Selamat Datang di X3-PRIMA, Melayani Setulus Hati, Memberikan yang terbaik

23.4.09

sampah

SAMPAH

Oleh : Hendrayana Taufik

Mahasiswa Teknologi Pangan

Universitas Al-Ghifari



BAB I

LATAR BELAKANG


Indonesia memiliki tingkat pertambahan penduduk yang tinggi, yaitu dengan kenaikan rata-rata 15% per tahun. Pertambahan penduduk ini berpengaruh terhadap volume sampah yang dihasilkan setiap harinya. Sampah merupakan konsekuensi dari adanya aktivitas manusia. Setiap aktivitas manusia pasti menghasilkan sampah. Volume sampah sebanding dengan tingkat konsumsi terhadap barang/material yang digunakan sehari-hari. Peningkatan jumlah penduduk dan gaya hidup sangat berpengaruh dan berbanding lurus dengan volume sampah (Sylvia, M., 2004).

Dalam sehari saja, satu daerah bisa menghasilkan berton-ton produk buangan (Anonim, 2005). Berdasarkan dari data Bapedalda (2000), kota Jakarta pada tahun 1985 menghasilkan sampah sejumlah 18.500 m3 per hari. Jika dihitung dalam setahun, maka volume sampah tahun 2000 mencapai 170 kali besar Candi Borobudur (volume Candi Borobudur = 55.000 m3). Wajar bila saat pasca banjir di Jakarta pada 2-5 Februari 2007 lalu, sampah menjadi pemandangan di setiap wilayah Jakarta, karena lebih dari 50% sampah yang tidak terangkut akhirnya “diangkut dan disebarkan” oleh banjir (Sulaeman, D., 2007).

Menurut Suriawiria, U. (2005), sampah-sampah tersebut ada yang dapat terurai secara alami oleh jasad hidup (degradable). Sebagian lainnya tidak dapat diuraikan (non degradable) atau sulit diurai secara alami oleh jasad hidup, dan secara umum hampir semua sampah baik organik maupun non organik, dapat diurai oleh mikroorganisme, termasuk benda anorganik seperti besi, kaca, dan batu. Namun, penguraiannya membutuhkan waktu yang tidak singkat bahkan sangat lama.

Bersamaan dengan lahirnya konsep pertanian organik, maka ada penawaran alternatif dalam penanganan sampah tersebut yaitu sampah sebagai pasokan bahan baku pembuatan pupuk organik. Diprediksikan pada tahun 2010 Indonesia akan dibanjiri dengan produk organik hasil dari pengolahan pertanian organik, dan salah satu pasokan bahan bakunya merupakan produk dari pengolahan lebih lanjut dari sampah. Dapat diasumsikan juga dengan pemanfaatan sampah sebagai pemasok bahan baku pupuk, maka masalah tumpukan sampah akan teratasi lebih dari 50% ke arah lebih baik (Prawoto, A., 2005).

Untuk mendukung konsep tersebut, tentunya sampah-sampah yang akan dijadikan sebagai bahan baku pupuk organik harus dikelola terlebih dahulu. Dan pada umumnya sebagian besar sampah yang dihasilkan di Indonesia merupakan sampah organik, yaitu mencakup 60-70% dari total volume sampah. Sehingga dengan adanya pengelolaan sampah, khususnya sampah organik, konsep pertanian organik di Indonesia akan terlaksana. Selain itu, permasalahan sampah yang selama ini menjadi masalah yang serius akan berkurang dengan adanya pengelolaan sampah yang tepat.

Pengelolaan sampah organik mempunyai peranan penting dalam sektor pertanian. Sifat konsumtif para petani dalam menggunakan pupuk kimia mengakibatkan lahan pertanian menjadi rusak karena kekurangan bahan organik. Sehingga hal ini menguatkan betapa pentingnya jika sampah organik dikelola secara tepat. Berdasarkan uraian tersebut dirasakan masih diperlukan pengkajian lebih lanjut mengenai peranan pengelolaan sampah organik tersebut. Maka dengan latar belakang itulah penulis mengangkat judul seminar ini dengan kajian “Peranan Pengelolaan Sampah Organik Terhadap Sektor Pertanian”.

BAB II

PERUMUSAN MASALAH


Volume sampah yang kian hari kian meningkat, menjadi agenda khusus bagi kota-kota besar dan wilayah urban sekitarnya yang perlu ditangani secara serius. Walaupun secara alamiah semua jenis sampah dapat terurai, namun proses penguraian membutuhkan waktu yang lama. Sementara dalam masa tunggu penguraian tersebut, sampah dinilai dapat menimbulkan bencana bagi tempat yang dijadikan alokasi pembuangannya (Suriawiria, U., 2005).

Pada umumnya, sebagian besar sampah yang dihasilkan di Indonesia merupakan sampah organik, yaitu mencakup 60-70% dari total volume sampah (Sylvia, M., 2004).

Di sisi lain, sektor pertanian di negara-negara yang sedang berkembang (developing country) termasuk Indonesia memiliki peranan yang sangat besar karena merupakan mata pencaharian pokok sebagian besar penduduknya. Namun kontribusi sektor pertanian di negara kita dari tahun ke tahun persentasenya terus menurun searah dengan melajunya perkembangan sektor industri yang terus meningkat (Rodjak, A., 2004).

Salah satu hal yang menyebabkan pertanian terpuruk yaitu produktivitas tanah yang makin rendah dimana 90% lahan sawah dan perkebunan di Indonesia memiliki kandungan Bahan Organik (BO) kurang dari 1%, yaitu termasuk kategori rendah (idealnya 3-5%) (Prihandarini, R., 2006). Hal ini tentunya menjadi tantangan dan peluang tersendiri bagi pengelolaan sampah organik untuk meningkatkan pertanian di Indonesia. Sehingga dalam tulisan ini dapatlah dirumuskan permasalahan yang terkait dengan pengelolaan sampah organik, yaitu:

  1. Produk pertanian apakah yang dihasilkan dalam pengelolaan sampah organik

  2. Kontribusi apakah yang tercapai dari adanya pengelolaan sampah organik terhadap pertanian

  3. Apa kendala-kendala dalam pengelolaan sampah organik tersebut


BAB III

PEMBAHASAN


  1. Gambaran Umum Sampah Organik

  1. Gambaran Umum Sampah

Azrul, A. (1990) mengatakan bahwa sampah adalah sebagian dari sesuatu yang tidak terpakai, tidak disenangi atau sesuatu yang dibuang, umumnya berasal dari kegiatan manusia dan bersifat padat. Definisi lain dikemukakan oleh Hadiwijoto, S. (1983), sampah adalah sisa-sisa bahan yang telah mengalami perlakuan baik telah diambil bagian utamanya, telah mengalami pengolahan, dan sudah tidak bermanfaat, dari segi ekonomi sudah tidak ada harganya serta dari segi lingkungan dapat menyebabkan pencemaran atau gangguan kelestarian alam. Murtadho dan Gumbira (1988) membedakan sampah atas sampah organik dan sampah anorganik. Sampah organik meliputi limbah padat semi basah berupa bahan-bahan organik yang umumnya berasal dari limbah hasil pertanian. Sampah ini memiliki sifat mudah terurai oleh mikroorganisme dan mudah membusuk karena memiliki rantai karbon relatif pendek. Sedangkan sampah anorganik berupa sampah padat yang cukup kering dan sulit terurai oleh mikroorganisme karena memiliki rantai karbon yang panjang dan kompleks seperti kaca, besi, plastik, dan lain-lain.

Menurut Suriawiria, U. (2005), penggolongan sampah dapat dilihat dari beberapa kriteria, diantaranya adalah dari sumbernya, bentuknya, dan jenisnya. Dilihat dari sumbernya, sampah digolongkan dalam dua kelompok. Pertama, sampah domestik yaitu sampah yang dihasilkan oleh kegiatan manusia sehari-hari secara langsung. Baik yang berasal dari rumah, pasar, sekolah, pemukiman, rumah sakit, pusat-pusat keramaian. Kedua, sampah non domestik, yaitu sampah yang dihasilkan oleh kegiatan manusia sehari-hari secara tidak langsung. Misalnya dari pabrik, industri, pertanian, peternakan, perikanan, perhutanan, transportasi. Bila digolongkan berdasarkan bentuknya, maka dibagi menjadi tiga kelompok. Pertama, sampah padat yang berasal dari sisa-sisa tanaman, hewan, kotoran. Yang kedua adalah sampah cair yang berasal dari buangan pabrik, industri, pertanian, peternakan, rumah tangga. Dan yang terakhir adalah sampah gas yang berasal dari knalpot kendaraan, cerobong pabrik. Berdasarkan jenisnya, sampah dibagi dalam dua jenis yaitu sampah organik yang tersusun dari senyawa organik (sisa tanaman, hewan maupun kotoran) dan sampah anorganik yang tersusun dari senyawa anorganik (plastik, botol, logam).

Banyak masalah yang ditimbulkan oleh sampah. Diantaranya longsor, banjir, hilangnya unsur hara, dan menimbulkan bau tak sedap serta banyak pula dampak negatif terhadap lingkungan itu sendiri. Selain itu, apabila turun hujan, maka air hujan tidak dapat mengalir dengan baik karena terhambat oleh sampah yang menyumbat saluran air, akibatnya adalah terjadinya banjir di jalan-jalan bahkan sampai masuk ke dalam rumah penduduk. Kasus yang pernah terjadi di Jawa Barat, akibat guyuran hujan selama dua hari berturut-turut, gunungan sampah di Tempat Pembuangan Akhir Sampah (TPAS) Leuwigajah di Kelurahan Leuwigajah, Kecamata Cimahi Selatan, Kota Cimahi, longsor dan menimbun perumahan penduduk. Musibah yang telah menelan korban lebih dari 150 jiwa ini berakibat pula terhadap kondisi lingkungan. Situasi Kota Bandung pascabencana tersebut terlihat mengkhawatirkan, sampah menumpuk dan berserakan di mana-mana. Tempat pembuangan sampah yang tersebar di kota Bandung sudah terisi penuh melewati batas maksimal (Shiddieqy, I., 2005).

Manusia dalam setiap kegiatannya hampir selalu menghasilkan sampah. Sampah sendiri turut menghasilkan emisi Gas Rumah Kaca, yaitu gas-gas di atmosfer yang memiliki kemampuan untuk menyerap radiasi matahari yang dipantulkan oleh bumi sehingga menyebabkan suhu di permukaan bumi menjadi hangat. Gas rumah kaca yang dihasilkan tersebut berupa gas metana (CH4), walaupun dalam jumlah yang cukup kecil jika dibandingkan dengan emisi GRK yang dihasilkan dari sektor kehutanan dan energi. Diperkirakan 1 ton sampah padat menghasilkan 50 kg gas metana. Dengan jumlah penduduk yang terus meningkat, diperkirakan pada tahun 2020 sampah yang dihasilkan per hari sekitar 500 juta kg/hari atau 190 ribu ton/tahun. Ini berarti pada tahun tersebut Indonesia akan mengemisikan gas metana ke atmosfer sebesar 9500 ton (Vincenzo, D., 2006).


  1. Pengertian Sampah Organik

Secara umum, jenis sampah dapat dibagi 2 yaitu sampah organik (sampah basah) dan sampah anorganik (sampah kering).

Sampah organik yaitu sampah yang mudah membusuk seperti sisa makanan, sayuran, daun-daun kering, dan sebagainya. Di negara-negara berkembang termasuk Indonesia, komposisi sampah terbanyak adalah sampah organik yaitu sebesar 60-70%, dan sampah anorganik sebesar ± 30% (Sylvia, M., 2004).


  1. Gambaran Umum Pengelolaan Sampah Organik

  1. Pengelolaan sampah Organik

Pengelolaan sampah merupakan proses yang diperlukan dengan dua tujuan, yaitu mengubah sampah menjadi material yang memiliki nilai ekonomis dan mengolah sampah agar menjadi material yang tidak membahayakan bagi lingkungan hidup (Anonim, 2007).

Agar pengelolaan sampah berlangsung dengan baik dan mencapai tujuan yang diinginkan, maka setiap kegiatan pengelolaan sampah harus mengikuti filosofi pengelolaan sampah. Filosofi pengelolaan sampah adalah bahwa semakin sedikit dan semakin dekat sampah dikelola dari sumbernya, maka pengelolaannya akan menjadi lebih mudah dan baik, serta lingkungan yang terkena dampak juga semakin sedikit (Anonim, 2007).

Diperlukan paradigma baru di lingkup pemerintah daerah (pemda) yang tidak sekadar anjuran atau ajakan kepada warga masyarakat untuk memilah-milah sampah. Pemda harus melakukan perubahan. Proses daur ulang (recycle) dan pengurangan (reduce) sampah haruslah difasilitasi. Jika masyarakat sudah memilah-milah sampahnya, sistem lainnya juga harus mengikuti. Jangan sampai-sampah yang sudah dipilah, akhirnya dicampurkan lagi dalam gerobak sampah, hingga akhirnya bercampur di TPS dan TPA.

Pengelolaan sampah kota harus melalui pendekatan menyeluruh. Sudah bukan lagi zamannya membuang sampah begitu saja hingga akhirnya dikolektifkan di TPA. Apalagi jika hanya membuat gunung sampah yang kelak menjadi sumber ancaman bencana longsor (Damanhuri, E., 2005).

Selama ini mekanisme pengelolaan sampah dilakukan secara konvensional. Sampah yang dibuang di Tempat Pembuangan Sementara (TPS), kemudian diangkut oleh truk-truk pengangkut sampah menuju Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Namun, masalah mulai muncul ketika truk-truk tersebut terlambat dalam mengangkut sampah. Akibatnya, terjadi proses pembusukan sampah yang dapat mengundang lalat, nyamuk, dan tikus. Tentu saja, kondisi tersebut mengakibatkan kualitas lingkungan hidup wilayah sekitarnya menjadi kurang kondusif. Selain menimbulkan polusi udara dengan baunya yang sangat tidak sedap, sampah juga bisa menjadi sarang wabah penyakit (Anonim, 2005). Termasuk pengelolaan persampahan di perkotaan yang tidak berjalan dengan efisien dan efektif karena pengelolaan sampah bersifat terpusat. Misalnya saja, seluruh sampah dari kota Jakarta harus dibuang di Tempat Pembuangan Akhir di daerah Bantar Gebang Bekasi. Dapat dibayangkan berapa ongkos yang harus dikeluarkan untuk ini. Belum lagi, sampah yang dibuang masih tercampur antara sampah basah dan sampah kering. Padahal, dengan mengelola sampah besar di tingkat lingkungan terkecil, seperti RT atau RW, dengan membuatnya menjadi kompos maka paling tidak volume sampah dapat diturunkan/dikurangi (Sylvia, M., 2004).

Sebagian besar sampah yang terdapat di Indonesia merupakan sampah organik. Sehingga pengelolaan yang dapat dilakukan adalah mendaur ulang sampah anorganik dan mengolah sampah menjadi kompos. Pengelolaan tersebut merupakan bagian dari empat strategi dasar pengelolaan sampah secara terintegrasi yang meliputi: 1) Pengurangan sampah pada sumbernya (source reduction), 2) Daur ulang dan pengomposan (recyling and composting), 3) Pembakaran; fasilitas pengubah sampah menjadi energi (combustion waste-to-energy facilities), dan 4) Penimbunan (landfills) (Tchobanoglous, 2002).

Sudah waktunya pengelolaan sampah dimulai dari tingkat rumah tangga, dan juga produsen, serta penjual. Masyarakat mulai memilah-milah sampah berdasarkan jenis sampah basah dan sampah kering yang dapat didaur ulang. Selain memilah-milah sampah, jumlah produksi sampah sedapat mungkin dikurangi dengan menggunakan barang atau material tahan lama (awet), menggunakan produk daur ulang atau produk yang dapat didaur ulang, mengurangi benda yang berpontensi menghasilkan sampah yang sulit diuraikan secara alami melalui pembusukan (pengomposan). Pada tataran produsen barang, mengurangi penggunaan kemasan, mendorong penggunaan produk isi ulang (refill), memberi insentif potongan harga atau produk ramah lingkungan bagi pembeli yang mengembalikan wadah, botol kosong dari produk serupa, serta mengurangi atribut promosi yang tidak dapat didaur ulang.

Lantas bagi kalangan penjual, sedapat mungkin mengurangi penggunaan tas plastik (keresek) untuk membungkus barang yang dibeli konsumen, mendorong konsumen membawa keranjang belanjaan sendiri, menjual produk yang benar-benar ramah lingkungan.

Langkah berikutnya setelah mengurangi produksi sampah atau benda yang berpotensi menjadi sampah adalah melakukan pengolahan sampah basah atau biasa disebut sampah organik. Pengolahan sampah organik menjadi pupuk organik atau pupuk kompos atau juga menggunakan bantuan cacing untuk menguraikan sampah (vermi kompos).

Secara umum, di negara Utara dan di negara Selatan, sistem untuk penanganan sampah organik merupakan komponen-komponen teRp.enting dari suatu sistem penanganan sampah kota. Sampah-sampah organik seharusnya dijadikan kompos, vermi kompos (pengomposan dengan cacing) atau dijadikan makanan ternak untuk mengembalikan nutrisi-nutrisi yang ada ke tanah. Hal ini menjamin bahwa bahan-bahan yang masih bisa didaur ulang tidak terkontaminasi, yang juga merupakan kunci ekonomis dari suatu alternatif pemanfaatan sampah. Daur ulang sampah menciptakan lebih banyak pekerjaan per ton sampah dibandingkan dengan kegiatan lain, dan menghasilkan suatu aliran material yang dapat mensuplai industri (Sylvia, M., 2004).

Dalam konteks inilah, perlu mengedepankan konsep atau paradigma baru dalam pengelolaan sampah kota. Dalam konsep ini harus disingkirkan pandangan bahwa sampah adalah barang bekas yang harus dibuang di TPA. Sampah harus ditempatkan sebagai sumber devisa yakni dengan mengubah TPA menjadi sebagai “pabrik kompos”. Di “pabrik kompos” itulah sampah-sampah organik yang jumlahnya mencapai 69% dari keseluruhan jenis sampah, bisa diolah menjadi kompos yang bisa dijual kembali ke masyarakat (Hakim, M., 2005).


  1. Pengomposan

Dalam SNI T-13-1990-F tentang Tata Cara Pengelolaan Teknik Sampah Perkotaan, pengomposan didefinisikan sebagai sistem pengolahan sampah organik dengan bantuan mikro organisme sehingga terbentuk pupuk organis (pupuk kompos). Pengertian lainnya disampaikan oleh Wahyono (2005) yang menyatakan bahwa pengomposan sampah didefinisikan sebagai proses dekomposisi sampah organik oleh mikroorganisme dalam kondisi aerobik terkendali menjadi produk kompos.

Pengomposan adalah cara cerdas yang paling manusiawi dalam pengelolaan sampah organik. Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa dengan melakukan kegiatan composting, sampah organik yang komposisinya mencapai 70% dapat direduksi hingga mencapai 25%. Dengan cara ini, paling tidak bisa dihasilkan pupuk organik yang dapat dimanfaatkan untuk menyuburkan tanaman di lahan pertanian. Menumpuk sampah apalagi di tempat yang tidak layak memang dapat menimbulkan banyak masalah, terutama tercemarnya air tanah dan penyebaran bibit penyakit, serta pencemaran udara ke wilayah di sekitarnya.

Pengomposan merupakan penguraian dan pemantapan bahan-bahan organik secara biologis dalam temperatur thermophilic (suhu tinggi) dengan hasil akhir berupa bahan yang cukup bagus untuk diaplikasikan ke tanah. Pengomposan dapat dilakukan secara bersih dan tanpa menghasilkan kegaduhan di dalam maupun di luar ruangan.

Teknologi pengomposan sampah sangat beragam, baik secara aerobik maupun anaerobik, dengan atau tanpa bahan tambahan. Bahan tambahan yang biasa digunakan Activator Kompos seperti Green Phoskko Organic Decomposer dan SUPERFARM (Effective Microorganism) atau menggunakan cacing guna mendapatkan kompos (vermicompost). Keunggulan dari proses pengomposan antara lain teknologinya yang sederhana, biaya penanganan yang relatif rendah, serta dapat menangani sampah dalam jumlah yang banyak (tergantung luasan lahan).

Pengomposan secara aerobik paling banyak digunakan, karena mudah dan murah untuk dilakukan, serta tidak membutuhkan kontrol proses yang terlalu sulit. Dekomposisi bahan dilakukan oleh mikroorganisme di dalam bahan itu sendiri dengan bantuan udara. Sedangkan pengomposan secara anaerobik memanfaatkan mikroorganisme yang tidak membutuhkan udara dalam mendegradasi bahan organik.

Bahan baku pengomposan adalah semua material organik yang mengandung karbon dan nitrogen, seperti kotoran hewan, sampah hijauan, sampah kota, lumpur cair dan limbah industri pertanian.








Tabel 1. Bahan Organik yang Umum Dijadikan Bahan Baku Pengomposan (Sumber: Anonim, 2007)



Bidang

Jenis

Contoh

Pertanian













Industri





Limbah Rumah Tangga

Limbah dan Residu




Limbah dan Residu Ternak


Pupuk Hijau


Tanaman Air


Penambat Nitrogen


Limbah Padat



Limbah Cair


Sampah

jerami dan sekam padi, gulma, daun, batang dan tongkol jagung, semua bagian vegetatif tanaman, batang pisang, sabut kelapa

kotoran padat, limbah ternak cair, limbah pakan ternak, tepung tulang, cairan proses biogas

gliriside, terrano, mukuna, turi, lamtoro, centrosema, albisia

azola, ganggang biru, rumput laut, eceng gondok, gulma air lainnya

mikroorganisme, mikoriza, rhizobium biogas

serbuk gergaji kayu, blotong, kertas, ampas tebu, kelapa sawit, pengalengan makanan, pemotongan hewan

alkohol, kertas, bumbu masak, kelapa sawit

tinja, kencing, dapur, kota dan pemukiman

Agar sampah bisa dijadikan sebagai bahan baku kompos, langkah pertama yang harus dilakukan adalah melakukan pemilahan sampah sesuai jenis. Saat ini memang masih terasa sulit memilah-milah sampah. Namun, bila sejak awal sudah dibiasakan, pemilahan akan lebih mudah dilakukan. Pemilahan sebaiknya sudah dilaksanakan sejak tingkat rumah tangga, pasar, atau komunitas lain. Sampah organik dipisah dari sampah anorganik. Caranya, dengan menempatkan masing-masing jenis ke dalam kantong plastik yang berbeda warna. Misalnya kantong plastik bening untuk sampah organik, kantong plastik putih untuk sampah kertas/karton, dan kantong warna hitam untuk jenis sampah lainnya.

Sampah hasil pemilahan lalu dikirim ke titik RT (first line point). Selanjutnya, oleh petugas yang dibiayai oleh masyarakat, sampah itu dibawa ke titik pengumpulan RW (second line point). Dari situ dibawa ke tingkat kelurahan (third line point), untuk kemudian diangkut ke pabrik kompos. Sedangkan sampah anorganik seperti besi dikirim ke pedagang besi tua, sampah plastik ke pabrik plastik daur ulang, sampah kertas/karton ke pabrik kertas/karton daur ulang. Demikian pula dengan sampah berupa kaca.

Di pabrik kompos, sampah organik langsung dicacah menjadi halus. Setelah itu, dibawa ke lokasi pembuatan kompos yang letaknya di tempat yang sama. Para pemulung yang jumlahnya begitu banyak dapat dilibatkan dalam pembuatan kompos ini. Proses pembuatan kompos ini sangat sederhana sehingga mereka jika dilatih akan menguasainya dengan cepat. Jika proses ini dapat diselesaikan dalam waktu sehari selesai (one day finish), bau busuk akan hilang dengan sendirinya.

Sampah organik dapat dibuat menjadi kompos hanya dalam waktu dua minggu, sisanya memerlukan waktu lebih lama. Sisanya, sebanyak 15-20% sampah organik yang tak terurai akan dibakar dan arangnya bisa dimanfaatkan untuk menaikkan pH tanah dan mengikat unsur logam berat yang beracun (Hakim, M., 2005).


  1. Kendala Pengelolaan Sampah Organik

Permasalahan yang dihadapi oleh pengelola persampahan, dalam hal ini dinas kebersihan, antara lain terbatasnya jumlah sarana dan prasarana yang dimilikinya, baik berupa sarana pemindahan, pengangkutan, maupun TPA. Penambahan sarana dan prasarana tersebut membutuhkan biaya investasi yang besar dan biaya operasional yang juga tinggi, sementara itu dana yang tersedia sangat terbatas (Tawaf, R., 2005). Untuk menyediakan tempat sampah bertulisan organik dan anorganik saja dibutuhkan biaya tidak sedikit (Muttaqien, H., 2005).

Permasalahan yang paling mendasar, sebenarnya terletak pada bagaimana sampah tersebut dipandang. Anggapan yang sementara ini menunjukkan bahwa sampah adalah sesuatu yang harus dibuang. Padahal anggapan ini keliru, sebenarnya sampah adalah sumber daya, apabila diolah dan dikelola dengan tepat, dapat memberikan nilai tambah yang menguntungkan.

Kegiatan pengelolaan sampah organik yang paling populer adalah kegiatan pengomposan. Namun demikian, usaha kompos yang dilakukan secara komersial, tampaknya merupakan hal yang masih baru dan belum banyak dilakukan. Meskipun dilakukan, kebanyakan menemui kegagalan yang disebabkan faktor teknologi yang digunakan dan aspek manajemen pengelolaannya. Sampai-sampai dalam upaya menyosialkan kegiatan pengomposan sampah kota, Kementerian Lingkungan Hidup melakukan uji coba melalui program subsidi pupuk projek WJEMP di Jawa Barat (Tawaf, R., 2005).

Sementara itu, inovasi pemanfaatan sampah organik menjadi kompos, juga muncul dari Dinas Tanaman Pangan Jabar. Namun inovasi tersebut, sejauh ini belum dapat termanfaatkan.

Kepala Dinas Tanaman Pangan Jabar, Entang Ruchiyat, menyatakan sejumlah hasil litbang memang sudah ada, namun sejauh ini relatif masih "sepi" peminat. Padahal, tadinya sempat diharapkan ada minat dari pemerintah atau pengelola sampah, untuk memanfaatkan teknologi tersebut.

Selain itu, UU mengenai pengelolaan sampah juga belum ada di Indonesia. Direncanakan pertengahan tahun 2007 nanti baru dikeluarkan, itupun baru kemungkinan. Karena, nasib RUU tentang pengelolaan sampah saja masih terkatung-katung.

  1. Peranan Pengelolaan Sampah Organik Terhadap Sektor Pertanian

Sampah organik dapat dijadikan sebagai pupuk organik. Apalagi pada saat ini, di Jabar sendiri sedang muncul tren mengonsumsi pertanian organik, baik sayur-sayuran, tanaman pangan, buah-buahan, produk perkebunan, dan lain-lain (Ruchiyat, E., 2005). Sehingga pengelolaan sampah organik dapat mendukung perkembangan usaha pertanian organik.

Secara umum, pupuk organik berdasarkan sumbernya dapat dibedakan menjadi 3, yaitu pupuk kompos, pupuk kandang, dan pupuk hijau (Sutanto, R., 2002).

Sampah organik merupakan sumber daya besar yang belum diberdayakan. Dengan teknologi sederhana, sampah organik bisa diolah menjadi kompos. Sebagian dari kompos yang belum terlampau matang bisa dijadikan sebagai umpan untuk pakan cacing. Dari budidaya cacing bisa diperoleh 2 produk yaitu pertama cacing yang bisa dimanfaatkan sebagai suplemen pakan unggas dan kedua vermin kompos yang bisa dimanfaatkan sebagai pupuk untuk budidaya sayur mayur. Agar siklus biologi menjadi lengkap, maka perlu ditambahkan dengan budidaya pepaya dengan memanfaatkan kompos. Kemudian daun pepaya dimanfaatkan untuk budidaya bekicot, sedang bekicotnya dimanfaatkan sebagai pakan tambahan untuk budidaya itik. Kotoran itik dimanfaatkan untuk budidaya cacing. Sedang cacingnya dimanfaatkan untuk budidaya ikan.

Dengan pendekatan ini, semua limbah organik ditransfer menjadi sumber protein dan bahan pangan melalui siklus biologi. Pendekatan ini tidak hanya mengatasi masalah lingkungan, tapi juga memberdayakan potensi ekonomi yang terkandung di dalam sampah. Apabila potensi sampah organik ini diintegrasikan dengan lahan tidur dan pengangguran, maka akan bisa memberdayakan potensi ekonomi masyarakat (Choliq, A. U., 2005).

Misalnya, jika sampah di Kota Bandung, Kabupaten Bandung, dan Cimahi (Bandung Raya) bisa dikelola menjadi kompos, mempunyai potensi ekonomis setidaknya Rp. 450 juta/hari. Angka tersebut dihitung berdasarkan jumlah sampah di Bandung Raya yang berjumlah 15.000 m3, dengan diasumsikan separuhnya merupakan sampah organik (bahan pembuat kompos). Dengan 7.500 m3 sampah per hari jika diolah menjadi kompos, paling tidak menghasilkan 30% kompos atau setara dengan 2.250.000 kg. Jika dijual dengan harga AKU (Asosiasi Kelompok Usaha UPPKS), lembaga yang memprakarsai penampungan kompos dari sampah perkotaan, yang bersedia membeli Rp. 200,00/kg berarti akan didapat Rp. 450 juta per hari. Apalagi, jika langsung dijual ke pasar umum nilainya bisa lebih tinggi lagi, harga pasarannya saat ini Rp. 500,00-Rp. 600,00/kg (Garsoni, S., 2005). Kompos ini sangat dibutuhkan petani, setiap ha lahan pertanian memerlukan kompos sekitar 5-20 ton per ha nya. Jika rata-rata 10 ton saja dosisnya maka produksi kompos kota Bandung hanya dapat memenuhi sebesar 210 ha per bulannya atau sekitar 2.520 ha per tahunnya. Lahan sawah di Kabupaten Bandung saja sudah lebih dari 100.000 ha, lahan kering untuk hortikultura termasuk tanaman hias hampir mencapai 100.000 ha ditambah lahan perkebunan yang luasnya mencapai puluhan ribu ha. Jadi untuk memenuhi kebutuhan Kabupaten Bandung saja, seluruh produksi komps kota Bandung jauh dari mencukupi.


Tabel 2. Proyeksi Lahan Pertanian, Dosis Kompos dan Kebutuhan Kompos di Kabupaten Bandung (Sumber: Kurniadie, D., 2007)



Uraian

Luas (ha)

Dosis kg/ha

Kebutuhan (ha)

Padi

Palawija

Hortikultura

Perkebunan

121.209

36.364

71.561

25.000

5.000

7.500

10.000

7.500

606.045

272.730

715.610

187.500

Total Kab. Bandung

254.134


1.781.885

Potensi Kompos Sampah Bandung



25.200


Pengelolaan sampah organik yang dijadikan pupuk kompos secara ekonomis menguntungkan. Kebutuhan petani terutama petani tanaman hortikultura, tanaman organik, tanaman perkebunan serta tambak akan kompos sangat besar, sehingga peluang pemasaran kompos masih sangat terbuka.

Hortikultura adalah kelompok tanaman yang saat ini petaninya sudah terbiasa menggunakan pupuk organik yang cukup tinggi bila dibandingkan dengan petani tanaman lain. Dengan perkataan lain hortikultura merupakan pangsa pasar pupuk organik yang sangat nyata saat ini, bila sampah kota akan diproses menjadi kompos (pupuk organik) (Akyas, A. M., 2006).

Kompos sangat dibutuhkan untuk lahan pertanian karena fungsinya yang dapat meningkatkan kesuburan tanah. Kesuburan kimia dan fisik tanah akan bertambah dan selanjutnya akan meningkatkan produksi tanaman. Di bidang perikanan, misalnya tambak umur pemeliharaan ikan dapat dipersingkat. Areal bekas pertambangan akan sangat baik jika diberi kompos, lahan yang sudah rusak dapat ditanami kembali.

Produksi kompos dapat dibedakan ke dalam tiga kelompok. Pertama, kompos murni. Pupuk ini ditujukan untuk lahan tanaman organik, namun juga dapat digunakan untuk lahan pertanian anorganik. Kedua, kompos plus mikroba (pengikat N dan pelepas P). Pupuk yang telah diperkaya ini juga diperuntukkan untuk lahan pertanian organik, namun juga dapat digunakan untuk lahan pertanian anorganik (biasa). Ketiga, kompos plus pupuk buatan. Pupuk ini hanya dapat digunakan untuk lahan pertanian anorganik.

Pada dasarnya kompos dapat meningkatkan kesuburan kimia dan fiisik tanah yang selanjutnya akan meningkatkan produksi tanaman. Pada tanaman hortikultura (buah-buahan, tanaman hias, dan sayuran) atau tanaman yang sifatnya perishable ini hampir tidak mungkin ditanam tanpa kompos. Demikian juga di bidang perkebunan, penggunaan kompos terbukti dapat meningkatkan produksi tanaman. Di bidang kehutanan, tanaman akan tumbuh lebih baik dengan kompos. Sementara itu, pada perikanan, umur pemeliharaan ikan berkurang dan pada tambak, umur pemeliharaan 7 bulan menjadi 5-6 bulan.

Selain itu, kompos membuat rasa buah-buahan dan sayuran lebih enak, lebih harum dan lebih masif. Hal inilah yang mendorong perkembangan tanaman organik, selain lebih sehat dan aman karena tidak menggunakan pestisida dan pupuk kimia rasanya lebih baik, lebih getas, dan harum (Hakim, M., 2005).

Sampah harus ditempatkan sebagai sumber devisa yakni dengan mengubah TPA menjadi sebagai “pabrik kompos”. Di “pabrik kompos” itulah sampah-sampah organik yang jumlahnya mencapai 69% dari keseluruhan jenis sampah, bisa diolah menjadi kompos yang bisa dijual kembali ke masyarakat. Selain itu, air lindi yang dianggap mencemarkan sumur di lingkungan TPA dapat dijadikan pupuk cair atau diolah terlebih dahulu sebelum dialirkan ke saluran umum. Keuntungan lainnya dengan dihilangkannya TPA (Tempat Pembuangan Akhir) dan diganti dengan TPK (Tempat Pengolahan Kompos) alias pabrik kompos, lahan untuk sampah ini tidak berpindah-pindah, cukup satu tempat untuk kegiatan yang berkesinambungan (Hakim, M., 2005).

Sementara itu, para petani juga akan merasa senang karena kebutuhannya terhadap pupuk organik untuk meningkatkan kesuburan tanahnya bisa terpenuhi. Ini sekaligus memupus ironi, di satu sisi sekira 90% lahan pertanian masih kekurangan bahan organik, sementara di sisi lain pemerintah kota merasa kesulitan bagaimana membuang bahan organik (berupa sampah). Secara ekonomi, konsep seperti ini juga bisa memberi efek rembetan yang luas, setidaknya membuka lapangan kerja baru yang bisa mengurangi pengangguran (Hakim, M., 2005).

Hasil akhir dari pengomposan ini merupakan bahan yang sangat dibutuhkan untuk kepentingan tanah-tanah pertanian di Indonesia, sebagai upaya untuk memperbaiki sifat kimia, fisika dan biologi tanah, sehingga produksi tanaman menjadi lebih tinggi. Kompos yang dihasilkan dari pengomposan sampah dapat digunakan untuk menguatkan struktur lahan kritis, menggemburkan kembali tanah pertanian, menggemburkan kembali tanah petamanan, sebagai bahan penutup sampah di TPA, eklamasi pantai pasca penambangan, dan sebagai media tanaman, serta mengurangi penggunaan pupuk kimia.

Secara garis besar, keuntungan yang diperoleh dengan memanfaatkan pupuk organik adalah sebagai berikut:

  1. Memperbaiki sifat fisik tanah. Warna tanah dari cerah akan berubah menjadi kelam. Hal ini berpengaruh baik pada sifat fisik tanah. Bahan organik membuat tanah menjadi gembur dan remah, sehingga aerasi menjadi lebih baik serta mudah ditembus perakaran tanaman. Pada tanah yang berstruktur pasiran, bahan organik akan meingkatkan pengikatan antar partikel dan meningkatkan kapasitas mengikat air.

  2. Memperbaiki sifat kimia tanah. Mengandung unsur hara esensial lengkap (makro dan mikro), Kapasitas Tukar Kation (KTK) meningkat. Sehingga hara tersedia bagi tanaman.

  3. Memperbaiki sifat biologi tanah. Bahan organik akan menambah energi yang diperlukan kehidupan organisme tanah. Tanah yang kaya akan bahan organik akan mempercepat perbanyakan fungi, bakteri, mikro flora, dan mikro fauna lainnya.

  4. Mempengaruhi kondisi sosial. Daur ulang limbah perkotaan maupun pemukiman akan mengurangi dampak pencemaran dan meningkatkan penyediaan pupuk organik. Meningkatkan lapangan kerja melalui daur ulang yang menghasilkan pupuk organik. Sehingga meningkatkan pendapatan.

  5. Mengurangi resistensi dan persistensi hama penyakit akibat penggunaan pestisida, sehingga penekanannya lebih mengarah pada pengendalian hayati

  6. Mengurangi ketergantungan petani terhadap masukan berupa sarana produksi dari luar, sehingga pemanfaatan sumber daya lokal semakin meningkat (Prihandarini, R., 2006).

Selain itu, analisis yang dilakukan oleh Bioaccess Indonesia Community di Yogyakarta menunjukkan bahwa penggunaan pupuk kompos granule dan bahan limbah lain meningkatkan produksi padi 30% dan mengurangi biaya Rp. 300.000 per hektar (Khomsan, A., 2004).


BAB IV

KESIMPULAN DAN SARAN


4.1. Kesimpulan

Adapun kesimpulan yang dapat ditarik dari makalah ini adalah:

  1. Sampah organik dapat dijadikan sebagai pupuk organik. Secara umum, pupuk organik berdasarkan sumbernya dapat dibedakan menjadi 3, yaitu pupuk kompos, pupuk kandang, dan pupuk hijau.

  2. Kontribusi yang tercapai dari adanya pengelolaan sampah organik terhadap pertanian:

  1. Sampah organik dapat dijadikan sebagai pupuk organik/pupuk kompos melalui proses pengomposan, yang berguna untuk memperbaiki sifat fisik tanah, memperbaiki sifat kimia tanah, memperbaiki sifat biologi tanah, mempengaruhi kondisi sosial, mengurangi resistensi hama penyakit, mengurangi ketergantungan petani terhadap masukan dari luar, sehingga pemanfaatan sumber daya lokal semakin meningkat.

  2. Pengelolaan sampah organik yang dijadikan pupuk kompos secara ekonomis menguntungkan. Hortikultura adalah kelompok tanaman yang saat ini petaninya sudah terbiasa menggunakan pupuk organik yang cukup tinggi bila dibandingkan dengan petani tanaman lain.

  3. Dapat mereduksi sampah organik dari yang komposisinya 70% menjadi 25%.

  4. Sampah organik dapat ditransfer menjadi sumber protein dan bahan pangan melalui siklus biologi.

  5. Pemberdayaan potensi ekonomi.

  6. Dapat meningkatkan produksi pertanian dan menekan biaya pertanian.

  1. Kendala-kendala dalam pengelolaan sampah organik:

  1. Anggapan Masyarakat terhadap sampah, sampah adalah sesuatu yang harus dibuang. Padahal anggapan ini keliru, sebenarnya sampah adalah sumber daya, apabila diolah dan dikelola dengan tepat, dapat memberikan nilai tambah yang menguntungkan.

  2. Terbatasnya dana dalam penyediaan sarana dan prasarana serta operasional.

  3. Usaha kompos yang dilakukan secara komersial merupakan hal yang masih baru dan belum banyak dilakukan. Meskipun dilakukan, kebanyakan menemui kegagalan yang disebabkan faktor teknologi yang digunakan dan aspek manajemen pengelolaannya.

  4. Tidak adanya minat dari pemerintah dan masyarakat.

  5. Tidak adanya UU mengenai pengelolaan sampah.


4.2. Saran

Berdasarkan pemaparan di atas maka dapat disarankan sebagai berikut:

  1. Peranan Pemerintah Daerah terutama dalam hal pemberian subsidi kepada masyarakat atau perusahaan yang mengolah sampah kota menjadi pupuk kompos sangat diperlukan untuk merangsang masyarakat mengolah sampah menjadi pupuk kompos. Biaya subsidi yang diberikan kepada masyarakat bisa diambil dari iuran retribusi sampah dari masyarakat yang dipungut tiap bulan pada saat pembayaran listrik PLN.

  2. Diperlukan usaha sosialisasi kompos melalui demonstrasi langsung ke sentra produksi pertanian yang berpotensi menggunakan pupuk kompos.

  3. Subsidi produsen kompos melalui projek WJEMP sebaiknya diteruskan dalam jangka panjang.

  4. Diperlukan peranan pemerintah terutama reward masyarakat yang mengolah sampah menjadi pupuk kompos serta pemerintah harus berani membeli semua produk yang dihasilkan produsen kompos.