Selamat Datang di X3-PRIMA, Melayani Setulus Hati, Memberikan yang terbaik

23.11.08

Titrasi Asam-Basa

2.1.Termokologi Analisis Volumetri

Volume pada jumlah reagen yang ditambahkan tepat sama dengan yang diperlukan untuk bereaksi sempurna oleh zat yang dianalisis disebut sebagai titik ekivalen. Misalnya dalam titrasi AgNO3 dengan NaCl, titik akivalen. Misalnya dalam titrasi AgNO3 dengan NaCl, titik ekivalen tercapai bila 1 mol AgNO3 bereksi dengan I mol NaCl sebagai berikut :

AG + Cl AgCl

Konsentrasi Ag, Cl yang tidak terendapkan harus sama dengan titik ekivalen dan dari data hasil kali kelarutan AgCl besarnya konsentrasi ini 1,2 x 10 molar pada 25C. Sedangkan volume di mana perubahan warna indicator nampak oleh pengamat merupakan titik akhir. Titik ekivalen dan titik akhir tidaklah sama. Dengan indicator Na2CrO4 untuk reaksi di atas, maka endapan AgCrO4 akan menunjukkan titik akhir pada [Ag] > 1,2 x 10M yaitu konsentrasi kelarutannya. Tetapi pada prakteknya titik akhir tercapai setelah titik ekivalen, karena AgCrO4 harus terbentuk dahulu sebelum terendapkan, sedangkan untuk terbentuk diperlukan sejumlah tertentu reagen. Perbedaan antara titik akhir dan titik akivalen disebut sebagai kesalahan titik akhir. Kesalahan titik akhir adalah kesalahan acak yang terminan dan nilainya dapat dihitung. Dengan menggunkan metode potensiometri dan konduktometri kesalahan titik akhir ditekan sampai nol.

    1. Titrasi Asam Basa

Titrasi asam-basa dapat memberikan titik akhir yang cukup tajam dan untuk itu digunakan pengamatan dengan indicator bila pH pada titi ekivalen antara 4-10. Demikian juga titik akhir titrasi akan tajam pada titrasi asam tau basa lemah jika pentitrasian adalah basa atau asam kuat dengan perbandingan tetapan disosiasi asam lebih besar dari 10. Selama titrasi asam-basa , pH larutan berubah secara khas. pH berubah secara dratis bila volume titrasinya mencapai titik ekivalen.

Kesalahan titi akhir dan pH pda titik ekivalen merupakan tujuan pembuatan kurva titrasi. Pada reaksi asam-basa, proton ditransfer dari satu molekul ke molekul lain. Dalam air, proton biasanya tersolvasi sebagai H3O. Reaksi asam basa bersifat reversible. Reaksi dapat digambarkan sebagai berikut:

HA + H2O H3O + A air sebagai basa

B + H2O BH + OH air sebagai asam.

Disini [A] adalah basa konjugasi, HB adalah asam konjugasi berarti secara umum:

Asam + basa basa konjugasi + asam konjugasi

CH3COOH + H2O CH3COO + H3O (basa)

CH3COO + H2O CH3COOH + OH (asam)

Di sini KA = dan KB =

Jika Kw = adalah hasil kali ionic air, maka adalah mungkin untuk menyatakan H dalam persamaan yang mengandung suku KA, KB dan Kw untuk kombinasi berbagai tipe asam kuat dan lemah serta basa.

2.3.Kurva Titrasi Asam-basa

Larutan yang dititrasikan dalam asidimetri-alkalimetri mengalami perubahan pH. Misalnya bila larutan asam titrasi dengan basa, maka pH larutan mula-mula rendah dan selama titrasi terus-menerus naik. Bila pH ini diukur dengan pengukur pH (pH meter). Pada awal titrasi (yakin belum ditambah basa) dan pada waktu-waktu tertentu setelah titrasi dimulai maka kalau pH larutan di alurkan lawan volume titran, kita peroleh grafik yang disebut kurva titrasi. Beberapa contoh kurva titrasi sebagai berikut :

Bila suatu indicator pH kita pergunaan untuk menunjukkan untuk menunjukkan titik akhir titrasi maka:

1.indicator harus berubah warna tepat pada saat titrant menjadi ekivalen dengan titrant agar tidak terjadi kesalahan titrasi.

2. Perubahan warna ini harus terjadi mendadak, agar tidak ada keraguan-keraguan tentang kapan titrasi harus dihentikan. Bila perubahan warna mendadak sekali (yakin tetes terakhir menyebabkan warna sama sekali). Mka dikatakan, bahwa titik akhir tegas/tajam (sharp).

2.4. PH Larutan Pada Titik Ekivalen

Diketahui pH titik ekivalen berbeda-beda, tergantung dari macam titrant dan titrat, dan sering juga tergantung dari konsentrasi titrant dan titrat. Ph itu menentukan indicator apa yang dapat/malahan harus digunakan. Maka penting untuk mengerti dengan jelas dari mana asal/bagaimana mengetahui beberapa pH ttitik ekivalen itu. Hanya satu patokan yang perlu diingat, yakni pH titik ekivalen ialah pH larutan yang terdapat pada titik akivalen itu dan larutan itu adalah

  1. Larutan garam (dalam titrasi asam oleh basa dan sebaliknya)

  1. asam maupun basa itu kuat : larutan garamnya mempunyai pH 7 sehingga indicator agak leluasa pilihannya: baik yang bertrayek pH dibawah 7, sekitar 7 ataupun di atas 7 dapat dipakai

  2. asam kuat-basa lemah : larutan garamnya mempunyai pH rendah (<7)>

[ H] = atau PH = ½ (14 – p Kb + pCg)

indicator yang cocok mempunyai trayek pH dibawah 7 (misalnya jingga metil)

  1. asam lemah-basa kuat : larutan garamnya mempunyai pH tinggi (>7) karena garam tersebut terjadi dari asam lemah dan basa kuat dan basa kuat dan terhidrolisasi, sehingga [OH] = atau POH = ½ (14 – pKa + pCg). Indikator yang cocok mempunyai trayek pH diatas 7 (misalnya fenolftalen).

  1. Larutan asam lemah dan garam (dalam titrasi garam asam lemah oleh asam kuat), dengan sendirinya pH larutan rendah, yakni : [H] = atau POH = ½ (pKa+ pCa).

  2. Larutan basa lemah dan garam (dalam titrasi garam dari basa lemah oleh basa kuat) : maka larutan tinggi, yakni : [OH] = atau POH = ½ (pKb+ pCb) dan indicator yang harus dipakai mempunyai trayek pH di atas 7. Dengan pengertian di atas, jelas indicator yang dibutuhkan tidak terlalu sukar diingat dan sama sekali tidak perlu dihafalkan.

2.5. Indikator Asam-basa

Indikator asam-basa adalah zat yang berubah warnanya atau membentuk fluoresen atau kekeruhan pada suatu range (trayek) pH tertentu. Indikator asam-basa terletak pada titik ekivalen dan ukuran dari pH. Zat-zat indicator dapat berupa asam atau basa, larut, stabil, dan menunjukkan perubahan warna yang kuat serta biasanya adalah zat organic. Perubahan warna disebabkan oleh resonansi isomer electron.

Indikator asam-basa secara garis besar dapat diklasifikasikan dalam tiga golongan:

  1. Indikator ftalein dan indicator sulfoftalein

  2. Indikator azo

  3. Indikator trifenilmetana

Indikator ftalein dibuat dengan kondensasi anhidrida ftalein dengan fenol, yaitu fenoftalein. Pada pH 8,0-9,8 berubah warnanya menjadi merah.anggota-anggota lainya adalah : o-cresolftalein, thimolftalein, -naftolftalein. Indikator sulfoftalein dibuat dari kondensasi anhidrida ftalein dan sulfonat. Yang termasuk dalam kelas ini: thymol blu, m-cresolpurple, chlorofenolred, bromofenolred, bromofenolblue, bromocresolred, dan sebagainya. Indikator azo, diperoleh dari reaksi amina romatik dengan garam dizonium, misalnya: methylyellow atau p-dimetil amino azo benzene.Perubahan warna terjadi pada larutan asam kuat. Metil-orange tidak larut dalam air. Indikator yang lain yang masuk kelas ini adalah metilyellow, metilred dan tropaelino.

2.6.Cara Mengetahui Titik Ekivalen

Ada dua cara umum untuk menentukan titik ekuivalen pada titrasi asam basa.

1. Memakai pH meter untuk memonitor perubahan pH selama titrasi dilakukan, kemudian membuat plot antara pH dengan volume titrant untuk memperoleh kurva titrasi. Titik tengah dari kurva titrasi tersebut adalah “titik ekuivalent”.

2. Memakai indicator asam basa. Indikator ditambahkan pada titrant sebelum proses titrasi dilakukan. Indikator ini akan berubah warna ketika titik ekuivalen terjadi, pada saat inilah titrasi kita hentikan.

Pada umumnya cara kedua dipilih disebabkan kemudahan pengamatan, tidak diperlukan alat tambahan, dan sangat praktis. Indikator yang dipakai dalam titrasi asam basa adalah indicator yang perbahan warnanya dipengaruhi oleh pH. Penambahan indicator diusahakan sesedikit mungkin dan umumnya adalah dua hingga tiga tetes. Untuk memperoleh ketepatan hasil titrasi maka titik akhir titrasi dipilih sedekat mungkin dengan titik equivalent, hal ini dapat dilakukan dengan memilih indicator yang tepat dan sesuai dengan titrasi yang akan dilakukan. Keadaan dimana titrasi dihentikan dengan cara melihat perubahan warna indicator disebut sebagai “titik akhir titrasi”.

2.7.Rumus Umum Titrasi

Pada saat titik ekuivalen maka mol-ekuivalent asam akan sama dengan mol-ekuivalent basa, maka hal ini dapat kita tulis sebagai berikut:

Mol-ekivalen asam = mol-ekuivalen basa

Mol-ekuivalen diperoleh dari hasil perkalian antara Normalitas dengan volume maka rumus diatas dapat kita tulis sebagai:

Nx asam = NxV basa

Normalitas diperoleh dari hasil perkalian antara molaritas (M) dengan jumlah ion H+ pada asam atau jumlah ion OH pada basa, sehingga rumus diatas menjadi:

nxMxV asam = nxVM basa

keterangan :
N = Normalitas
V = Volume
M = Molaritas
n = jumlah ion H+ (pada asam) atau OH – (pada basa)