Selamat Datang di X3-PRIMA, Melayani Setulus Hati, Memberikan yang terbaik

7.4.09

Asam Basa

Asam Basa



1.1 Latar Belakang

Titrasi asam basa dilakukan guna mengetahui konsentrasi molar dan kadar asam atau basa yang terkandung dalam suatu larutan. Titrasi ini merupakan hal yang menarik dipelajari. Diperlukan ketelitian dan kecermatan dalam melakukan praktikumnya. Karena dalam titrasi ini akan diperoleh perubahan warna yang akan menjadi laporan hasil akhir penlitian. Kadar asam dan molaraitas suatu zat dan larutan dapat diketahui dengan menggunakan rumus dalam stokiometri. Ini perlu dikaji lagi lebih dalam, agar praktikan mampu mengembangkan pola pikir dan daya pemahamannya, tentang suatu reaksi yang terjadi dalam titrasi ini.

Titrasi ini akan berdampak sangat luas dalam prospek hasil yang dikembangkan. Karena berbagai zat dan larutan dapat terlihat jelas perhitungan molaritas atau perhitungan yang lainnya dengan menggunakan metode titrasi ini. Diharapkan mahasiswa mampu bekerja secara teliti dalam praktikum ini.


1.2. Tujuan

  • Membuat dan mentitrasi larutan Natrium Hidroksida

  • Menentukan konsentrasi Molar dari asam kuat dan basa kuat.

  • Memperluas wawasan untuk dunia kimia, dan mendidik trampil, teliti dan cermat dalam melakukan suatu praktikum.

  • Menerapkan berbagai konsep titrasi dalam kehidupan kita

Asam dan Basa mempunyai sifat-sifat tertentu yang dapat mempermudah kita untuk mengenalnya. Misalnya larutan asam mempunyai rasa asam. Sebaliknya basa seperti magnesium hidroksida dalam milk of magnesia mempunyai rasa sepat. Sifat-sifat lain dari asam dan basa tergantung pada indicator, suatu zat kimia yang warnanya tergantung dari dari keasaman atau kebasaan larutan. Contoh yang khas adalah lakmus. Lakmus adalah zat kimia yang mempunyai warna biru dalam larutan basa dan merah pink dalam larutan asam.


2.2 Asam

Menurut Arrhenius, definisi asam adalah suatu zat dalam larutan air yang akan memperbesar konsentrasi dari ion hidronium, H3O+. Bisa dikatakan pula, suatu senyawa yang dapat melepaskan ion-ion H+ di dalam air disebut sebagai asam.

Senyawa asam merupakan salah satu kelompok elektrolit yang banyak berperan dalam reaksi kimia. Suatu asam dapat berupa zat padat, cairan, atau gas. Ada asam yang berbahaya karena bersifat racun, tetapi ada pula asam yang sangat diperlukan tubuh kita.

Senyawa asam banyak dijumpai pada kehidupan sehari­-hari. Buah-buahan memiliki rasa asam berkat adanya senyawa asam yang dikandungnya. Jeruk mengandung asam sitrat sedangkan anggur mengandung asam tartrat. Air susu yang rusak dapat menimbulkan asam laktat. Dalam aki kendaraan bermotor kita menjumpai asam sulfat.

Asam seperti lemak yang terbentuk dari asam lemak serta protein yang terbentuk dari asam amino. Dalam lambung terdapat asam klorida yang berperan pada pencernaan makanan serta dalam darah terkandung asam karbonat dan asam fosfat yang berperan pada pengangkutan makanan tersebut.

Asam sudah dikenal manusia sejak zaman purba, jauh sebelum ilmu kimia lahir. Bangsa Sumeria di Mesopotamia sudah menggunakan asam nitrat (yang disebut aqua fortis atau "air kuat ") untuk memisahkan emas dari perak. Perak dapat larut dalam asam nitrat, sedangkan emas tidak. Akan tetapi, pemahaman ilmiah tentang senyawa-senyawa asam baru dimulai pada akhir abad ke-18. Pada tahun 1777, Antoine Laurent Lavoisier menerangkan bahwa semua asam mengandung unsur oksigen. Perlu diketahui bahwa nama, oksigen diciptakan oleh Lavoisier dari bahasa Yunani yang artinya "pembentuk asam". Tetnyata pemikiran Lavoisier ini tidak benar, sebab ada asam yang tidak mengandung unsur oksigen. Kemudian pada tahun 1810, Sir Humphry Davy mengemukakan bahwa unsur hidrogen, dan bukan oksigen, yang dimiliki oleh semua asam.

Tatkala Svante August Arrhenius pada tahun 1884 mengemukakan teori ion, barulah dipahami bahwa asam termasuk golongan elektrolit.

Di bawah ini tercantum beberapa asam yang perlu diketahui. Sudah tentu tabel ini tidaklah mencakup semua asam yang berjumlah ratusan jenis.

Rumus Dan Nama Asam

Rumus Nama Asam Rumus Nama Asam

HF asam fluorida CH3COOH asam asetat

HCl asam klorida H2S asam sulfida

HBr asam bromida H2S03 asam sulfit

HI asam iodida H2SO4 asam sulfat

HC10 asam hipoklorit H2C03 asam karbonat

HC102 asam klorit H 2C2O4 asam oksalatS

HC103 asam klorat H2Cr2O4 asam kromat

HC104 asam perklorat H2Cr2O7 asam dikromat

HNO2 asam nitrit H3PO3 asam fosfit

HN03 asam nitrat H3PO4 asam fosfat


Ketika suatu asam dilarutkan ke dalam air, terjadilah penarikan H+ oleh pelarut.

Contoh: HCl H+ (aq) + Cl-(aq)

Asam yang dilarutkan ke dalam air dibedakan menjadi dua tipe, yaitu asam kuat dan asam lemah. Asam kuat adalah senyawa yang melepaskan ion-ion H+ secara sempurna didalam air seperti contohnya HCl dan HNO3. Asam lemah adalah senyawa yang melepaskan ion-ion H+ tersebut dilepaskan dan diikat kembali oleh senyawa tersebut berulang-ulang. Dengan demikian terjadi reaksi kesetimbangan kimia sebagai berikut :

CH3COOH (l) CH3COO- (aq) + H+ (aq)

Semua asam dalam mengandung hydrogen dalam rumusnya. Tetapi ada juga yang tak mengandung hydrogen, tetapi menghasilkan larutan asam bila dilarutkan dalam air. Contoh yang umum adalah karbon dioksida. Bila dilarutkan dalam air akan bereaksi sebagai berikut :

CO2 + H2O H2CO3 (aq)

Tidak semua oksida bukan logam dapat bereaksi dengan air. Seperti karbon monoksida dan nitrogen monoksida adalah dua tipe yang tak bereaksi dengan air.

Rekasi dari CO2 dengan air adalah khas dari berbagai oksidasi non metal dengan air membentuk asam okso. Suatu oksidasi bukan logam yang dapat bereaksi dengan air membentuk asam okso dinamakan anhidrida asam yang berarti “asam tanpa air”.


2.3 Basa

Secara prinsip ada dua macam basa : hidroksida ionic dan zat molekur yang bila bereaksi dengan air akan menghasilkan ion OH-. Menurut Arrhenius basa adalah suatu zat yang akan memperbesar konsentrasi dari ion OH-.

Suatu senyawa yang dapat melepaskan ion-ino OH- di dalam air disebut sebagai basa. Basa yang dilarutkan ke dalam air dibedakan menjadi dua tipe, yaitu basa kuat dan basa lemah. Basa kuat adalah senyawa yang melepaskan ion-ion OH- secara sempurna di dalam air seperti contohnya NaOH dan KOH. Basa lemah adalah senyawa yang melepaskan ion-ion OH- dalam larutan secara tidak sempurna, artinya ion-ion OH- dapat terlepas dan kembali terikat secara berualang-ulang dengan ion H+ membentuk H2O.

Dengan demikian terjadi reaksi kesetimbangan kimia dan dapat dicontohkan sebagai berikut :

NH3 (l) + H2O NH4+ (aq) + OH- (aq)

Dalam hal ini, suatu proton akan dipindahkan dari molekul air ke molekul ammonia. Setelah H2O kehilangan H+, yang tinggal adalah ion OH-.

Reaksi NH3 dengan air adalh setimbang, hanya sebagian kecil NH3 dalam larutan akan berbentuk sebagai ion NH4+ dan ion OH-. Secara relatif hanya mengandung sedikit ion OH- maka dikatakan juga sebagai suatu basa lemah. Pada umunya basa molekuler adalah basa lemah.

Beberapa basa yang perlu diketahui dapat kita lihat pada tabel berikut.

Rumus dan Nama Basa

Rumus Nama Basa Rumus Nama Basa

NaOH natrium hidroksida Mg(OH)2 magnesium hidroksida

KOH kalium hidroksida Zn(OH)2 seng hidroksida

NH40H amonium hidroksida Fe(OH)2 besi (II) hidroksida

Ca(0.3)2 kalsium hidroksida Fe(OH)3 besi (III) hidroksida

Ba(OH)2 barium hidroksida Al(OH)3 aluminium hidroksida


Yang menyebabkan sifat basa adalah ion OH . NaOH merupakan basa sebab dapat melepaskan OH- jika dilarutkan ke dalam air. Akan tetapi, CZHSOH (etanol) tidaklah bersifat basa sebab tidak dapat melepaskan OH-. Semua basa, kecuali NH40H, dalam keadaan murni berwujud padat. Adapun basa NH4OH tidak dijumpai dalam bentuk murninya, sebab NH4OH adalah larutan gas NH3 dalam air.

Beberapa oksida logam mempunyai sifat basa, dan disebut oksida basa, sebab mereka dapat bereaksi dengan air menghasilkan ion OH-.

Contoh:

Na2O + H2O 2NaOH

K20 + H2O 2KOH


2.4 Sifat Asam dan Basa

Senyawa asam bersifat korosif, artinya dapat merusak logam dan mariner. Sebagian besar logam dapat bereaksi dengan asam untuk menghasilkan gas. H2, dan mariner dapat bereaksi dengan asam untuk menghasilkan gas C,02. Reaksinya nanti kita bahas secara mendetail di bagian lain.

Senyawa basa bersifat kaustik, artinya dapat merusak kulit kita. Jika kita mencelupkan jari tangan ke dalam larutan NaOH encer, jari tangan kita itu terasa licin. Hal ini disebabkan terbentuknya sabun sebagai hasil reaksi NaOH dengan lemak pada kulit kita. Reaksi pembuatan sabun akan kita pelajari pada bagian lain.

Asam memiliki rasa asam, sedangkan basa memiliki rasa pahit. Akan tetapi, sangat tidak bijaksana jika mengenali asam dan basa dengan mencicipinya, sebab mungkin saja zat itu beracun atau berbahaya. Untunglah bahwa asam dan basa mempunyai sifat dapat mengubah warna dari zat warna yang dikandung tumbuh-tumbuhan, sehingga zat warna tersebut dapat dipakai untuk mengidentifikasi asam dan basa. Para ahli kimia sudah sejak lama menggunakan zat warna bernama lakmus, yang berasal dari spesies lumut kerak (Rocella tinctoria). Lakmus sangat umum digunakan untuk menguji keasaman dan kebasaan sebab memiliki beberapa keunggulan sebagai berikut.

  • Lakmus sukar teroksidasi oleh O2 di udara, sehing­ga dapat disimpan lama

  • Lakmus mudah diserap oleh kertas, sehingga dapat disediakan dalam bentuk kertas lakmus.

  • Perubahan warnanya sangat jelas terlihat. Lakmus akan berwarna merah dalam larutan asam, dan berwarna biru dalam larutan basa.

Zat semacam lakmus, yaitu zat yang berubah warna jika ada asam atau basa, disebut zat indicator (penunjuk). Di samping lakmus, masih banyak lagi jenis indikator untuk menguji keasaman atau kebasaan.


2.5 Titrasi

Bila ingin mengetahui konsentrasi asam, maka larutan pentitran dalam buret adalah basa, sebaliknya untuk mengetahui konsentrasi basa, maka larutan penitran dalam buret adalah asam. Titrasi dilakukan dengan cara meneteskan larutan pentitran tetes demi tetes hingga indicator yang ditambahkan pada larutan yang dititrasi tepat berubah warna yang stabil atau tidak berubah. Itu disebut Titik ekuivalen, artinya asam atau basa dalam larutan yang dititrasi tepat habis bereaksi dengan larutan pentitrannya.

Pada titrasi ini, digunakan indicator Fenolftalein dan metil merah, dimana memiliki trayek pH antara 4,2 – 6,3. Pada pH asam metil merah atau Penolftalein berwarna merah pink yang berubah warnanya seiring penambahan pentitran hingga pH netral dan warnanya menjadi ungu.

Perubahan pH pada penetralan asam kuat, misalnya HCl, oleh basa kuat misalnya NaOH,

Berdasarkan reaksi ini, dapat disimpulkan hal-hal berikut ini :

  1. Mula-mula penambahan basa

  2. kuat menyebabkan kenaikan pH sedikit demi sedikit. Akan tetapi kenaikan pH menjadi drastic ketika mendekati titik kenaikan ekuivalen. Secara stokiometri, jika konsentrasi asam dan basa yang digunakan sama, maka titik ekuivalen dicapai pada saat volume asam sama dengan volume basa. Perubahan drastis terjadi pada pH antara 4 hingga 10.

  3. Titik ekuivalen terjadi pada pH 7, yaitu pada saat asam tepat habis bereaksi dengan basa sehingga pada titik ekuivalen larutan bersifat netral.

  4. Penetralan asam kuat oleh basa kuat dapat menggunakan Fenolftalein. Namun, perubahan warna pada titik ekuivalen indicator fenolftalein lebih tajam daripada indicator metal merah. Oleh karena itu, indicator fenolftalein lebih sering digunakan.

Perhitungan :

Menentukan molaritas NaOH

Dik : V1 = 25 mL

V2 = 7,3 mL

N1 = 0,1 mL

Dit : N2 = ..?

Jawab :

V1 x N1 = V2 x N2

25 x 0,1 = 7,3 x N2

N2 = 2,5

7,3


N2 = 0,34 mol

Kesimpulan : jadi molar NaOH 0,34 mol

Perhitungan :

Menentukan molaritas HCl

Dik : V1 = 25 mL

V2 = 36 mL

N1 = 0,1 mL

Dit : N2 = ..?

Jawab :

V1 x N1 = V2 x N2

25 x 0,1 = 36 x N2

N2 = 2,5

36


N2 = 0,07 molar

Kesimpulan : jadi molar HCl 0,07 mol