Selamat Datang di X3-PRIMA, Melayani Setulus Hati, Memberikan yang terbaik

29.5.09

farmakologi

FARMAKOLOGI


I. Inhibitor Dinding Sel Bakteri

Sistesisnya terganggu sehingga dinding kurang sempurna dan tidak dapat menahan tekanan osmotic dari plasma lagi dengan akibat pecah, misalnya : Penicillin dan sefalosporin.

Penisillin dan Sepalosporin (antibiotic β-laktam)

Yang dimaksud antibiotic β-laktam yaitu Penisillin dan Sefalosporin.
Penicillin diperoleh dari jamur Penicillium chrysogenum, sedangan Sefalosporin diperoleh dari Cephalorium acremonium.
Kedua kelompok ini mempunyai rumus bangun serupa yaitu cincin β-laktam yang merupakan syarat mutlak untuk khasiatnya. Jika cincin ini terbuka, musalnya oleh cincin enzim β-laktamase (penisilinase dan sepalosporinase) maka khasiatnya akan hilang.
Spectrum kerja sefalosporin lebih luas dan meliputi banyak jenis gram-negatif.

Mekanisme keja
Dinding sel bakteri terdiri dari suatu rangkaian mukopeptida yang saling terikat satu sama lainnya. Penisilin dan Sefalosporin mencegah sintesis nuclein yaitu senyawa spesifik dan diperlukan oleh bakteri. Bila sel tumbuh dan plasmanya bertambah atau menyerap air dengan jalan osmosis, maka dinding sel akan pecah dan bakteri musnah. Dinding sel manusia dan hewan tidak terdiri dari nuclein, maka obat ini tidak toksis untuk manusia.

Resistensi
Cara kuman-kuman melidungi diri dari antibiotika ini dengan cara membentuk enzim β-laktamase, terutama Stafilococci dan bakteri Coli.
Jenis resistensi lain adalah terbentuknya bakteri bentuk L, yaitu bakteri tanpa dinding sel, yang terjadi sebagai reaksi terhadap penisilin atau sefalosporin dengan jalan mutasi. Bakteri bentuk L ini lama berkembangnya, sehngga menimbulkan infeksi kronis misalnya infeksi paru-paru dan saluran kemih. Dengan antibiotika yang tidak bekerja terhadap dinding sel, bakteri ini dengan mudah dimatikan, misalnya Kotrimoksazol atau Tetrasiklin.

Derivate-derivat semi sintesis
Pada fermentasi Penicilium chrysogenum, terbentuknya inti Penisilin-APA (6-aminopenicillanic acid). Bila pada persemaian (culture substrate) dibubuhi zat-zat pelopor tertentu yang disebut precursors, maka didapatkan derivate-derivatnya, misalnya:
Benzylpenisilin (Penisilin G)
Fenoksi-metil penisilin (Penisilin V)


Karena tidak semua derivate dapat dibiosintesis seperti ini, maka dihasilkan derivat-derivat semi sintesisnya, misalnya : Ampisilin, Amoksilin, Kloksasilin, dan sebagainya.
Analog dengan ini pada fermentasi Cephalorium acremonium menghasilkan antara lain Sefalosporin C, yang secara kimiawi dipecah menjadi inti Sefalosporin ACA (7-amino-cephalosporanic acid).

Obat-obat tersendiri

Penisilin
Karena sifatnya berbeda-beda, penisilin dibagi atas beberapa kelompok

1. Derivat spektrum sempit (narrow spectrum)
Tidak tahan asam lambung, maka pada pemakaian oral sebagian akan terurai oleh asam lambung. Karena itu hanya digunakan sebagai injeksi im atau infus intra vena. Masih banyak digunakan karena khasiatnya bakterisid yang terkuat, antara lain untuk penyakit kelamin dan sebagai obat profilaktik jika ada bahaya penularan penyakit kelamin, dufteri, tetanus atau rema akut.
Contoh : Penisilin G (Benzil Penisilin)
Derivate tahan asam lambung, maka pemberian sebaiknya dalam keadaan sebelum makan.
Contoh : Penisilin V, Fenetisilin, Propisilin.

2. Derivat tahan penisilinase
Derivat ini hamper tak terurai oleh penisilinase, tapi aktifitasnya jauh lebih ringan dari Penisilin G atau Penisilin V. Maka hendaknya digunakan untuk kuman-kuman yang resisten terhadap obat-obat tersebut.
Contoh : Methisilin, Kloksasilin, Dikloksasilin, Flukloksasilin.

3. Derivat spectrum luas (broad spectrum)

Ampisilin
Spektrum kerjanya meliputi banyak basil gram negative yang tidak peka terhadap penisilin G. khasiatnya terhadap kuman-kuman gram positif lebih ringan daripada penisilin-penisilin spektrum sempit. Banyak digunakan untuk mengobati berbagai macam infeksi/ peradangan pada saluran pernafasan (bronhitis), saluran pncernaan (disentri), dan saluran kemih (syphilis).

Dosis dan penggunaan
Ampisilin sering digunakan untuk infeksi saluran kemih, saluran pernafasan, saluran pernafasan dan bacterial oitis media.
Untuk dewasa dan anak-anak diatas 20kg : 4 kali sehari 250-500mg. anak-anak dibawah 20kg : 50-100 mg/kg berat badan, dalam dosis terbagi setiap 6-8 jam. Dosis tinggi diberikan untuk infeksi yang lebih berat.

Diminum setiap saat dengan air atau cairan lainnya. Penyerapan lebih baik bila ditelan sewktu lambung kosong (2 jam sesudah atau sebelum makan).

Efek samping
Reaksi hipersensitif : ruam kulit, pruritus, urtikaria, demam, angio edema, eritema multiforme, eksfoliatif dermatitis.
Iritasi gastrointestinal : mual, muntah, diare, kram.
Sebaiknya obat ini dihentikan bila timbul gejala ini.

Amoksisilin
Spektrum kerjanya sama dengan Ampisilin, tetapi absorpsinyalebih cepat dan lengkap. Banyak digunakan terutama pada bronchitis menahun dan infeksi saluran kemih.

Dosis dan penggunaan
Amoksisiklin efektif mengobati penyakit :
Infeksi saluran pernafasan kronik dan akut : pneumonia, faringitis (tidak untuk faringtis gonore), bronchitis, laryngitis.
Infeksi saluran cerna : disentri basiler
Infeksi saluran kemih : gonore tidak terkomplikasi, uretritis, sistitis, pielonefritis.
Infeksi lain : septicemia, endokarditis.
Dosis disesuaikan dengan jenis dan beratnya infeksi. Anak denagn berat badan kurang dari 20kg : 20-40 mg/kg berat badan sehari, terbagi dalam 3 dosis. Dewasa atau anak dengan berat badan lebih dari 20kg : 250-500mg sehari, sebelum makan. Gonore yang tidak terkomplikasi : amoksisilin 3gr dengan probenesid 1gr sebagai dosis tunggal.

Efek samping
Pada pasien yang hipersensitif dapat tejadi reaksi alergi seperti urtikaria, ruam kulit, pruritus, angioedema dan gangguan saluran cerna seperti diare, mual, muntah, glositis dan stomatitis.

Hetasilin
Dalam plasma darah terurai menjadi Ampisilin dan Aceton. Penyerapannya lebih buruk daripada Ampisilin.

4. Derivat yang aktif terhadap Psedomonas
Daya anti-Psedomonasnya berbeda-beda, yang paling kuat adalah Piperasilin.
Aktifitas derivat ini meliputi banyak bakteri gram negative lainnya, termasuk suku- suku Proteus.
Contoh : Karbenisilin, Karindasilin, Sulbeisilin, Ticarsilin, dan Piperasilin.





Sefalosporin
Derivat-derivatnya yang absorpsinya baik antara lain :

Cephalexin
Tahan asam lambung dan tahan penisilinase, hampir lengkap diabsorpsi usus.
Penggunaannya terutama pada infeksi saluran kemih oleh bakteri gram negative dan Stafilococci yang resisten terhadap Penisilin. Sebaiknya diberikan sebelum makan.

Cephradin
Khasiat dan penggunaannya sama dengan Cephalexin. Dapat diberikan juga dalam bentuk injeksi im atau iv.

Dosis dan penggunaannya
Sefalosporin (cefadroxil) digunakan untuk mengobati pasien infeksi yang disebabkan oleh strain yang rentan dan menunjukan penyakit :
1.Infeksi saluran kemih yang disebabkan oleh Eschricihia coli, Proteus mirabilis dan Klebsiella sp. Seperti Pyelonefritis, Sistitis, Uretritis, Adneksitis, Endrometritis.
Dosis infeksi saluran kemih bagian bawah (sistitis) sehari 1-2 gr dalam dosis tunggal atau dosis terbagi (2 kali sehari)
Dosis infeksi saluran kemih lain, sehari 2gr dalam dosis terbagi (2 kali sehari)
2.Infeksi kulit dan jaringan lunak yang disebabkan oleh Staphylococcus dan/atau Streptococcus. Seperti Limfadenitis, Abses, Selulitis.
Dosis sehari 1 gr dalam dosis tunggal atau dosis terbagi (2 kali sehari)
3.Faringitis dan Tonsilitis, yang disebabkan oleh Beta-hemolitic streptococcus.
Pengobatan Beta-hemolitic streptococcus, sehari 1gr dalam dosis tunggal atau dosis terbagi (2 kali sehari) selama sekurang-kurangnya 10 hari
4.Infeksi saluran pernafasan begian atas dan bawah
Infeksi ringan, sehari 2 kali 500mg
Infeksi sedang sampai berat, sehari 1-2 gr dalam dosis terbagi (500mg-1gr tiap 12 jam)
5.Infeksi lain seperti Osteomyeliti, artitiseptis, peritonitis.

Efek samping
Gangguan gastrointestinal; gejala-gejala pseudomembranus colitis, mual, muntah dan diare. Hipersensitivitas; alergi (ruam kulit, urtikaria angioedema)









II. INHIBITOR SINTESA PROTEIN

Protein sel dikacaukan sehingga sintesisnya gagal, misalnya kelompok kloramfenikol, Tetrasiklin, Aminoglikosida, dan Makrolida.

Kloramfenikol
Semula diperoleh dari jenis Streptomyces venezuelae (1947), kini dibuat secara sintesis. Antibiotika broad spectrum ini aktif terhadap banyak kuman gram positif dan gram negatif. Berkhasiat bakteriostatik dengan jalan perintangan sintesis protein bakteri.
Sebaiknya jangan diberikan kepada bayi, karena bayi yang baru dilahirkan belum memiliki sistem enzim perombakan yang cukup berkembang, maka mudah mengalami keracunan.
Efek sampingan yang sangat berbahaya adalah kerusakan pada sumsum tulang dan terganggunya pembuatan eritrosit, sehingga dapat terjadi Anaemia Aplastis serta gangguan darah lainnya. Oleh karena itu pada infeksi-infeksi biasa yang mudah diobati dengan antibiotika lebih aman, seperti Ampisilin dan Doksisiklin sebaiknya jangan menggunakan Kloramfenikol.
Ester-esternya (Palmitat dan Stearat) tidak pahit seperti kloramfenikol, maka sering digunakan sebagai suspensi dan sirup. Untuk injeksi digunakan garam Natrium dari ester Suksinat yang mudah larut dan dalam jaringan akan menghasilkan Kloramfenikol kembali. Derivatnya tiamfenikol mempunyai spektrum kerja dan sifat- sifat lebih kurang sama dengan Kloramfenikol, tetapi aktifitasnya lebih ringan sedikit. Tidak dirombak dalam hati dan dikeluarkan dalam bentuk aktif lewat empedu dan ginjal, maka dianjurkan untuk infeksi saluran empedu dan ginjal.

Dosis dan penggunaan
Kloramfenikol biasanya digunakan untuk infeksi saluran kemih, saluran pernafasan dan saluran pencernaan, bacterial otitis media.
Dewasa, anak-anak, bayi berumur lebih dari 2 minggu : 50 mg/kg berat badan sehari dalam dosis terbagi 4. Bayi premature : 25 mg/kg berat badan sehari dalam dosis terbagi 4. Infeksi gonokokal : 2500 mg sehari dalam dosis tunggal, dilanjutkan 500mg tiga kali sehari selama 5 hari.

Efek samping
Diskrasia darah, seperti anemia aplastik, anemia hipoplastik, trombositopenia dan granulositopenia. Gangguan saluran pencernaan, seperti mual, muntah, glositis, stomatitis dan diare. Reaksi hipersensitif, seperti demam, ruam, angioedema, dan urtikaria. Efek samping lain seperti sakit kepala, depresi ringan, gangguan mental, neuritis optic dan perifer dan Gray syndrome.






Tetrasiklin
Diperoleh dari Streptomyces aureofaciens, yang pertama ditemukan adalah Klortetrasiklindisusul Oksi-tetrasiklin. Dengan menghidrogenasi Klortetrasiklin didapatkan Tetrasiklin. Semua Tetrasiklin berwarna kuning dan bersifat amfoter. Tidak boleh disimpan pada tempat yang panas dan lembab, mudah terurai menjadi anhydro- da epi-tetrasiklin yang sangat toksis bagi ginjal.
Dapat mengendap pada jaringan tulang dan gigi yang sedang tumbuh pada janin dan anak-anak yang dapat mengakibatkan gigi berbintik coklat dan mudah berlubang (caries). Oleh karena itu semua Tetrasiklin sebaiknya jangan diberikan antara bulan-4 dari kehamilan dan anak-anak sampai umur 8 tahun.
Mekanisme kerjanya sebagai bakteriostatik yaitu menghambat sintesis protein ribosom yang akan menyebabkan blockade perpanjangan rantai peptide.
Berkhasiat bagi bakteri gram positif dan gram negative pathogen, spiroketha, amoeba dan virus-virus besar. Tidak berkhasiat terhadap Pseudomonas aeruginosa dan Proteus mirabilis.

Obat-obat tersendiri
a.Tetrasiklin, klor-tetrasiklin dan oksi-tetrasiklin
Ketiganya diberikan dalam bentuk kapsul, sirup, salep mata/kulit. Resorpsinya dapat dihambat oleh susu atau makanan lain. Dalam pemakaian oral sebaiknya diberikan dalam keadaan perut kosong.
b.Diksisiklin dan Minosiklin
Absorpsi derivate-derivat long acting ini praktis lengkap dan cepat sekali. Dosisnya cukup dengan single-dose sehari. Resorpsi tidak dihambat oleh makanan atau susu seperti derivate yang lain. Aktivitas kedua antibiotika ini meliputi banyak bakteri yang resisten untk Tetrasiklin atau Penisilin. Minoksiklin dianjurkan pada menginitis, bronchitis menahun dan acne. Tetapi sering menimbulkan efek samping seperti mual dan muntah, juga gangguan terhadap organ keseimbangan dengan gejala vertigo.

Dosis dan penggunaannya
Tetrasiklin biasa digunakan untuk : Bruselois, batuk rejan, pneumonia, demam yang disebabkan oleh Rickettsia, infeksi saluran kemih, bronchitis kronik, Psittacosis dan Lymphogranuloma inguinale. Juga untuk pengobatan infeksi-infeksi yang disebabkan oleh Staphylococcus pada penderita yang peka terhadap penisilin, disentri amuba, frambusia, gonore, dan tahap tertentu pada sifillis.
Dosis dewasa : 4 kali sehari 250-500mg
Lama pemakaian : kecuali terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, pengobatan dengan Tetrasiklin kapsul hendaknya paling sedikit berlangsung selama 3 hari, agar kuman-kuman penyebab penyakit dapat terberantas seluruhnya dan untuk mencegah terjadinya resistensi bekteri terhadap Tetrasiklin.
Anak-anak diatas 8 tahun : sehari 25-50 mg/kg berat badan dibagi dalam 4 dosis, maksimum 1gr.
Diberikan 1jam sebelum atau 2jam sesudah makan.


Efek samping
Pada pemberian lama atau berulang-ulang, kadang-kadang terjadi super infeksi bakteri atau jamur seperti : Enterokolitis dan kanditatis.
Gangguan gastrointestinal seperti : aneroksia, pyrosis, vomiting, flatulen dan diare.
Reaksi hipersensitif : urtikaria, edema, angioneurotik, atau anafilaksis.

Aminoglikosida
Dengan adanya gugusan amino, zat-zat ini bersifat basa lemah dan gram sulfatnya mudah larut dalam air yang sering digunakan dalam terapi. Aktifitasnya adalah bakterisida dan broad spectrum terhadap bakteri gram positif dan gram negative.
Didalam golongan ini, Streptomisin yang agak sempit bekerjanya, terutama terhadap bakteri gram negative dan Mycobacterium tuberculosis.
Mekanisme kerja
Mekanisme kerjanya ialah melalui perintangan biosintesis protein bakteri. Absorpsinya di usus buruk sekali, ekskresi hanya lewat ginjal dengan cara filtrasi glomerelus dalam keadaan tak terurai.
Efek samping
Semua golongan aminoglikosida menimbulkan kerusakan pada organ keseimbangan dan pendengaran, juga bersifat toksis untuk ginjal. Streptomisin dan Kanamisin digunakan terutama untuk obat anti tuberkulosa. Kadang-kadang Streptomisin, Kanamisin, Neomisin diberikan secara oral pada infeksi usus.neomisin sering kali dipakai secara local dalam sakep atau tetes mata dan kuping.

Obat-obat tersendiri

1. Streptomisin
Diperoleh dari Streptomyces griseus, digunakan sebagai bakterisid terhadap TBC. Streptomisin dapat merusak berkas saraf otak ke-8 yang melayani organ keseimbangan dan pendengaran. Kerja ikutan berupa sakit kepala, nausea dan akhirnya tuli. Diberikan biasanya dalam bentuk injesi. Cepat menimbulkan resisten, oleh karena itu selalu dikombinasikan dengan obat lain seperti INH, PAS, Rifampisin. Khasiat lain ialah pada endokarditis yang diakibatkan enterococci guna memperkuat khasiat penisilin.
Dosis dan Penggunaan
Tubercolosis : 1 gr/hari dosis tunggal atau dalam 2 dosis terbagi, selama 6 – 12 atau lebih.
Meningitis atau nefritik Tuberulosis : 29/hari dosis tunggal atau dalam dosis terbagi secara terus menerus tanpa interval.
2. Kanamisin
Diperoleh dari Streptomyces kanamyceticus, berkhasiat bakteriostatik terhadap basil
TBC, juga yang resisten terhadap Streptomisin. Dapat digunakan sebagai obat pada
infeksi saluran kemih oleh Pseudomonas dalam bentuk injeksi, dan pada infeksi usus
secara oral.

3. Gentamisin
Diperoleh dari Mycomonospora purpurea, digunakan terhadap Pseudomonas
aeruginosa, Proteus mirabilis dan Staphylococci aureus yang telah resisten terhadap
Penisilin. Khasiatnya lebih kuat daripada Kanamisin, diberikan dalam bentuk salep dan
injeksi.
Dosis dan Penggunaan
Oleskan pada luka 3 -4x sehari, dapat ditutupi dengan pembalut tipis, bila ada kerak
Atau krusta harus dihilangkan terlebih dahulu, pengobatan klit sekitar luka bersama
dengan kortikosteroid topical membantu mengotrol inflamasi.

4. Neomisin
Diperoleh dari Streptomyces fradiae, aktif terhadap bakteri-bakteri usus, misalnya
Escherichia coli, Pseudomonas aeruginosa dan Proteus mirabilis. Dalam pemakaian
lama dapat mengakibatkan perubahan-perubahan mukosa usus dengan terganggunya
penyerapan gizi dan obat. Pada pemakaian luar banyak dikombinasikan dengan
Polimiksin dan Basitrasin.

5. Framisetin
Diperoleh dari Streptomyces decaris, rumus dan khasiatnya hamper sama dengan
Neomisin. Hanya digunakan secara local saja, misalnya salep atau kasa yang
diimpragnasi.


Makrolida
Kelompok antibiotika ini terdiri dari Eritromisin, Spiramisin, dan Trioleandoisin. Linkomisin secara kimiawi tidak ada hubungan, tetapi mirip sekali dalam aktifitas, mekanisme kerja dan cara terjadinya resistensi dengan makrolida.

Obat-obat tersendiri

1. Eritromisin
Dihasilkan oleh Streptomyces erythreus dan berkhasiat bakteriostatik terutama pada
bakteri gram positif. Spectrum kerjanya mirip Penisilin. Mekanisme kerjanya melalui
perintangan sintesis protein bakteri. Eritromisin mudah diuraikan oleh asam lambung
maka kini dibuat beberapa esternya yang tahan asam, misalnya Ertromisin stearat,
Eritromisin estolat, Eritromisin etil-suksinat. Ketiga ester tersebut tidak pahit lagi. Efek samping hampir tidak ada, hanya eritromisin estolat dapat mengakibatkan hepatitis
sebagai reaksi alergi, bila digunakan lebih dari 10 hari. Penggunaannya pada infeksi-
infeksi usus dan saluran pernafasan, dan jika terjadi kepekaan terhadap penisilin.
Dosis dan Penggunaan
Base, stearat :
- Dewasa : 250 mg tiap 6 jam atau 500 mg tiap 12 jam.
- Anak : 30 – 50 mg/kgBB sehari dalam 3 – 4 dosis bagi.

Etilsuksinat :
- Dewasa : 400 mg 4 kali sehari atau 600 mg – 800 mg tiap 12 jam.
- Anak : 30 – 50 mg/kgBB sehari dalam 4 dosis bagi.
Dosis maksimum yang dihitung untuk anak – anak jangan melampaui dosis maksimum dewasa.
Efek samping
Iritasi gastrointestinal : mual, muntah, diare, epigastric distress, anoeksia.
Kehilangan pendengaran yang reversible pada pasien dengan gangguan fungsi ginjal dan pada penderita yang mendapat dosis besar, konvulsi, halusinasi, vertigo, aritmia
Reaksi alergi, seperti urtikaria dan anafilaksis.

2. Spiramisin
Spectrum kegiatannya hampir sama dengan Eritromisin, hanya lebih lemah.
Keuntungannya ialah daya penetrasinya yang lebih baik kedalam jaringan mulut,
tenggorokan dan saluran pernafasan, maka dianjurkan untuk infeksi tersebut yang
seringkali sukar dicapai oleh antibiotika lain.

3. Linkomisin
Berasal dari Streptomyces lincolnensis, khasiatnya terutama bakteriostatik terhadap
bakteri-bakteri gram positif saja dengan spectrum lebih sempit daripada Eritromisin.
Penggunaannya adalah sebagai obat pilihan kedua bagi kuman yang resisten terhadap
Penisilin khususnya pada radang tulang.
Dosis dan penggunan
Dewasa : untuk infeksi serius, 500mg 3 kali sehari ( tiap 8 jam ), untuk infeksi lebih berat, 500 mg 4 kali sehari ( tiap 6 jam ).
Anak : untuk infeksi serius, 30 mg/kg/hari dibagi dalam 3 – 4 dosis. Untuk infeksi lebih berat, 60 mg/kg/hari dibgi dalam 3 – 4 dosis.


















III. INHIBITOR ASAM FOLAT

Obat menyaingi zat –zat yang penting untuk metabolisme bakteri hingga pertukaran zatnya terhenti, misalnya kelompok Sulfonamida, Trimetroprim, P.A.S, dan I.N.H.

Sulfonamida
Sulfonamida bersifat sebagai bakteriostatik terhadap sejumlah mikroba gram positif dan beberapa gram negative antara lain Pneumococci, Meningococci, Staphylococci, Baktericocci.
Suatu teori antagonisme biologa mengatakan bahwa banyak bakteri memerlukan suatu zat untuk pertumbuhannya, yaitu asam folat yang disintesis sendiri dengan menggunakan para amino benzoic acid (PABA) sebagai bahan pangkalnya. Zat inidisebut juga sebagai vitamin bakteri “H”, yang banyak terdapat dalam tubuh dan memiliki rumusyang menyerupai rumus umum sulfonamide yaitu H2N-C6H4-COOH. Dengan adanya Sulfonamida, bakteri akan keliru sehingga sintesis asam folat akan gagal dan akibatnya pembelahan sel terganggu dan pertumbuhannya akan terganggu.
Obat-obat banyak digunakan untuk mengobati infeksi-infeksi sebelum ditemukan antibiotika. Kini masih digunakan untuk mengobati : Meningitis, Disentri basiler, Radang usus, infeksi-infeksi usus, infeksi saluran kemih.
Pada umumnya baik sulfa bebas maupun persenyawaannya sukar larut dalam air kemih yang bersuasana asam dan dapat enghablur dalam tubuli ginjal. Guna mencegah kristalisasi ini, maka pada pengobatan dengan sulfa sebaiknya disertai minum yang banyak dan disertai pemberian Natrium Bicarbonat atau sering dikombinasikan tiga macam sulfa yang dikenal dengan nama Trisulfa. Disamping bahaya kristalisasi diatas, pemakaian obat-obat sulfa untuk waktu yang lama dapat menimbulkan leucopenia, agranulositosis dan hemolisis.

Isoniazida
Isoniazida adalah obat TBC yang paling penting karena aktifitasnya yang tinggi, mekanisme kerjanya Isoniazida sebagai molekul tak terionisasi dapat melewati membran sitoplasma bakteri dan setelah didalam sel, Isoniazida akan menjadi asam isonikotinat yang akan menggantikan tempat asam nikotinat sehingga proses metabolisme bakteri terganggu. Efek sampingnya sakit kepala, insomnia dan neuritis. Untuk mencegah neuritis biasanya dikombinasikan dengan pyridoxine (vitamin B6).










IV. INHIBITOR DNA GYRASE

Pembentukannya dikacaukan, misalnya olek kelompok Rifampisin.

Rifampisin
Diperoleh dari Streptomyces mediterranei. Zat yang berwarna merah bata ini berkhasiat bakteriostatik terhadap Mycobacterium tuberculosa, Lepra, bakteri-bakteri gram positif dan gram negative, juga resisten terhadap Penisilin. Resorpsinya sangat baik sekali oleh dinding usus dan ekskresinya melalui air seni, keringat, ludah dan tinja. Efek samping yang terpenting dan tidak sering adalah penyakit hepatotoksis, terutama bila dikombinasikan dengan INH. Rifampisin dapat mempercepat perombakan obat lain yang diberikan bersamaan, bahkan pil anti hamil menjadi tidak aman lagi efeknya.

Dosis dan penggunaannya
Tuberculosis
Dewasa : 600mg per hari, sebagai dosis tunggal, untuk keadaan berat dosis tersebut dinaikan menjadi 900-1200mg, diberikan dalam 2 bagian. Untuk penderita dengan gangguan hati, dosis tidak boleh lebih dari 8mg/kg berat badan.
Anak-anak sampai umur 12 tahun : 10-15mg/kg berat badan, diberikan dalam dosis tunggal atau dalam 2 bagian. Dosis harian tidak boleh melebihi 600mg. Sebaiknya diminum 1jamsebelum makan dan 2jam sesudah makan.

Lepra, diberikan bersama obat lepra lainnya
Untuk penderita dengan berat badan kurang dari 50 kg : 450mg per hari, sebagai dosis tunggal. Untuk penderita dengan berat badan lebih dari 50 kg : 600mg per hari, sebagai dosis tunggal.

Efek samping
Kecuali beberapa kasus yang mengalami gangguan gastrointestinal serta beberpa kasus alergi terhadap rifampisisn, umumnya rifampisin dapat ditolransi dengan baik oleh penderita.
Eosinofilia dan leucopenia pernah dilaporkan, tetapi tidak mempunyai arti klinis. Kadang – kadang terjadi hiperbilirubinia karena adanya kompetisi antara rifampisin dan bilirubin dalam jalan metabolic dalam hati. Penghentian pengobatan atau penurunan dosis akan menghilangkan gejala – gejala tersebut.
Efek samping imunologi berupa urtikaria, bercak merah pada kulit dan sindrom flu ( nyeri pada sendi, demam, lemah, dll ) dapat timbul. Dengan penurunan dosis umumnya gejala - gejala tersebut hilang, maka dosis lambat laun dapat dinaikan kembali.
Jika timbul reaksi imunologi berat seperti trombositopenia, hemolisis purpura atau akut renal failure maka pengobatan harus dihentikan.
Gangguan fungsi hati.
Gangguan pernafasan, nafas pendek.
Kolaps dan syok, saliva dan secret tubuh lainnya berwarna kemerah – merahan.

PENDAHULUAN

Antibiotika yang termasuk dalam masing-masing pengelompokan menurut mekanisme kerja ini adalah sebagai berikut: sebagai inhibitor terhadap sintesis dinding sel adalah penisilin dan sefalosporin, yang mempunyai struktur sama. Yang tidak sama strukturnya adalah kelompok cycloserin, vancomycin, bacitracin, antifungus azole (miconazole, ketoconazole, clotrimazole). Antibiotika yang langsung bekerja pada membran sel mikroba, cenderung mempengaruhi permeabilitas serta mengakibatkan kebocoran isi sel adalah detergen, polymyxin, antifungus polyene yaitu nystatin dan amphotericin B, yang mengikat sterol dinding sel. Dalam kelompok yang mempengaruhi sintesis ribonukleat dibagi menjadi dua, yaitu yang mempengaruhi fungsi subunit ribosome 30 S atau 50 S dengan akibat hambatan pada sinesis protein yang reversibel (kloramfenikol, tetrasiklin, eritromisin, dan klindamisin, pristinamycin), serta yang mengikat subunit ribosome 30 S dan merubah sintesis protein, bahkan dapat berakibat kematian sel (aminoglikosida). Antibiotik yang mempengaruhi metabolisme asam nukleat adalah rifamycin (misalnya rifampin), yang menghambat RNA polymerase, dan quinolone, yang menghambat topoisomerase. Kelompok antimetabolit adalah trimethoprim dan sulfonamid, yang memblokir ensim esensial bagi metabolisme folat. Dalam kelompok antivirus termasuk analog asam nukleat adalah acyclovir dan ganciclovir, yang selektif menghambat DNA polymerase virus, zidovudin atau lamivudine, yang menghambat reverse transcriptase, serta nonnucleoside reverse transcriptase inhibitors, seperti nevirapine atau efavirenz, dan inhibitor ensim virus lain misalnya inhibitor HIV protease atau influenza neuraminidase.31
Pengamatan bahwa antibiotik tertentu mempunyai efek bakterisidal tinggi dalam sistem aseluler, namun bila diterapkan pada bakteri intraseluler kemampuan membunuhnya sangat rendah, membuat para peneliti bertanya-tanya apakah mediator respons imun dapat bekerja sama dengan antibiotik demi tercapainya pembersihan infeksi intraseluler secara cepat. Dalam konsep ini, sitokin dapat memperbaiki efek bakterisidal intrinsik antibiotik.


Aktivitas Intrafagositik Antibiotik
Antibiotik harus bisa mencapai dan berikatan dengan organ target, agar dapat melakukan aktivitas kemoterapi; kontak antara bakteri dan antibiotik merupakan prasyarat. Dari sisi aktivitas terhadap patogen intraseluler, antibiotik tergantung pada kemampuannya untuk masuk dan berakumulasi dalam sel fagositik mencapai kadar yang cukup tinggi (melebihi kadar hambat minimal -minimal inhibitory concentration-). Dari hasil studi farmakokinetik seluler antibiotik berbeda dalam cara pengambilan oleh sel (cellular uptake), kadar dalam sel, dan distribusi subseluler. Selain itu, dalam pemilihan penggunaan antibiotik intraseluler perlu diperhatikan pula faktor influx dan efflux, respons bakterial, serta kerjasama dengan pertahanan tubuh.32
Antibiotik β-lactam dan aminoglikosida mempunyai efek bakterisidal yang kuat terhadap bakteria ekstraseluler yang sensitif, tetapi efek bakterisidal intraseluler rendah. Hal ini erat hubungannya dengan cellular uptake yang lemah dan lambat. Antibiotik β-lactam tidak berakumulasi dalam fagosit, mungkin disebabkan oleh sifatnya yang asam.33 Sebaliknya, makrolide seperti azithromycin dan clarithromycin terasingkan (sequestered) dalam leukosit, sehingga terdapat pada tempat infeksi dalam kadar yang tinggi, melebihi kadar dalam serum. Makrolide mempertahankan kadar terapeutik pasca pemberhentian pengobatan. Obat-obat ini secara efisien membunuh patogen berbeda-beda seperti Salmonella, Legionella, dan Listeria.17,34 Fluoroquinolon seperti ofloxacin, ciprofloxacin, sparfloxacin dan levofloxacin terpusat dalam sel fagositik dan secara efisien membunuh bakteria intraseluler yang tinggal di kompartemen subseluler tertentu.17,34 Seiring dengan efek bakterisidal, antibiotik dapat pula mengatur fungsi fagositik. Meskipun antibiotik tertentu (misalnya aminoglikosida) dapat bersifat toksik bagi sel pada kadar yang tinggi, antibiotik yang lain (misalnya makrolide) dapat mengatur ke bawah (downregulate) respons anti-inflamatori, sehingga pada pejamu terjadi mekanisme pertahanan terhadap injuri.35 Oleh karena itu digunakan strategi yang berbeda, keduanya untuk meningkatkan efek antimikrobial antibiotik serta mengurangi efek sitotoksiknya. Jadi, dengan menyelimuti (encapsulate) antibiotik seperti ampisilin di dalam liposom yang sensitif terhadap keasaman (pH-sensitive) akan meningkatkan pengambilan ke dalam sel (cellular

uptake) serta efek bakterisidalnya di dalam sel. Pendekatan ini juga digunakan untuk menargetkan gentamisin ke dalam sitosol , sebagai pilihan terhadap lisosom, untuk mengurangi efek toksik dan meningkatkan aktivitas bakterisidal, terutama ditujukan untuk patogen sitosolik.36
Minat untuk mendalami pengobatan infeksi intraseluler lebih dipusatkan pada kerjasama antara sitokin dan antibiotik. Bentuk pengobatan seperti ini diharapkan dapat memperpendek lama pemberian antibiotik dan mencegah timbulnya resistensi obat.
Pemilihan antibiotik intraseluler pada anak harus selalu memperhatikan faktor umur serta perkembangan anak, disamping farmakokinetik dan farmakodinamiknya yang merupakan kunci untuk menentukan efikasi antimikroba yang diseleksi. Antibiotik intraseluler yang dapat diberikan kepada anak adalah penisilin, aminopenisilin (ampisilin, amoksisilin), ampisilin-sulbaktam, amoksisilin-clavulanate, sefalosporin generasi ke tiga (seftriakson, sefotaksim, seftazidim), dan sefalosporin generasi ke empat (sefepim) yang kesemuanya termasuk kelompok β-lactam. Selain itu macrolide (eritromisin, azithromisin, clarithromisin), dan aminoglikosida juga bermanfaat pada infeksi bakteri intraseluler.28,29 Meskipun fluoroquinolone terbukti mempunyai aktivitas antibiotik intraseluler kuat, namun penggunaan pada anak masih terbatas terutama pada penderita dengan cystic fibrosis.29 Peneliti lain mengamati pemberian gatifloksasin untuk pengobatan otitis media akuta pada kelompok anak usia 6 bulan-7 tahun dan 6 bulan-4 tahun. Meskipun hasil yang dicapai cukup menggembirakan belum terdapat persetujuan Food and Drug Administration mengenai penggunaan fluoroquinolon pada anak.37
Dipandang dari sudut farmakodinamik seluler antibiotik β-lactam mempunyai cara kerja lambat dan tidak tergantung pada kadar obat, namun menjadi efektif bila terjadi kontak lama. Lokalisasi antibiotik subseluler terutama dalam sitosol. Sebaliknya fluoro-quinolone intraseluler bekerja cepat dengan cara tergantung pada kadar obat. Fluoroquinolone juga terdapat dalam sitosol.28 Aminoglikosida mempunyai uptake lambat,sehingga memerlukan waktu pengobatan lama. Di samping kadar obat, waktu merupakan parameter penting. Efek bakterisidal tergantung kadar puncak yang adekuat.29 Efek aminoglikosida dapat menurun karena suasana asam di dalam fagolisosom.28

Berbeda dengan antibiotik β-lactam, hampir dalam setiap sel terjadi akumulasi makrolide. Makrolide mempunyai uptake dan efflux cepat, kecuali azithromisin, yang terikat pada struktur sel, terutama phospholipid. Lokalisasi antibiotik makrolide subseluler dua per tiganya terdapat dalam lisosom, sepertiganya dalam sitosol.28
Dinding sel bakteri terdiri atas jaringan makromolekuler yang disebut peptidoglikan. Penisilin dan beberapa antibiotik lainnya mencegah sintesis peptidoglikan yang utuh sehingga dinding sel akan melemah dan akibatnya sel bakteri akan mengalami lisis. Riboson merupakan mesin untuk menyintesis protein. Sel eukariot memiliki ribosom 80S, sedangkan sel prokariot 70S (terdiri atas unit 50S dan 30S). Perbedaan dalam struktur ribosom akan mempengaruhi toksisitas selektif antibiotik yang akan mempengaruhi sintesis protein. Di antara antibiotik yang mempengaruhi sintesis protein adalah kloramfenikol, eritromisin, streptomisin, dan tetrasiklin. Kloramfenikol akan bereaksi dengan unit 50S ribosom dan akan menghambat pembentukan ikatan peptida pada rantai polipeptida yang sedang terbentuk. Kebanyakan antibiotik yang menghambat protein sintesis memiliki aktivitas spektrum yang luas. Tetrasiklin menghambat perlekatan tRNA yang membawa asam amino ke ribosom sehingga penambahan asam amino ke rantai polipeptida yang sedang dibentuk terhambat. Antibiotik aminoglikosida, seperti streptomisin dan gentamisin, mempengaruhi tahap awal dari sintesis protein dengan mengubah bentuk unit 30S ribosom yang akan mengakibatkan kode genetik pada mRNA tidak terbaca dengan baik.
Antibiotik tertentu, terutama antibiotik polipeptida, menyebabkan perubahan permeabilitas membran plasma yang akan mengakibatkan kehilangan metabolit penting dari sel bakteri. Sebagai contoh adalah polimiksin B yang menyebabkan kerusakan membran plasma dengan melekat pada fosfolipid membran. Sejumlah antibiotik mempengaruhi proses replikasi DNA/RNA dan transkripsi pada bakteri. Contoh dari golongan ini adalah rifampin dan quinolon. Rifampin menghambat sintesis mRNA, sedangkan quinolon menghambat sintesis DNA.


Antibiotik memiliki cara kerja sebagai bakterisidal (membunuh bakteri secara langsung) atau bakteriostatik (menghambat pertumbuhan bakteri). Pada kondisi bakteriostasis, mekanisme pertahanan tubuh inang seperti fagositosis dan produksi antibodi biasanya akan merusak mikroorganisme. Ada beberapa cara kerja antibiotik terhadap bakteri sebagai targetnya, yaitu menghambat sintesis dinding sel, menghambat sintesis protein, merusak membran plasma, menghambat sintesis asam nukleat, dan menghambat sintesis metabolit esensial. Dinding sel bakteri terdiri atas jaringan makromolekuler yang disebut peptidoglikan. Penisilin dan beberapa antibiotik lainnya mencegah sintesis peptidoglikan yang utuh sehingga dinding sel akan melemah dan akibatnya sel bakteri akan mengalami lisis. Riboson merupakan mesin untuk menyintesis protein. Sel eukariot memiliki ribosom 80S, sedangkan sel prokariot 70S (terdiri atas unit 50S dan 30S). Perbedaan dalam struktur ribosom akan mempengaruhi toksisitas selektif antibiotik yang akan mempengaruhi sintesis protein. Di antara antibiotik yang mempengaruhi sintesis protein adalah kloramfenikol, eritromisin, streptomisin, dan tetrasiklin. Kloramfenikol akan bereaksi dengan unit 50S ribosom dan akan menghambat pembentukan ikatan peptida pada rantai polipeptida yang sedang terbentuk. Kebanyakan antibiotik yang menghambat protein sintesis memiliki aktivitas spektrum yang luas. Tetrasiklin menghambat perlekatan tRNA yang membawa asam amino ke ribosom sehingga penambahan asam amino ke rantai polipeptida yang sedang dibentuk terhambat. Antibiotik aminoglikosida, seperti streptomisin dan gentamisin, mempengaruhi tahap awal dari sintesis protein dengan mengubah bentuk unit 30S ribosom yang akan mengakibatkan kode genetik pada mRNA tidak terbaca dengan baik. Antibiotik tertentu, terutama antibiotik polipeptida, menyebabkan perubahan permeabilitas membran plasma yang akan mengakibatkan kehilangan metabolit penting dari sel bakteri. Sebagai contoh adalah polimiksin B yang menyebabkan kerusakan membran plasma dengan melekat pada fosfolipid membran. Sejumlah antibiotik mempengaruhi proses replikasi DNA/RNA dan transkripsi pada bakteri. Contoh dari golongan ini adalah rifampin dan quinolon. Rifampin menghambat sintesis mRNA, sedangkan quinolon menghambat sintesis DNA.