan alkalis à Terganggunya pada pernafasan



Perjalanan Penyakit

Tahap Inisiasi : Kadar kreatinin serum naik, volume urin turun, retensi cairan, gangguan elektrolit

Tahap Menetap : Volume urin mulai meningkat, masih terdapat retensi dan gangguan elektrolit.

Tahap Penyembuhan : Kadar kreatinin serum menurun, fungsi tubulus berangsur normal

Penyebab GGA : dehidrahsi, syok, hipovolemia, sepsis, netrotoksisitas, obat, gagal jantung, obstruksi postrenal



Gejala klinis :

Uremia (banyak nitrogen dalam darah), lemah badan, gatal-gatal, nafsu makan menurun, mual, muntah, hematemesis (muntah darah), kesadaran menurun hingga koma.



Gangguan elektrolit :

  • Hipo/hiperkalemia

  • Hipo/hipernatrimia

  • Asidosis metabolik

  • Efusi pleura



Pemeriksaan Lab :

  1. Kreatinin

  2. Fraksi ekskresi Na

  3. FE Na : Na. Urin X Cr. Serum X 100%

CR. Urin Na. Serum



  1. Fraksi ekskresi urea : perhitungan

Na. Urin X Cr. Serum X 100%

CR. Urin Na. Serum

Na : Natrium Cr: Kreatinin



Klasifikasi berdasarkan ekologi

  • Parerenal : penurunan alirah darah ke ginjal, kekurangan cairan tubuh, volume darah efektif turun, pengaruh oabt (kasus 0-70%)

  • Renal (Instrinsiu) : Injuri/gangguan pada tubuh atau glomerulus, vaskular, interstinal (kasus 25-40%)

  • Postrenal : Sumbatan total atau parsial pada ginjal, ureter, kandung kemih (kasus -10%)



Parerenal Azotemia (Penimbunan Nitrogen)

Akibat hipoperfusi pada parenkim ginjal dengan atau tanpa hipotensi arteri sistemik

  • Hipoperfusi dengan adanya hipotensi renal disebabkan turunnya volume intravaskular dan turunnya volume darah efektif.

  • Hipoportusi tanpa hipotensi disebabkan hambatan bilateral arteri renal.



Penyebab Prerenal Azotemia

  • Hipovolemia (kehilangan darah, penggunaan divrefik berlebihan)

  • Vosodilatasi perifer (obat anti Hipertensi)

  • Penurunan cardiar output

  • Peningkatan resutensi pembuluh remal



Obat-obatan yang menyebabkan Prerenal Azotemia

NSAID3 : Menghambat produksi prostagkindin, sehingga menyebabkan peningkatan taharon afferen akteriolar

ACEi : Menurunkan tahonan efferent oerteriolar



ARF Fungsional

Turunnya produksi ultrafiltrasi glomerular untuk menurunkan tekanan hidrostatik glomerular tanpa adanya kerusakan pada ginjal

Arf Instrinsik : Terjadi karena kerusakan pada ginjal itu sendiri, kerusakan terjadi pada bagian

  • Tubulus

  • Interstinum ginjal

  • Glomerulus

Post renal failure : Disebabkan oleh obstruksi yang terjadi dari tubulus ginjal sampai uretra, terjadi penumpukan buangan nitrogen. Obstruksi yang sering terjadi adalah obstruksi kandung kemih.



Penyebab PRF :

  • Obstruksi uretra : (terjadi pembekuan darah, batu dan kristal, nokrosis, papilari, tumor dan fibrosis)

  • Obstruksi kandung kemih : infeksi kandung kemih, hipertrofi posfat, kanker kemih, injufisienji saraf, obat-obatan.



Obat-obatan yang menginduksi konservatif

Tahap I : Memperbaiki etiologi : rehidrasi untuk dehidrasi sepsis diobati

Tahap II : merubah oligouria menjadi non-oligouria, pemberian diuretik (furosemid, bumetanid, manitol)

Tahap III : Mempertahankan homeostatis tubuh, hiperkalomia, dan osidasis dihindarkan, diet protein 0,0-1,09/Kg perhari garam dikurangi.

Penanganan dengan renol replacement therapy(dialisis, hemoperfusi cangkok ginjal)

Hemoperfusi à melewati suatu resin untuk menghambat racun



Kriteria untuk renal replacement therapy

  • Oliguria (output urin <>

  • Anuria (<50>

  • Hiperkalemia > 6,5 mmol/l

  • Severe acidemia (pH <>

  • Azotemia (Urea > 30 mmol/l)

  • Uremic pericarditis

  • Uremic neuropathy/myopathy

  • Severe dysnatremia (Na) > 160 atau 15 mmol/l

  • Hypostermia (demam)

  • Over dosis obat

  • Non alogouria <>

  • Normal (500 ml – 1L/12 jam)